Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
L.A.S.S


__ADS_3

Satu jam lebih usai pemakaman Azkiya berlangsung, namun Lathifa enggan beranjak dari tempatnya. Dengan pakaian serba hitam ia duduk bersimpuh di depan pusara putrinya, di sampingnya ada ibu Hana yang selalu setia menemani sang putri. Sedangkan Bram dan Ayu berdiri mengawasi dari kejauhan.


Lathifa terus memandangi gundukan kecil di depannya, ia masih ingat jelas wajah putrinya yang terdiam dalam pelukannya tadi pagi. Pelukan pertama dan terakhir yang bisa ia berikan untuk Azkiya.


“Ayo kita pulang, Fa!” ajak ibu Hana sembari membelai lembut punggung Lathifa.


“Lathif masih ingin di sini, Bu. Ibu pulanglah dulu bersama mas Bram dan mbak Ayu,” jawab Lathifa tanpa berpaling dari pusara putrinya.


“Ibu tahu kamu sedih, Fa. Tapi ingat, kesedihan kamu tidak akan bisa merubah apa pun. Ingat, masih ada Azka yang membutuhkan kamu, Fa.” Ibu Hana tak pantang menyerah mencoba merayu putrinya.


“Azkiya sudah tenang disana, dia tidak kesakitan lagi, Fa. Do’akan saja Azkiya bahagia disisi-Nya.” Ibu Hana terus membelai punggung Lathifa, berharap bisa menyalurkan sedikit kekuatan untuk putrinya.


“Ada kakek dan pamannya yang akan selalu menjaga putri kamu, Fa. Tugas kamu sudah selesai sampai di sini, kamu sudah berusaha semampu kamu. Ikhlas ya, Nak ... ibu tahu kamu anak yang hebat, kamu pasti bisa melalui semua ini.”


Mendengar penuturan ibunya, dengan cepat Lathifa memutar tubuhnya dan memeluk erat sang ibu. Tangisnya pun kembali pecah, ia kembali menangis dalam pelukan ibu Hana.


Tangisan yang begitu menyayat hati siapa pun yang mendengarnya, ibu Hana tak mampu menahan air matanya, jadilah mereka berdua menangis saling memeluk tubuh satu sama lain dan saling memberi kekuatan.


Dari jauh Ayu tidak mampu menahan sesak di dadanya, ia pun memeluk sang suami dan ikut menangis dalam dekapan Bram. Memang belum lama mereka saling mengenal, namun hubungan mereka sudah layaknya seperti keluarga sendiri.


Ibu Hana membiarkan Lathifa menumpahkan semua kesedihannya, tak lama kemudian tangis Lathifa pun berhenti setelah beban hatinya sedikit berkurang tergantikan oleh air mata.


“Kita pulang ya, Fa,” ajak bu Hana dengan suara serak. “Sudah hampir jam 5, kasihan Bram dan Ayu menunggu kita sedari tadi, besok kita bisa datang lagi menjenguk Azkiya.”


Lathifa hanya mengangguk masih dalam pelukan ibunya, biburnya tertutup rapat tak ada lagi suara yang keluar dari mulutnya.


Bu Hana menuntun Lathifa berjalan menjauh dari makan putrinya, sepanjang perjalanan lathifa sesekali menoleh ke belakang, ditatapnya makam putrinya yang diapit oleh makam kakek dan pamannya. Atas keinginan Lathifa, merekapun memakamkan Azkiya diapit oleh makam ayah dan kakaknya meskipun jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya kini.

__ADS_1


‘Jagain putri Lathif ya, Pak, Mas ... Lathif dan Ibuk pamit dulu.’


...****************...


Malam harinya, banyak kerabat yang datang mengunjungi Alwi karena berita tentang dirinya yang sudah siuman sudah menyebar ke seluruh kerabat dan keluarga besar.


Meskipun pagi tadi Alwi sempat membuka matanya, namun hingga sore hari masih belum ada respon lebih yang ditunjukkan oleh Alwi. Dokter menghimbau agar keluarga terus mengajak Alwi berkomunikasi untuk membantu perkembangan Alwi, meskipun Alwi hanya diam dan tidak menjawab, dokter mengatakan jika Alwi pasti bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh keluarga.


Di dalam ruang VVIP tempat Alwi dirawat, terlihat beberapa keluarga tengah menggelar doa bersama untuk kesembuhan Alwi. Semua orang terlihat khusyuk membaca lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dipimpin oleh Ustadz Hamdan, kedua mertua Alwi pun hadir dan ikut serta mendoakan kesembuhan Alwi.


