Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Swiss Hotel


__ADS_3

Hari ini Lathifa tidak ada jadwal kuliah, ia juga mendapatkan hukuman dari suaminya yang melarang dirinya keluar rumah tanpa seizin dari Alwi.


Maka dari itu Lathifa memutuskan untuk menghabiskan harinya hanya berada di rumah, mengurung diri di dalam kamarnya dan mulai berkelana dalam dunia khayalannya. Menekuni hobinya yang sempat terabaikan beberapa hari terakhir, yaitu menulis novel onlinenya yang beberapa hari belum sempat ia update bab terbaru karena kesibukannya di dunia nyata.


Bahkan Lathifa sampai melupakan waktu makan siangnya karena terlalu fokus dengan komputer di depannya.


Tok! Tok! Tok!


“Masuk!” jawab Lathifa sedikit berteriak.


Mbok Ijah masuk ke dalam kamar Lathifa setelah dipersilakan oleh pemiliknya.


“Mbak, sudah jam 2 lebih. Sebaiknya Mbak Lathifa makan dulu ya, atau mau mbok Ijah bawakan makanannya ke kamar?” tanya mbok Ijah sopan.


“Eh, tidak perlu, Mbok.” Lathifa menghentikan jemarinya yang sedang menari indah di atas keyboard laptopnya dan beralih menatap mbok Ijah yang sedang mengajaknya berbicara.


“Tapi Mbak Lathifa belum makan, tadi pagi Mbak Lathifa juga hanya makan sedikit sekali.” Mbok Ijah membujuk Lathifa.


“Mbak Lathifa juga tidak meminum susunya. Nanti mbak Anisa marah loh,” peringat mbok Ijah yang melihat Lathifa tidak bergerak sedikit pun.


“Iya terima kasih, Mbok. Nanti saya akan mengambilnya sendiri, Mbok Ijah tidak perlu mengantarnya ke kamar,” jawab Lathifa sopan. “Mbok Ijah kalau tidak ada pekerjaan istirahat saja,” imbuhnya.


Sepeninggal mbok Ijah, Lathifa kembali fokus dengan laptopnya dan melupakan apa yang dikatakan mbok Ijah tadi kepadanya.


Di tempat lain, Alwi merasa tidak fokus dengan pekerjaannya. Ia terbayang-bayang wajah istri mudanya yang sejak kemarin mengganggu pikirannya.


“Astaghfirullah, Alwi! Fokus, jangan memikirkan gadis nakal itu!” ucap Alwi tegas memperingati dirinya sendiri.


Alwi merasa marah kepada dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol emosinya, ia lalu mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya.


“Huft!” Alwi menghela nafasnya kasar lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya dan memejamkan matanya.


Setelah merasa sedikit tenang, Alwi meraih ponsel miliknya yang sedari tadi tergeletak di atas meja dan membukanya.


Ia pandangi sosok yang memenuhi layar ponselnya, sosok wanita yang selama ini selalu menemaninya apa pun keadaannya, rela bersabar dan dengan tulus melayaninya sepenuh hati meskipun ia sering membuat wanitanya itu menangis dalam diamnya.


“Apa yang harus aku lakukan, sayang? Janganlah kamu siksa aku dengan permintaan kamu ini, aku tak sanggup jika harus melukai kamu lagi, Anisa.”


Alwi mengusap layar ponselnya, seakan gambar itu adalah wajah Anisa yang tersenyum teduh menatap ke arahnya.


Tok! Tok! Tok!


Alwi mendengar pintu ruangannya di ketuk dari luar, ia yakin pasti itu sekretarisnya.


“Masuk!” teriak Alwi mempersilakan orang di luar yang mengetuk pintu ruangannya yang Alwi tebak itu pasti Iwan sekretarisnya.


Ceklek!


Iwan masuk ke dalam ruang kerja Alwi setelah mengucapkan salam.


“Ada apa?” tanya Alwi.


“Maaf Pak, saya hanya ingin memberikan berkas yang Bapak minta untuk meeting bersama Sanjaya Group sore nanti,” jawab Iwan sopan.

__ADS_1


“Sudah kamu rapikan semuanya?”


