Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Menolong Alwi


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya, di sebuah hotel di kota X. Raiyan berjalan terburu ingin segera ke kamarnya dan berkemas setelah menyelesaikan pekerjaannya di kota tersebut.


Namun saat berada di lobi hotel ia dikejutkan dengan keberadaan orang yang saat ini seharusnya tengah bertemu dengan atasannya membahas proyek kerja sama antar perusahaan mereka.


“Tuan Sanjaya!” panggil Raiyan lalu ia berjalan menghampiri tuan Sanjaya yang baru saja hendak pergi keluar.


“Hmm, bukankah kamu asistennya tuan Alwi?” tanya tuan Sanjaya.


“Benar, Tuan. Tapi maaf, kenapa Anda berada di sini? Bukankah seharusnya Anda ada meeting di Swiss Hotel malam ini?” tanya Raiyan waswas.


“Apa maksud kamu?” tanya balik tuan Sanjaya merasa bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh Raiyan.


“Bukankah Anda memajukan jadwal meeting dengan perusahaan pak Alwi? Dan besok Anda akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri?” tanya Raiyan tak sabar.


Tuan Sanjaya dan orang di sampingnya terlihat bingung, mereka tidak mengerti dengan arah pembicaraan Raiyan.


“Apa yang kamu katakan? Saya tidak pernah memajukan jadwal pertemuan kita. Dan juga bulan ini saya tidak ada rencana melakukan penerbangan ke luar ngeri,” jawab tuan Sanjaya membuat Raiyan semakin cemas.


“A-apa? Lalu siapa yang mengatur-.” Raiyan tidak menyelesaikan kalimatnya ketika teringat sesuatu.


“Sial! Bodoh, aku kecolongan!” umpat Raiyan melupakan etikanya di depan tuan Sanjaya.


“Maaf Tuan, saya harus pergi!”


Raiyan pergi begitu saja meninggalkan tuan Sanjaya dan asistennya yang menatap bingung kepergiannya.


“Apa anak itu baru saja mengumpat kepadaku?” tanya tuan Sanjaya tidak percaya kepada asistennya.


Tanpa mengemasi barang-barangnya, Raiyan bergegas kembali dan langsung menuju ‘Swiss Hotel’ tempat dimana atasan sekaligus sahabatnya itu mungkin saja berada dalam bahaya.


Raiyan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tak bisa menambah kecepatan karena jalanan penuh hilir mudik pengendara yang pulang dari kantor masing-masing, karena saat ini merupakan jam pulang kerja.


“Sial! Bodoh!” maki Raiyan merasa kesal kepada dirinya sendiri.


“ Ck! Kenapa ada acara macet segala!”


Tiiiiinnn!!!!!

__ADS_1


Raiyan memukul kemudinya melampiaskan kekesalannya.


Membutuhkan waktu hampir 3 jam bagi Raiyan mengendarai mobilnya dari kota X menuju ‘Swiss Hotel’.


Raiyan meninggalkan mobilnya begitu saja tanpa memarkirkan mobilnya dan mengabaikan teriakan satpam yang terus memanggilnya. Ia berlari menuju lift dan menekan tombol berulang kali


“Cepatlah!” serinya tak sabar.


Raiyan menatap arloji di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul 18.30. Satu jam telah berlalu dari jadwal pertemuan Alwi dengan Sanjaya Group.


“Semoga tidak terjadi apa-apa!” Raiyan berdoa yang terbaik untuk sahabatnya itu.


Ting!


Tepat saat pintu lift itu terbuka, Raiyan segera melompat ke dalamnya dan kembali menekan tombol lantai paling atas tak sabar.


Di dalam lift, Raiyan merasa semakin khawatir memikirkan keadaan sahabatnya itu. Waktu terasa seakan berjalan sangat lambat baginya.


Sesampainya di depan ‘Swiss Resto’ Raiyan masuk dengan langkah lebar tanpa menghiraukan pramusaji yang menyambutnya ramah.


