Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Salah Paham


__ADS_3

Lathifa berjalan menelusuri koridor menuju tempat parkir. Hari ini Lathifa ada janji untuk pergi bersama Chaca.


Lathifa terlihat anggun dengan setelan celana kulot hitam dipadukan dengan tunik maroon selutut serta pashmina coklat muda yang menjuntai hingga menutup dadanya, style trendi pilihan suaminya.


Setelah sedikit drama di butik tadi pagi, akhirnya Alwi mengalah dan membiarkan Lathifa untuk tetap memakai celana. Asal pakaian atasnya harus di bawah pinggang.


Sesampainya di tempat parkir, Lathifa menghampiri Chaca yang berdiri sendirian di samping sebuah motor sport hitam “Hai Cha,” sapa Lathifa. “Wow! Motor siapa?”


“Teman gue,” jawab Chaca singkat.


“Kok ada sama kamu?”


“Panjang ceritanya.”


Lathifa menganggukkan kepalanya, sejurus kemudian ia meneliti penampilan Chaca. Setelan celana hitam panjang, kaos putih polos ditutup dengan jaket kulit hitam, dengan rambut yang di kuncir kuda.


“Kita naik ini?” tanya Lathifa ragu.


“Kenapa? Lo udah nggak level naik motor?” tanya Chaca dengan tatapan menyelidik.


“Enggak. Bukannya gitu, hanya saja-”


“Udah ayo buruan. Teman gue udah menunggu di mall.” Chaca mendesak Lathifa.


“Tapi aku enggak membawa helm.”


“Tenang saja, gue udah siapkan buat lo.”


Lathifa menerima helm yang disodorkan oleh Chaca. Lathifa merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya, namun dengan cepat ia menepis perasaan tersebut, ia tidak ingin bersuudzan.


“Lo yang bawa motor ini ya! Gue bonceng di belakang saja!” ucap Chaca tidak ingin dibantah.


Lathifa pun tanpa curiga mengikuti permintaan Chaca.


Lathifa melajukan motornya dengan kecepatan sedang, meskipun jalanan belum terlalu padat karena belum memasuki jam pulang kantor.


Lathifa menghentikan motornya karena lampu lalu lintas yang menyala merah di depannya.


Disebelahnya, ada sebuah mobil dimana ada sepasang mata yang menatap tajam ke arah dua pengendara motor tersebut dengan wajah yang terlihat tidak suka.


“Al, kita langsung ke tempat pertemuan?”


Raiyan mengalihkan pandangannya dari jalanan ke arah atasannya tersebut karena tidak mendapat jawaban dari Alwi.


“Al!” seru Raiyan mengagetkan Alwi.


“Apa?” tanya Alwi balik tanpa mengalihkan pandangannya dari arah samping mobilnya.


Raiyan penasaran apa yang membuat atasannya tersebut tidak meresponsnya lalu mengikuti arah pandangan Alwi,


“Wow! Keren, cantik, mantap deh!” ceplos Raiyan dan mendapatkan hadiah pukulan di kepalanya.


“Jaga mata! Lihat depan!”

__ADS_1


“Ck, situ juga nggak jaga mata! Istri sudah dua mau tambah lagi? Ingat! Banyak yang masih jomblo,” gerutu Raiyan membuatnya mendapatkan pukulan untuk kedua kalinya.


“Ck, punya bos kejam kali.” Raiyan mengusap kepalanya yang berasa sakit. “Eh, tapi sepertinya aku mengenal cewek yang di depan.”


“Buruan jalan. Lampunya sudah hijau!”


Motor yang dikendarai Lathifa berbelok ke kiri sedangkan mobil Alwi berjalan lurus ke depan. Mereka mengejar waktu untuk menghadiri meeting yang tadi pagi ditunda oleh Alwi.


Raiyan menancap gasnya, dan tidak menanyakan lagi masalah cewek bermotor tadi.


Sedangkan Alwi masih merasa tidak tenang, ia yakin bahwa tadi adalah istrinya.


Lathifa dan Chaca sampai di mall dan bertemu dengan temannya Chaca, seorang pria bertubuh tinggi dengan jambang tipis di wajah tampannya.


Mereka bergegas menuju bioskop untuk menonton film yang saat ini sedang populer. Film horor yang diangkat dari kisah nyata di tahun 2019 di daerah bagian timur pulau Jawa yang berjudul ‘KKN di Desa Penari’.


Usai dengan acara menontonnya, mereka berkeliling mall hanya sekedar untuk melihat-lihat tanpa membeli apapun. Latifa dan Chaca terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka. Sedangkan pria yang bernama Bryan hanya mengekor di belakang mereka.


“Guys, makan dulu yuk! lapar gue,” ajak Bryan.


“Enaknya makan apa, ya?” tanya Chaca yang berjalan dengan menggandeng lengan Lathifa.