“Sudah, Pak.” Iwan menyerahkan berkas ditangannya kepada Alwi.


“Apa ada lagi yang bisa saya bantu?” tanya Iwan sebelum pamit keluar.


“Tidak, terima kasih, Wan. Kamu boleh keluar,” ucap Alwi menatap tulisan yang tercetak jelas di sampul berkas tersebut yang bertuliskan ‘Sanjaya Group’.


“Huft!” Alwi kembali menghela nafasnya kasar membuat Iwan menatap heran ke arahnya.


“Emh, apa Bapak membutuhkan sesuatu?” tanya Iwan khawatir, jarang sekali ia melihat atasannya itu terlihat tidak semangat dalam bekerja.


“Tidak, Wan. Kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu!” perintah Alwi, ia tidak mau merepotkan karyawannya meskipun ia sangat tidak menginginkan menghadiri meeting tersebut. Tapi apa boleh buat, Iwan pun tidak akan bisa menggantikannya menghadiri meeting itu.


“Kenapa kamu masih belum keluar, Wan?” tanya Alwi heran melihat sekretarisnya itu masih berdiri di tempatnya.


“Maaf jika saya terlihat lancang, Pak. Apa Bapak baik-baik saja? Wajah Bapak terlihat sedikit pucat, atau Anda ingin saya mengatur ulang jadwal meeting dengan Sanjaya Group?”


“Tidak perlu, Wan. Saya baik-baik saja, terima kasih karena sudah menghawatirkan saya.” Alwi meyakinkan sekretarisnya itu dan menyuruh Iwan untuk tidak perlu menghawatirkan keadaan dirinya.


“Kalau begitu saya pamit keluar, Pak.”


“Hmm,” jawab Alwi singkat.


Sepeninggal sekretarisnya, Alwi kembali memandangi berkas di depannya. Ia masih merasa ragu apakah akan menghadiri meeting tersebut atau tidak, tetapi bukankah sebagai seorang pebisnis Alwi harus bersikap profesional dan mengesampingkan maslah pribadinya.


Tepat pukul 5 sore, Alwi meninggalkan kantornya dan memutuskan untuk pergi ke 'Swiss Hotel' lebih cepat dari waktu yang sudah di janjikan. Ia akan menjalankan sholat magrib dan isya di masjid hotel tersebut sembari menunggu kedatangan tuan Sanjaya.


Ia berharap jika tuan Sanjaya bisa datang lebih awal dan meeting pun bisa dimajukan sehingga Alwi tidak perlu berlama-lama di sana apalagi jika tuan Sanjaya datang bersama putrinya, Alwi pasti tidak akan merasa nyaman sedikit pun.


Di pintu masuk Alwi disambut oleh pramusaji yang berseragam dan berpenampilan rapi menyambut para tamu yang berdatangan. Suasana restoran sangat ramai oleh pengunjung apa lagi malam hari di akhir pekan.


“Selamat malam, Tuan. Selamat datang di Swiss Resto, semoga Anda puas dengan pelayanan kami, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya salah satu pramusaji ramah menyapa Alwi.


“Saya ada janji dengan tuan Sanjaya,” jawab Alwi datar.


“Silakan ikuti saya, Tuan. Saya antarkan Anda ke ruangan atas nama tuan Sanjaya,” ucap pramusaji tersebut.


Alwi mengikuti langkah pramusaji tersebut yang membawanya menuju tempat pertemuan tanpa berkata apa pun.


Meskipun restoran tersebut berada di lantai atas gedung hotel, namun restoran itu memiliki 2 lantai di dalamnya. Lantai bawah diisi dengan meja-meja terbuka, sedangkan di lantai atas terdapat ruangan-ruangan terpisah yang biasa digunakan untuk pertemuan-pertemuan penting beberapa perusahaan.


Sesampainya di ruangan yang dituju, Alwi tidak mendapatkan keberadaan siapa pun, baik tuan Sanjaya ataupun wakil dari Sanjaya Group.


Alwi duduk di salah satu kursi yang tersedia, tak berapa lama seorang pelayan mengantarkan minuman kepadanya padahal Alwi belum memesan apa pun.


