
Sejak kejadian saat itu, Alwi menyerahkan semua urusan yang berhubungan dengan Sanjaya Group kepada Raiyan. Tuan Sanjaya pun tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Namun, Echa tidak menyukai hal itu. Selama satu bulan, ia menyuruh bawahan ayahnya untuk memata-matai kehidupan Anisa dan Alwi.
Dari hal tersebut, Echa mengetahui bahwa Alwi sudah menikah dengan wanita lain, dan semakin membuat Echa murka setelah mengetahui siapa istri kedua Alwi.
Byur!
Lathifa tergagap merasakan air dingin yang mengguyur di atas kepalanya lalu merembes ke bawah. Membuat jilbab serta rambutnya basah, pakaiannya pun ikut basah.
Lathifa yang sedang fokus dengan laptop di depannya mendongakkan kepala dan mendapati seorang wanita berdiri tepat di depannya.
“Apa-apaan kamu, Cha!” bentak Lathifa.
“Lo pantas mendapatkannya! Bahkan, ini belum seberapa untuk cewek ganjen seperti lo!” Chaca berdiri dengan wajah angkuhnya, tangannya masih memegang teko kosong bekas es teh yang ia siramkan ke tubuh Lathifa.
“Jaga ucapanmu, Cha!” Lathifa tidak tinggal diam, dirinya tidak terima dikatakan yang tidak-tidak oleh Chaca.
“Dasar munafik! Percuma kamu menutupi tubuhmu dengan pakaian serba tertutup dan kerudung di kepalamu! Muka sok polos! Sok alim! tapi kenyataannya suka menggoda suami orang!”
“Apa maksud kamu, Cha?” Lathifa menahan emosinya, ia sadar emosi hanya akan memperkeruh keadaan.
Namun pertengkaran mereka mengundang perhatian mahasiswa yang sedang berada di kantin. Semua mata menatap ke arah mereka, tak sorang pun berniat untuk melerai mereka.
Chaca membungkukkan tubuhnya sejajar dengan Lathifa, tangannya dengan kuat mencengkeram rahang Lathifa.
“Lepas!” Lathifa meringis, merasakan kuku panjang Chaca menancap di pipinya.
“Gue nggak akan biarkan lo mengambil apa yang seharusnya menjadi milik gue lagi! Cukup lo ambil Dylan dan Yoga!” teriak Chaca membuat Lathifa mengerutkan alisnya bingung.
“Apa yang kamu bicarakan, Cha?” Lathifa menahan perih di pipinya, tangannya mencoba melepaskan cengkeraman Chaca.
Chaca mendekatkan wajahnya di telinga Lathifa. “Tapi ... tidak untuk Alwi Husain Ibrahim! Gue akan merebutnya dari lo!” Bisik Chaca.
Lathifa membuka matanya lebar, tubuhnya menegang. Hal yang selama ini ia takutkan, benar-benar akan terjadi.
“Kalian semua lihat! Cewek ini, Lathifa! Wajahnya saja yang lugu. Entah sudah berapa laki-laki yang berhasil digodanya! Bahkan, mungkin ia sudah beberapa kali menjual tubuhnya!” Chaca menatap Lathifa dengan sinis lalu melepaskan cengkeramannya, meninggalkan goresan di wajah Lathifa.
Lathifa hendak melayangkan tangannya di wajah Chaca, namun dihalang oleh salah satu teman Chaca dan mendorong tubuh Lathifa hingga tersungkur dari kursinya.
“Asal kalian semua tahu! Demi uang, entah rayuan dan godaan macam apa yang cewek ini gunakan sehingga berhasil menjadikannya sebagai madu dari salah satu Dosen kita!” seru Chaca membuat semua orang saling berbisik dengan tatapan menghina tertuju ke arah Lathifa.
“Cukup!” tegas seseorang yang muak dengan keributan di depannya.
Seorang pria keluar dari kerumunan mahasiswa dan berjalan mendekat ke arah Lathifa. Ia melepaskan jaketnya dan memasangkan ke tubuh Lathifa yang basah dan sedikit memperlihatkan lekuk tubuhnya.
“Mau apa, lo! Mau bela cewek jal*ng ini, hah!” teriak Chaca dengan mata merah melotot ke arah pria itu.
“Cukup! Tindakanmu ini salah, Cha!” peringat pria itu.
“Salah? Jelas saja lo bela dia, lo sudah tergila-gila padanya! Jangan-jangan, lo sudah mencicipi tubuhnya?”
Plak
“L-lo ....” Chaca memegang pipinya yang terasa panas oleh tamparan pria itu. Tangan satunya mengepal, rahangnya mengeras dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Chaca berjongkok di dekat Lathifa, tangannya menarik jilbab Lathifa hingga membuatnya mendongakkan kepalanya.
