Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Satu Kebohongan


__ADS_3

Anisa masuk ke dalam kamarnya dan tangisnya pun pecah tak tertahan lagi. Anisa menangis tersedu melampiaskan semua sesak yang dia tahan sejak pulang dari rumah sakit kemarin. Selagi tidak ada orang di rumah, ia bisa dengan bebas menumpahkan segala kesedihannya.


Anisa menangis keras-keras dan merem@s surat hasil diagnosanya. Dengan air mata yang masih berlinang, Anisa berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah lagi cemburu akan kebersamaan suaminya dengan madunya. Madu yang dirinya sendiri pilihkan untuk suaminya.


‘Ya Allah, jika memang ini jalan yang Engkau takdirkan untukku, aku ikhlas, Ya Rob ... namun sebelum Engkau memanggilku kembali kepada-Mu, berikan kesempatan untukku untuk memastikan bahwa Mas Alwi dan Lathifa akan hidup bahagia bersama, agar aku tenang meninggalkan mereka berdua.’


Setelah merasa lebih tenang, Anisa berjalan ke kamar mandi untuk  mengambil wudu. Ia menjalankan rutinitasnya menghadap Sang Pencipta alam dan seisinya.


Anisa menjalankan sholat sunah Dhuha sebelum berangkat ke pesantren untuk kembali membantu keperluan di sana.


“Assalamu’alaikum warahmatullaah ....”


“Issthhh, Astaghfirullah ... Ya Allah!” Anisa merasakan kepalanya berdenyut nyeri tepat setelah ia mengucapkan salam, perut bagian atasnya terasa begitu sakit.


Anisa meringkuk menahan sakit itu dalam diamnya, tidak satu orang pun yang mengetahui akan penyakitnya. Baik itu suaminya ataupun orang tuanya sendiri.


Anisa tidak ingin membuat semua orang merasa sedih dan mengkhawatirkan dirinya, cukup musibah yang dulu saja yang membuat mereka semua sedih. Keluarganya hanya tahu jika Anisa pernah divonis mengidap tumor jinak, itu pun sudah berobat dan dinyatakan sembuh.


Dengan tertatih Anisa mencoba bangkit dan meraih botol obat yang ia sembunyikan di laci nakas paling bawah lalu meminumnya. Setelah merasa lebih baik, Anisa mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipinya lalu melipat mukena dan merapikannya.


“Bismillah....”


Anisa memantapkan dirinya, ia tidak boleh rapuh dan harus terlihat baik-baik saja di depan keluarganya.


Anisa meneguk segelas air putih di depannya dalam sekali minum. ‘Ya Allah, teguhkan hati ini selalu di atas agama-Mu.’


...****************...


Sore harinya, sesuai ucapannya, Alwi ada janji dengan kliennya di salah satu restoran dekat kampus tempat Lathifa kuliah.


Alwi berniat untuk menjadikan hal tersebut sebagai kesempatan baginya untuk memulai langkah awal memperbaiki hubungannya dengan Lathifa, ia ingin menjemput Lathifa sebagai alasan agar mereka memiliki waktu lebih untuk berdua.


Namun Alwi dibuat kecewa sebelum rencananya bisa terwujud. Usai dengan urusannya, Alwi memutuskan untuk menyusul dan menjemput istri pertamanya ke pesantren, ia bergegas berjalan menuju tempat mobilnya terparkir.


Drrrrttt.


Langkah Alwi terhenti tepat di samping mobilnya ketika merasakan getaran di dalam sakunya, ternyata ponselnya yang bergetar karena ada panggilan masuk ke dalamnya.


“Anisa?” Alwi terlihat bingung ketika melihat bahwa Anisa yang memanggilnya. “Kenapa dia meneleponku?”


Alwi mengangkat panggilan tersebut. “Assalamu’alaikum, Sayang.”


‘Wa’alaikummussalam, Mas,’ jawab Anisa dari seberang telepon.


“Ada apa?” tanya Alwi


‘Aku boleh menginap lagi di pesantren ya, Mas.’


“Malam ini?”


‘Iya, Mas. Masih ada banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan.’

__ADS_1


“Kan di sana ada banyak santriwati yang membantu?”


‘Selagi kita bisa melakukannya, kenapa harus mengandalkan orang lain, Mas?’ sanggah Anisa dari seberang telepon.


“Huft.” Alwi menghela napasnya pelan, ia tidak bisa jika harus berdebat dengan istri pertamanya itu. “Ya sudah, tapi ingat jangan sampai kamu terlalu lelah, ya!”


‘Iya, Mas. Terima kasih ya, sudah mengizinkan aku.’


“Sama-sama, Sayang. Besok pagi aku jemput di pesantren ya.”


‘Tidak perlu, Mas.’ Anisa dengan cepat menolak niat baik suaminya.


“Kenapa?”


‘Kamu pasti lelah jika harus bolak-balik ke pesantren, Mas. Kamu berangkat ke kantor saja sekalian mengantarkan Lathifa kuliah.’


“Tapi-” Alwi menggantungkan kalimatnya.


‘Tidak perlu mencemaskan aku, Mas.’


“Baiklah, hati-hati di sana!” perintah Alwi.


‘Iya, Mas. Kamu juga baik-baik di rumah, jangan terlalu sering memarahi Lathifa.’


“Hmm.”


‘Kenapa hanya hmm saja?’ tanya Anisa terkekeh.


“Tidak apa-apa, aku pasti akan sangat merindukan kamu, Sayang.”


“Baiklah, ingat pesanku!”


‘Iya Mas Alwi sayangku, cintaku, belahan jiwaku ... sudah ya, aku tutup teleponnya, assalamualaikum,’ pamit Anisa.


