Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Harus Bertahan


__ADS_3

“Sudah lengkap semuanya, Mbak?” tanya seorang lelaki dengan setelan khas pekerja proyek lengkap dengan APD di tubuhnya seperti sepatu boot tinggi dengan helm bertengger melindungi kepalanya tengah berdiri di depan rumah kontrakan Lathifa.


“Sudah, Pak. Semuanya 100 tepak,” jawab Lathifa sembari menunjuk ke arah beberapa storage box  plastik besar yang di dalamnya sudah tertata rapi nasi kotak buatan Lathifa dan ibunya.


“Terima kasih, Mbak. Nanti siang saya akan kembali lagi,” ucap lelaki tersebut sembari memberikan beberapa lembar uang kepada Lathifa. Sedangkan dua orang lainnya memindahkan storage box tersebut ke dalam mobil.


Lathifa pun menerima uang tersebut, tak lupa ia mengucapkan terima kasih serta mengembangkan senyuman manisnya. Bukan maksud ingin tebar pesona, melainkan Lathifa merasa bersyukur Allah masih berbaik hati kepadanya dengan mendatangkan rezeki yang sangat membantu kehidupannya kini.


Setelah meninggalkan kota kelahirannya 6 bulan lalu, Lathifa dan ibu Hana memutuskan untuk pergi ke sebuah perkampungan jauh dari kota. Desa tempat dimana tinggal salah seorang teman ibu Hana yang lama tak bertemu.


Akses ke desa tersebut pun tidaklah mudah, jarak yang ditempuh untuk menuju desa tersebut dari kota membutuhkan waktu sekitar 3 jam lamanya dengan naik angkutan umum. Itu pun masih harus naik ojek sekitar 30 KM lagi jauhnya, belum ada angkutan umum untuk masuk ke dasa tersebut.


Sebulan lamanya mereka hidup sederhana bermodalkan sedikit sisa uang di dalam rekening ibunya, ditambah Lathifa juga menjual semua barang berharga miliknya termasuk laptop dan ponselnya.


Kehidupan mereka sangatlah sederhana, beruntung ibu Ida, temannya ibu Hana merekomendasikan ibu Hana untuk membuat menu katering salah satu proyek perusahaan besar yang tengah berjalan tidak jauh dari tempat mereka tinggal. Sehingga 5 bulan terakhir, kehidupan Lathifa dan ibunya bisa terbantu dengan adanya kesibukan tersebut.


“Ibu ke pasar dulu ya, Thif. Kamu baik-baik saja di rumah, jangan pergi kemana-mana,” pesan ibu Hana sebelum meninggalkan putrinya seorang diri di rumah.


“Iya, Bu.” Lathifa pun menurut, ia tahu ibunya melarangnya keluar dari rumah karena takut jika dirinya sakit hati mendengar ocehan tetangga yang berpikir buruk tentang kehamilannya.


‘Pasti dia hamil anak haram.’


‘Iya, mungkin saja mereka diusir dari kampung mereka karena aib mereka yang hamil di luar nikah.’


‘Lihat saja, usianya masih sangat muda. 20 tahun sudah hamil, bilangnya sudah menikah, tapi pasti mereka bohong untuk menutupinya.’


Lathifa teringat ucapan beberapa warga yang menuduhnya tanpa bukti, tapi ada juga beberapa orang baik. Meskipun tidak membelanya, setidaknya masih ada orang yang tidak menuduhnya dan menyuruh orang-orang untuk tidak membicarakan kehamilan Lathifa.


Awalnya memang semua baik-baik saja, namun 2 bulan terakhir banyak rumor yang membicarakan tentangnya. Lathifa dan ibunya memilih diam, toh percuma menceritakan situasinya kepada mereka.


Seperti kalimat yang diucapkan oleh Ali bin Abi Thalib, ‘Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu.’


Sebanyak dan sekeras apa pun Lathifa menyangkal semua tuduhan itu, mereka tidak akan begitu saja mempercayainya. Apalagi Lathifa hanya pendatang baru yang tidak jelas asal usulnya bagi warga sekitar.


