
Keesokan paginya Anisa terbangun tanpa mendapati suaminya di sampingnya. Anisa berpikir mungkin suaminya itu berada di kamar mandi atau sedang menjalankan ibadah di mushalla rumah.
Namun setelah mencari keberadaan suaminya, Anisa tidak menemukan Alwi di mana pun. Di kamar mandi dalam kamar, kamar mandi luar, di mushalla, kamar tamu dan ruangan lainnya tetap saja Anisa tidak menemukan sosok suaminya itu.
“Apa Mbok Ijah melihat Mas Alwi?” tanya Anisa ketika membuat sarapan di dapur bersama mbok Ijah.
“Tidak, Mbak. Sejak subuh tadi den Al belum terlihat keluar kamar,” jawab mbok Ijah sopan.
“Kemana perginya mas Alwi pagi-pagi begini ya, Mbok?” tanya Anisa lirih.
“Eh, saya tidak tahu, Mbak. Mungkin tidur di kamar mbak Lathif,” ucap mbok Ijah asal tanpa sadar membuat Anisa merasakan sesak di dadanya.
“Oh, ya sudah. Tolong Mbok Ijah lanjutkan masaknya ya, saya mau membereskan barang yang akan saya bawa pergi nanti.”
“Baik, Mbak.”
Anisa berjalan meninggalkan dapur membiarkan mbok Ijah menyelesaikan pekerjaannya yang biasanya dirinya sendiri yang memasak untuk suaminya itu.
Namun pagi ini suasana hatinya entah mengapa tidak bisa ia kendalikan. Apa karena kejadian tadi malam atau karena tidak menemukan keberadaan suaminya di kamarnya padahal minggu ini jadwal Alwi tidur di kamar Anisa.
Apalagi ketika mendengar mbok Ijah mengatakan jika kemungkinan Alwi berada di kamar Lathifa.
‘Pantaskah aku cemburu kepada kamu, Fa? Mas Alwi tak pernah menegurku seperti ketika ia menegurmu, dia juga tak pernah meninggikan suaranya kepadaku.’
Anisa menaiki setiap anak tangga degan langkah lebar sedikit berlari, ia ingin segera sampai di kamarnya.
‘Bukan karena aku tak pernah membuat kesalahan yang membuatnya marah padaku, Fa. Bahkan aku sering kali membuatnya marah. Namun, mas Alwi hanya diam dan pergi menghindariku.’
Ceklek!
Anisa membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalamnya, ia melihat foto pernikahannya dengan Alwi yang terpajang di atas nakas.
Anisa berjalan mendekat dan mengambil bingkai foto itu, menatapnya dengan lekat mengingat masa lalunya yang tidak seindah yang orang lain lihat.
“Aku akui kamu hebat, Fa. Tak butuh waktu lama kamu sudah bisa mencuri perhatian Mas Alwi meski kalian berdua tak menyadarinya satu sama lain. Asal kamu tahu, Fa ... dulu aku membutuhkan waktu lebih dari dua tahun hanya sekedar untuk mencairkan hatinya yang terlalu dingin itu.”
Anisa kembali meletakkan bingkai foto tersebut ke tempat semula.
“Beruntungnya kamu bisa mendapatkan perhatian Mas Alwi lebih besar dari pada aku. Semoga kamu orang yang tepat yang akan menemaninya kelak.”
__ADS_1
Anisa bersiap untuk melakukan perjalanan bersama rekan-rekannya, meskipun batinnya rapuh dan terluka namun semua ini sudah menjadi pilihannya.
Sejatinya tak ada satu pun perempuan yang ikhlas berbagi cintanya kepada siapa pun. Sudah fitrahnya perempuan menjadi makhluk paling pencemburu. Tetapi Anisa mengesampingkan egonya demi masa depan suaminya, ia rela dipoligami.
Poligami yang dilakukan suaminya atas permintaan Anisa sendiri, bahkan dia juga yang memilih madu untuknya. Anisa pula yang menyiapkan semua kebutuhan Lathifa di rumah itu, ia membuatnya sebaik dan senyaman mungkin agar istri kedua suaminya itu merasa nyaman dan betah tinggal bersama mereka.
Drrrtt...
Anisa meraih ponsel miliknya yang berdering di atas meja, ia melihat ada sebuah pesan masuk lalu membukanya.
[Kami sudah berkumpul di kampus dan akan sarapan pagi bersama di kantin, kamu jangan terburu-buru. Kita tidak akan meninggalkan kamu, oke. Nikmatilah waktumu bersama suami tercinta kamu, 3 hari ke depan kalian akan berpisah.]
Anisa tersenyum membaca pesan dari salah satu rekannya, semua rekan dosen Anisa mengenal Alwi dan Anisa sebagai pasangan yang romantis karena Alwi sering datang tiba-tiba ke kampus hanya sekedar untuk mengantar makanan atau mengajak Anisa makan di luar meski pun hanya sebentar.
Namun setelah pernikahan poligaminya diketahui banyak orang, Alwi jarang lagi mendatangi Anisa di kampus. Jika pun Alwi mendatangi Anisa, Anisa pasti akan mengajak serta Lathifa ikut serta bersama mereka.
