Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Surat untuk Anisa


__ADS_3

Untuk Mbak Anisa.


...Assalamualaikum Mbak ......


...Sebelumnya aku mau mengucapkan terima kasih karena Mbak Anisa sudah hadir dalam kehidupanku, Mbak Anisa sudah mengajari aku banyak hal tentang kehidupan ini....


...Terima kasih karena Mbak Anisa mau menerimaku menjadi sahabat mbak, bahkan Mbak Anisa bersedia menerima aku yang hina jauh dari kata baik ini untuk Mbak anggap sebagai adik....


...Aku berjanji dalam setiap doaku, aku akan selalu mendoakan agar Mbak Anisa selalu bahagia dan sehat selalu. Terima kasih atas waktu setahun ini, terima kasih atas semua kebaikan yang telah Mbak Anisa berikan kepada aku dan ibu....


...Aku ingin minta maaf karena kehadiranku adalah sebuah kesalahan, kesalahan besar yang membuat rumah tangga Mbak Anisa retak. Maafkan aku, Mbak ... Aku memilih untuk pergi, aku tidak mau menjadi penyebab kehancuran rumah tangga wanita lain....


...Maaf jika selama ini aku sering merepotkan Mbak Anisa, Maaf aku tidak bisa menepati janji yang sempat Mbak minta kepadaku waktu itu. Aku tidak mau berada di samping suami Mbak Anisa, aku menyerah sampai disini, Mbak....


...Selamat tinggal, Mbak. Semoga Mbak Anisa selalu dikelilingi oleh orang-orang baik dimana pun Mbak Anisa berada....


...Satu permintaanku, Mbak. Tolong jangan lagi menyeretku untuk kembali diantara kalian berdua, jangan pernah mencariku, Mbak. Aku akan baik-baik saja....


...Oh ya, terima kasih karena telah membantu melunasi hutang keluargaku. Suatu saat aku pasti akan mengembalikan uang tersebut meski mungkin akan membutuhkan waktu lama....


...Salam rindu dari adikmu, Lathifa....


... ...


Alwi menjatuhkan kertas di tangannya usai membaca surat dari istri mudanya tersebut, seketika tangannya gemetar dan tubuhnya terasa lemas seakan ada sesuatu yang menusuk-nusuk dadanya.


Terlintas bayangan pertikaiannya semalam dengan Lathifa, tubuh Alwi terhuyung ke belakang dan dapat dipastikan ia akan terjatuh jika saja tidak ada dinding di belakangnya yang menahan beban tubuhnya.


“A-apa ini?” tanya Alwi tergagap sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


Alwi menyesali perbuatannya semalam karena tidak bisa mengontrol emosinya, ia tidak menyangka jika Lathifa akan nekat pergi dari rumah.


“Aku kecewa padamu, Mas!” ucap Anisa dingin, terlihat jelas bola matanya memancarkan kekecewaan yang begitu besar.


“Sayang-”


Kalimat Alwi terjeda ketika Anisa dengan cepat menyela ucapan suaminya, ia tidak memberikan sedikit pun waktu untuk Alwi memberikan penjelasan.


“Aku tidak tahu ada pertikaian apa di antara kalian berdua semalam, Mas!” ucap Anisa dengan suara berat.

__ADS_1


“Tapi aku kecewa kalian menyembunyikan itu dariku!” tunjuk Anisa kepada dua ranjang di dalam kamar itu.


Alwi mengikuti arah tangan istrinya, ia membisu tak bisa berkata-kata lagi. Seperti kata pepatah, serapi apa pun bangkai ditutupi, cepat atau lambat baunya pasti akan tercium juga.


Seperti hubungannya dengan Lathifa yang ia sembunyikan dari Anisa, toh pada akhirnya semuanya terungkap seiring berjalannya waktu.


“Sayang,”


“Jangan sentuh aku, Mas!” tolak Anisa dan menepis tangan suaminya, untuk pertama kalinya Anisa berani melakukan hal tersebut kepada lelaki yang lebih dari lima tahun ini menjadi suaminya, imamnya dan panutannya.


“Nis ....” Alwi semakin hancur mendapati wanita yang ia cintai menolaknya bahkan mengabaikannya.


“Sayang, maaf a-aku-”


“Jangan meminta maaf kepadaku, Mas. Bukan aku orang yang harus menerima kata maafmu, tapi Lathifa!” sela Anisa cepat.


Anisa berlalu melewati suaminya yang masih berdiri di depan pintu, namun dengan cepat Alwi menahannya dan menarik Anisa ke dalam pelukannya.


“Kamu mau kemana?” tanya Alwi takut, ia semakin mengencangkan pelukannya.


“Lepaskan aku, Mas! Aku mau mencari Lathifa!” Anisa memberontak mencoba melepaskan dirinya dari rengkuhan suaminya.


“Tapi aku takut-”


“Sttt, dia pasti baik-baik saja, Sayang. Kamu tahu kan, dia bukan wanita lemah.”