“Wa’alaikummussalam,” jawab Alwi lalu ia mematikan ponselnya.


Alwi memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, ia hendak mencari-cari keberadaan kunci mobilnya namun tidak ia temukan di saku maupun dalam tasnya.


“Dimana kuncinya?” tanya Alwi bingung.


“Apa mungkin tertinggal di dalam restoran?”


Alwi memutar kembali langkahnya menuju restoran yang tadi ia kunjungi, ia melangkah menuju kasir dan bertanya tentang kuncinya kepada karyawan restoran.


“Permisi, Mbak. Saya kehilangan kunci mobil milik saya, apa mungkin ada yang menemukannya di restoran ini?” tanya Alwi sopan.


“Mohon tunggu sebentar ya, Pak. Saya tanyakan dulu kepada rekan saya,” jawab karyawan tersebut tak kalah ramahnya.


Alwi berdiri di depan kasir sembari menunggu karyawan tersebut yang tengah sibuk berbicara dengan rekannya lewat sambungan telepon. Tanpa sengaja tatapannya mengarah kepada sosok wanita yang sangat familier di matanya.


“Lathifa? Sedang apa dia disini?” Alwi bertanya-tanya sendiri, yang ia tahu istri mudanya ada janji mengerjakan tugas dengan temannya.

__ADS_1


Alwi menajamkan penglihatannya memastikan bahwa ia tidak salah mengenali orang. ‘Aku yakin dia Lathifa, pakaiannya pun juga sama dengan yang dipakai oleh Lathifa tadi pagi.’


Alwi hendak menghampiri meja dimana Lathifa tengah duduk berdua dengan seorang lelaki muda, namun tidak jadi karena karyawan tadi memanggilnya.


“Pak, Anda di suruh datang ke kantor manager saya di lantai dua untuk melihat apakah kunci yang bapak maksud sama dengan kunci yang kami temukan beberapa waktu lalu.”


Alwi terlihat bimbang, ia ingin menghampiri istrinya, namun juga tidak mau membuat manager restoran menunggunya terlalu lama.


“Pak!” panggil karyawan tersebut karena Alwi hanya terdiam tidak merespon ucapannya.


“Eh, iya Mbak, maaf. Saya akan segera pergi ke lantai dua.”


Setelah menyelesaikan kalimatnya, Alwi memutuskan untuk pergi ke ruangan manajer restoran tersebut terlebih dahulu. Dan setelah itu ia akan menghampiri istri mudanya itu.


Alwi melirik sekilas ke arah Lathifa yang terlihat sedang mengobrol dengan nyamannya bersama pria lain, hal tersebut berhasil mencubit hati Alwi.


Setelah kepergian Alwi, seorang wanita muda berjalan menghampiri meja Lathifa dan bergabung bersama mereka.


“Sudah selesai?” tanya Lathifa kepada wanita tersebut yang merupakan teman kuliahnya yang baru saja kembali dari toilet.


“Sudah, ayo pergi,” ajak wanita itu setelah membereskan barangnya.


“Kamu langsung pulang? Bareng kita saja ya,” ajak sang pria menawarkan tumpangan kepada Lathifa.


“Tidak perlu, Han. Aku naik angkutan umum saja, lagian arah rumah kita juga berlawanan,” tolak Lathifa sopan.


“Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya, Tif. Kabari aku kalau sudah sampai rumah!” pinta sang wanita.


“Siap!” Lathifa menjawabnya dengan penuh semangat membuat ketiganya tertawa bersama.


“Kalian langsung pulang jangan pacaran terus!” ledek Lathifa.


“Ya ... ya, bu guru,” jawab keduanya serempak membuat Lathifa mencebikkan bibirnya kesal.


Mereka pun berlalu dan meninggalkan meja tersebut, sepasang kekasih itu berjalan menuju tempat parkir, sedangkan Lathifa berjalan ke arah jalan raya untuk menunggu angkutan umum yang lewat.


Alwi berjalan dengan langkah lebar menuruni anak tangga setelah berhasil mendapatkan kembali kunci mobilnya, ia ingin segera menghampiri istrinya, namun Alwi sedikit terlambat dan kecewa melihat meja itu sudah berganti orang lain.


‘Kemana mereka pergi? Siapa pria itu?’


Di tempat lain, Anisa duduk bersandar di balik kemudi dengan memejamkan matanya. Ia baru saja selesai melakukan pemeriksaan masalah kesehatannya.


Anisa benar-benar belum siap bertemu dengan suaminya, ia tidak tahu harus berkata apa dan tidak ingin membuat suaminya merasa sedih.


‘Kebohongan mengiring kepada keburukan, dan keburukan mengiring kepada neraka, Nis!’ debat Anisa dalam hati memperingati dirinya sendiri.


Apa pun itu, kebohongan tetaplah kebohongan. Namun ada kalanya bibir tak sengaja menjauhi kejujuran karena tak ingin menambah keadaan menjadi semakin tak terkendali.


Bisa juga lantaran tak semua hal tentang diri kita tak perlu diketahui oleh orang lain. Lalu, apakah ini termasuk dosa? Jika iya, semoga Allah mengampuni kita yang terpaksa hidup dalam banyak kerahasiaan.


Anisa terpaksa berbohong kepada Alwi, sebenarnya sejak pagi ia berada di rumah sakit, ia menjadikan pesantren sebagai alasan agar suaminya tidak mencurigainya. Namun tentang ia akan menginap di pesantren bukanlah suatu kebohongan.

__ADS_1


“Maafkan aku, Mas. Aku terpaksa harus melakukan ini semua.”


Anisa membuka matanya dan setelah merasa tenang, ia menyalakan mesin mobilnya dan mulai menancap gas melajukan mobilnya menuju ke pesantren.


__ADS_2