“Akh!”
“Puas lo! Dulu lo ambil Dylan dari gue, lalu lo ambil Yoga, dan sekarang lo rebut suami bu Putri!”
Semua orang terkejut akan perkataan Chaca, mereka semakin menghina Lathifa karena yang mereka tahu bu Putri sangat sempurna sebagai seorang wanita. Tega sekali orang yang menyakiti hatinya.
“Cewek macam apa lo tega merebut suami orang demi mengejar cita-cita!” seru salah satu mahasiswa.
“Dasar wanita jal*ng! Di mana hatimu hingga tega menyakiti perasaan wanita lain?” ujar mahasiswa lainnya.
__ADS_1
“Dasar pelac*r!”
“Tidak tahu diri!”
Banyak mulut yang mengeluarkan kata-kata kasar kepada Lathifa.
Lathifa merasakan tubuhnya terasa lemas, telinganya berdengung, ia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Bayang-bayang masa lalu berputar di kepalanya.
Teriakan semua siswa terdengar jelas menyerukan satu nama di saat Dylan menaiki panggung dan menyanyikan sebuah lagu romantis berjudul ‘Kamu yang Ku Tunggu’.
Telah kutemukan
Yang Aku impikan
kamu yang sempurna
Ho ... segala kekurangan
Semua kelemahan
Kau jadikan cinta
Tanpamu, aku tak bisa berjalan
Mencari cinta sejati
Tak kutemukan
“Dylan! Dylan! Dylan!” teriak gadis-gadis berseragam putih abu di lapangan sekolah, terik matahari tidak menghalangi semangat mereka. Bahkan, binar bahagia terlihat jelas di wajah mereka. Namun tidak untuk Lathifa, dia hanya terpaksa ikut berdiri di tengah kerumunan karena tangannya ditarik paksa oleh Chaca.
“Dylan! I love you!” seru Chaca yang berdiri di sebelah Lathifa.
“Tif, gue cinta banget sama Dylan.” Chaca dengan semangatnya mengutarakan isi hatinya, namun Lathifa hanya cuek sibuk dengan novel di tangannya.
Gadis itu sangat suka membaca novel, keinginan terbesarnya adalah suatu saat nanti bisa membuat setidaknya sebuah karya novel.
Hingga satu lagu selesai dibawakan oleh Dylan, Lathifa tetap fokus dengan bacaannya.
Ternyata (Ooh ternyata)
Ternyata, kamu yang kutunggu ....
“Dylan!!!!” seru para fans Dylan.
“Terima kasih semuanya! Dan saya ingin mengatakan sesuatu.” Dylan menatap lekat ke tengah-tengah para penonton, sedari tadi matanya fokus menatap satu gadis.
“Tif! Dylan menatap ke arah gue! Aduh, senangnya!” Chaca menyenggol keras bahu Lathifa membuat buku di tangan Lathifa terjatuh, lalu ia berjongkok untuk mengambil bukunya.
“Lagu tadi mewakili isi hatiku, yang ingin kupersembahkan untuk seseorang yang spesial untukku.”
Semua orang terdiam membisu, fokus ingin mendengar kelanjutan kata-kata Dylan.
“Maukah kau menjadi kekasihku, Lathifatunnisa?” tanya Dylan dengan mantap.
Semua orang mengikuti arah pandangan Dylan, menatap seorang gadis yang tengah berjongkok di tengah-tengah lautan manusia.
Lathifa kembali menjatuhkan bukunya, ia bertahan di posisinya, takut untuk kembali berdiri.
“Lathifatunnisa! will you be my girlfriend?” ucap Dylan.
“Terima!! Terima!!” seru anak-anak lainnya.
Lathifa mengangkat wajahnya dan mendapati wajah Chaca yang memerah menatapnya dengan pandangan kecewa.
Chaca membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan kerumunan. Lathifa berdiri dan mengejar Chaca, meninggalkan Dylan yang berdiri di atas panggung menunggu jawaban dari Lathifa dengan wajah kecewa.
“Gara-gara lo, Dylan menjauh dari gue! Gara-gara lo, Yoga menolak dijodohkan dengan gue!” Chaca semakin menarik jilbab Lathifa membuatnya tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
“Cukup Cha! Bukan karena Lathifa gue menolak perjodohan itu! Lihatlah dirimu sendiri! Pantaskah dirimu untuk dihargai dengan perilakumu ini? Pantaskah aku untuk menerimamu?” Yoga melepaskan tangan Chaca dari jilbab Lathifa.
