Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Menemui Uztaz Hamdan


__ADS_3

Alwi menyeret tangan Lathifa masuk ke dalam rumahnya. Wajahnya memerah dengan rahang yang mengeras, bahkan terlihat berlipat-lipat sangat menakutkan bagi Lathifa.


Alwi bahkan mengabaikan keberadaan istri pertamanya yang dibuat terkejut oleh kedatangannya.


Baru kali ini Anisa melihat wajah suaminya begitu murka, lebih menakutkan ketika dulu Anisa memintanya untuk menikah lagi.


Alwi membuka pintu kamar Lathifa dengan kasar, lalu mendorong tubuh kecil Lathifa agar masuk ke dalamnya.


Brak!


Dengan keras Alwi menutup pintu kamar tersebut. Seketika tubuh Lathifa menegang, ia belum pernah diperlakukan seperti ini oleh keluarganya.


Perlahan tubuh Lathifa merosot ke lantai, ia terisak melihat suaminya berjalan ke arah lemari pakaiannya dan mengeluarkan semua isi di dalamnya. Lathifa mengabaikan perih di pergelangan tangannya yang memerah.


“Buang semua ini! Tidak pantas untukmu memakai pakaian semacam ini!”


Alwi seperti kesetanan mengobrak-abrik lemari pakaian Lathifa. Ada sesuatu yang membuat sesak di dadanya, terasa panas dan membuatnya sangat kesusahan sekedar untuk menahan emosinya.


“Kenapa begitu sulit menuruti permintaanku untuk meninggalkan semua celanamu ini? Apa kamu masih ingin keluyuran dengan mengendarai motor?” marah Alwi sambil mengambil koper yang ada di atas lemari lalu memasukkan semua pakaian Lathifa kedalamannya.


Sedangkan Lathifa hanya terisak, ia menyadari kesalahannya karena sebelumnya Alwi sudah melarangnya untuk mengendarai motor sport.


“Aku hanya ingin membimbingmu menjadi seorang muslimah yang lebih baik. Salahkah caraku?” tanya Alwi tanpa menatap ke arah istrinya.


Lathifa tidak merespon pertanyaan suaminya, tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemas, pikirannya kosong, napasnya terasa berat. Ia menyandarkan tubuhnya di kaki ranjang.


“Apa aku salah, Lathifa?” tanya Alwi, kali ini dengan nada yang sedikit rendah.


“Sebagai seorang istri, wajib bagimu menuruti perintahku sebagai suamimu. Contohlah Anisa, dia tidak pernah membantah perkataanku.”


“Aku Lathifa! Bukan mbak Anisa!” teriak Lathifa, membuat Alwi menoleh ke arahnya.


“Lathifa! Jangan kamu meninggikan suaramu di hadapan suamimu!”


“Suami? Siapa suamiku? Apa selama ini, Anda menganggap aku sebagai istri Anda?” tanya Lathifa di tengah isak tangisnya.


“Lathifa!”

__ADS_1


Alwi terdiam, ia kehabisan kata-kata untuk meladeni istrinya, semua tidak akan terselesaikan jika amarah menyelimuti keduanya.


Sreet!


Alwi menutup koper di depannya dan menarik kasar ritsletingnya, lalu menariknya keluar.


“Tenangkan dirimu,” ucap Alwi sebelum meninggalkan Lathifa yang masih terduduk di lantai.


Lathifa menekuk lututnya dan memeluknya, membenamkan wajahnya di dalam pelukan itu. Tubuhnya bergetar hebat, mencoba menahan isak tangisnya agar tidak terdengar oleh orang lain.


‘Ya Allah, aku tahu! Salah jika aku mencintai milik orang lain. Tapi rasa ini bukan aku yang memintanya! Bahkan jika bisa aku memilih, aku ingin untuk tidak bertemu dengannya. Cukup mencintai dalam diam tanpa harus memiliki ....’ Lathifa hanya mampu menyerukannya di dalam hati.


Di ruang keluarga, Alwi menyerahkan koper berisi pakaian Lathifa kepada Anisa yang sedang duduk di sofa.


“Apa ini, Mas?” tanya Anisa dengan wajah bingungnya.


“Kamu pilih mana yang masih layak dipakai dan berikan kepada yang membutuhkan. Sisanya buang saja!” ucap Alwi, meletakkan koper Lathifa di depan Anisa, dan berlalu pergi.


“Kamu mau ke mana, Mas?”


“Mas mau ke pesantren. Kamu makan dan tidurlah terlebih dahulu, jangan menunggu mas pulang.”


