Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Cemburu (Lathifa)


__ADS_3

Di sinilah mereka berada, duduk di atas tanah beralaskan selembar koran mengelilingi dua gundukan tanah dengan taburan berbagai macam bunga di atasnya. Mereka berdoa untuk almarhum Hadi dan almarhum Hafiz yang dipimpin oleh Rusdi.


"Kalau boleh tahu, pakdhe Hadi meninggal karena apa, Budhe?" tanya Rusdi setelah mengakhiri bacaan doanya.


"Serangan jantung," jawab Lathifa singkat.


Rusdi melirik ke arah Lathifa, ia merasa bahwa sepupunya itu masih belum menerima kedatangannya. Mereka memang sepupu, tapi Lathifa terbiasa memanggil Rusdi dan adik-adiknya dengan panggilan om dan bibi, karena umur mereka yang berbeda jauh.


"Emh, apa karena masalah ini?" tanya Rusdi pelan, takut jika tebakannya benar.


"Ya."


Namun Rusdi harus merasakan perih di hatinya, lagi-lagi keluarganya menjadi penyebab kematian pakde nya.


"Maaf ...." Rusdi semakin menundukkan kepalanya, merasa malu kepada Hana dan Lathifa.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Nak. Semua susah menjadi garis takdir pakde kamu. Jodoh, maut, dan rezeki, semuanya sudah tercatat sebelum manusia itu dilahirkan ke dunia ini," ucap Hana dengan tenang.


"Sebulan setelah kami pindah ke restoran, ada dua orang dengan penampilan seperti preman datang dan menagih hutang kepada kami dengan jumlah seratus juta lebih. Padahal, kami merasa tidak memiliki hutang kepada siapa pun." Hana menjeda ucapannya, ia menghirup dalam-dalam udara untuk memasok oksigen ke dalam paru-parunya.


"Kamu tahu ... mereka tidak datang dengan tangan kosong. Mereka menunjukkan bukti peminjaman dengan jaminan sertifikat Hafa Resto." Hana memejamkan matanya, dadanya terasa sesak mengingat kembali kejadian di hari itu.


Rusdi dan istrinya duduk diam mendengarkan cerita Hana, begitu pun dengan Anisa yang belum pernah mendengar penyebab kepergian ayah dari madunya itu.


"Sekuat apa pun kami menolak dan menyangkalnya, semakin gigih pula para debt collector itu menekan dan mengancam kami. Hingga tiba-tiba bapak terjatuh sambil memegangi dadanya." Hana menghentikan ceritanya.


Tangan Hana sibuk mengusap batu nisan di depannya, matanya tak sekalipun lepas dari nama yang tertulis di atas nisan tersebut. Berharap dengan menatapnya, ia dapat menghilangkan rasa rindunya. Namun, ia kini hanya dapat menyalurkan lewat doa saja.


"Kami membawa bapak ke rumah sakit. Namun ... Allah memiliki rencana lain,  di perjalanan, Allah memanggilnya terlebih dahulu."


'Ya Allah ... aku sedang merindukan seseorang yang telah Engkau panggil terlebih dulu dariku. Namun, terkadang sangat sulit bagiku untuk tidak menangis setiap kali mengingatnya. Aku hanya ingin dipeluk dan bersandar di pundaknya sebentar saja, menceritakan apa saja yang telah kami lalui tanpa kehadirannya. Dia satu-satunya orang yang aku inginkan sekarang.' Hana mengusap air matanya yang menetes membasahi pipinya.


Lathifa yang melihat ibunya menangis merapatkan duduknya dan memeluk ibunya dari samping. Ia tahu betapa sedihnya perasaan ibunya, hanya saja ibunya selalu menyembunyikan kesedihannya di depan Lathifa.

__ADS_1


Anisa ikut meneteskan air matanya, ia bersyukur masih memiliki keluarga yang lengkap. Ayah, ibu, meskipun mereka sering meninggalkannya untuk urusan bisnis ke berbagai negara.


"Kapan Hafiz meninggal, Budhe? Maaf Rusdi tidak bisa takziah waktu itu." Rusdi memecah keheningan, ia merasa tak enak hati. Ia belasan tahun merantau dan tidak mengetahui keadaan keluarga besarnya di Indonesia.


"Sekitar empat tahun lalu. Hafiz ingin menyelamatkan seorang wanita hamil yang hendak ditabrak mobil. Namun, sayang keduanya tak dapat terhindar dari musibah tersebut."


"Ma-maksud Ibu, keduanya meninggal?" tanya Anisa, entah mengapa dirinya merasa penasaran ingin mendengarkan cerita lebih dalam.


Hana menggelengkan kepalanya. "Hanya Hafiz yang tidak terselamatkan. Ha-hafiz meninggal di tempat kejadian sebelum ambulans datang ke lokasi." Hana tergugu.


"La-lalu bagaimana dengan keadaan wanita itu dan bayinya?" Anisa sungguh dibuat penasaran, ia merasa kisah ini hampir mirip dengan cerita masa lalunya.


