Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
L.A.S.S


__ADS_3

Lathifa terjaga bahkan sebelum ayam berkokok subuh tadi, ia hanya bisa tertidur beberapa jam saja. Hatinya resah pikirannya kacau, apa pun yang ia lakukan tak mampu membuatnya merasa tenang.


Bahkan langit masih belum terang di luaran sana, namun ia sudah terlihat rapi tengah menata Cooler bag berisi ASI untuk Azka yang akan dihantar ke rumah sakit.


“Biarkan nanti ibu saja yang akan mengantar ASI untuk Azka, Thif,” ucap Bu Hana yang masih mengenakan mukena tanda bari selesai menunaikan sholat subuh.


“Biar Lathifa saja, Bu. Sekalian jalannya, lagian juga satu arah kan,” jawab Lathifa sembari memasukkan botol-botol ke dalam Cooler bag.


“Kamu fokus sama Azkiya saja, biar ibu yang bolak-balik ke rumah sakit. Kamu pasti lelah harus bolak-balik ke makam juga. ”


“Lathif tidak apa-apa, Bu. Lathif bisa kok jika harus bolak-balik rumah - rumah sakit dan makam. Ibu istirahat saja di rumah, ya.”


“Tapi, Thif-”


“Udah, Bu ... jangan menghawatirkan Lathif. Lathif masih muda, Lathif kuat, Bu. Ibu di rumah saja ya, ibu harus banyak istirahat agar ibu tidak sakit.” Lathifa menyela ucapan ibunya.


Tak lama kemudian, terdengar suara salam dari pintu depan. Lathifa yang sudah tahu bahwa yang datang adalah Bram dan Ayu, ia segera menenteng Cooler bagnya dan menghampiri sumber suara.


“Sudah siap, Fa?” tanya Ayu yang berdiri di depan pintu dengan pakaian kerjanya.


“Sudah, Mbak. Maaf ya ...Lathifa ngerepotin Mbak Ayu sama mas Bram.” Lathifa merasa tidak enak hati karena terlalu sering merepotkan Ayu dan Bram.


“Yaelah, Fa ... santai saja, kaya sama siapa saja,” jawab Ayu santai.


“Terima kasih ya, Nak Ayu. Kalian sudah sangat sering membantu kami. Entah bagaimana jadinya jika tidak ada kalian berdua,” ucap Bu Hana tulus.


“Iya, Bu. Kami ikhlas kok membantu ibu dan Lathifa, justru kami merasa sudah bisa membantu,” jawab Ayu tulus.


“Ayo kita berangkat, Mas Bram sudah menunggu di mobil.”


Usai berpamitan dengan bu Hana mereka segera berangkat menuju rumah sakit terlebih dahulu untuk mengantarkan ASI selanjutnya menuju pemakaman yang jaraknya lumayan jauh.


Sesampainya di pemakaman, Ayu dan Bram menyempatkan diri ikut berdoa untuk Azkiya sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanan ke tempat kerja masing-masing.


Hingga tinggallah Lathifa seorang diri di pemakaman tersebut. Lama ia duduk di sana, membersihkan daun-daun kering yang berguguran di atas makam ayah, kakak, dan putrinya.


Lathifa duduk di samping makam ayahnya, mengusap pelan pusara yang terukir nama ayahnya, Kusuma Hadi bin Ahmad lalu berganti mengusap pusara sang kakak, Hafiz Kusuma Hadi bin Kusuma Hadi. Hingga tangannya jatuh pada pusara mungil bertuliskan nama putrinya, Azkiya Zhafira Ibrahim.


“Assalamu’alaikum, Bapak, Mas Hafiz ... Bagaimana kabar kalian di sana? Apa kalian bahagia?” Lathifa tersenyum getir mendengar pertanyaannya sendiri.


“Bapak, Mas ... andaikan kalian masih ada ... huft.” Lathif menghela napas kasar.


“Maaf kalau Lathif berandai-andai, Pak ... Mas. Lathif mungkin sudah gila ya, hahaha.”