“Aku ngikut kalian saja,” ucap Lathifa.


“Makan di sana saja yuk. Sepertinya enak,” ajak Bryan.


Mereka bertiga masuk ke dalam salah satu restoran di lantai tersebut. Chaca dan Bryan mencari meja kosong untuk mereka tempati, sedangkan Lathifa pamit untuk ke toilet.


“Bagaimana?” tanya Chaca setelah mendapatkan meja untuk mereka.


“Gue bilang juga apa? Lo bakalan suka deh.”


“Bolehlah, lain kali lo ajak dia main sama gue.”


“Siap.” Chaca terlihat mengembangkan senyumnya.


“Hai, sedang membicarakan apa?” tanya Lathifa yang baru datang.


“Bukan apa-apa. Gue hanya cerita sama Bryan, kalau hari ini gue senang banget bisa jalan sama lo.” Chaca menarik tangan Lathifa agar duduk di sebelahnya.


Bryan menatap Lathifa tanpa berkedip. Kemudian ia memanggil waiters untuk memesan makanan.


Selama menunggu pesanan datang, mereka bertiga saling bercerita berbagai hal.


“Guys, gue ke toilet bentar ya,” pamit Chaca diangguki oleh Lathifa.


Chaca melirik ke arah Bryan dan menganggukkan kepalanya. Ia segera meninggalkan Lathifa berduaan bersama Bryan.


Sepeninggal Chaca, Lathifa hanya diam dan sibuk dengan ponselnya, membuat Bryan sedikit kesal karena merasa diabaikan.


“Apa yang kamu lihat di dalam ponselmu? Sehingga mengabaikan aku yang ada di depanmu?” tanya Bryan tak suka.


“Eh, maaf. Aku tidak bermaksud demikian.” Lathifa merasa tidak enak hati.

__ADS_1


“Maaf diterima.” Bryan melebarkan senyumnya.


“Terima kasih.”


“Manis.”


“Apa?”


“Tidak. Ada sesuatu di atas kepalamu.” Bryan menjulurkan tangannya ke atas kepala Lathifa.


Lathifa merasa salah tingkah, bukan karena ia menyukai hal ini. Tapi Lathifa merasa canggung berada di posisi seperti ini.


“Lathifa!”


Lathifa dan Bryan mengangkat kepala mereka mendengar seseorang menyerukan nama Lathifa.


Deg.


“M-Mas Al.” Tubuh Lathifa menenggang, mendapati suaminya sudah berdiri di dekat meja mereka.


“Pulang!” seru Alwi membuat beberapa pengunjung menatap ke arah mereka.


“Mas-”


Alwi menarik tangan Lathifa dan berlalu meninggalkan Bryan yang terlihat bingung.


Alwi yang baru selesai meeting dengan klien mampir ke mall tersebut untuk membeli sesuatu. Namun, ia harus melihat istrinya sedang bermesraan dengan seorang pria.


“Lathifa mana?” tanya Chaca yang baru kembali dari toilet.


Bryan mengangkat bahunya. “Pergi.”


Chaca menautkan alisnya. “Ke mana?”


“Pulang mungkin,” jawab Bryan acuh. “Tadi ada laki-laki datang dengan marah-marah.”


Wajah Chaca sedikit menegang, dengan cepat ia mengatur kembali mimik wajahnya. “Oh, mungkin kakaknya.”


...*****...


Alwi menyeret tangan Lathifa memasuki rumahnya, Raiyan berlari mengejar mereka.


“Mas, ada apa?” tanya Anisa di ruang keluarga, ia terkejut melihat suaminya pulang dengan wajah merah padam dengan menyeret tangan Lathifa yang diam membisu dengan mata yang berkaca-kaca.


Alwi tak menghiraukan keberadaan Anisa. Dengan langkah lebar, ia menarik Lathifa menuju kamar mereka.


“Ada apa ini, Mas Rai?” tanya Anisa kepada Raiyan yang baru datang.


Raiyan hanya mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu menahu sebab kemarahan Alwi. Karena saat di mall, dia hanya menunggu Alwi di dalam mobil. Sedangkan sepanjang perjalanan pulang, tidak ada seorang pun yang mengeluarkan suaranya. Alwi hanya diam dengan wajah yang memerah menahan amarah, Lathifa duduk diam di kursi belakang.


Anisa berjalan menuju kamar Lathifa, ia menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Lathifa, merasa ragu untuk masuk ke dalamnya. Karena kamar itu adalah privasi Lathifa, dia tidak berhak ikut campur ke dalam masalah mereka.


Anisa hanya mendengar suara suaminya yang sedang memarahi Lathifa, sedangkan Lathifa hanya terdengar isak tangisnya saja.

__ADS_1


Di dalam kamar, Lathifa duduk bersimpuh di lantai melihat suaminya yang sedang mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam lemari.


__ADS_2