“Maaf, saya belum memesan minum,” ucap Alwi yang mengira pelayan tersebut salah mengantarkannya.


“Maaf, Tuan. Apa benar ruangan ini atas nama tuan Sanjaya?” tanya balik pelayan tersebut memastikan.


“Benar,” jawab Alwi singkat.


“Maaf, kalau begitu memang minuman ini untuk Anda,” ucap pelayan tersebut.

__ADS_1


“Tadi tuan Sanjaya sekalian berpesan untuk mengantarkan minuman jika tamunya sudah datang,” jelas pelayan tersebut ketika melihat wajah Alwi yang kebingungan.


“Oh, terima kasih.”


“Sama-sama, Tuan. Apa ada yang ingin Anda pesan lagi?” tanya pelayan tersebut sebelum meninggalkan ruangan itu.


“Tidak, saya akan pesan nanti setelah tuan Sanjaya tiba.”


Sembari menunggu, Alwi mengeluarkan mushaf kecil yang selalu ia bawa di dalam tas kerjanya dan mulai membacanya.


30 menit berlalu, namun Alwi tidak melihat kehadiran tuan Sanjaya. Padahal waktu yang dijanjikan telah lewat beberapa menit lalu.


Alwi merasa bimbang antara akan terus menunggu atau pergi begitu saja meninggalkan tempat itu.


Namun jika dipikir-pikir, bukankah tidak sopan jika nanti tuan Sanjaya tiba dan Alwi sudah tidak berada di sana? Kesannya Alwi tidak sabaran sekali, itu akan mencoreng nama baiknya.


“Kenapa tuan Sanjaya belum juga datang? Tidak seperti biasanya tuan Sanjaya akan terlambat, bahkan beliau sama sekali tidak mengirimkan pesan kepadaku,” ucap Alwi sembari melirik arloji di pergelangan tangannya.


15 menit berlalu, namun tuan Sanjaya belum juga terlihat kehadirannya. Hampir satu jam Alwi menunggu kliennya tersebut, jika bukan karena Raiyan yang berada di luar kota, Alwi tidak akan mau datang ke tempat ini.


Alwi yang merasa haus meraih gelas yang sedari tadi tidak disentuhnya.


“Bismillah,” ucap Alwi lirih lalu meneguk cairan dalam gelas tersebut.


Glek! Glek! Glek!


“Alhamdulillah,” lirihnya merasa lega karena tenggorokannya tidak sekering tadi.


“Apa tuan Sanjaya masih lama ya?” tanyanya pada diri sendiri.


Merasa sudah cukup lama menunggu, ia menyimpan kembali mushafnya dan berganti mengeluarkan berkas-berkas yang sudah ia siapkan dengan rapi agar jika tuan Sanjaya datang semuanya sudah siap.


Tik tok tik tok tik tok ...


Waktu terus berjalan, Alwi mulai merasa kesal. Waktunya terbuang sia-sia menunggu kedatangan tuan Sanjaya yang tidak ada kabar sama sekali.


“Apa aku pergi saja? Bahkan aku tidak bisa menghubungi tuan Sanjaya,” keluh Alwi, ia lalu memutuskan untuk mengemas kembali berkas tadi dan memasukkannya ke dalam tas.


Di saat bersamaan, Alwi mulai merasa aneh pada tubuhnya. Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya, penglihatannya sedikit mengabur dan kepalanya terasa pusing seakan seluruh ruangan berputar-putar tak beraturan.


‘Astaghfirullahaladzim.’ Alwi berulang kali beristigfar dalam hatinya mencoba menghalau perasaan waswas di hatinya.


Dengan cepat ia meraih tasnya dan dengan terburu-buru ia berjalan menuju pintu keluar.


Prang!


Tanpa sengaja ia menyenggol gelas yang ada di meja membuatnya jatuh dan pecah di lantai.


“Ya Allah!”


Alwi menggelengkan kepalanya berulang kali mencoba mengembalikan kesadarannya, samar-samar ia mendengar suara pintu terbuka dari luar.


Ceklek!

__ADS_1


“Kamu!” teriak Alwi kepada orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.


“Hai, lama kita tak bertemu,” sapa orang itu dengan senyum kemenangan di wajahnya.


__ADS_2