
Raiyan memarkirkan mobilnya di depan rumah Alwi yang terlihat sudah gelap, sepertinya semua orang sudah terlelap dalam tidurnya.
Ia keluar dari mobilnya dan membuka pintu penumpang membantu Alwi yang masih memiliki sedikit kesadaran untuk keluar dari mobil.
Perlahan Raiyan memapah Alwi untuk masuk ke dalam rumah, sebisa mungkin ia tidak membuat keributan agar tidak membangunkan orang rumah dan tidak membuat semua orang merasa khawatir.
“Dimana kuncinya?” tanya Raiyan kepada Alwi yang masih setengah sadar dalam, jika bukan karena dirinya yang menjadi penopang berat badan Alwi, sudah dipastikan pria itu tidak akan bis berdiri dengan sempurna.
“Celana ... saku celana!” ucap Alwi cepat ia ingin segera ke kamarnya dan berendam air dingin mendinginkan tubuhnya yang terasa terbakar dari dalam.
Raiyan segera meraba saku celana Alwi mencari kunci rumah, setelah menemukannya ia dengan cepat membuka pintu di depannya.
Ceklek!
“Cepat masuk!” desak Alwi tak sabar.
“Sebentar, kamu pikir tubuh kamu tidak berat apa?” kesal Raiyan karena dirinya juga merasa sangat lelah.
Bayangkan saja, subuh tadi ia harus pergi ke luar kota menangani proyek di sana. Pekerjaannya memang berjalan dengan lancar, bukannya bisa beristirahat dengan tenang justru ia harus bergegas kembali untuk menolong Alwi.
Hampir 3 jam lamanya ia harus bergulat dengan kuda besinya dan ketika tubuhnya lelah Alwi justru membuatnya merasa kesal.
“Cepat, Rai!”
“Iya! Sebentar. Aku antar kamu ke kamar Lathifa yang lebih dekat,” ucap Raiyan kembali memapah tubuh Alwi setelah kembali menutup pintu tanpa menguncinya.
“Jangan, Rai ... ke atas!” tolak Alwi cepat.
“Atas apa? Kamu mau aku membawamu ke kamar atas?” tanya Raiyan tak percaya.
“Hmm, cepat!”
“Jalan saja sendiri! Sudah untung aku mau menolongmu!” seru Raiyan tak suka.
Bukannya Raiyan tidak ikhlas membantu sahabatnya itu, tapi ada kamar istrinya yang berada di lantai bawah dan juga lebih mudah dijangkau. Tapi kenapa Alwi bersikeras ingin dia mengantarnya ke atas, pastinya akan menguras tenaganya berlipat ganda. Toh sama-sama kamarnya dan halal untuknya.
“Cepat, Rai!” Alwi menarik kemeja Raiyan dengan kencang.
“Ck, kenapa harus ke atas?Toh, Lathifa juga istrimu dan sah-sah saja jika kamu pergi ke kamarnya! Bukannya sama saja?” tanya Raiyan bingung.
“Cepat jangan banyak tanya!” sergah Alwi memaksa.
“Awas jika kamu tidak menambahkan bonus untukku bulan ini!”
Dengan terpaksa Raiyan memapah Alwi naik ke kamarnya di lantai atas, Raiyan sedikit kesusahan ketika membantu Alwi menaiki anak tangga.
Sesampainya di depan pintu kamarnya Alwi tak sabaran membuka pintunya mencegah Raiyan yang hendak mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam kamar masih dipapah oleh Raiyan.
Bruk!
Raiyan menjatuhkan begitu saja tubuh Alwi di atas kasur tanpa merasa kasihan sedikit pun.
“Huft!” Raiyan menghela napasnya kasar merasa lega telah terlepas dari berat tubuh sahabatnya itu.
“Dimana Anisa?” tanya Raiyan karena tak menemukan keberadaan istri pertama sahabatnya itu.
“Pergi,” jawab Alwi cepat sambil membuka kemejanya karena merasa kepanasan.
“Dasar kamu ya! Sudah ditolong malah mengusir aku!” Raiyan bertambah kesal oleh tingkah sahabatnya.