Anisa turun ke lantai satu, ia masih belum menemukan keberadaan suaminya. ‘Apa mungkin Mas Alwi dan Lathifa belum bangun? Apa aku harus membangunkan mereka? Tapi jika aku tidak membangunkan mereka aku bisa terlambat untuk pergi.’
“Mbak, sarapannya sudah siap,” ucap mbok Ijah menyadarkan Anisa dari lamunannya.
“Terima kasih, Mbok. Sepertinya Mas Alwi dan Lathifa belum bangun, saya sarapan di kampus saja ya. Mbok Ijah sarapan dulu saja tidak perlu menunggu mereka,” ucap Anisa.
“Baik, Mbak.”
Ceklek!
“Astaghfirullah, Mas!” Anisa terkejut melihat keberadaan suaminya yang sedari tadi ia cari.
Ternyata Alwi tertidur di ruang kerjanya, hanya 2 ruangan yang belum Anisa periksa yaitu kamar Lathifa karena ia tidak mungkin mengganggu Lathifa dan Anisa tidak memeriksa ruang kerja Alwi karena sebelumnya suaminya itu tidak pernah tidur di ruang kerja, selarut apa pun Alwi selesai dengan pekerjaannya, ia pasti akan kembali ke kamar meskipun haru sudah subuh.
“Mas, bangun sudah siang.” Anisa dengan pelan membangunkan Alwi yang tidur di sofa yang ukurannya tidak sepadan dengan tubuhnya yang besar. Pasti setelah bangun Alwi akan merasakan pegal di seluruh tubuhnya itu.
“Mas!” panggil Anisa ulang.
“Ugh! Sebentar lagi, Sayang. Masih malam tidur lagi ya,” ucap Alwi dengan suara serak has bangun tidur, ia mengira masih tengah malam.
“Mas! Sudah pukul setengah tujuh! Kamu belum subuhan, kan?” tebak Anisa, ia menyesal tadi sudah berburuk sangka kepada suaminya itu.
Mendengar perkataan istrinya Alwi segera membuka matanya lebar-lebar, tanpa diperintah kedua kalinya ia sudah duduk dengan tegak dengan nyawa yang sudah sepenuhnya terkumpul.
__ADS_1
“Astaghfirullah! Kenapa kamu tidak membangunkan aku, Sayang?” tanya Alwi terperanjat
“Maaf, Mas. Aku tidak tahu kalau kamu tidur di sini, aku kira kamu tidur di kam-”
“Ssttt ... jangan dilanjutkan, Sayang. Tidak mungkin aku tidur di sana, maaf ya tadi malam aku ketiduran saat menyusun kembali beberapa file untuk meeting hari ini.”
Alwi merasa bersalah karena tidak menemani istrinya kemarin malam, ia takut istri pertamanya itu akan merasa sedih. Namun Alwi justru mendapati senyum merekah di wajah teduh Anisa.
“Iya tidak apa-apa, Mas. Seharusnya akun yang harus minta maaf kepada kamu.”
“Minta maaf karena?”
“Karena ... cepat subuhan, Mas!” peringat Anisa.
“Iya, Sayang.” Alwi bergegas berdiri dan berlari keluar untuk menjalankan kewajibannya yang sempat tertunda.
“Kamu jangan pergi dulu, tunggu aku! Nanti aku antar kamu ke kampus!” teriak Alwi yang sudah berada di luar ruangan.
‘Maaf, Mas. Aku sudah berpikir buruk kepada kamu, aku tidak tahu kamu tidur di sini. Maaf juga karena ke tidak tahuanku itu kamu jadi terlambat bangun dan terlambat menjalankan kewajiban kamu kepada Sang Khalik.’
...****************...
Karena suaminya sudah bangun, Anisa memilih untuk sarapan di rumah bersama suaminya dan madunya.
Selama makan berlangsung, Lathifa hanya terdiam menikmati makanannya tanpa selera. Sedangkan Alwi kembali bersikap acuh kepada Lathifa, mungkin ia masih merasa kesal dengan apa yang terjadi kemarin.
Anisa merasa dejavu dengan suasana tersebut. “ Emh ... Fa, kamu baik-baik saja, kan?” tanya Anisa khawatir melihat wajah Lathifa terlihat sedikit pucat.
“Aku baik-baik saja, Mbak. Mungkin hanya kurang istirahat saja,” jawab Lathifa pelan.
Alwi yang mendengar jawaban istri mudanya itu merasa kurang suka, entah mengapa setiap melihat wajah Lathifa ia ingin sekali memarahinya.
“Aku sudah selesai,” ucap Alwi menyelesaikan sarapannya. “Aku tunggu di mobil, Sayang,” lanjutnya lalu berlalu begitu saja meninggalkan meja makan.
Anisa dan Lathifa terheran menatap kepergian suami mereka.
“Ingat jangan keluar rumah tanpa seizin dariku!” teriak Alwi dari ruang tamu memperingati Lathifa.
“Fa, aku pergi dulu ya. Jika ada apa-apa katakan saja kepadaku atau mas Alwi, dan kamu jangan membuat mas Alwi marah lagi.” Anisa tidak tega melihat madunya yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri kena marah suaminya lagi.
__ADS_1
“Baik, Mbak. Hati-hati di jalan,” balas Lathifa tersenyum mengantar kepergian madunya.