Mendengar ucapan suaminya, untuk sesaat Anisa merasa tenang. Ia tahu bahwa Lathifa adalah wanita kuat dan mandiri, Anisa berharap Lathifa akan baik-baik saja.


Keduanya saling terdiam dalam pikiran masing-masing, tanpa mereka sadari sedari tadi ada beberapa pasang mata melihat perselisihan mereka. Namun tidak seorang pun berniat untuk menengahi sepasang suami istri yang tengah berselisih paham itu.


“Lalu, masalah apa yang membuat Lathifa begitu marah semalam?” tanya Anisa menghapus keheningan di antara mereka.


“Dia hamil,” jawab Alwi lirih, dan hanya Anisa yang bisa mendengarnya.


Anisa membalikkan tubuhnya menghadap sang suami. “Ha-hamil?” tanya Anisa tak percaya, ia merasa bingung mengapa suaminya dan madunya bertengkar hebat karena kehamilan Lathifa.


Bukankah hal tersebut yang sejak dulu mereka tunggu-tunggu kedatangannya, dan kini Lathifa sudah hamil tapi kenapa mereka bertengkar?


“Dia hamil, lalu kenapa kalian bertengkar, Mas?”

__ADS_1


“Sayang, dia hamil dan aku tidak tahu siapa ayah bayi itu,” jelas Alwi semakin membuat Anisa bingung.


“Apa maksud kamu, Mas?”


“Dengarkan aku, Nis! Aku berani bersumpah, sejak aku menikahinya sekalipun aku tidak pernah menyentuhnya, Nis! Dan sekarang dia hamil? Anak siapa yang dia kandung?” Alwi terbawa emosi sehingga tanpa sadar ia meninggikan suaranya.


“Mas!”


Bruk!


Anisa berteriak tidak percaya dengan apa yang didengarkannya, bersamaan dengan itu terdengar benda jatuh yang berhasil mengalihkan perhatian kedua orang itu.


Anisa dan Alwi bersamaan menoleh ke arah sumber suara, mereka dikejutkan dengan kehadiran kedua orang tua Alwi yang sama-sama dibuat terkejut dengan kejadian di depannya.


“A-apa maksud ucapan kamu, Al?” tanya umi Hanifah dengan mata memerah dan berkaca-kaca. Hampir saja tubuh beliau jatuh ke lantai jika saja tidak ditangkap oleh suaminya yang berdiri di sampingnya, bahkan beliau menjatuhkan makanan yang ada ditangannya.


 “U-mi, A-bi-” Alwi tergagap memanggil kedua orang tuanya, ia tidak tahu jika kedua orang tuanya akan datang hari ini dan tepat ketika kekacauan tengah terjadi di dalam rumahnya.


“Siapa yang menikahi siapa, Al?” tanya Abi Husein tegas dengan sorot mata tajamnya, sedari tadi mereka tidak ada yang bersuara. Rencananya ingin memberikan kejutan kepada putra dan menantunya, justru merekalah yang diberi kejutan oleh Alwi dan Anisa.


“A-abi, a-aku bisa jelaskan-”


“Sejak kapan kamu berpoligami?” tanya Abi Husein memotong kalimat putranya.


“Hampir setahun,” jawab Alwi lirih, ia tidak berani menatap wajah kedua orang tuanya. Terlihat jelas kekecewaan di raut wajah ibunya, wanita yang telah mengandung dan membesarkannya. Alwi merasa bersalah karena masih merahasiakan hal tersebut kepada mereka.


“Astaghfirullah, Al!” umi Hanifah beristigfar dan memegangi dadanya, beliau teringat waktu dulu pernah bertemu dengan Lathifa.


“Apa dia wanita yang dulu pernah umi temui di rumah ini?” tanya umi Hanifah dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Alwi.


Pecah sudah tangis umi Hanifah, betapa beliau merasa bersalah kepada wanita itu. “Ya Allah, Alwi! Kenapa kamu tidak mengatakannya kepada kami? Kamu anggap apa orang tuamu ini, Al?”


“Ya Allah, aku berdosa kepada dia. Dengan mudahnya umi justru menyuruhnya untuk meninggalkan rumah ini,” umi Hanifah menangis pilu, menyesali perbuatannya dulu.


Hal tersebut juga membuat semua orang terkejut, terlebih Anisa yang paling merasa bersalah.


“Umi, Abi, maafkan Anisa. Semua ini salah Anisa, Anisa yang meminta Mas Alwi untuk menikahi Lathifa, maafkan Anisa Umi, Abi.” Anisa berjalan mendekati kedua mertuanya dan mencium tangan keduanya bergantian.


“Sudahlah, tidak ada yang perlu dimaafkan, Nduk. Biarkanlah yang sudah terjadi, fokuslah untuk ke depannya,” ucap Abi Husein menengahi.

__ADS_1


__ADS_2