Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Fabi Ayyi Aalaa'i Robbikumaa Tukazzibaan?


__ADS_3

Alwi sudah sampai di rumahnya, ia bergegas masuk ke dalam rumah dan menaiki anak tangga satu-persatu menuju kamarnya dengan Anisa.


Klik.


Alwi memutar kenop pintu dan membukanya, namun ia tidak menemukan keberadaan istrinya di dalamnya.


Alwi bergegas menuju kamar mandi, menanggalkan pakaiannya dan mengguyur seluruh tubuhnya. Menghilangkan segala penat setelah seharian moodnya dibuat berantakan oleh istri mudanya ditambah putri kliennya yang semakin membuatnya merasa muak.


Alwi keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan selembar handuk menutup tubuh bawahnya, memperlihatkan perut ratanya. Ia melihat Anisa yang berdiri di samping ranjang tengah menyiapkan pakaian ganti untuknya, lalu ia berjalan mendekati istrinya.


“Mas sudah pulang?” tanya Anisa menyadari kehadiran suaminya.


“Kamu lihat sendiri, kan. Aku sudah ada di dekatmu.” Alwi memeluk istrinya dari belakang.


“Pakai dulu pakaiannya, Mas! Nanti bajuku basah!” kesal Anisa.


Sering kali Anisa mengomeli suaminya untuk mengelap kering tubuhnya terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar mandi. Namun Alwi seakan menulikan telinganya.


“Kangen, Sayang,” ucap Alwi dengan manja.


“Baru juga berpisah beberapa jam. Nanti kalau berpisah selamanya bagaimana?”


Alwi melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Anisa sehingga mereka saling berhadapan.


“Apa maksud kamu?” tanya Alwi, kedua tangannya memegang lengan istrinya dengan kencang.


“Aw! Sa-sakit, Mas ....”


Alwi tersadar dari emosinya, ia mengendurkan pegangannya di lengan istrinya. “Maaf.”


“Jangan bilang seperti itu lagi! Aku tidak suka mendengarnya, berjanjilah, Nis! Jangan pernah meninggalkan aku.”


“Maaf, Mas. Aku tidak bisa berjanji. Ingatlah, Mas! Sesungguhnya kita semua milik Allah dan kepada-Nyalah kita akan kembali.” Anisa berkata dengan suara yang lembut, mencoba menenangkan suaminya.


Alwi menarik tubuh Anisa ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat.


“Aku tahu itu, Sayang. Tapi aku belum siap. Berikan waktu untukku! Setidaknya sampai kita menua bersama. Memilik anak cucu yang menggemaskan dan kita bermain bersama mereka, pasti sangat menyenangkan.”


“Mas-”


“Sebentar, Sayang. Biarkan seperti ini dulu.” Alwi semakin mendekap tubuh istrinya yang mencoba untuk melepaskan pelukannya.


Anisa membalas pelukan dari Alwi, ia tidak sanggup untuk membantah suaminya.


‘Maaf jika aku banyak mengecewakanmu, Mas. Maafkan aku yang telah banyak mengukir luka di hatimu, aku yang terlalu memaksamu, aku yang belum bisa memahami kamu, memenuhi segala keinginanmu. Maaf karena aku belum bisa membahagiakanmu,’ ucap Anisa dalam hati, ia semakin erat memeluk tubuh suaminya.


‘Semoga Lathifa bisa menjadi penggantiku untukmu, Mas. Perlu kamu tahu, aku melakukan ini bukan karena aku tidak mencintaimu, Mas. Aku bahkan sangat-sangat mencintaimu. Akan aku lakukan apapun demi kebaikanmu, Mas. Demi kebahagiaanmu. Demi masa depanmu. Maafkanlah istrimu yang tidak sempurna ini,’ lanjutnya dalam hati.


Lima menit berlalu, perlahan Alwi mengendurkan pelukannya. Anisa menuntun Alwi untuk duduk di depan meja rias, lalu ia membantu mengeringkan rambut suaminya dengan handuk.


Sepasang suami istri itu hanya terdiam membisu. Canda tawa yang biasanya mereka lakukan, kini hilang tergantikan suara gemercik air hujan yang mengguyur dengan derasnya di luar sana.


“Rambut kamu sudah kering, Mas. Segera ganti pakaian mas, aku akan siapkan makan malam untuk kita,” ucap Anisa berjalan menjauh dari suaminya.


Anisa menjemur handuk di tempat penjemuran di dekat pintu balkon. Ia memandang guyuran hujan di luar kamarnya, langit terlihat gelap tertutup oleh awan hitam.


“Kamu tidak menjemput Lathifa, Mas?” tanya Anisa tangannya menarik gorden menutup pintu kaca balkon kamarnya.


“Eh, itu- dia bilang akan pulang naik taxi.” Alwi terlihat sedikit gugup, ia lupa tentang keberadaan istri mudanya.


