
Alwi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah kepadatan jalanan kota.
Sesekali matanya melirik spion di depannya, menatap pantulan ke dua istrinya yang duduk di kursi belakang.
Lathifa sibuk dengan laptopnya, sedangkan Anisa mengeluarkan mushaf dari tasnya dan membacanya tanpa suara.
Entah mengapa dirinya merasa gelisah. Ada sesuatu yang ia rasakan ketika melihat istri mudanya.
‘Astaghfirullah ... Ya Allah, kuserahkan jiwa dan ragaku hanya kepada-Mu. Engkaulah Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu. Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘ala diinika. Allahumma, musharrifal qulub sharrif qulubana ila tha’atika. (Ya Allah, Dzat yang mengurus seluruh hati, arahkanlah hati kami terhadap ketaatan kepada-Mu)’
Alwi tersenyum, lalu kembali fokus dengan jalan di depannya.
30 menit berlalu, mobil yang mereka naiki memasuki gerbang rumah Alwi.
Setelah turun dari mobil, mereka bergegas membersihkan diri dan makan siang bersama.
“Mas, kamu pergi ke kantor lagi?” tanya Anisa setelah menyelesaikan makannya.
“Tidak, Sayang.” Alwi mengambil tisu dan mengelap bibirnya. “ Mas ada meeting di Hotel A, setelah itu langsung pulang.”
“Hotel A?” tanya Anisa memastikan.
“Iya, kenapa? Kamu mau ikut?” tanya Alwi menatap wajah Anisa.
“Tidak, Mas. Mungkin kamu bisa mengantar Lathifa terlebih dulu. Ya kan, Fa?”
“Uhuk, uhuk, uhuk.” Mendengar perkataan Anisa membuat Lathifa tersedak makanan pedas yang ada di dalam mulutnya. Pasalnya dia menghindari berduaan di dalam mobil bersama suaminya, kenapa Anisa meminta suaminya untuk mengantarkannya?
“Pelan-pelan kalau makan, Fa. Tidak ada yang ingin mengambil makananmu,” canda Anisa sembari menyodorkan segelas air kepada Lathifa.
Glek. Glek. Glek.
Lathifa dengan rakus meneguk air pemberian Anisa, berharap air tersebut dapat segera melegakan tenggorokannya. Wajahnya merah, matanya berkaca-kaca, merasakan hidungnya yang terasa pedas dan panas secara bersamaan.
“Are you okay, Fa?” tanya Anisa, tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Lathifa.
Lathifa hanya bisa mengangguk, mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja.
Sedangkan Alwi hanya menatapnya iba, ingin tertawa tapi juga merasa kasihan melihat wajah istri mudanya yang telah memerah menahan sakit.
“Sudah mendingan?” tanya Anisa memberikan kotak tisu kepada Lathifa.
“Iya, Mbak. Terima kasih,” jawab Lathifa lalu mengambil tisu menghapus air mata di sudut matanya dan membersihkan cairan yang keluar dari hidungnya.
Sshhrrrtt!
“Jorok banget kamu!” seru Alwi.
Lathifa mendongakkan kepalanya tanpa merasa bersalah. “Hehe, maaf.”
“Ck, kalau mau buang ingus ke kamar mandi, jangan di meja makan.”
“Makannya sudah selesai, kan. Lagian kalau ke kamar mandi kelamaan, keburu banjir hidungku.” Lathifa mengeluarkan argumennya, membuat Alwi semakin kesal dibuatnya.
“Sudah-sudah, jangan ribut di meja makan,” lerai Anisa membuat kedua orang di sebelahnya terdiam seketika.
“Maaf, Mbak.”
“Kamu nanti mau ke kampus kan, Fa? Berangkatnya bareng sama mas Al saja!” perintah Anisa.
__ADS_1
Alwi hanya diam tidak ingin berdebat dengan Anisa, tentunya dia yang akan kalah.
“Tidak perlu, Mbak. Saya bisa pergi sendiri.” Lathifa menolak dengan sopan.
“Jangan menolak, Fa. Hotel A searah dengan kampus, nanti pulangnya sekalian dijemput sama mas Al. Ya kan, Mas!” Anisa melirik ke arah suaminya, Alwi hanya menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.
