
Keesokan harinya, Alwi duduk di meja makan bersama kedua istrinya.
“Bagaimana, Fa? Apakah sudah ada hasilnya?” tanya Anisa sembari menyendokkan nasi ke dalam piring suaminya.
“Hasil apa, Mbak?” tanya Lathifa bingung.
“Positif?”
“Positif?” ulang Lathifa sembari menuangkan air ke dalam gelas mereka.
“Hamil.”
“Eh, be-belum, Mbak.” Lathifa melirik ke arah suaminya yang duduk tenang tanpa berniat untuk membantunya.
“Kamu tidak pernah lupa minum susunya, kan?”
Lathifa menganggukkan kepalanya. Bingung harus menjelaskan apa kepada Anisa yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
“Kamu mau lauk apa, Mas?” tanya Anisa kepada suaminya.
“Apa saja terserah kamu, Sayang.”
Anisa menyendokkan beberapa menu kesukaan suaminya ke dalam piringnya.
“Enggak apa-apa, Fa. Pernikahan kalian baru 9 bulan lebih, nanti jika dalam satu tahun kamu belum juga hamil kita pergi ke dokter ya!” ucap Anisa tanpa ingin dibantah.
“Iya, Mbak.” Lathifa tidak tega untuk menolak permintaan Anisa, apalagi terlihat jelas wajah Anisa yang selalu berseri jika membicarakan tentang kehamilan.
Mereka bertiga pun memulai acara sarapan mereka dengan tenang.
“Besok aku ada acara di luar kota selama 3 hari, Mas.” Izin Anisa kepada suaminya setelah selesai sarapan.
“Kenapa mendadak?” tanya Alwi sambil membersihkan mulutnya dengan tisu.
“Seharusnya awal bulan depan, Mas. Tapi kemarin baru diberitahukan acaranya dimajukan,” ucap Anisa sembari menumpuk piring kotor di atas meja.
“Biar saya saja, Mbak.” Lathifa mengambil alih piring-piring tersebut.
“Ya sudah, hati-hati. Jaga kesehatan!” ucap Alwi mengingatkan.
“Insya Allah, Mas.”
“Mas berangkat dulu, tidak perlu mengantar mas ke depan. Assalamu’alaikum.” Alwi berdiri meraih tas kerjanya.
“Wa’alaikummussalam,” Jawab Anisa.
Anisa meraih tangan Alwi dan menciumnya lalu Alwi mengecup kening Anisa dan berjalan ke arah dapur.
“Astaghfirullah, ibuk!” ucap Lathifa sambil memegang dadanya.
Lathifa hampir saja menabrak suaminya ketika ia membalikkan tubuhnya setelah meletakkan piring kotor di wastafel.
“Aku bukan ibu.”
“Maaf.” Lathifa hendak pergi namun tangannya di tahan oleh suaminya.
“Apa?” tanya Lathifa menatap ke wajah suaminya.
“Aku mau berangkat kerja.”
“Ya sudah sana berangkat!”
“Kamu mengusirku?”
Lathifa memutar bola mata jengah.
Alwi mengulurkan tangannya kepada Lathifa untuk dicium, Lathifa pun mencium punggung tangan Alwi lalu melepaskan pegangan tangan mereka.
__ADS_1
Namun Alwi menariknya, dan memegang kepala Lathifa dengan kedua tangannya lalu mendaratkan sebuah kecupan di kening istri mudanya, lalu bergegas pergi tanpa melihat wajah Lathifa.
Tubuh Lathifa menegang, baru kali ini suaminya menciumnya tanpa ada Anisa di sekitar mereka. Biasanya suaminya itu menciumnya hanya karena berpura-pura di depan Anisa.
Ada rasa yang sulit dijabarkan oleh kata-kata, senang, sakit, perih menjadi satu Lathifa rasakan di dalam dadanya.
“Kok malah bengong di sini, Fa!” tegur Anisa berjalan dengan sisa piring sisa lauk di tangannya.
“Eh, nggak kok, Mbak.” Lathifa kembali membantu Anisa membereskan meja makan.
...*****...
Sore itu sepulang dari kuliah, Chaca meminta Lathifa untuk menemaninya pergi berdua ke mal.
Lathifa tidak menceritakan perihal Bryan kepada Chaca karena merasa tidak enak jika harus menceritakan keburukan temannya itu. Lathifa takut jika Chaca hanya menganggapnya membual dan akan membuat hubungan pertemanan mereka kembali merenggang.
Sebelum pulang, Mereka berdua mampir ke dalam Cafe yang ada di mal tersebut.
“Fa, kamu tunggu sebentar ya. Aku mau ke toilet sebentar.” Chaca pergi meninggalkan Lathifa duduk sendirian.
Tak lama kemudian, Chaca kembali disusul seorang waiters yang mengantarkan pesanan mereka.
Mereka mengobrol dan bercanda membahas masa lalu mereka ketika SMA, wajah Lathifa terlihat sangat bahagia.
“Kelihatannya Bryan suka sama lo deh, Tif.” Chaca tiba-tiba mengubah topik pembicaraan mereka.
“Hah, enggak mungkin, Cha.” Ekspresi wajah Lathifa berubah menjadi sedikit kesal.
“Tapi dia anaknya baik loh, Thif.”