“Gara-gara lo, Bu Putri harus membagi suaminya! Dasar jal*ng!” maki Chaca
Plak!
Chaca memegangi pipinya yang terasa panas. Dua kali dia mendapatkan tamparan di pipinya.
“Jaga ucapanmu!” Anisa berdiri di depan Chaca, ia menatap wajah Chaca dengan nyalang. “Jangan kamu ucapkan perkataan yang tidak kamu suka saat mendengarnya ketika orang lain mengucapkannya padamu!”
Anisa menatap mahasiswa yang berkerumun di sekitarnya. “Seorang muslim adalah orang yang tidak menyakiti muslim lainnya dengan lisan dan tagannya! Apalagi membiarkan saudara mereka diperlakukan tidak adil.”
Semua orang terlihat salah tingkah mendengar teguran dari Dosen mereka, orang yang menjadi pembahasan atas keributan tersebut.
“Saya sendiri yang menginginkan Lathifa untuk menjadi istri kedua suami saya! Di sini Lathifa tidak bersalah! Apa yang dituduhkan kepada Lathifa semua tidak benar! Janganlah kalian menghakimi seseorang sebelum mengetahui kebenarannya!” ucap Anisa dengan lantang.
Semua orang terdiam, tidak ada yang berkutik. Mereka merasa bersalah karena langsung termakan oleh perkataan Chaca tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu.
“Bubar semuanya!” seru Yoga.
Semua orang membubarkan diri, hanya tinggal Anisa, Lathifa, Yoga Chaca dan kedua temannya.
“Sudah puas kamu, Cha?” tanya Yoga dengan wajah memerah menahan emosi.
Chaca terdiam, saat ini dia tidak bisa untuk melawan, karena bisa di pastikan dia akan kalah.
“Kamu tahu cara menegur orang yang salah? Orang yang menegur orang lain di saat mereka hanya berdua maka itulah nasihat. Dan memberi nasihat di depan banyak orang adalah salah satu bentuk dari pelecehan,” ucap Anisa lalu membantu Lathifa untuk berdiri.
“Asal kamu tahu, Cha. Alasan aku menolak perjodohan kita bukan karena Lathifa. Memang aku sempat menaruh hati kepadanya, namun itu sudah lama, Cha.” Yoga menatap iba kepada Lathifa. ‘Bahkan sampai saat ini rasa itu masih ada, namun harus layu sebelum mekar,’ lanjutnya dalam hati.
“Cha, sorry. Sumpah aku nggak pernah ada hubungan dengan Dylan, kamu tahu sendiri kan, bapakku dan mas Hafiz selalu mewanti-wanti aku agar menjaga hubungan dengan pria yang bukan mahramku.” Lathifa kembali duduk di kursi, ia merasakan nyeri pada pergelangan kakinya.
“Ck, bodo amat! Tetap lo yang salah!”
“Astaghfirullah! Istighfar, Cha!” seru Anisa memperingati.
“Semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dari aku, Cha.”
Chaca menatap Yoga jengah. “Gue udah nggak minat sama lo! Dan gue pasti akan mendapatkan yang jauh lebih baik dari lo!”
Chaca melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu di ikuti oleh kedua temannya.
...*****...
Tok! Tok! Tok!
“Fa, saya masuk ya,” ucap Anisa yang berdiri di depan pintu kamar Lathifa dengan nampan di tangannya.
“Masuk, Mbak! Pintunya nggak dikunci!”
Anisa perlahan membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Lathifa. Ia melihat Lathifa duduk selonjor bersandar di kepala ranjang dengan laptop di pangkuannya.
“Fa, malam ini saya tidur di sini ya! Menemani kamu.” Anisa meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas.
“Tidak perlu, Mbak. Saya baik-baik saja.”
“Saya sudah izin sama mas Al, ini saya bawakan susu untuk kamu, Fa. Kamu selalu saja melupakannya.”
“Mbak ....” Lathifa menatap wajah Anisa dengan wajah sedih.
“Apa lagi alasan kamu? Sibuk? Kamu itu ya, kalau tidak di ingatkan pasti lupa. Kamu sudah minum asam folat belum?”
Lathifa dengan ragu menggelengkan kepalanya, ia melihat gelas susu di tangan Anisa.
“Minumlah, Fa. Agar program kalian segera memberikan hasil.”
Terpaksa Lathifa meneguk susu promil yang selama sebulan ini selalu rutin ia minum. Ingin rasanya menolak, namun ia tidak tega melihat wajah bahagia Anisa. Alwi pun juga tidak luput dari perhatian Anisa, setiap hari Anisa selalu mengingatkan Alwi dan Lathifa untuk rutin meminum susu dan vitamin untuk promil mereka.
__ADS_1