Terpaksa Lathifa menuruti permintaan Anisa. Sebenarnya ia masih merasa canggung jika harus berdekatan dengan suaminya, padahal usia pernikahan mereka memasuki bulan ke lima.
Selesai makan, Alwi mengantar Lathifa pergi ke kampus terlebih dahulu. Selama perjalanan tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut keduanya.
“Jam berapa kamu pulang?” tanya Alwi setelah menghentikan mobilnya di depan gerbang kampus.
“Belum tahu, nanti aku akan pulang naik taxi saja.”
“Aku akan menjemputmu di sini.”
“Anda tidak perlu repot-repot,” ucap Lathifa sembari melepaskan seat belt dari tubuhnya.
“Jangan kepedean kamu! Aku hanya menuruti perkataan Anisa saja,” ucap Alwi tanpa menoleh ke arah istrinya.
Lathifa mengeratkan pegangannya pada tas tangannya. “Aku tidak ingin merepotkan, Anda. Permisi!” Tanpa menatap wajah suaminya, ia bergegas membuka pintu mobil dan keluar.
Brak!
Lathifa menutup pintu dengan keras, membuat Alwi terperanjat dan memegang dadanya.
“Dasar gadis bar-bar, tidak ada kalem-kalemnya.” Ucap Alwi memandangi Lathifa yang berjalan memasuki gerbang kampus tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
Lathifa kembali dengan pakaiannya, celana kulot, kemeja besar dan pashmina yang ia lilitkan di lehernya. Meskipun gaya berpakaiannya longgar, tetap saja Alwi tidak suka melihatnya. Menurutnya pakaian itu masih membentuk tubuh Lathifa.
Alwi melajukan mobilnya setelah keberadaan istri mudanya tidak terlihat lagi oleh matanya.
Pukul 14.45 Alwi sampai di depan lobi Hotel A, ia keluar dari mobil dan menyerahkan kunci kepada petugas valet VIP di sana.
Alwi bergegas menuju lift yang akan langsung mengantarnya menuju ke ‘Alfresco' di lantai 67 tanpa transit di lantai manapun.
Hotel A memiliki sebuah restoran dan bar mewah berkonsep sky-dining. Berada di puncak gedung setinggi 69 lantai, restoran yang bernama ‘Alfresco’ tak sekadar menawarkan panorama gang menakjubkan. Tapi juga banyak menyajikan kuliner unik dari berbagai negara.
Sesuai namanya, ‘Alfresco’ yang berarti di udara terbuka, bar hadir di area balkon. ‘Alfresco’ terbagi menjadi tiga area, yakni area bar dan lounge di lantai 67, restoran utama di lantai 68, dan privat room di lantai 69.
Ting.
Pintu lift terbuka, Alwi melangkahkan kakinya menuju Lift di sebelahnya, yang menghubungkan tiga lantai ‘Alfresco’.
Ting.
Kebetulan pintu lift langsung terbuka, Alwi segera masuk dan menekan angka 69 di dinding lift. Sebenarnya, di ‘Alfresco’ ada tangga kaca yang menghubungkan ketiga lantai tersebut dan menampilkan pemandangan yang sangat indah, namun Alwi tidak memiliki waktu hanya untuk bersantai melihat indahnya pemandangan yang tersaji.
‘Mungkin lain kali aku akan mengajak Anisa dinner di sini. Kudengar pemandangan malam hari begitu indah.’ ucap Alwi di dalam hati.
Ting.
Pintu lift terbuka, Alwi keluar dan disambut ramah oleh para pramusaji berseragam dan berpenampilan rapi.
“Selamat siang, Tuan. Selamat datang di Alfresco, semoga Anda puas dengan pelayanan kami, Ada yang bisa saya bantu?” sapa salah satu pramusaji.
“Saya ada janji dengan tuan Sanjaya.”
“Mari silakan saya antarkan ke meja Anda.”
__ADS_1
Alwi mengikuti langkah pramusaji tersebut yang membawanya menuju tempat pertemuan.
Di sana sudah ada Raiyan dan tuan Sanjaya beserta seorang wanita yang duduk membelakanginya.
“Assalamu’alaikum ... selamat siang, Tuan,” sapa Alwi sesampainya di sebelah meja itu.
