Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
L. A. S. S


__ADS_3

Tiga hari sudah Lathifa memulai kehidupan barunya bersama sang ibu di rumah kontrakan barunya, rumah sederhana dengan luas 49 m² sudah sangat cukup untuk tempat mereka tinggal.


Ternyata Bram dan Ayu tidak hanya membayarkan uang sewa saja, mereka juga sudah mengisi rumah tersebut dengan perlengkapan yang cukup lengkap, seperti mesin cuci, lemari es, televisi, lemari pakaian serta alat masak lainnya sehingga bu Hana dan Lathifa sangat terbantu.


“Bu, apa ibu masih ingat wajah ibu-ibu yang sudah menolong kita?” tanya Lathifa pagi itu ketika bersiap untuk pergi ke rumah sakit menjenguk anak-anaknya.


“Masih, Thif ... hanya saja ibu belum bisa menemukan beliau, padahal sudah tiga hari ini kita mencarinya di seluruh rumah sakit, namun Allah belum mempertemukan kami kembali, ” balas Ibu Hana.


“Semoga hari ini kita bisa berjumpa dengan beliau ya, Bu.” Lathifa sangat berharap bisa mengucapkan rasa terima kasihnya secara langsung kepada malaikat penolongnya.


“Semoga saja, Thif, ” ucap Ibu Hana penuh harap, lalu meraih dompetnya dan berdiri. “Ayo berangkat, Thif.”


“Iya, sebentar Bu. Lathifa lupa belum menutup pintu belakang,” ucap Lathifa lalu berlari ke dapur.


Ketika sedang menunggu Lathifa, ibu Hana dikagetkan dengan kedatangan Bram yang tiba-tiba. Bram masuk ke dalam rumah dengan napas tersengal-sengal.


“Bu, Lathifa dimana?” tanyanya tanpa mengucap salam terlebih dahulu.


“Assalamualaikum, Bram!” tegur ibu Hana sambil menggelengkan kepala pelan melihat tingkah Bram.


Mendengar teguran tersebut, Bram hanya memperlihatkan deretan giginya merasa bersalah sambil mengatur napasnya. “Assalamualaikum, Bu.”


“Wa’alaikummussalam,” jawab Ibu Hana. “Kamu tidak berangkat kerja?”


“Dimana Lathifa, Bu?” tanya Bram mengabaikan pertanyaan ibu Hana.


“Dia ada dibelakang, kenapa kamu ngos-ngosan seperti itu, Bram?”


“Ada-” Kalimat Bram terpotong dengan kedatangan Lathifa dari arah dapur.


“Ada apa mencari saya, Mas?” tanya Lathifa.

__ADS_1


“Ayo cepat kita rumah sakit sekarang!” ucap Bram mendesak membuat Lathifa dan ibu Hana saling melempar pandang.


“Iya, kita juga baru mau berangkat, Mas,” jawab Lathifa. “Memangnya Mas Bram tidak pergi ke kantor?”


lanjutnya.


“Nanti saja aku jelaskan, sekarang kita harus ke rumah sakit segera!” desak Bram.


Bram mendesak keduanya agar segera pergi ke rumah sakit, Lathifa dan ibu Hana pun tidak banyak bertanya dan mengikuti Bram tanpa menaruh curiga apa pun.


Sesampainya di rumah sakit, Bram langsung mengarahkan keduanya agar segera menuju ruang dokter yang bertanggung jawab atas baby twin.


Namun Lathifa ingin melihat anak-anaknya terlebih dahulu.


Bram pun mencegah Lathifa yang hendak melangkah menuju ruang NICU. “Kita ke ruangan dokter dulu, Fa. Beliau sudah menunggu kedatangan kita.”


“Aku mau melihat baby-”


“Nanti saja!” pangkas Bram cepat berhasil membuat Lathifa bertanya-tanya dan merasa gelisah.


Sesampainya di ruangan dokter, Dokter memberikan penjelasan tentang kondisi salah satu baby twin yang membuat Lathifa terkejut.


“Kuatkan hati Anda, ibu Lathifa. Kami sudah berusaha yang terbaik, namun bayi Anda tidak dapat terselamatkan.”


Mendengar perkataan dokter tersebut, Lathifa kehilangan kendali atas tubuhnya. Tanpa menunggu lama ia pun seketika tumbang dan tak sadarkan diri.


“Astaghfirullah, Thif! Bangun, Nak!” ibu Hana panik melihat kondisi putrinya, beliau menepuk pelan pipi Lathifa namun tak berhasil membuat wanita itu membuka matanya.