Lathifa masuk ke dalam rumah, perlahan ia duduk di atas kasur yang tergeletak di atas lantai. Ia pandangi ruangan berukuran 3x4 itu dengan saksama, ruangan yang menjadi tempatnya berlindung dari hujan dan terik matahari, hanya ada ruangan tersebut yang menjadi kamar mereka dan dapur kecil serta kamar mandi di belakang.


Tangannya meraih bingkai foto yang menempel didinding itu, foto yang menggambarkan 4 sosok beda generasi tengah tersenyum bahagia. Lathifa menatap sosok Bapak dan ibunya tengah duduk bersandingan, sedangkan di belakang mereka berdiri dirinya dengan memakai seragam merah putih, sedangkan kakaknya memakai seragam putih abu-abu.


“Aku kangen bapak dan mas Hafiz,” ucap Lathifa membelai wajah keduanya.


Ia mengembalikan bingkai tersebut dan berganti mengambil bingkai di sebelahnya. “Bagaimana kabar mbak Anisa? Aku berharap Mbak sehat selalu,” doa Lathifa tulus sembari memandangi potretnya bersama Anisa.


“Aku sangat merindukan kamu, Mbak.”

__ADS_1


Memang tak mudah kehidupannya kini, namun Lathifa harus tetap bertahan demi masa depan anak yang masih di dalam perutnya, anak yang tidak berdosa, tidak tahu apa-apa dan tidak sepantasnya menanggung akibat kesalahan orang-orang dewasa yang terlalu rumit.


...****************...


Alwi memijit pelipisnya dengan tangan kanan yang bertumpu pada meja. Hatinya terus gelisah setiap teringat percakapannya dengan dokter penanggung jawab istrinya siang tadi, seakan oksigen di sekitarnya lenyap tak bersisa, Alwi merasa dadanya sangat sesak dan menyiksa.


‘Melihat keadaan istri Anda yang semakin hari semakin menurun, kondisi Ny. Anisa sudah berada di tahap akhir manusia bisa bertahan. Sel kankernya sudah menyebar dan tidak dapat dihentikan, Anda harus siap dengan segala konsekuensinya kapan pun itu, Tuan Alwi.’


Alwi beristigfar menahan semua gemuruh didadanya. “Astaghfirullah, Ya Rob.”


Wajah pias Anisa muncul dalam bayang pikirannya, ia tidak ingin sedetik pun meninggalkan istrinya walau untuk bekerja. Disisi lain, Alwi ingin mencari keberadaan Lathifa secara langsung tanpa harus mengandalkan orang suruhan keluarganya.


Namun keinginannya harus ia pendam karena hatinya berat berjauhan dengan Anisa. Alwi merasa takut, takut detik yang terlewat adalah kali terakhir ia bisa menatap wajah Anisa di dunia ini.


Apalagi Alwi juga harus berpura-pura tidak mengetahui setiap rintih dan tangis yang Anisa rasakan karena sel kanker yang menyakiti tubuhnya, rintihan yang selalu Anisa tutupi dengan senyuman manisnya yang menghiasi wajah pucatnya.


“Mas ...,” lirih Anisa tersadar dari tidurnya.


Mendengar suara istrinya, Alwi bangkit dan mendekat ke arah tubuh lemah Anisa terbaring. Alwi mengecup kening Anisa, kali ini ia bertahan dalam posisi itu dalam waktu cukup lama, lalu ia duduk di samping ranjang Anisa.


“Sudah bangun?” tanya Alwi sembari tersenyum ke arah istrinya, meskipun hatinya tengah bergejolak ia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan istrinya.


“Hmm,” jawab Anisa lirih, terdengar sangat samar karena terhalang masker oksigen.


Dengan lembut Alwi mengusap kepala istrinya, meskipun matanya sudah memerah menahan tangisnya.


Anisa hanya ingin memberikan ketenangan untuknya dan juga suaminya, ia tahu kegelisahan yang dirasakan oleh Alwi meskipun lelaki itu tidak menunjukkannya.


“Mas,” panggil Anisa, ia memberikan isyarat dengan jemarinya agar suaminya itu lebih mendekat lagi padanya.


“Tiada Rabb yang berhak disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya hu. Bagi-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,” bisiknya ditelinga Alwi.