“Aku sudah bersuami, Cha!”
“Iya-iya, nggak usah pake ngegas juga! Gue kan cuma ngomong apa yang gue lihat doang.”
“Jangan bahas dia, Cha. Bahas yang lain saja!” ucap Lathifa lalu meraih gelas di depannya dan meminumnya.
Ting.
Chaca meraih ponsel di dalam tasnya yang berdering tanda sebuah pesan masuk.
Mr. B
Semua sudah beres. Tinggal bagian lo.
^^^Me^^^
^^^Bentar lagi, lo stanby di depan! Ntar gue kabari.^^^
Mr. B
Oke
Chaca kembali menyimpan ponselnya di dalam tas, lalu menatap lekat wajah Lathifa yang sibuk dengan minumannya.
Di tempat lain, di dalam ruang kerjanya, Alwi terlihat masih sibuk dengan berkas-berkas yang belum selesai ia periksa.
Raiyan masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi depan meja Alwi.
“Masih belum selesai, Pak?” tanya Raiyan pelan.
“Kamu melihat aku sedang apa?” tanya balik Alwi tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di depannya.
“Bermain?” ucap Raiyan santai dengan nada bertanya membuat Alwi menghentikan aktivitasnya dan menatap lekat asisten di depannya.
“Memang berkas-berkas itu adalah permainan kamu, kan?”
“Keluar jika hanya ingin menggangguku!” teriak Alwi karena kesal dengan candaan Raiyan.
__ADS_1
“Tenang, Pak! Jangan emosi.”
“Ada perlu apa kamu ke ruangan saya?” tanya Alwi kembali ke mode atasan dan asistennya.
“Besok saya harus mengecek proyek di luar kota, Pak.”
“Lalu?”
“Perusahaan Sanjaya memindahkan jadwal pertemuan akhir diadakan besok malam.”
Alwi menautkan alisnya. “Besok malam?”
Raiyan menganggukkan kepalanya, menatap wajah atasannya dan menunggu reaksi dari atasannya.
“Tapi kamu bisa kan, menghadiri pertemuan itu?” tanya Alwi.
Raiyan menggelengkan kepalanya dengan ragu, ia tahu bahwa atasannya sangat menghindari pertemuan langsung dengan Sanjaya Group karena masalah yang dulu, meskipun kini sekretaris tuan Sanjaya sudah kembali aktif bekerja, Alwi tetap saja tidak mau turun langsung dalam pertemuan dengan Sanjaya Group.
“Ini pertemuan terakhir kita dengan mereka, sebelum proyek berjalan lebih lanjut,” jelas Raiyan.
“Kenapa mereka mengajukan pertemuan dari jadwal yang sudah ditentukan?”
“Pihak mereka mengatakan, lusa tuan Sanjaya harus melakukan perjalanan kerja ke luar negeri.”
“Apa tidak bisa di wakilkan orang kita, Rai?” tanya Alwi lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kebesarannya.
“Sayang sekali tidak, Pak. Sesuai kesepakatan awal, mereka hanya mau berkomunikasi dengan Anda ataupun saya.”
Alwi menghela napasnya panjang, lalu memijat pangkal hidungnya dan memejamkan matanya.
“Apa Bapak masih menghawatirkan kejadian tempo lalu?”
Melihat tak ada pergerakan dari atasannya, Raiyan kembali meyakinkan Alwi.
“Saya akan berusaha pulang lebih awal, Pak. Dan akan menyusul Anda sesegera mungkin.”
“Jam berapa?” tanya Alwi.
“Jam 19.30 di Swiss Hotel, sekaligus mereka mengajak Anda untuk makan malam bersama.”
“Baiklah, saya akan mendatangi pertemuan tersebut.”
“Saya akan berusaha untuk pulang lebih awal dari luar kota, Pak.” Raiyan sekali lagi meyakinkan atasannya.
“Tidak perlu. Kamu fokus dengan pekerjaan kamu di sana.”
Ting.
Sebuah nada dering tanda pesan masuk membuat Alwi melirik ke arah ponselnya yang teronggok di atas meja kerjanya. Tangan kanannya meraih benda tersebut dan dilihatnya sebuah pesan masuk dari privat number, ia merasa penasaran dan jemarinya menekan layar membuka pesan tersebut.
Beberapa gambar memenuhi layar ponselnya, satu persatu ia buka gambar tersebut untuk melihatnya lebih jelas.
Terlihat dua manusia berbeda gender saling menempelkan tubuh mereka dan terlihat sedang berciuman mesra, namun hanya terlihat dari samping, sang pria sama sekali tidak menunjukkan wajahnya. Sedangkan wajah wanitanya ....
Deg.
Alwi memperbesar gambar tersebut, sekali lagi ia mempertajam penglihatannya memastikan wajah wanita dalam foto itu.
Wajah Alwi seketika berubah menjadi merah, rahangnya mengeras, tangannya mengepal.
‘Astaghfirullah ....’ berulang kali Alwi beristigfar di dalam hati.
Raiyan yang melihat wajah atasannya berubah, seketika juga merasa khawatir.
“Ada Apa, Pak?” tanya Raiyan namun tidak mendapat jawaban dari Alwi.
“Lathifa ....” ucap Alwi sangat lirih, bahkan tidak terdengar oleh Raiyan.
__ADS_1