“Apakah kalian tahu? Sebenarnya aku Adalah sosok anak yang masih sangat membutuhkan kalian, terutama sosok figur seorang ayah.”

__ADS_1


“Namun, aku harus menerima keadaan. Bahwa proses dewasanya diriku dimulai dari kehilangan sosok ayah.”


“Bapak tahu? Dunia tak terlihat menarik lagi ketika bapak meninggalkanku untuk selamanya, duniaku sangat hancur semenjak Bapak pergi! Namun aku teringat masih ada sosok ibu yang harus selalu aku temani.”


Lathifa mencurahkan isi hatinya dengan air mata yang tak bisa ia bendung lagi. “Pak, Lathif ingin bercerita banyak hal tentang kesakitan yang selama ini Lathif alami, tentang penderitaan yang selama ini Lathif telan sendirian. Lathif tidak bisa bercerita kepada ibu, Pak. Lathif tidak ingin ibu ikut terbebani.”


“Beri Lathif kekuatan, Pak! Kekuatan yang pernah kokoh menghadapi apa pun itu!” Lathifa tak mampu menahan tangisnya.


“Seandainya saja Bapak dan Mas masih ada, mungkin Lathif tidak akan pernah kehilangan arah, mungkin semua beban yang ada di dalam diriku akan langsung kalian hempaskan.”


Lathifa terdiam sejenak, memejamkan matanya dan mengontrol emosinya. Menghirup udara sebanyak yang bisa paru-parunya tampung, menggantinya dengan udara segar.


“Tapi tidak apa, Pak, Mas! Aku akan belajar kokoh ketika badai menerjang maka! Seperti yang kalian ajarkan dulu! Ada ibu yang harus aku jaga, ada Azka yang harus aku lindungi!”


“Oh ya, Pak ... Bapak sudah punya cucu loh, kembar, sepasang lagi. Lucu kan? Mas Hafiz susah punya ponakan loh, dua. Mas Hafiz senang kan?”


“Satu akan Lathif jaga dan lindungi bersama ibuk, satunya lagi Lathif titipkan kepada kalian ya... jaga Azkiya untuk Lathif ya, Pak ... Mas.”


...****************...


Pagi mulai menyapa, cahaya mentari perlahan masuk memenuhi sudut-sudut kamar bernuansa putih dengan berbagai alat medis di dalamnya.


Tebalnya gorden berwarna kuning keemasan yang menutupi kaca jendela nyatanya tak bisa menghalangi cahaya itu masuk ke dalam ruangan bahkan sedikit menyinari wajah orang yang berbaring di atas ranjang. Namun hal tersebut sama sekali tak membuat pria itu merasa terusik.


Di sampingnya, duduk manis sang ibu yang selalu menemaninya. Umi Hanifa mengusap lembut kepala Alwi penuh kasih sayang, betapa beliau sangat bersyukur atas kesadaran putranya setelah menunggu dua pekan lamanya namun bagaikan dua abad baginya.


“Terima kasih, Sayang. Kamu sudah berjuang dan berhasil kembali bersama kami,” ucap Umi Hanifa bahagia.


“Kamu tahu? Umi sangat bahagia kamu sudah membuka mata kamu, Al. Umi tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya jika harus kehilangan anak Umi untuk kedua kalinya. Hanya kamu yang Umi miliki, Al.”


Umi Hanifa menurunkan jemarinya, perlahan mengusap wajah tirus Alwi yang kini terlihat sangat kurus bahkan ada beberapa luka di wajah tampannya.


“Kamu harus semangat berjuangnya ya, Nak. Kami semua selalu ada untuk kamu.”


Kemarin Alwi sudah menunjukkan kemajuan, pagi hari ia berhasil membuka matanya walau dalam hitungan detik. Malamnya, ia kembali tersadar bahkan berhasil mengeluarkan suara walau tak lama kemudian ia kembali tak sadarkan diri.


Namun, hal sekecil apa pun itu sanggatlah berarti bagi keluarga terutama Umi Hanifa.


“Fa ... La- thi-fa.” Suara Alwi terdengar pelan dan terbata.


