Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Salah Paham (2)


__ADS_3

Di tempat lain, Alwi duduk di ruang kerjanya sibuk dengan berkas-berkas pekerjaannya namun pikirannya sama sekali tidak bisa fokus. Ia masih terbayang-bayang pesan misterius yang entah siapa pengirimnya.


Wajah Lathifa berputar-putar di dalam kepalanya sedang tersenyum mengejek dirinya.


‘Kamu pikir aku tidak bisa bersama pria lain? Aku bukan mbak Anisa yang bisa tunduk dan patuh kepada kamu saja!’


“Astaghfirullah!” Alwi beristigfar dan mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya. Telinganya mendengar bisikan-bisikan setan yang menyerupai suara istri mudanya itu.


“Astaghfirullah, Alwi! Apa yang kamu pikirkan? Sadarlah!” ucapnya tegas kepada dirinya sendiri.


‘Apa ini balasanmu karena aku tidak pernah melihat kehadiranmu?’ batin Alwi dengan perasaan yang tidak karuan.


Alwi memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya meskipun sama sekali belum tersentuh olehnya. Ia berjalan meninggalkan ruang kerjanya hendak mengambil wudu dan menenangkan pikirnya yang sangat kacau.


Ceklek.


“Akh!” Anisa meringis kesakitan dan mengusap kepalanya yang tanpa sengaja menabrak dada suaminya.


“Maaf, kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Alwi panik.


Alwi tidak sengaja menabrak istri pertamanya itu ketika membuka pintu ruang kerjanya, bertepatan dengan Anisa yang ingin masuk ke dalam ruang kerja suaminya.


“Tidak apa-apa, Mas. Cuma sedikit sakit saja, oh ya apa kamu sudah selesai dengan pekerjaan kamu?” tanya Anisa.


“Sudah, Sayang. Memangnya ada apa? Apa kamu menginginkan sesuatu? Biar mas belikan.”


“Emh-.”Anisa merasa ragu untuk mengatakannya.


Melihat ekspresi istrinya yang terlihat ragu-ragu Alwi menarik tubuh Anisa ke dalam pelukannya.


“Kamu ingin makan apa, hmm?”


“Tiba-tiba aku ingin makan sate ayam di dekat alun-alun,” ucap Anisa lirih.


“Baiklah! Aku belikan sekarang ya.”


“Tapi ini sudah malam, Mas.” Anisa merasa tidak enak.


“Mau sudah malam atau subuh pun aku rela melakukannya untuk kamu, Sayang.”


“Terima kasih, Mas. Aku ikut ya,” pinta Anisa.


“Kamu tunggu di rumah saja, udara malam tidak baik untuk kesehatan kamu,” tolak Alwi lembut lalu melepaskan pelukan mereka.


Anisa memanyunkan bibirnya membuat Alwi merasa gemas dan menangkup kedua pipi istrinya dengan kedua tangannya lalu mendaratkan kecupan bertubi di wajah sang istri.


Cup! Cup!

__ADS_1


“Mas!”


“Kenapa? Kamu malu?” tanya Alwi menggoda, Anisa hanya menundukkan wajahnya dan  tersenyum dengan pipi yang memerah.


“Tidak ada yang melihatnya, Sayang. Tidak akan ada orang yang naik ke lantai atas malam-malam begini.”


“Cepat kamu pergi, Mas. Keburu malam nanti keburu habis satenya.” Anisa mencoba mengalihkan topik pembicaraan suaminya.


“Ih, kamu ya.” Alwi mencubit hidung Anisa gemas.


...****************...


Setelah berputar mencari pedagang yang dimaksud Anisa, Alwi berhasil mendapatkan pesanan istri tercintanya. Ia lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang pulang menuju rumahnya.


Di tengah perjalanan tanpa sengaja mata Alwi menangkap sosok orang yang ia kenal, Alwi mengurangi laju mobilnya dan matanya sesekali mengawasi segerombolan orang sedang menikmati makanan di pedagang pinggir jalan.


Karena merasa kurang yakin dengan penglihatannya, Alwi menepikan mobilnya untuk memastikan siapa orang tersebut.


Deg!


Alwi melebarkan matanya melihat orang itu adalah istrinya.


“Lathifa!” teriak Alwi marah dari dalam mobil.


Tanpa berpikir panjang Alwi keluar dari mobilnya dan berjalan dengan langlah lebar menuju segerombolan pemuda yang kebanyakan terdiri dari laki-laki dengan pakaian yang menurut Alwi tidak layak pakai karena baik celana dan jaket mereka sobek di beberapa bagian.


“Makanlah yang banyak, Cil!” Zidan menambahkan sepotong ayam goreng di atas piring Lathifa, ia tahu Lathifa pasti kelaparan karena belum makan sejak sore.


“Makasih, Kak.”


“Lathifa!” teriak Alwi yang sudah berdiri tepat di belakang Lathifa membuat semua orang menatap ke arahnya penuh tanya.