Semua mengalihkan pandangannya menatap Alwi. Raiyan berdiri dan bergeser memberikan tempat untuk bosnya duduk.
Tuan Sanjaya berdiri dan menjabat tangan Alwi, sedangkan wanita yang duduk di samping tuan Sanjaya menatap Alwi tanpa berkedip sedikit pun.
“Oh ya, perkenalkan ini putri saya. Namanya Echa Sanjaya.” Tuan Sanjaya memperkenalkan putrinya kepada Alwi.
“Hai, aku Echa.” Gadis itu mengulurkan tangannya, namun ia menariknya kembali dan menekuk wajahnya kesal karena Alwi hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Selama pembahasan kerja sama, tak sedikit pun Alwi dan Raiyan melirik ke arah Echa, membuat hati wanita itu merasa kesal.
‘Awas saja, kamu. Akan aku buat kamu bertekuk lutut dan memohon cinta dariku.’ Batin Echa dengan memasang senyum jahatnya.
Alwi meminta izin untuk pergi terlebih dahulu, dengan alasan ada acara yang harus ia hadiri.
“Maaf, permisi. Dengan menyesal, saya harus pergi terlebih dahulu. Anda bisa melanjutkan pembahasan ini dengan Raiyan.” Alwi segera menjabat tangan tuan Sanjaya dan menepuk pundak Raiyan yang tersenyum kepadanya.
“Silakan, Tuan Al. Semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar,” ucap tuan Sanjaya.
“Saya serahkan semuanya kepada kamu, Rai.” Alwi menatap Raiyan dengan tatapan penuh penyesalan.
“Siap, Pak.” Raiyan tersenyum. ‘Awas saja nanti, aku akan buat perhitungan kepada kamu, Al. Aku tahu kamu hanya beralasan karena menghindari wanita ular di depanku ini,’ lanjut Raiyan dalam hati.
Raiyan tahu bahwa Alwi tidak nyaman duduk bersama Echa, apalagi wanita itu sedari awal menatap Alwi dengan pandangan lapar, pakaiannya juga sangat terbuka, mengekspos tubuh atasnya dan memperlihatkan belahan dadanya.
30 menit kemudian, meeting selesai dan akan dilanjutkan di pertemuan selanjutnya. Raiyan pamit kepada tuan Sanjaya dan putrinya.
“Pa, tuan Al ganteng ya,” ucap Echa setelah kepergian Raiyan.
“Iya, keturunan Arab dia.”
“Iya tahu, Pa. Kenalkan aku kepada tuan Al ya, Pa!” pinta Echa.
“Jangan aneh-aneh kamu. Dia sudah beristri.”
“Gak apa-apa, Pa. Baru beristri belum punya anak kan, itu mah gampang.” Echa mengembangkan senyumnya.
“Papa sarankan kamu jangan berharap lebih. Setahu papa dia sangat mencintai istrinya.” Tuan Sanjaya memperingati putrinya.
“Itu gampang, Pa. Kenalkan aku dulu, nanti aku akan merayunya dan membuatnya meninggalkan istrinya itu. Memang Papa tidak senang kalau punya menantu ganteng dan kaya?” Echa bersikeras meyakinkan papanya.
“Senang, tapi tidak untuk yang satu ini. Papa tidak ingin putri papa satu-satunya tersakiti hatinya dan menjadi pelakor.”
“Tidak, Pa. Kalau aku tidak membuat mereka berpisah apa papa mau membantuku, aku mau walau menjadi istri keduanya,” ucap Echa meyakinkan.
Tuan Sanjaya terlihat berpikir sebentar. “Kamu yakin? Tapi kamu harus janji tidak akan memisahkan mereka?”
“Iya, Pa.”
“Nanti papa coba usahakan ya, tapi papa tidak janji. Jika kamu menjadi istri keduanya, papa yakin tuan Al akan berbuat adil kepada istri-istrinya.”
“Iya, Pa. Chacha sayang sama papa.” Echa memeluk ayahnya.
‘Yang terpenting aku bisa memilikinya terlebih dahulu. Masalah istrinya itu mudah, aku akan membuatnya pergi menjauhi tuan Al’ ucap Echa dalam hati dan menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1