__ADS_1
“Bodoh! Anis tidak di rumah, dia ada pekerjaan di luar kota.”
Alwi meraih remote AC di atas nakas dan menyalakannya pada suhu terendah, namun ia masih merasakan gerah pada tubuhnya.
“Oh, aku kira kamu mengusirku,” ucap Raiyan datar.
“Aku akan mengambil kotak obat untuk membersihkan luka kamu.” Raiyan berjalan menuju pintu meninggalkan Alwi yang mencoba mencari posisi nyaman agar bisa meredakan api yang membakarnya itu.
“Astaghfirullah, ya Allah kenapa gerah sekali?”
Alwi berjalan tertatih menuju kamar mandi, ia merasa sudah aman karena berada di rumahnya sendiri.
Alwi menyalakan kran mengisi bathub dengan air dingin lalu ia masuk ke dalamnya, berendam mungkin bisa menghilangkan panas ditubuhnya.
Di lantai bawah, Raiyan mengendap-endap mencari kotak obat tanpa menyalakan lampu, ia takut akan membangunkan Lathifa atau mbok Ijah.
“Ketemu!” ucapnya girang setelah menemukan kotak yang dicarinya.
Raiyan membalikkan tubuhnya ingin segera kembali ke kamar Alwi untuk mengobati lukanya. Namun baru beberapa langkah kakinya beranjak, ia menabrak sesuatu yang mengejutkannya dan menjatuhkan kotak itu.
“Akh!” teriak Raiyan terkejut.
“Maling!” teriak Lathifa sama terkejutnya.
“Eh, enak saja! Aku bukan maling!” seru Raiyan yang menyadari orang yang ditabraknya adalah istri muda sahabatnya.
“Eh, Pak Rai. Kenapa Anda bisa berada di rumah ini?” tanya Lathifa yang mengenali suara Raiyan.
“Lathifa! Kamu mengagetkan aku saja, untung aku tidak jantungan! Kenapa kamu berjalan dalam gelap?” tanya balik Raiyan mengabaikan pertanyaan yang Lathifa lontarkan untuknya.
“Eh, maaf, Pak. Tadi saya habis dari dapur mengambil air minum.” Lathifa terpaksa berbohong, sebenarnya ia baru selesai makan di dapur karena ia lagi-lagi melewatkan jam makan malamnya.
Jika Lathifa berkata yang sebenarnya pada Raiyan, pasti asisten suaminya itu akan mengejeknya tanpa henti.
“Tunggu, Pak! Jangan menyalakan lampunya!”
“Kenapa?” tanya Raiyan bingung, tangannya sudah menempel di sakelar yang menempel di dinding.
“Saya tidak memakai jilbab,” lirih Lathifa merasa malu, ia tidak menduga jika akan ada orang lain berkunjung di rumahnya tengah malam begini.
“Oh.” Raiyan menarik kembali tangannya.
“Hmm, kebetulan kamu ada disini. Alwi bilang Anisa tidak berada di rumah jadi aku serahkan dia kepada kamu saja,” ucap Raiyan senang karena ia bisa segera pulang dan merebahkan tubuhnya di kasur empuknya yang sedari tadi ia rindukan.
“Loh, kok saya?” Lathifa ingin menolaknya tapi bingung mengatakan alasan yang tepat agar Raiyan todak menaruh curiga terhadapnya.
“Siapa lagi? Masa aku minta tolong sama mbok Ijah? Kamu kan istrinya.”
“Emh-.”
“Kamu tahu, aku lelah sekali seharian pulang pergi keluar kota dan sampai saat ini belum juga istirahat sedetik pun. Kamu bayangkan saja betapa lelahnya tubuh ini, dan besok pagi harus pergi ke kantor,” ucap Raiyan panjang lebar tanpa memberi celah untuk Lathifa menolaknya.
“Apa kamu tidak merasa kasihan kepadaku?” tanya Raiyan membuat Lathifa merasa serba salah.
“Apa yang harus saya lakukan?”