“Oh, ya sudah. Mas sholat magrib dulu, aku sedang libur. Aku tunggu di meja makan, ya.”


Anisa keluar dari kamar meninggalkan Alwi yang merasa bersalah karena melupakan Lathifa.


Ingin Alwi menghubungi istri mudanya, namun ia teringat bahwa dirinya tidak menyimpan nomor telepon Lathifa.


Alwi bergegas mengambil air wudu dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang  muslim.


Di tempat lain, Lathifa berdiri seorang diri di bawah halte bus berlindung dari derasnya air hujan yang mengguyur membasahi bumi.

__ADS_1


Langit senja terlihat gelap tidak seperti biasanya, suara petir bergemuruh memekakkan telinga. Kilatan petir terlihat dari segala penjuru.


Lathifa merapatkan tubuhnya yang terasa membeku, angin bertiup cukup kencang menerbangkan air hujan membasahi pakaiannya.


Hampir satu jam Lathifa berdiam diri menunggu kedatangan bus kota ataupun taxi yang lewat. Namun tidak ada satu pun kendaraan yang melintas di depannya.


Lathifa merutuki kebodohannya yang meninggalkan dompetnya di rumah. Ponselnya pun mati karena tidak sempat ia mengisi daya ponselnya.


Dari arah jauh, Lathifa melihat sebuah mobil hitam mendekat ke arahnya. Ia merasa takut jika yang datang adalah orang jahat, Lathifa melihat sekeliling, gelap dan sepi.


Lathifa melangkah ke belakang, merapatkan tubuhnya ketika mobil itu berhenti tepat di depannya.


Mobil itu perlahan menurunkan kaca pintu depannya, memunculkan sosok seorang pria muda di dalamnya.


“Mbak, kenapa berdiri di tengah badai?” tanyanya.


Lathifa membisu, enggan menjawab pertanyaan dari pria yang tidak dikenalnya.


“Mbak tidak usah takut, saya bukan orang jahat.” Pria itu mengeraskan suaranya karena teredam oleh suara hujan.


“Mbak! Kalau mau, biarkan saya mengantar Mbak pulang ke rumah!” seru pria itu, karena melihat Lathifa tidak menanggapinya.


“Mbak! Cepat naik! Kamu mau semalaman berdiri di sini? Tidak akan ada transportasi umum yang lewat di tengah badai seperti ini.”


Pria itu meraih payung yang ia simpan di dalam mobilnya dan keluar menghampiri Lathifa.


“Mari saya antar kamu pulang.” Pria itu menawarkan bantuannya, namun Lathifa enggan untuk menerima dan terus memalingkan wajahnya.


“Kamu bukannya yang tadi siang ke pesantren bersama mbak Nisa ya?” tanya pria itu memastikan bahwa ia tidak salah orang.


“Anda kenal dengan mbak Nisa?” Lathifa memandang wajah pria itu, namun pandangannya mengabur sehingga tidak menangkap wajah pria itu dengan jelas.


“Iya, saya sepupu mbak Nisa. Jangan takut, Saya tidak ada niat jahat sedikit pun.” Pria itu meyakinkan Lathifa untuk menerima niat baiknya, karena merasa kasihan melihat wajah Lathifa yang semakin memucat dengan tubuh yang menggigil.


Dengan sedikit ragu, Lathifa mengikuti pria itu masuk ke dalam mobilnya.


Pria itu memayungi tubuh Lathifa dan membukakan pintu belakang untuknya. Kemudian dia bergegas masuk di kursi kemudi.


“Lathifa, terserah mau memanggil saya dengan sebutan apa,” ucap Lathifa yang duduk di kursi belakang sambil mengusap-usapkan kedua tangannya.


Zahran melirik Lathifa dari spion depan, ia mengambil jaket yang tergeletak di kursi sebelahnya.


“Pakailah ini! Agar tubuh kamu tidak kedinginan, Lathif.” Zahran memberikan jaketnya kepada Lathifa.


“Terima kasih,” ucap Lathifa menerima jaket itu dan memakainya.


Zahran mengantarkan Lathifa pulang sesuai alamat yang di sebutkan oleh Lathifa. Selama perjalanan, hening tidak ada satu pun pembahasan dari mereka berdua.


Zahran memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Alwi, ia menautkan alisnya bingung.


“Kamu tinggal di sini?”


“Iya.” Lathifa menjawabnya dengan singkat.


“Bawalah jaket itu, dan pakailah payung ini.” Zahran memberikan payung yang tadi ia gunakan.


“Terima kasih. Lain waktu saya akan mengembalikan jaket dan payung Anda.”


“tidak perlu di kembalikan, saya ikhlas menolong kamu.”


“Maaf, telah merepotkan Anda. Saya berjanji akan mengembalikan barang milik Anda.” Lathifa membuka pintu mobil dan keluar berjalan masuk ke dalam pintu gerbang rumah suaminya.


