Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Menghilang Tanpa Jejak


__ADS_3

Raiyan mengemudikan mobilnya mengejar mobil yang dikendarai oleh Alwi yang masih terlihat di ujung jalan. Sedangkan Anisa sedari tadi terlihat cemas duduk di samping kursi kemudi.


Alwi mengemudikan mobilnya cukup kencang menuju ‘Hafa Resto’. Satu-satunya tujuan yang terlintas di benaknya saat ini, pikirannya cukup kalut membayangkan betapa buruk perlakuannya terhadap istri mudanya itu.


“Maafkan aku, Fa ....” ucap Alwi berulang kali.


Sesampainya di depan restoran, tanpa memarkirkan mobilnya Alwi langsung keluar dari dalam mobil dan bergegas masuk ke dalam restoran tanpa memedulikan teriakan tukang parkir yang merasa kesal karena ulah Alwi.


Tak lama kemudian, mobil Raiyan terlihat memasuki halaman restoran. Usai memarkirkan mobilnya, mereka berdua bergegas menyusul Alwi.


Namun langkah keduanya terhenti ketika melihat sosok yang mereka kejar berjalan keluar restoran dengan langkah gontai serta tatapan kosong memandang lurus ke depan.


Anisa dan Raiyan saling bertukar pandang, seakan saling berbicara dari sorot mata masing-masing.


“Kamu awasi mas Alwi, Rai. Aku akan masuk ke dalam,” ucap Anisa, ia menerka jika suaminya tidak berhasil bertemu dengan Lathifa, atau bahkan suaminya itu di usir oleh pemilik restoran tersebut.


“Baik, Nis. Kamu yakin akan baik-baik saja?” tanya Raiyan khawatir.


Anisa menganggukkan kepalanya meyakinkan Raiyan bahwa dia akan baik-baik saja, lalu ia berlalu meninggalkan Raiyan yang masih menatap ke arahnya.


Anisa masuk ke dalam restoran, ia mengamati setiap sudut tempat itu. Ramai seperti biasa, semua terlihat normal dan para pelayan beraktivitas seperti biasa.


Namun Anisa tidak menemukan keberadaan pemilik restoran, yaitu ibu Hana maupun Lathifa.


“Mbak Maya!” panggil Anisa ketika melihat sosok yang dikenalnya sebagai tangan kanan ibu Hana.

__ADS_1


Maya yang mendengar namanya dipanggil langsung menoleh ke sumber suara, wajahnya terlihat terkejut ketika mendapati Anisa sudah berdiri tak jauh dari tempatnya.


Maya memanggil pelayan lain dan menyerahkan pekerjaannya kepada pelayan tersebut, lalu ia berjalan menghampiri Anisa.


“Mbak Anisa, mari ikuti saya.” Maya mengajak Anisa untuk menjauh dari keramaian, ia tahu alasan kenapa wanita itu datang ke restoran.


“Maaf Mbak, kalau saya tidak salah ... apa kedatangan Mbak Anisa sama seperti suami Mbak yang mencari keberadaan Lathifa?” tanya Maya pelan.


Anisa menganggukkan kepalanya pelan. “Apa saya bisa bertemu dengan Lathifa, Mbak Maya?”


“Maaf Mbak, tapi ibu dan Lathifa sudah pergi meninggalkan restoran ini tadi pagi,” jawab Maya membuat Anisa terhuyung kehilangan keseimbangannya.


“Mbak! Mbak Anis baik-baik saja?” tanya Maya panik, ia menuntun Anisa untuk duduk di kursi terdekat.


“Astaghfirullah,” ucap Anisa lirih berulang kali.


 Maya menyodorkan segelas air kepada Anisa untuk diminum. “Ini minum dulu, Mbak.”


“Terima kasih, Mbak Maya.”


Maya menatap wanita di depannya itu dengan pandangan iba, memang Anisa terlihat sangat menyedihkan. Dengan wajah pucat serta mata sembabnya, bahkan Anisa tidak memedulikan penampilannya yang sedikit berantakan.


“Kemana ibu Hana dan Lathifa pergi, Mbak?” tanya Anisa usai menenggak minumannya.


“Saya tidak tahu, Mbak. Ibu hanya berpamitan dan menitipkan tempat ini kepada saya, beliau hanya membawa barang-barangnya saja dan tidak mengatakan apa pun lagi.”

__ADS_1


“Baiklah ... terima kasih, Mbak Maya. Jika ada kabar tentang keberadaan mereka, tolong segera hubungi saya ya, Mbak!”


Usai mengucapkan kalimat itu, meskipun ada rasa kecewa dalam benaknya, dengan berat hati Anisa langsung berpamitan tanpa mengantongi informasi apa pun tentang keberadaan Lathifa.


Mereka bertiga memutuskan untuk menjalankan kewajiban mereka di masjid tak jauh dari ‘Hafa Resto’ ketika mendengar suara azan dzuhur. Tak sedikit pun mereka merasakan lapar padahal perut mereka belum terisi apa pun sejak pagi.


Tanpa mengenal lelah, seharian penuh mereka bertiga berjalan menyusuri jalanan kota mencari keberadaan Lathifa, berharap bisa menemukan Lathifa dan ibunya.


Namun pencarian mereka tak membuahkan hasil apa pun, mereka juga sempat mendatangi beberapa terminal bis dan stasiun kereta. Namun sama saja, mereka kembali tanpa hasil yang memuaskan.


Malam harinya, atas bujukan Abi Husein dan Umi Hanifa, Alwi dan Anisa bersedia menghentikan pencarian mereka dan memutuskan untuk pulang ke rumah meskipun dengan tangan kosong.


“Dimana kamu, Lathifa?” tanya Alwi yang tengah duduk di atas ranjang yang biasa ditempati oleh istri mudanya tersebut.


“Maafkan aku, aku mohon kembalilah!” Alwi memeluk erat bantal yang masih meninggalkan aroma sampo yang bias Adi pakai oleh Lathifa.


Sedangkan di balik pintu, Anisa melihat suaminya yang terpuruk. Hatinya terasa perih melihat kesedihan suaminya.


Anisa perlahan menutup pintu kamar itu pelan, tanpa suara ia meninggalkan suaminya dan tidak ingin mengganggunya serta membiarkan suaminya untuk menyendiri.


‘Aku tahu kalau kamu sangat mencintainya, Mas’.


...****************...


Jangan lupa like, komen, vote dan giftnya ya.. terima kasih, salam kenal 🤗

__ADS_1


__ADS_2