
Pagi harinya di ruang tamu, ibu Hana, Bram dan juga Ayu terlihat duduk bersama sembari menunggu kedatangan Lathifa yang sedang mengambil dompet yang tertinggal di dalam kamarnya.
Rencananya Lathifa dan ibu Hana akan pergi ke rumah sakit bersama dengan Bram dan Ayu yang akan mengantarkan mereka terlebih dahulu sebelum berangkat kerja.
Ibu Hana terlihat gusar dan sesekali mencuri pandang ke arah sepasang suami istri di depannya. Hal tersebut ditangkap oleh mata Ayu, ia pun menanyakan hal apa yang membuat ibu Hana bersikap demikian.
“Ibu baik-baik saja, kan?” tanya Ayu lembut.
“Eh- iya, Nak. Ibu baik-baik saja kok,” jawab ibu Hana sedikit gelagapan, beliau tidak mampu menyembunyikan perasaannya.
“Apa ibu merasa tidak nyaman tinggal di rumah kami?” tanya Ayu sembari menggenggam tangan ibu Hana.
Ibu Hana membalas genggaman tangan Ayu. “Bukan, Nak. Ibu justru sangat berterima kasih kepada kalian berdua.”
“Apa ada yang ingin ibu sampaikan kepada kami?” tanya Bram merasa ada sesuatu yang mengusik pikiran ibu Hana.
‘Kita pindah saja ya, Bu. Lathifa tidak ingin kesalahan yang dulu terulang kembali.’
Ibu Hana terdiam sejenak, beliau teringat ucapan putrinya subuh tadi. Beliau pun lalu mengutarakan maksud kepindahannya kepada Bram dan Ayu yang membuat keduanya merasa keberatan dengan permintaan ibu Hana.
“Maaf, Nak Bram ... Nak Ayu. Bukannya ibu tidak suka tinggal di rumah kalian, tapi ada alasan kenapa ibu dan Lathifa tidak bisa tinggal serumah bersama kalian.”
“Tapi kenapa, Bu?” tanya Ayu cepat, ia tidak rela jika tamunya secepat itu pergi.
“Tidak baik jika kami tinggal di rumah ini, Nak. Apa kata orang nanti, kalian pasangan suami istri muda dan ada wanita lain tinggal satu rumah dengan kalian,” jelas ibu Hana yang membuat Bram terdiam memahami ucapan ibu Hana.
“Biarkan saja orang lain berkata sesuka hati mereka, aku tidak peduli, Bu. Aku senang kalian tinggal di rumah ini, aku jadi tidak merasa kesepian,” ucap Ayu menolak permintaan ibu Hana.
“Tapi Nak, Ibu tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan menimpa kepada kita semua nantinya.”
“Ibu tenang saja, semua pasti akan baik-baik saja. Ya kan, Mas?” tanya Ayu meminta dukungan dari suaminya.
“Sayang, kita tidak bisa memaksa mereka untuk tinggal-”
“Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi, Mbak. Jadi izinkan kami meninggalkan rumah ini,” potong Lathifa yang membuat semua orang menoleh ke arahnya.
“Tapi, Fa-”
“Aku pernah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga wanita solehah yang sangat aku hormati, aku pun menjadi madunya hanya karena wanita itu tak bisa memberikan seorang anak kepada suaminya. Dan aku pun berhasil meretakkan tembok yang telah mereka bangun selama ini,” ucap Lathifa membuat semua orang terdiam termasuk Ayu yang merasa bahwa perkataan Lathifa sedikit mengusiknya.
__ADS_1
“Jadi aku mohon, Mbak ... izinkan kami untuk mencari rumah kontrakan saja.”
Suasana menjadi hening usai Lathifa menyelesaikan kalimatnya, Ayu menatap ke arah Lathifa dan suaminya secara bergantian.
“Tapi Mas Bram tidak seperti lelaki itu, Fa. Mas Bram tidak akan menikahi wanita lain selama masih bersama aku, jadi-”
“Tidak ada yang tahu hati manusia, Mbak. Hati manusia mudah goyah, Allah-lah zat yang maha membolak-balikkan hati setiap umat-Nya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, bukan?” tanya Lathifa seketika membuat Ayu tak mampu berkata-kata.
Melihat suasana menjadi canggung, Bram mengeluarkan suaranya. “Sudahlah, jangan diteruskan lagi. Kita bahas masalah rumah kontrakan nanti saja, sekarang ayo kita berangkat keburu siang.”
Bram bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu diikuti oleh Lathifa dan ibu Hana, sedangkan Ayu masih terbengong dalam duduknya.
“Sayang! Cepat! Apa kamu ingin terlambat bekerja!” teriak Bram dari luar membuat Ayu seketika tersadar dan bergegas menyusul suaminya.