Alwi tertegun, ia tersadar dari ketakutannya. Ucapan Anisa memberikan ketenangan baginya, Allah maha segalanya. Allah akan menyelesaikan setiap permasalahan hidup manusia.


“Jangan bersedih, Mas. Aku baik-baik saja,” ucap Anisa menghibur suaminya.


“Sayang....” Alwi hanya mampu terus membelai kepala istrinya, ia merasa kalah dari istrinya. Seharusnya dialah yang memberi semangat untuk Anisa bukan malah sebaliknya.


“Mas, berjanjilah satu hal padaku.”


“Hmm, apa pun itu, Sayang. Jika aku mampu aku akan berusaha mengabulkannya untukmu.”


Anisa mengatur napasnya yang semakin berat, warna bibirnya yang semakin memudar, tulang pipinya yang semakin terlihat jelas menonjol, tubuhnya sudah kurus seakan hanya ada tulang dan kulit  saja ditubuh itu.

__ADS_1


Anisa menatap lekat-lekat wajah suaminya. “Bawa pulang Lathifa, Mas. Aku ingin melihatnya sebelum aku kembali kepada-Nya.”


Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Anisa, spontan Alwi tak bisa menahan air matanya.


“Jangan tinggalkan aku, Sayang ....”


Melihat suaminya menangis untuknya, Anisa tersenyum tipis.


“Aku mohon, Sayang. Aku tidak tahu harus menjalani hidup ini tanpa kamu,” ucap Alwi dengan suara serak yang tertahan.


“Mas ....” Anisa menggenggam tangan suaminya. “Setiap yang berjiwa pasti akan kembali kepada-Nya, kamu paham betul soal itu.”


“Biarkan aku yang meninggal dulu, Sayang. Jangan kamu-”


Anisa mengarahkan tangannya menyentuh wajah suaminya, ia belai rahang kokoh yang ditumbuhi rambut tipis tak terawat itu. “Ada Lathifa yang akan menggantikan aku, dia lebih baik dari aku, Mas.”


“Tidak ada yang menggantikanmu!” tandas Alwi dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya, begitu besar ketakutannya akan kehilangan Anisa.


Anisa memandang langit-langit kamar, matanya menerawang jauh pada insiden yang membuatnya kehilangan buah hati mereka.


“Kamu ingat kejadian waktu itu?” tanya Anisa membuat dahi Alwi berkerut memikirkannya.


“Pemuda yang waktu itu meninggal karena menolongku.” Anisa terdiam menunggu reaksi suaminya, namun Alwi bungkam.


Anisa tahu jika suaminya sangat tidak ingin membahas kecelakaan waktu itu, namun sampai kapan ia harus memendam semuanya sendiri? Alwi wajib mengetahuinya sebelum semuanya semakin terlambat.


“Mas,” panggil Anisa lemah, ia meraih tangan suaminya. Matanya bertemu pandang dengan suaminya.


 “Lathifa mungkin adik pemuda itu.”


Deg.


Alwi terperenyak, matanya melebar dengan jantung yang berpacu kencang.


“Sayang,” suara Alwi tercekat.


Anisa menitikkan air matanya. “Maaf baru bisa mengatakannya semua ini padamu, Mas.”


Alwi yang membeku dengan lidah kelu hanya mampu mendengarkan istrinya menceritakan prasangkanya selama ini tentang kakak dan ayah Lathifa. Alwi hanya bisa terdiam, hanya sesak, sesal, dan kesal bercampur menjadi satu menguasai perasaannya.


Sesekali Anisa kesulitan mengatur napasnya sehingga Alwi berusaha menenangkan istrinya agar tidak terburu-buru dan tidak banyak bicara. Usai memberi pengakuan, Anisa berpesan, “Cari tahu tentang keluarga Lathifa ya, Mas. Minta ijin pada Dokter, akun ingin mengunjungi makan mereka. Tolong, ya, Mas.”


Saat itu juga Alwi segera menghubungi Raiyan untuk minta bantuannya.

__ADS_1


“Cari tahu semua info tentang almarhum ayah dan kakak Lathifa, sertakan foto merek, secepatnya!” perintah Alwi kepada Raiyan di seberang telepon.


 


__ADS_2