
Anisa menatap lekat wajah madunya yang duduk berhadapan dengannya, ia tidak ingin munafik. Semakin Anisa melihat wajah mungil Lathifa yang cantik dan juga masih muda, serta pribadi yang ceria dan mandiri membuat Anisa semakin merasa cemburu dan merasa gusar sendiri.
Sedangkan Lathifa yang merasa diperhatikan menjadi salah tingkah dan semakin merasa bersalah takut jika ia membuat kesalahan.
Anisa berganti menatap wajah sang suami, Alwi Husein Ibrahim. Sosok laki-laki yang sangat ia cintai, yang kini tengah duduk di antara Anisa dan Lathifa tengah menikmati sarapannya.
Di satu sisi, Anisa sangat bersyukur bahwa suaminya telah menuruti keinginannya untuk menerima Lathifa. Namun disisi lain, ternyata semua ini tak semudah yang dia kira.
Anisa hanyalah manusia biasa yang jauh dari kata sempurna, ia masih bisa merasakan kecemburuan dan sakit. Anisa ternyata belum sepenuhnya mampu melihat suaminya membagi cintanya, terlalu pedih untuknya.
Anisa teringat pertemuannya kemarin dengan Dokter yang menanganinya.
“Kamu harus melakukan pemeriksaan ulang, Anisa,” ujar Dr. Sari.
“Untuk apa, Dokter? Bukankah hasil diagnosa yang dulu sudah cukup?”
Dokter Sari menarik napas berat sambil membetulkan letak kaca matanya. “Gejala yang terjadi pada kamu akhir-akhir ini memberi isyarat. Kemungkinan sel kanker di lambungmu telah menyebar pada organ tubuh lainnya.”
“Mbak, kenapa melihatku seperti itu?” tanya Lathifa membuat Anisa tersadar dari lamunannya.
“Eh, kamu bicara apa, Fa?” Anisa terlihat kurang fokus.
“Kenapa Mbak Anisa sedari tadi menatapku?” tanya ulang Lathifa.
Anisa tersenyum manis lalu dengan singkat menjawab pertanyaan madunya. “Kamu cantik.”
Dua kata yang terlontar dari bibir Anisa berhasil membuat dua orang di depannya terkejut, mereka tidak menyangka Anisa akan mengatakan hal tersebut.
Alwi tersedak makanannya mendengar pengakuan istri pertamanya itu, sedangkan Lathifa merasa bingung harus menanggapinya.
“Minum dulu, Mas!” Anisa menyodorkan segelas air kepada suaminya. “Pelan-pelan makannya, kenapa kamu sampai tersedak mendengar ucapanku, Mas?”
Melihat Alwi tidak bereaksi apa pun membuat Anisa tersenyum dan kembali melontarkan pertanyaannya. “Bukankah Lathifa memang cantik, Mas?”
“Aku sudah selesai makan, kalian lanjutkan saja sarapannya.” Alwi berdiri dan memilih untuk menghindar, ia tak ingin menjawab pertanyaan jebakan dari istri pertamanya.
Anisa tersenyum melihat tingkah suaminya, ia lalu melanjutkan sarapannya yang sedari tadi tak disentuhnya.
Sedangkan Lathifa menatap kepergian suaminya dengan ekor matanya dengan hati yang kecewa. ‘Apa yang kamu harapkan dari pria dingin itu, Fa? Kamu berharap dia akan memuji kamu? Sadarlah! Kamu hanya sebutir debu baginya.’
Selesai sarapan Anisa dan Lathifa membereskan meja makan, mereka berdua bekerja sama membersihkan peralatan makan yang mereka gunakan tanpa ingin mengandalkan semuanya kepada mbok Ijah.
“Hari minggu ikut ke pesantren ya, Fa!” ajak Anisa.
__ADS_1
“Eh, ehm ... maaf, Mbak. Aku ada janji mengerjakan tugas bersama teman,” jawab Lathifa pelan. Ia terpaksa berbohong dan tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
‘Maaf Mbak, aku tidak bermaksud membohongi mbak Anisa. Tapi, bukankah berbohong diperbolehkan demi kebaikan.’ batin Lathifa guna untuk menenangkan hatinya.
“Oh, yasudah. Padahal aku ingin memperkenalkan kamu dengan keluarga besar pesantren,” ucap Anisa membuat Lathifa merasa bersalah.
“Maaf, Mbak.”
“Tidak apa-apa, Fa. Mungkin lain waktu aku akan membawa serta dirimu, Fa. Dan pastikan kamu tidak akan menolaknya!”
“Aku usahakan ya, Mbak.”
“Oh ya, bagaimana gamisnya, Fa? Apakah sesuai dengan ukuran kamu?”
“Gamis?” tanya Lathifa bingung.
“Ya, apa Mas Al belum memberikan gamis itu kepadamu?” tanya Anisa.
“Eh, sudah Mbak, tapi aku belum mencobanya,” jawab Lathifa dengan suara yang tersirat akan kekecewaannya.
‘Kamu berpikir apa sih, Fa? Sudah jelas kamu tak berarti baginya, tentu saja bukan hanya kamu yang pria itu belikan gamis. Jangan terlalu berharap!’
“Padahal aku ingin kita memakai gamis itu bersama di acara syukuran di pesantren minggu nanti, tapi ya sudahlah ... kamu juga tidak bisa menghadirinya.” Anisa terdiam sejenak. “Mas Al membelikan gamis yang sama untuk kita berdua, Fa.”
Sedangkan di dalam ruang kerjanya, Alwi duduk termenung. Ia merasa gelisah dan bingung dengan pikirannya sendiri.