“Ma-mas.” Lathifa lebih terkejut melihat suaminya itu memergokinya tengah berkumpul bersama teman-temannya, tepatnya teman yang ia kenal dari Zidan dan Andre, teman balap liarnya dulu.


“Pulang!” perintah Alwi tegas tanpa ingin dibantah.


“Tunggu dulu, Bro. Setidaknya biarkan dia menyelesaikan makannya dulu,” cegah Zidan tidak tega melihat Lathifa harus menahan lapar lebih lama lagi.


“Cepat pulang!” perintah Alwi tidak memedulikan perkataan Zidan, ia bahkan mengabaikan orang di sekitarnya yang menatap ke arahnya.


“Bro-”


“Jangan ikut campur dalam hubunganku dengan istriku!” peringat Alwi memotong perkataan Zidan.


Alwi menarik tangan Lathifa dan menyeretnya pergi meninggalkan tempat itu tanpa memedulikan Lathifa yang meringis kesakitan.


“Woi! Jika lo mau membawanya pergi setidaknya jangan memaksanya!” marah Zidan.

__ADS_1


“Gue tahu dia itu istri, lo! Tapi jangan kasar kepada Lathifa!” Zidan hendak mengejar Alwi dan Lathifa yang masih belum jauh namun dengan cepat Andre mencegahnya.


“Tahan, Zid. Lo harus sadar posisi lo, dia sudah bersuami dan suaminya lebih berhak atas dirinya. Mungkin suaminya hanya sedang marah saja karena melihat istrinya bersama pria lain tengah malam begini.”


“Ck! Brengsek, gue gak rela jika dia menyakiti Lathifa!” umpat Zidan tak terima.


Di dalam mobil Alwi diam membisu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun kepada Lathifa, begitu pun dengan Lathifa yang memilih untuk diam.


Lathifa merasa takut melihat kemarahan suaminya itu, belum lagi pusing di kepalanya belum juga hilang efek dari obat yang diberikan oleh Chaca.


Alwi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Lathifa mengencangkan pegangannya pada handle hand grip yang menempel di plafon mobil di atasnya.


Sesampainya di teras rumah Alwi segera turun dari mobil dan membuka pintu samping dan menarik paksa Lathifa keluar.


Brak!


Alwi menutup pintu mobil dengan kasar meninggalkan suara yang cukup keras di malam itu hingga terdengar oleh Anis a yang berada di kamarnya di lantai dua.


“Cepat masuk!”


Lagi-lagi Alwi menarik tangan Lathifa kasar, Anisa yang baru menuruni tangga melihat suaminya memasang wajah dinginnya yang sudah merah padam. Sedangkan Lathifa hanya diam membisu dengan wajah yang sedikit pucat.


“Mas, kenapa kamu pulang bersama Lathifa?” tanya Anisa bingung, bukankah Lathifa mengatakan kepadanya bahwa malam ini ia tidak pulang ke rumah. Tapi kenapa malah pulang bersama suaminya tegah malam begini.


Alwi mengabaikan keberadaan Anisa, emosinya masih menguasai penuh hati dan pikirannya hingga tanpa ia sadari dalam satu waktu Alwi telah melukai dua wanitanya secara bersamaan.


Alwi masih menarik tangan Lathifa menuju kamar mereka, Anisa yang melihatnya merasa khawatir ia bahkan melupakan pesanannya kepada suaminya tadi.


“Mas! Kamu jangan menarik tangan Lathifa seperti itu! Apa kamu tidak melihat dia kesakitan?” panik Anisa merasa kasihan melihat madunya itu, ia teringat beberapa waktu lalu suaminya juga pernah seemosi itu kepada Lathifa.


“Jangan berani keluar kamar tanpa seizinku!” seru Alwi di ambang pintu sebelum menutup pintu kamar Lathifa.


“Renungkan apa kesalahanmu!” lanjutnya.


Brak!


Ceklek!


Alwi menutup pintu kamar Lathifa dan menguncinya dari luar laku memasukkan kunci itu ke dalam saku celananya.


“Mas!” panggil Anisa ketika Alwi akan membalikkan tubuhnya.


“Tidurlah, Nis. Sudah malam dan jangan kamu membukakan pintu untuknya!” peringat Alwi lalu pergi meninggalkan Anisa yang terpaku melihat kepergian suaminya.


‘Apa yang Lathifa lakukan sehingga bisa membuat kamu bisa semarah ini, Mas? Padahal yang aku tahu kamu paling bisa mengendalikan emosimu, bahkan denganku saja kamu tidak pernah marah bahkan sampai sekasar ini.’ Anisa menatap pintu kamar Lathifa yang tertutup rapat, ia teringat dengan dirinya dulu ketika awal pernikahannya dengan Alwi yang begitu dingin kepadanya namun selalu menghindarinya disaat ia marah kepadanya.


“Maafkan saya, Fa. Karena saya kamu harus mengalami semua ini.”

__ADS_1


Anisa membalikkan tubuhnya lalu melangkahkan kakinya menuju tangga dan naik ke lantai dua menuju kamarnya.


__ADS_2