“Al, Nak. Kamu sudah bangun?” tanya Umi Hanifa cepat ketika kembali mendengar suara putranya.


Abi Husein yang tenaga sibuk dengan mushaf kecil ditangannya segera mengakhiri tadarusnya dan berjalan menghampiri istri dan putranya disusul oleh Raiyan yang bari saja tiba mengantar sarapan untuk Abi dan Umi.


“Alwi sayang ... ini Umi, Al.” Umi Hanifa terus mengajak

__ADS_1


putranya bicara sembari mengusap pelan punggung tangan Alwi yang terbebas dari alat medis.


“Kamu dengar Umi kan, Al?” tanya Umi Hanifa dengan suara bergetar, antara ingin menangis namun ada rasa lega yang tersirat dalam suaranya.


“Fa ....” Untuk ke sekian kalinya hanya nama Lathifa yang terucap dari bibir Alwi, mungkin dalam alam bawah sadarnya Alwi sangat merasa bersalah kepada Lathifa sehingga hanya namanya yang terbayang oleh pikirannya.


Umi Hanifa menatap suaminya, tidak tega melihat kondisi putranya dan bingung bagaimana cara mereka untuk menjelaskan kepada Alwi tentang kebenaran kedua istrinya.


Seakan mengerti dengan kecemasan yang dirasakan istrinya, Abi Husein menepuk pelan punggung istrinya menyalurkan kekuatan serta memberikan sedikit kekuatannya.


Perlahan Alwi mulai membuka matanya, beberapa kali ia berkedip menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.


Pandangannya ia arah kan ke sekelilingnya, ia pandangi satu persatu sosok yang berdiri di depannya. Terlihat sosok kedua orang tuanya serta sahabatnya.


“U-umi,” panggil Alwi pelan.


“Ya, Sayang. Umi ada di sini.”


“Di mana Al- Akh!!” Alwi terpekik ketika merasakan semua tubuhnya terasa sakit dan kaku ketika hendak digerakkan.


“Sssst!!! Jangan banyak bergerak dulu ya, Sayang. Dokter akan segera tiba untuk memeriksa kamu,” ucap Umi Hanifah menenangkan putranya.


“Mi....” panggil Alwi sangat pelan membuat Umi Hanifa menempelkan telinganya mendekat ke arah bibir Alwi.


“La-thi-fa...”


Umi Hanifa terperanjat dan segera menjauhkan tubuhnya dari posisi semula. Beliau tidak sanggup untuk bicara yang sesungguhnya.


“Lathifa baik-baik saja, Al. Kamu jangan khawatir.” Abi Husein ikut angkat suara menggantikan istrinya.


Abi Husain memasang wajah yang menenangkan agar putranya percaya.


“A-a-ni-sa?” tanya Alwi kembali masih dengan nada terbata.


“Anisa ada di rumah, Al. Dia sedang istirahat di rumah,” jawab Abi Husein membuat Umi Hanifa sesenggukan menahan tangisnya. Namun sekuat tenaga beliau mencoba agar tidak menangis di depan putranya.


Dokter pun tiba dan mulai mengecek kondisi Alwi, Umi Hanifa berlari kencang keluar ruangan diikuti Abi Husein yang mengejarnya.


Sesampainya di koridor sepi, Umi Hanifa berjongkok memeluk lututnya. Tangisnya pecah tanpa suara, ada beban berat di dalam hatinya terasa sesak dan nyeri luar biasa.


Dari arah belakang Abi Husein membangunkan Umi Hanifa dan menariknya ke dalam pelukannya.


“Umi sakit melihat Alwi, Bi. Umi takut, Umi gidak mau kehilangan anak lagi, Bi.”


“Suusstt ... Istighfar, Mi. Yakinlah Allah bersama kita, Allah pasti akan menolong hamba-hambanya yang dalam kesulitan.”

__ADS_1


“Gimana nanti caranya menjelaskannya sama Alwi, Bi? Umi tidak tega, Umi tidak kuat, Bi.”


“Berserah kepada Allah, Mi. Serahkan semuanya hanya kepada Allah. Kun Fayakun.”


__ADS_2