“Oh ya, jangan masuk ke dalam kamar Lathifa, biarkan dia menenangkan dirinya sendiri,” ucap Alwi sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Hingga malam, baik Anisa maupun Lathifa tidak ada yang menyentuh makanan di meja makan.


Anisa duduk di ruang keluarga, menunggu kepulangan suaminya sembari membaca mushaf kecil miliknya. Sedangkan Lathifa tidak terlihat keluar dari kamarnya sejak kepulangannya.


Di tempat lain, di dalam masjid pesantren, Alwi terlihat duduk dengan menyandarkan tubuhnya di dinding sambil memejamkan matanya.


“Kamu belum pulang, Mas?” tanya Zahran yang baru datang lalu mendudukkan tubuhnya di samping Alwi.


“Nanti dulu, Gus.” Alwi berkata tanpa membuka matanya.


“Sudah jam 23.00, Mas. Mbak Nisa pasti menunggu kepulanganmu.”


“Aku ingin menunggu abi Hamdan pulang, Gus.”

__ADS_1


“Sebaiknya menunggu di Ndalem saja, Mas. Kemungkinan setengah jam lagi abi pulang. Ayo, saya antar ke Ndalem,” ajak Zahran.


Alwi berjalan beriringan dengan Zahran, pangeran di pesantren tersebut. Santri dan santriwati di sana memanggilnya dengan sebutan Gus Za.


Mereka berjalan pelan sambil membahas beberapa hal, juga membalas sapaan dari beberapa santri yang sedang berpatroli yang mereka jumpai.


“Menurut kamu, poligami itu bagaimana, Gus?” tanya Alwi.


“Tidak ada yang salah dengan poligami. Di dalam syariat pun memperbolehkannya, dengan syarat dia merasa aman dari sikap berat sebelah dan dia mampu untuk berbuat adil.” Zahran menjawab dengan tenang.


“Gus pribadi, apa ada niatan untuk berpoligami?” tanya Alwi membuat Zahran menghentikan langkahnya.


“Saya tidak mengharamkan poligami, dalam Alquran surah An-Nisa ayat 3 dijelaskan ‘Jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja’ dan saya pribadi merasa belum siap dan mungkin tidak akan sanggup untuk bersikap seadil-adilnya kepada istri-istriku jika harus dihadapkan dengan poligami.” Zahran menatap lekat Alwi yang berdiri di depannya.


“Apa Mas Al ada niatan untuk memoligami mbak Nisa?”


Alwi hanya terdiam, ia tak sanggup untuk menjawab pertanyaan dari sepupu dari istrinya itu.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju Ndalem dengan keheningan. Meskipun banyak pertanyaan yang ingin di tanyakannya, Zahran hanya bisa menguburnya dalam-dalam. Ia tidak memiliki hak untuk mengusik prahara rumah tangga orang lain.


Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, Alwi duduk di depan ustaz Hamdan, hanya berdua. Zahran pamit kembali ke asrama setelah kedatangan abinya.


Selama sepuluh menit lamanya, Alwi hanya duduk diam membisu tanpa melakukan apa pun.


“Ada masalah apa Al?” tanya ustaz Hamdan memecah keheningan.


Alwi menatap wajah ustaz Hamdan, ia ragu untuk memulai pembicaraan. Padahal niat awal Alwi datang ke pesantren ingin mencurahkan kegundahan di hatinya. Namun, lidahnya terasa beku ketika berhadapan langsung dengan pakde dari istrinya.


“Ceritakan jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu.”


Alwi pun menceritakan perihal kehidupan pernikahan poligaminya, tentang dirinya yang tidak bisa menerima kehadiran istri mudanya. Namun tetap masih dengan menyimpan hal-hal yang seharusnya hanya diketahui olehnya, istrinya dan Sang Pencipta.


“Apa alasan kamu menikahi gadis itu? Apa kamu membenci poligami?”


“Saya tidak membenci poligami Abi. Sampai detik ini saya tidak ingin berpoligami, tapi saya harus menjalankan amanah dan janji saya kepada kedua orang tua Anisa untuk selalu membahagiakannya. Termasuk menuruti keinginannya untuk saya menikahi gadis itu.” Alwi menundukkan kepalanya, ia merasa tidak sanggup jika harus menatap wajah teduh pria paruh baya di depannya.


“Apa selama ini kamu sudah bersikap adil kepada mereka?”

__ADS_1


Alwi terdiam, bayang-bayang kehidupannya selama lebih dari 6 bulan lalu, ketika ia mengucapkan ikrar suci kepada istri mudanya. ‘Begitu hamba tak berdaya menjalankan amanah darimu Ya Allah.’


__ADS_2