
Sepanjang hari, Lathifa tidak fokus dengan kuliahnya. Seharian ia merasa tidak tenang karena terus dihantui oleh ucapan dokter kemarin di klinik.
Ditambah, tadi pagi Lathifa sempat mencoba melakukan tes mandiri dengan menggunakan test pack yang ia beli di perjalanan pulang. Tidak hanya satu, bahkan ia menggunakan alat tersebut hingga lima sekaligus.
Namun dari beberapa alat tersebut hanya tiga diantaranya yang menunjukkan dua garis merah, itu pun garis satunya hanya terlihat samar-samar. Hal tersebut semakin membebani pikirannya selama mengikuti mata kuliah pagi ini.
Usai kuliah, Lathifa bergegas menuju rumah sakit yang ada di tengah kota. Ia ingin memastikan tentang kehamilannya dan berharap agar ia tidak hamil meskipun ia tahu kemungkinan itu sangatlah tipis baginya.
“Permisi, Sus. Kalau mau periksa kehamilan harus pergi ke arah mana ya?” tanya Lathifa kepada perawat yang tengah bertugas di balik meja resepsionis.
“Mbak bisa jalan ke arah sana.” Perawat itu menunjuk ke sebuah lorong di sebelah kanan Lathifa. “Mbak jalan ikuti lorong tersebut, lurus saja, nanti ada pertigaan di ujung mbak ambil kanan ya. Nanti Mbak akan ketemu bangsal ibu dan anak, Mbak bisa mendaftar ke petugas di sana.”
“Terima kasih ya, Sus.”
Lathifa melanjutkan langkahnya usai mendapatkan informasi yang ia butuhkan, tak sulit baginya menemukan lokasi yang ia tuju.
Setelah mendaftarkan diri, ia duduk di kursi tempat para pasien menunggu giliran mereka.
Lathifa menyapukan pandangannya ke sekitar, hatinya terasa tercubit ketika melihat pemandangan di depannya, beberapa wanita dengan perut yang membesar didampingi oleh suami mereka masing-masing.
‘Betapa bahagianya mereka,’ keluh Lathifa dalam hati dengan senyuman pahit terukir di bibirnya.
Bahkan, Lathifa juga mengamati beberapa pria itu tengah mengusap manja perut istrinya yang di dalamnya terdapat sebuah kehidupan bukti cinta mereka.
Tanpa sadar Lathifa pun mengusap perutnya dengan tangannya sendiri. ‘Andaikan kamu sudah ada di dalam sini, maafkan ibu karena tak bisa mengajak ayah kamu untuk menemani kita.’
“Sendirian saja, Dik?” tanya seorang wanita yang duduk di sebelah Lathifa dan seketika membuyarkan lamunan Lathifa.
“Eh, i-iya, Bu.” Lathifa memanggil wanita itu ‘bu’ karena wanita itu terlihat sudah berusia sekitar 35 tahunan lebih.
“Periksa kehamilan ya?” tanya wanita itu sembari melirik tangan Lathifa yang sedari tadi berada di atas perut ratanya.
“Iya, Bu.”
“Kok sendirian, mana suaminya?” tanyanya lagi dengan wajah mengejek.
“Eh, suami saya kerja, Bu.” Lathifa merasa tidak nyaman dengan keberadaan wanita itu.
“Oh, kalau suaminya tidak ada jujur saja tidak perlu malu. Memang ya anak muda jaman sekarang suka-”
“Maaf, maksud Ibu apa ya bicara seperti itu?” tanya Lathifa nyalang memotong kalimat wanita itu, ia menangkap arah pembicaraan ibu-ibu di sampingnya tersebut yang memiliki pikiran buruk terhadapnya.
“Tidak-”
__ADS_1
“Saya tahu arah pembicaraan Ibu, Ibu berpikir kalau saya hamil di luar nikah, bukan? Jangan berpikir semua wanita itu sama dengan apa yang ada di dalam pikiran Ibu!” seru Lathifa membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka.
Lathifa bangkit dari kursinya ingin pindah dan menjauh dari wanita itu yang berhasil semakin membaut hatinya kacau.
“Oh ya, Bu. Ingat satu hal! Jangan pernah berkomentar buruk kepada orang lain sebelum Anda memastikan kebenarannya. Saya sudah menikah dan memang benar suami saya ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, dan Ibu tidak perlu tahu itu!” tegas Lathifa sebelum meninggalkan wanita itu yang terlihat marah.
“Huh! Menyebalkan!” kesal Lathifa setelah mencari tempat duduk yang jauh dari wanita tadi.
Tak lama kemudian ia mendengar namanya dipanggil dari pengeras suara di ruangan tersebut.
“Ny. Lathifatunnisa, silakan masuk ke dalam ruang konsultasi!”
Tok! Tok! Tok!
Ceklek!
Deg!
Belum sempat Lathifa melangkahkan kakinya ke dalam kamar yang dipenuhi oleh alat-alat yang tidak ia ketahui namanya itu, Lathifa merasakan seluruh tubuhnya seketika berubah menjadi dingin.