“Bertahanlah, sayang. Aku mohon!” racau Alwi yang duduk di samping brankar rumah sakit sambil menggenggam erat tangan Anisa yang terbaring lemah dengan berbagai alat menempel di tubuhnya.
“Aku janji akan selalu mencintai kamu, Nis. Bangunlah! Sampai kapan kamu akan terus tidur seperti ini?” Alwi mengusap air mata yang tak bisa ia tahan lagi.
Seminggu sudah Anisa terbaring koma karena musibah yang membuat wanita itu harus rela kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang ibu dan istri yang sempurna bagi suaminya.
Akibat kecelakaan yang menimpanya, Anisa harus kehilangan bayi yang dikandungnya bahkan dokter terpaksa harus mengangkat rahimnya karena pendarahan yang tak kunjung berhenti.
“Sayang, bangunlah. Aku yakin kamu bisa mendengarkan aku, aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu,” ucap Alwi terdengar sangat menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.
“Sayang, aku berjanji akan selalu mencintai kamu dan hanya akan ada kamu satu-satunya wanita dalam hidupku! Aku tidak peduli jika kita tidak memiliki anak, kita bisa hidup bahagia bersama sampai tua nanti, Nis! Bangunlah! Berjuang, jangan menyerah!”
“Astaghfirullah!” Alwi beristigfar mengingat peristiwa yang berhasil membuatnya terpuruk beberapa tahun silam.
“Apa yang harus aku lakukan, Nis? Apa yang sebenarnya kamu inginkan?” tanya Alwi meskipun ia tahu tidak ada orang lain di dalam ruangan tersebut, dan ia tahu betul sebenarnya apa yang diinginkan oleh Anisa. Yaitu anak, pewaris dalam keluarganya.
Alwi berzikir dalam hatinya, ia lalu berdiri dan keluar dari ruangan itu setelah mengambil beberapa berkas yang ia butuhkan.
__ADS_1
Di dapur, Lathifa pamit kepada Anisa untuk segera berangkat ke kampus.
“Mbak Anisa, aku pamit, ya.” Lathifa menggendong ransel favoritnya di pundak, ransel pemberian almarhum kakaknya.
Anisa menahan tangan Lathifa sebelum perempuan itu berlalu dari dapur. “Bawa ini untuk jaga-jaga jika nanti kamu lapar, Fa.” Anisa memasukkan sekotak bekal nasi goreng untuk Lathifa.
“Terima kasih, Mbak,” ucap Lathifa sembari tersenyum hangat.
“Kamu tidak bareng saja sama mas Al?” tanya Anisa.
“Tidak-”
“Ayo, Lathifa. Aku sedang buru-buru,” ucap Alwi yang berjalan menuruni anak tangga, ia lalu mengambil dua kotak makan di atas meja yang sudah disiapkan oleh Anisa lalu mengecup kening, hidung dan Pipi Anisa.
“Aku ti-”
“Bareng Mas Al saja, Fa. Pasti akan lebih cepat dan supaya tidak terlambat.” Anisa mencium tangan Alwi dan tidak lupa merapikan dasi serta jas suaminya. “Hati-hati, ya, Mas.”
Walaupun sedikit ragu, Lathifa akhirnya menuruti keinginan sepasang suami dan istri di depannya karena tidak ingin berdebat lagi.
“Aku pamit, Mbak.” Lathifa mencium tangan Anisa lalu berjalan mengikuti suaminya menuju mobilnya.
Lathifa merasakan jika suami dinginnya itu sedikit lebih ramah kepadanya, sedikit saja. Tidak sampai berbincang-bincang panjang lebar, Alwi tidak menolak jika diminta Anisa untuk mengantar Lathifa kuliah.
Alwi menyalakan mobil lalu melajukannya keluar dari kompleks perumahan. Jalanan terlihat padat dan ramai di pagi hari, banyak kendaraan dari yang roda dua hingga roda lebih dari empat memenuhi kota.
“Hari ini kamu kuliah jam berapa?” tanya Alwi masih fokus dengan kemudinya.
“Jam sepuluh sampai jam tiga sore,” jawab Lathifa.
“Nanti kalau sudah selesai kamu boleh telepon aku, kebetulan nanti siang aku ada rapat di dekat kampus kamu. Kalau kamu mau, kita bisa pulang bersama.”
Lathifa sedikit memiringkan kepalanya menatap sang suami. Lathifa terlihat tidak percaya jika suaminya mengajaknya untuk pulang bersama.
“Maaf, tapi aku sudah ada janji dengan teman-teman,” tolak Lathifa halus. Ia memang sudah ada janji dengan temannya untuk membahas tugas mereka.
Tidak terasa mereka sudah sampai di depan kampus Lathifa, Alwi menepikan mobilnya.
“Terima kasih tumpangannya, Assalamualaikum.”
“Wa’alaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Alwi menyodorkan tangannya kepada Lathifa sebelum istri mudanya itu keluar dari mobilnya.
Lathifa mencium tangan suaminya lalu Alwi mendekatkan tubuhnya dan mengecup kening Lathifa dan berhasil membuat Lathifa merasakan kejutan di dalam dadanya.
__ADS_1
Lathifa segera menarik tangannya yang masih bersalaman dengan suaminya, ia bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam kampus tanpa menoleh kembali ke belakang.
Sedangkan di dalam mobil Alwi menatap kepergian istri mudanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelah memastikan istrinya menghilang di balik gerbang, Alwi kembali melajukan mobilnya menuju kantornya.