Dengan wajah marahnya ia mendatangi resepsionis dan menanyakan keberadaan Alwi.


“Maaf Tuan, malam ini kami tidak kedatangan tamu atas nama tuan Sanjaya,” ucap petugas resepsionis tersebut.


“Jangan bohong! Atau aku akan menuntut hotel ini!” teriak Raiyan marah.


“Maaf Tuan, saya tidak berbohong. Tidak ada tamu VIP atas nama tuan Sanjaya malam ini,” jawab petugas itu sopan.


“Ck! Aku akan mencarinya sendiri! Awas saja jika terjadi sesuatu dengan sahabatku!” ancam Raiyan dan meninggalkan meja resepsionis.


Raiyan berlari menuju lantai atas tempat itu, dengan langkah lebar ia menaiki setiap dua anak tangga sekaligus.


“Hentikan orang itu!” teriak petugas resepsionis tadi dari lantai bawah.


Brak!


Raiyan membuka paksa pintu pertama namun ia tak menemukan keberadaan Alwi.

__ADS_1


“Hai apa yang kamu lakukan?” tanya tamu di dalam ruangan tersebut merasa terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Raiyan.


“Maaf, saya salah ruangan,” ucap Raiyan lalu menutup kembali pintu itu.


Raiyan melakukan hal yang sama berulang kali namun ia belum juga menemukan keberadaan Alwi. Beberapa pelayan bahkan sampai memeganginya agar tidak menambah keributan di tempat tersebut.


“Tuan hentikan! Atau kami akan memanggil keamanan untuk menangkap Anda!” peringat salah satu pelayan itu namun sama sekali tidak dihiraukan oleh Raiyan.


“Minggir kalian!” teriak Raiyan, ia lalu berjalan ke arah pintu di sudut ruangan dan membukanya namun pintu tersebut terkunci dari dalam.


“Kenapa pintu ini terkunci?” tanya Raiyan marah.


Raiyan tahu salah satu peraturan di tempat itu tidak boleh mengunci ruangan dari dalam dan juga tidak disediakan kunci di dalamnya, lalu bagaimana pintu itu bisa terkunci.


“Cepat buka pintu ini atau mau aku dobrak!”


Beberapa pelayan yang merasa bingung juga bertanya-tanya dalam hati, mereka juga tidak memegang kunci ruangan-ruangan itu.


Merasa terlalu lama menunggu, Raiyan mendobrak paksa pintu itu berulang kali meskipun sempat dihalangi oleh beberapa pelayan di sana.


Brak!


Raiyan berhasil membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya, ia sangat terkejut melihat kondisi di dalam ruangan itu.


Ruangan itu terlihat sangat berantakan dengan meja dan kursi yang sudah tak tertata rapi, ada pecahan kaca berserakan di lantai juga ada bercak darah di sekitarnya.


Raiyan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Alwi, tepat di sudut ruangan ia melihat Alwi tengah menahan seseorang yang mencoba untuk membuka paksa pakaian yang dikenakan oleh Alwi.


 “Alwi!” teriak Raiyan membuat wanita itu menoleh ke arahnya.


“Brengs*k! Kenapa kamu menggangguku!” kesalnya.


“Dasar j*lang! Beraninya kamu melakukan perbuatan menjijikkan seperti ini!” marah Raiyan.


Raiyan bergegas menolong Alwi yang terlihat sangat kacau dan mendorong tubuh Chaca hingga tersungkur ke lantai.


“Kalian kenapa diam saja! Cepat bantu aku dan tangkap j*lang itu!

__ADS_1


“Brengs*k kamu! Jika saja kamu tidak datang aku sudah berhasil mendapatkan apa yang aku mau!” teriak Chaca tak terima.


“Urus j*lang itu! Ingat aku akan datang untuk meminta penjelasan dari pihak kalian!” ancam Raiyan sebelum meninggalkan ruangan itu, ia memapah Alwi meninggalkan tempat itu dan mengabaikan banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka.


__ADS_2