Zahran menatap kepergian Lathifa. Banyak pertanyaan yang ingin ia ungkapkan, namun ia mengurungkannya karena tidak sopan jika harus mengusik privasi orang lain, apalagi mereka baru saling kenal.


Zahran melajukan mobilnya, ia terburu-buru harus menghadiri undangan walimah temannya, sehingga tidak bisa mengantar Lathifa hingga ke dalam rumah Alwi.


Lathifa masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam, ia bergegas menuju kamarnya. Lathifa ingin segera membersihkan diri berendam air hangat untuk menghilangkan hawa dingin yang teras menusuk sampai ketulangnya.


Namun langkahnya harus terhenti di ruang keluarga ketika mendengar suara suaminya.

__ADS_1


“Dari mana kamu?” tanya Alwi dengan suara dingin.


Lathifa memutar tubuhnya. “Kampus,” jawabnya singkat.


“Kampus?” Alwi menautkan alisnya. “Dari kampus selarut ini? Jangan berbohong kamu.”


Lathifa melanjutkan langkahnya, tidak ingin meladeni perdebatan suaminya. Ia hanya ingin cepat sampai di kamarnya dan beristirahat.


“Aku belum selesai bicara Lathifa! Jaket laki-laki mana yang kamu pakai?” seru Alwi, membuat Anisa dan Ijah lari tergopoh-gopoh dari arah dapur.


Lathifa kembali menghentikan langkahnya. Bukan karena ia ingin menjawab perkataan suaminya, namun tubuhnya terasa lemas pandangannya mengabur.


“Berikan kabar jika kamu akan pulang terlambat! Kamu itu seorang istri, Lathifa!”


Lathifa masih mendengar samar-samar suaminya yang marah kepadanya. Lathifa tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya.


Bruk!


“Fa!”


“Mbak Latif!”


Samar-samar Lathifa masih mendengar suara Anisa dan mbok Ijah yang menyeru namanya, namun setelah itu semuanya berubah menjadi gelap.


Anisa dan mbok Ijah berlari ke arah Lathifa yang tergeletak di lantai.


Alwi hanya diam mematung, tiba-tiba pikirannya kosong. Perasaannya semrawut melihat istri mudanya tak bergerak di atas lantai.


Alwi tidak berniat untuk marah-marah, namun ketika melihat istri mudanya memakai jaket laki-laki selain miliknya, dirinya dikuasai oleh amarah dan tidak bisa menahannya.


“Mas! Cepat angkat Lathifa ke kamarnya! Jangan berdiri diam saja di sana!” teriak Anisa menyadarkan Alwi dari lamunannya.


Alwi menatap ke arah Lathifa tanpa sedikit pun menggerakkan tubuhnya, membuat Anisa merasa gemas dengan suaminya.


“Mas! Cepat! tunggu apa lagi?”


Alwi berjalan mendekat ke arah mereka, ia mengulurkan tangannya hendak mengangkat tubuh Lathifa.


Deg.


Alwi merasakan pakaian Lathifa yang basah sudah sedikit mengering menyentuh kulitnya, degan wajah pucat dan bibir yang membiru.


Alwi merasakan sesak di dadanya. Namun, dengan cepat ia menyangkalnya. ‘Kamu hanya merasa iba dan kasihan saja kepadanya, Al!’ ucap Alwi dalam hati.


Alwi menggendong tubuh kecil Lathifa membawanya ke dalam kamarnya, diikuti Anisa di belakangnya, sedangkan mbok Ijah berlari ke dapur ingin membuatkan air jahe untuk Lathifa.


“Kamu mau ke mana, Mas?” tanya Anisa ketika melihat Alwi hendak keluar kamar setelah meletakkan tubuh istri mudanya di atas kasur.


“Keluar ... apa lagi?” tanya Alwi bingung.


“Bantu Lathifa mengganti pakaiannya, Mas!”


“Tidak!” tolak Alwi dengan spontan.


Anisa melebarkan matanya, menatap suaminya dengan curiga.


“Eh, maksudnya kamu saja yang membantunya, Sayang. Aku mau ke kabar mandi, perutku sakit.”


“Oh ... ya sudah,” ucap Anisa tanpa curiga.


Alwi mengatakan ia tidak bisa menjaga Lathifa, karena ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan untuk meeting besok pagi. Ia meminta Anisa untuk menemani Lathifa.


Anisa dengan telaten merawat Lathifa yang tubuhnya demam, semalaman ia terjaga dan baru tertidur pukul 03.00 setelah demam Lathifa menurun.


Alwi perlahan membuka pintu kamar Lathifa, ia menatap kedua wajah istrinya yang tidur bersebelahan dalam satu ranjang.


‘Masya Allah’


...Fabi ayyi aalaaa’i Rabbikumaa tukazzibaan....

__ADS_1


...“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”...


__ADS_2