Lathifa segera dibawa ke UGD, ibu Hana pun ikut menemani putrinya. Tinggallah Bram di ruangan tersebut, ia mewakili Lathifa dan mendengarkan penjelasan rinci dari dokter, karena Bram merupakan wali dari baby twin selain Lathifa.


“Seperti yang pernah saya jelaskan sebelumnya tentang intrauterine growth restriction (IUGR). Kedua bayi Ibu Lathifa mengalami kesulitan bernapas karena sistem pernapasan mereka yang belum matang dan sempurna. Hal tersebut biasa terjadi kepada bayi yang lahir prematur, meskipun saat ini banyak alat medis yang mampu menunjang pertumbuhan bayi prematur, ada beberapa kasus yang tidak bisa terselamatkan.”

__ADS_1


“Putra ibu Lathifa bayi yang kuat, dalam semalam dia mampu bertahan dan melewati masa-masa kritisnya,” terang Dokter.


“Putri ibu Lathifa mengalami Patent ductus arteriosus (PDA), hal ini berkaitan dengan kondisi dan kesiapan tubuh bayi yang belum sempurna yang mengakibatkan masalah pada jantungnya. Perkembangannya selama dalam kandungan tidak berkembang dengan baik sehingga tubuhnya terlalu kecil dan organ dalam tubuhnya belum terbentuk sempurna juga bisa menjadi salah satu penyebabnya.”


Bram terdiam mendengarkan penjelasan dari dokter dengan saksama, tak ingin melewatkan sedikit pun.


“Selama 2 hari kami melakukan pengamatan, dan di hari ke 3 bayi Ibu Lathifa tidak bisa bertahan lebih lama.”


Bram terdiam tidak dapat berkata-kata, meskipun bukan anak kandungnya, namun Bram sudah menganggap baby twin sebagai anak-anak mereka dan tulus menyayangi keduanya.


“Baik, Dokter. Terima kasih untuk semuanya.”


“Sama-sama, Pak. Sudah menjadi tanggung jawab kami untuk melakukan yang terbaik, tapi maaf, kami tidak berhasil menyelamatkan putri Bapak. Kami hanya bisa berusaha, namun Allah lah yang berkuasa atas segalanya.”


Bram berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit menuju tempat dimana baby twin berada, ia harus tegar dan mengurus jenazah bayi mungil nan malang tersebut. Bayi yang belum sempat merasakan belaian dari kedua orang tuanya dan kini harus berpisah untuk selamanya.


...****************...


Di tempat lain, di sebuah kamar VIP. Rayan duduk berhadapan dengan Abi Husein tengah membahas masalah pekerjaan. Sedangkan umi Hanifa sibuk mengelap tubuh putranya yang belum juga terbangun dari bermalas-malasannya.


“Apa kamu bisa menghandle semua pekerjaan di sini sendirian, Ray?” tanya Abi Husein dengan wajah lelahnya.


“Insya Allah Raiyan akan berusaha yang terbaik, Bi. Abi sebaiknya banyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran.” Raiyan menatap sedih wajah pria paruh baya yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri, meskipun Abi Husein terlihat tegar dan baik-baik saja, Raiyan tahu betul jika Abi Husein sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.


Raiyan mengalihkan pandangannya ke arah sahabatnya, Alwi yang belum juga membuka matanya setelah 2 pekan berlalu. ‘Bangun, Al! Bangkit! Apa kamu tidak kasihan melihat kedua orang tuamu bersedih? Sampai kapan kamu akan terus seperti ini?’


Raiyan terus menatap sahabatnya itu, ingin rasanya ia menarik paksa Alwi agar segera bangun dari tidur panjangnya. Hatinya terasa perih melihat kondisi Alwi, tanpa sadar matanya berkaca-kaca dan tersadar ketika ia dikejutkan dengan Umi Hanifah yang tiba-tiba berteriak kencang.


“Masya Allah! Allahhu Akbar! Abi!!!” teriak Umi Hanifah membuat kedua pria itu segera berlari ke arahnya.


“Ada apa, Umi?” tanya Abi Husein dan Raiyan bersamaan.

__ADS_1


“A-abi ... A-Alwi ....” Umi Hanifah berkaca-kaca dan tak mampu bersuara seakan tenggorokannya tersumbat, beliau hanya mampu menunjuk ke arah putranya dan kedua pria tersebut mengikuti arah telunjuk Umi Hanifah.


“Allah!”


__ADS_2