Tiba-tiba saja nyalinya menciut, apalagi ia melihat sosok berjubah putih dengan wajah putih, ayu, dan sorot mata teduh tengah duduk di belakang meja menatap ke arahnya disertai senyum yang terukir di bibir ranumnya
“Silakan masuk, Bu,” ucap seorang perawat dan menuntun Lathifa agar duduk di kursi karena melihat Lathifa hanya mematung di tengah pintu.
“Se-selamat sore, Dok,” jawab Lathifa gugup.
Jangan tanya bagaimana perasaan Lathifa saat ini, yang pastinya ia merasa semakin takut dan gelisah.
“Jangan takut, Mbak. Tenang saja, semua pasti akan baik-baik saja.” Dokter tersebut berusaha menenangkan Lathifa karena terlihat jelas wajahnya yang tegang.
“I-iya, Dok.”
Setelah berkonsultasi dan mengatakan segala keluhannya, sang dokter menyuruh Lathifa untuk berbaring dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan menggunakan alat USG.
“Rileks ... santai saja, Mbak. Tidak perlu khawatir, saat ini peralatan medis sudah sangat canggih, jadi tidak perlu lagi merasa takut ketika hamil di usia muda.” Dokter itu sekali lagi mencoba menenangkan Lathifa, beliau mengira jika ketegangan di wajah pasiennya tersebut berasal dari ketakutan dan kekhawatiran karena hamil di usia muda.
Usai dengan urusannya di rumah sakit, Lathifa segera kembali ke rumah suaminya.
Sepanjang perjalanan Lathifa mencoba memikirkan cara untuk menyampaikan kabar kehamilannya kepada suami serta madunya, namun Lathifa merasa berat untuk menyampaikan kabar tersebut.
Sekali lagi, ia merasa takut jika suaminya tidak menerima keberadaan anak itu karena yang ia tahu bahwa kehadirannya sendiri tak pernah diharapkan oleh suaminya.
“Fa!”
__ADS_1
Anisa yang melihat kepulangan Lathifa mencoba untuk memanggilnya, namun sepertinya Lathifa sama sekali tidak menyadari keberadaan Anisa yang sedari tadi duduk ruang keluarga.
Lathifa berlalu begitu saja dan langsung masuk ke dalam kamarnya, bahkan ia tidak mengucap salam ketika masuk rumah.
“Ada apa dengan Lathifa?” tanya Anisa bingung melihat tingkah aneh madunya itu.
Malam harinya, Lathifa semakin terlihat aneh. Ia semakin terlihat murung dan lebih banyak diam ketika tengah menyiapkan makan malam bersama Anisa di dapur.
“Kamu kenapa, Fa? Apa ada yang mengganggu pikiran kamu?” tanya Anisa mencoba mengorek informasi dari madunya.
“Tidak ada apa-apa, Mbak. Aku hanya sedikit lelah saja,” jawab Lathifa berbohong.
“Kalau lelah istirahat saja, Fa. Biarkan aku sendiri yang memasak malam ini.”
“Tidak, Mbak. Aku masih bisa membantu kok,” ucap Lathifa sembari tersenyum untuk meyakinkan Anisa bahwa dirinya baik-baik saja.
Mereka berdua pun kembali melanjutkan acara memasaknya, bahkan Anisa terlihat banyak menceritakan hal-hal tentang suami mereka.
Tanpa Anisa sadari, setiap kalimat yang ia ucapkan mampu menggores lebih dalam luka di hati Lathifa.
“Fa, aku ingin kamu berjanji padaku!” pinta Anisa tiba-tiba di tengah kesibukan mereka.
“Janji apa, Mbak?”
“Kamu harus berjanji padaku, Fa! Kamu akan selalu berada di samping Mas Alwi, apa pun yang terjadi!” ucap Anisa serius.
Lathifa yang mendengar hal tersebut seketika terdiam, ia tidak bis membuka mulutnya seakan terkunci rapat.
“Kamu harus janji padaku, Fa!” desak Anisa karena tak mendapat jawaban dari Lathifa.
“Ta-tapi Mbak-”
“Kamu harus berjanji, Fa. Hanya itu yang aku inginkan dari kamu!” ucap Anisa memotong kalimat Lathifa, kali ini suara Anisa terdengar tegas tidak lembut seperti biasanya, bahkan lebih mengarah seperti perintah di telinga Lathifa.
“Mbak ....” Lathifa tetap tidak bisa mengeluarkan suaranya.
“Suatu saat jika aku pergi meninggalkan kalian, aku ingin kamu menjaga Mas Alwi, Fa. Aku percayakan dia kepada kamu.”
“Jangan aneh-aneh deh, Mbak!” seru Lathifa.
“Kita tidak tahu umur manusia, Fa. Sebelum semua itu terjadi aku ingin mengatakannya kepada kamu terlebih dahulu.”
“Mbak! Jangan ngomong sembarangan, aku tidak menyukainya!”
__ADS_1
“Fa!” Anisa menangkup wajah Lathifa dengan kedua tangannya. “Aku mohon, kabulkan keinginanku yang satu ini, aku tidak meminta lebih. Berbahagialah bersama Mas Alwi, aku akan merasa bahagia jika kalian bisa bersama selamanya.”