Hana menggeleng lagi, tak mampu mengeluarkan suaranya sekedar untuk menjawab pertanyaan Anisa.


"Mereka selamat, kan?" Anisa waswas, ia takut jika Hafiz adalah orang yang menyelamatkannya dulu.


"Tidak tahu. Bapak tidak mengizinkan ibu untuk bertemu dengan keluarga wanita itu. Bapak juga tidak memberitahukan tentang keadaan wanita itu serta bayinya." Lathifa menjawab pertanyaan Anisa, menggantikan ibunya.


Anisa berharap semoga Hafiz bukanlah pemuda yang dulu terlibat kecelakaan bersamanya, namun disisi lain ia merasa takut jika benar Hafiz adalah pemuda itu. Apa tanggapan Hana dan Lathifa tentang dirinya, apakah mereka tetap akan menerima Anisa seperti saat ini?


...*****...


Sejak kejadian di pemakaman itu, Anisa sering termenung memikirkan siapa pemuda yang dulu menolongnya. Namun informasi yang ia dapatkan sangat tidak membantu. Pihak rumah sakit menutup informasi tentang pemuda itu atas permintaan keluarga pasien.


Alwi  juga tidak mengetahui info apa pun selain ayah dari orang itu. Alwi dan Anisa selalu mencari informasi keberadaan bapak tersebut, hanya berbekal sebuah foto yang ia ambil ketika bertemu dulu. Namun, sampai saat ini mereka belum menemukan keberadaan ayah pemuda itu.


Anisa berjalan ke balkon kamarnya, bersandar pada pagar balkon. Ia mendongakkan wajahnya, matanya lurus menatap bulan purnama yang bersinar terang tampak indah meskipun awan-awan mendung mengelilingi sekitarnya tanpa satu bintang pun yang menemaninya.


Anisa merasakan sebuah tangan besar berbalut kemeja berwarna merah marun melingkar manis di pinggangnya, sebuah kepala menempel di bahunya dan menciumi lehernya yang masih terhalang oleh hijabnya.


"Sayang, kamu kenapa kok melamun?" tanya Alwi.


Anisa menggenggam tangan suaminya yang berada di atas perutnya. ia membuka matanya tan tersenyum, meskipun ia tahu suaminya tak akan melihat senyumannya.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa Mas. Mungkin hanya lelah saja."


"Tapi, akhir-akhir ini mas sering melihatmu melamun. Ada apa? cerita sama Mas!"


"Mungkin hanya perasaan Mas saja."


"Apakah purnama itu lebih indah dari suamimu ini?"


Anisa tak merespon. Alwi semakin mengeratkan pelukannya.


"Bolehkah mas cemburu dengan bulan purnama? Kamu mengabaikanku karena keberadaannya."


"Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu." Anisa memutar tubuhnya sehingga berhadapan dengan suaminya.


"Bulan memanglah indah untuk dipandang mata, sinarnya begitu terang menyinari seluruh penjuru bumi. Apalagi di saat purnama seperti saat ini, lihatlah! Indah bukan?" tanya Alwi menatap mata istrinya.


Anisa bagaikan terhipnotis oleh pancar bola mata suaminya, ia terdiam dan menganggukkan kepalanya.


"Dia hanyalah sebuah benda mati yang tidak akan bisa bersinar tanpa bantuan dari matahari. Namun mereka saling melengkapi. Bagi mas, kamu adalah bulan untuk malam-malam mas yang cerah. Mas akan menjadi matahari yang akan selalu membagi sinar mas untukmu. Ana uhibbuka fillah, Anisa Putri Akbar."


Alwi menarik tubuh Anisa ke dalam pelukannya, Alwi memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam aroma wangi istrinya. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang menatap mereka dengan pandangan yang terluka.


"Apa kamu juga seromantis ini kepada Lathifa, Mas?" tanya Anisa namun Alwi tidak menanggapinya.


Lathifa yang berniat pergi ke rooftop, berharap dengan memandang bulan purnama dapat memunculkan ide-ide di kepalanya untuk menulis novelnya, namun ia harus mendapatkan pemandangan yang sedikit mengusik hatinya.


'Aku bagaikan awan mendung yang merindukan matahari, yaitu kamu, mas. Kukira kamu adalah mimpi yang dapat kukejar, tapi nyatanya kamu adalah matahari yang bahkan sulit hanya untuk aku pandang.'


Lathifa menghentikan langkahnya, lia menatap suami istri di seberang sana yang sedang berdiri saling berpelukan di bawah terangnya sinar bulan purnama.


'Aku juga seorang wanita yang memiliki hati yang lemah, mas. Aku pun membutuhkan uluran tanganmu! Aku juga membutuhkan bahumu untukku bersandar walau hanya sebentar.'


Lathifa mengurungkan niatnya untuk pergi ke rooftop dan memutar tubuhnya berlalu dari sana.

__ADS_1


__ADS_2