Sebagian keluarga lainnya ikut berdoa di depan ruangan Alwi karena tidak semuanya bisa masuk ke dalam kamar tersebut. Usai doa bersama sebagian kerabat berpamitan setelah sebelumnya melihat keadaan Alwi, mereka merasa bahagia karena Alwi sudah ada kemajuan.


Saat ini di ruangan tersebut hanya tersisa kedua orang tua dan mertua Alwi serta Raiyan dan juga Zahran. Mereka kembali membahas tentang pencarian Lathifa yang belum juga membuahkan hasil.


“Sudah 7 bulan lebih kita mencari keberadaannya, Mas. Segala upaya sudah kita lakukan, namun jejak Lathifa dan ibunya sama sekali tidak dapat kita temukan,” ucap tuan Akbar sudah mulai menyerah.


“Jangan berputus asa, kita harus yakin suatu saat nanti Lathifa pasti bisa kita temukan. Mungkin kita harus lebih berusaha lagi,” ucap Abi Husein.


Bukan karena mereka tidak bersungguh-sungguh dalam mencari jejak Lathifa, mereka bahkan tak tanggung-tanggung mengerahkan banyak pihak dan menyewa beberapa orang untuk pencarian. Namun, mungkin Allah belum mengizinkan mereka untuk bertemu dengan Lathifa, terlebih Lathifa sangat berhati-hati dalam persembunyiannya dan dalam menghilangkan semua jejak tentangnya.


“Umi menghawatirkan dia dan bayinya, Bi,” timpal Umi Hanifa yang duduk di samping ranjang Alwi.


“Apa mereka baik-baik saja? Apakah Lathifa makan dengan baik? Dimana mereka tinggal selama ini?” tanya Umi berturut-turut membuat semua orang terdiam, pasalnya mereka tahu bahwa Lathifa pergi tanpa membawa apa pun.


Lama ruangan tersebut diisi oleh keheningan, sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Nanti Zahran coba minta tolong sama suaminya Zahra, Pa, Bi ... semoga saja Zain bisa membantu kita,” ucap Zahran memecah keheningan.

__ADS_1


“Iya Gus, semoga saja adik ipar kamu bisa membantu kita. Semakin banyak yang mencari akan semakin baik, sebentar lagi pasti Lathifa akan melahirkan, kasihan jika kita tidak segera menemukannya.” Umi Hanifa sangat mencemaskan kondisi mantan menantunya itu, masih tersimpan rasa bersalah dan penyesalan di dalam hatinya.


“Baik, Umi. Secepatnya saya akan berbicara dengan Zain,” jawab Zahran.


“Rencananya jika sampai akhir bulan ini Alwi belum juga pulih, saya akan membawanya ke Mesir bersama kami,” ujar Abi Husein. “Saya sudah terlalu lama meninggalkan Mesir, dan kami tidak bisa lebih lama tinggal di Indonesia,” imbuh Abi Husein.


Usai menyebabkan kalimatnya, Abi Husein terdiam diikuti semua orang yang ikut menajamkan pendengaran mereka ketika samar-samar terdengar suara rintihan, lirih dan sangat pelan.


Serempak semua orang saling bertukar pandang lalu serempak mengalihkan pandangan mereka ke arah Alwi berbaring.


Dilihatnya kelopak mata Alwi sedikit bergerak meskipun matanya masih terpejam rapat. Semua orang terlihat fokus menantikan pergerakan selanjutnya, takut jika suara yang mereka dengar barusan hannyalah sebuah khayalan mereka.


“Fa ....” satu kata yang keluar dari mulut Alwi berhasil menyadarkan orang-orang di sekelilingnya.


“Masya Allah!”


“Allahu Akbar!”


“Alhamdulillah!”


“Cepat panggil Dokter, Ray!” perintah Umi Hanifa cepat, melupakan adanya fungsi tombol darurat yang berada di samping ranjang pasien.


“Fa ... Ma-af ....”


...****************...


Di waktu yang sama ibu Hana duduk termenung menatap punggung Lathifa yang baru saja terlelap, cukup lama beliau menenangkan dan mencoba menguatkan Lathifa.

__ADS_1


Banyak wejangan yang beliau berikan kepada putrinya hingga tanpa sadar Lathifa terlelap dalam pangkuannya. ‘Kamu anak yang kuat, Thif. Ibu yakin kamu bisa melalui semua ujian ini, yang sabar ya ... Ibu akan selalu berada di samping kamu, ibu akan selalu menjadi penyemangat kamu.’


__ADS_2