“Kamu obati luka Alwi, aku mau pulang.” Raiyan meninggalkan Lathifa begitu saja setelah menyelesaikan kalimatnya.
“Tapi, Pak-”
__ADS_1
“Jangan lupa kunci pintu depan, bye!”
“Hah! Apa aku harus membatu mengobati pria dingin itu?” Lathifa merasa ragu, ia masih merasa takut mengingat kemarahan Alwi kemarin malam.
“Biarkan saja, toh dia bukan anak kecil.”
Lathifa berjalan menuju ruang tamu dan mengunci pintu utama, ia lalu memutuskan untuk melanjutkan tidurnya.
“Huft! Semoga pria itu tidak marah-marah lagi, betapa menakutkan wajahnya ketika sedang marah,” lirih Lathifa yang sudah berdiri di depan pintu kamar Anisa.
Lathifa berubah pikiran dan memutuskan untuk membatu suaminya itu, ia takut jika luka yang dimaksud oleh Raiyan bukan sekedar luka kecil.
Tok! Tok! Tok!
Lathifa mengetuk pintu di depannya berulang kali, namun sama sekali tidak ada jawaban dari orang di dalamnya.
“Apa lukanya sangat parah? Kenapa dia bisa terluka? Apa dia habis kecelakaan atau bagaimana?” Lathifa bertanya-tanya sendiri sambil menunggu suaminya membukakan pintu untuknya .
“Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya?” Lathifa mulai merasa panik, karena pintu di depannya tak juga terbuka ia memutuskan untuk masuk ke kamar itu.
Ceklek!
“Halo, Pak Al!” panggil Lathifa pelan.
“Om!”
Lathifa perlahan melangkahkan kakinya semakin masuk ke dalam kamar madunya dengan kotak obat ditangannya.
Sebenarnya ia merasa tidak nyaman masuk ke dalam kamar itu. Namun disisi lain ia harus memastikan bahwa suaminya baik-baik saja.
“Pak Alwi!” panggil Lathifa untuk ke sekian kalinya, ia terlihat bingung karena tidak menemukan keberadaan orang yang dicarinya.
Lathifa meletakkan kotak obat tersebut di atas tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi ingin memastikan jika suaminya berada di dalamnya dan tidak terjadi apa pun kepada suaminya.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka dari dalam sebelum Lathifa membukanya.
Deg!
Lathifa terpaku melihat tubuh suaminya berdiri di ambang pintu hanya dengan sebuah handuk yang membalut sebagian tubuhnya dengan rambut basah yang dibiarkan begitu saja.
“Sayang!” Alwi menarik tubuh Lathifa ke dalam pelukannya tanpa menyadari perubahan wajah Lathifa yang memucat.
Tubuh Lathifa membeku seakan waktu berhenti berputar, ini pertama kalinya ia mendengar suaminya memanggilnya sayang, dan pertama kalinya suaminya itu memeluknya.
Lathifa merasakan perasaan aneh yang menyelimuti hatinya, ada rasa bahagia, sedih, takut, dan tak percaya bercampur menjadi satu.
Tanpa ia sadari Alwi menarik tubuhnya dan membawanya menuju tempat tidur. Bahkan Lathifa tidak sadar ketika pakaiannya sudah terlepas dari tubuhnya.
“Aku merindukanmu, Sayang,” ucap Alwi degan suara beratnya.
Alwi tak menghiraukan rasa sakit pada tangannya yang terluka karena sakit itu tak sebanding dengan rasa panas yang menjalar ditubuhnya meskipun sudah merendam tubuhnya dengan air dingin.
Deg!
Lathifa tersadar ketika merasakan sesuatu yang mengganggunya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“A-apa yang kamu lakukan?” Lathifa mencoba mendorong tubuh Alwi namun tenaganya tak sebanding dengan suaminya yang masih dalam pengaruh obat.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku brengs*k!” Lathifa terus meronta, ia menangis dan merasa bodoh karena terpesona akan wajah tampan yang dimiliki suaminya itu.
“Lepaskan aku! Aku mohon lepaskan aku!”