...****************...
Lathifa duduk di samping ibunya, di depan mereka duduk seorang Dokter Obgyn yang baru saja selesai memeriksa kandungan Lathifa.
“A-apa saya mengandung bayi kembar, Dokter?” tanya Lathifa tak percaya.
“Iya, Bu. Seperti yang sudah saya jelaskan dan kita lihat tadi, memang ada dua janin dalam rahim ibu, namun maaf saya harus menyampaikan kabar ini.”
“Dan pada kasus Ibu Lathifa sendiri, IUGR terjadi pada salah satu janin ibu yang tidak berkembang dan terlalu kecil.”
“Apa mereka baik-baik saja, Dokter? Me-mereka pasti akan selamat, kan?” tanya Lathifa dengan mata berkaca-kaca, untuk kesekian kalinya ia merasa bersalah dan gagal menjaga titipan yang Allah berikan.
“Sebaiknya mulai hari ini ibu opname, kami akan memantau perkembangan janin Anda.”
“Ta-tapi tidak akan terjadi sesuatu yang buruk kepada anak saya kan, Dokter? Usia mereka baru 31 Minggu. ”
“Insya Allah, Bu. Kita sama-sama berdoa untuk kesehatan ibu dan kedua anak ibu. Dan Ibu harus siap jika sewaktu-waktu ada kondisi yang mengharuskan kami untuk melakukan tindakan caesar.”
“Iya, Dok. Lakukan apa pun yang terbaik untuk putri dan cucu saya,” ucap ibu Hana cepat.
Dokter Obgyn tersebut tersenyum hangat memberikan semangat kepada Lathifa dan ibu Hana, lalu menyuruh seorang perawat untuk mengarahkan mereka mengurus prosedur rawat inap selanjutnya.
Setelah dua hari mendapatkan perawatan, Dokter memutuskan untuk melakukan operasi caesar terhadap Lathifa karena kantong ketuban yang pecah dini dan bisa membahayakan kondisi ibu dan janin.
“Bu, uang dari mana untuk membayar biaya operasiku?” tanya Lathifa sedih, pasalnya 10 menit lagi ia akan masuk ke ruang operasi namun simpanannya hanya cukup untuk persalinan normal.
__ADS_1
“Jangan khawatir, Nak. Ibu pasti akan mendapatkannya, kamu fokus saja terhadap bayi kamu.”
Ibu Hana tak pernah pergi jauh meninggalkan putrinya, beliau selalu menemani Lathifa. Sesekali Bram dan Ayu menjenguk Lathifa dan membawakan beberapa keperluan mereka.
Ibu Hana mematung memandang ke arah pintu ruang operasi yang tertutup, menyembunyikan putrinya bersama tim medis di balik pintu besar tersebut.
‘Bismillah, Ya Allah ... lindungilah putri dan cucu-cucu hamba, perlancarkanlah operasi Lathifa. Aamiin.’
Ibu Hana memutar tubuhnya dan melangkah menjauhi ruang operasi, walau ingin menunggu persalinan putrinya namun ada sesuatu yang harus dilakukannya.
Dengan wajah bingung dan tatapan kosong, ibu Hana berjalan pelan tanpa tenaga menyusuri koridor ruang sakit hingga sampaikan di loby rumah sakit. Tanpa sengaja tubuhnya memandang seseorang yang berjalan berlawanan dengannya.
“Maaf, saya tidak sengaja,” ucap Ibu Hana menundukkan kepalanya.
“Iya tidak apa-apa, Bu,” jawab seorang wanita yang ditabraknya.
Ibu Hana kembali melanjutkan jalannya, namun tidak dengan wanita yang ditabraknya. Wanita itu terus menatap punggung ibu Hana yang semakin menjauh.
“Ayo, Mi. Dokter sudah menunggu kita,” ucap sebuah suara yang menyadarkan wanita itu.
“Umi sepertinya pernah melihat wanita tadi, Bi,” ucapnya.
“Siapa? Memangnya Umi ada kenalan di sini selain keluarga besar?”
“Tidak sih ... tapi umi yakin pernah melihatnya.”
“Sudahlah, ayo cepat jalan.”
Sepasang suami istri paruh baya itu pun kembali melanjutkan jalan mereka. Namun baru beberapa langkah wanita itu menghentikan langkahnya.
“Umi merasa tidak tenang, Bi. Umi harus mengejar wanita tadi. Abi saja yang menemui dokter, ya.”
Tanpa menunggu persetujuan dari suaminya, wanita itu berbalik dan mengejar ibu Hana meninggalkan suaminya yang menatap kepergiannya sambil menggelengkan kepalanya.
“Tunggu, Bu!”
“Bu!”
__ADS_1