Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Masa Lalu


__ADS_3

"Aku tidak akan segan-segan untuk membakar rumah ini!" teriak Rendi dengan wajah memerah.


"Tahan emosimu, Ren!" perintah Kepala Desa.


"Dengar lo-lo pada! Gue kagak takut sama yang namanya penjara. Udah biasa gue keluar masuk penjara!" ancam Rendi dengan mata melotot.


Semua orang tidak ada yang berani bersuara. Bukan karena takut, namun mereka harus berhati-hati menghadapi orang seperti Rendi yang nekat berbuat apa pun tanpa merasa takut dengan adanya hukum di negara ini.


Kepala Desa melirik ke arah Hadi dan Hana lalu beralih ke arah Rendi. "Kenapa kamu marah-marah kepada pak Hadi tanpa sebab yang jelas?"


"Apanya yang tidak jelas? Jelas-jelas dia telah berbuat curang, dia membohongi ibu gue dengan menukar tanah ibu gue dengan  tanah ini!" ucap Rendi dengan suara lantang.


"Apa maksud kamu, Ren?" Hadi menautkan alisnya bingung.


"Jangan sok bodoh lo! Ibu lo kan yang membodohi ibu gue dengan menukar tanah ini dengan tanah di kampung sana!"


"Kamu salah paham Ren, dulu ibu kamu menawarkan terlebih dahulu untuk bertukar tanah dan mereka sudah saling menyepakatinya. Bahkan, tanah di sana dua kali lipat lebih besar dari tanah ini," jelas Hadi.


"Pembohong! Lo senang kan, karna tanah ini berada di pusat kota dan nilai jualnya juga berlipat ganda dari harga tanah di sana."


"Lalu mau kamu apa Ren?" tanya Hadi dengan tenang.


"Gue mau hitung-hitungan harga kedua tanah itu dan lo harus membayar kekurangannya!" tegas Rendi.


"Tapi, tanah ini sudah bersertifikat atas nama pak Hadi. Jadi, secara hukum sudah sah dan menjadi hak milik pak Hadi," jelas Kepala Desa.


"Gue nggak mau tahu! Pokoknya gue mau hitung-hitungan!" tolak Rendi.


"Tidak bisa begitu, Ren! Bahkan tanah itu sudah dijual ibumu untuk biaya berangkat haji beliau puluhan tahun lalu," ucap Hadi sedikit emosi.


"Gue bilang gue nggak peduli. Bisa-bisanya lo membuat sertifikat tanah tanpa sepengetahuan gue, tanpa persetujuan gue sebagai anaknya!"


Rendi tetap masih mengotot dengan keinginannya. Dia tidak terima dan tidak ingin menerima kekalahan.


Dahulu, ketika mereka masih kecil, orang tua mereka sepakat untuk saling menukar tanah mereka. Dengan alasan tanah ibu Hadi berada di pedalaman desa dan masih rawan jika ingin membangun rumah. Jadi, ibunya Rendi menawarkan tanahnya untuk ditukar dengan milik ibu Hadi karena letaknya dekat kota dan lebih aman untuk dibangun sebuah rumah.


Siapa yang akan menyangka jika kini, tanah yang sudah berdiri sebuah rumah di atasnya dan menjadi tempat tinggal Hadi, berada di pusat masyarakat, di sebelah kanannya berdiri kokoh sebuah Masjid besar, dekat dengan Balai Desa, dekat dengan gedung Sekolah, dan berjejer beberapa ruko dan Cafe di jalan utama sebelum masuk ke jalan rumahnya.


Sedangkan tanah yang dulu milik ibu Rendi yang kini sudah berpindah kepemilikan, hanya dikelilingi dengan beberapa rumah sederhana dan beberapa tanah kosong yang dijadikan perkebunan oleh pemiliknya. Hal itu yang membuat Rendi gelap mata dan dikuasai oleh rasa irinya.


"Tanah ini seluas 600 m² gue beri harga 200 juta karena nilai jualnya lebih tinggi. Dan yang di sana luasnya 1.200 m² harganya 100 juta karena berada dikampung jadi harganya lebih murah," ucap Rendi.


"Tidak bisa begi-"


Rendi memotong ucapan Kepala Desa. "Anda diam! Urusan gue bukan sama Anda, selagi gue masih berbaik hati untuk tidak menghancurkan rumah ini dan sekitarnya, maka jangan pernah menghalangi niat gue!" tegas Rendi.


Hadi memberi kode kepada semua orang untuk tetap tenang dan mengikuti kemauan Rendi. Bukan berarti Hadi lemah dan diam ketika ditindas. Namun, ia masih bisa berpikir rasional untuk sebisa mungkin menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ke depannya.


"Jika kamu menginginkan tanah ini, ambillah! Saya dan keluarga akan pergi dari sini," ucap Hadi sambil menggenggam tangan istrinya.


Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut dan menatapnya dengan pandangan penuh tanya, namun tidak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suaranya.


"Gue nggak mau lo pergi dari rumah ini. Entar orang-orang mengira gue mengusir keluarga lo!" tolak Rendi.


"Lalu ... apa maumu?"

__ADS_1


"Seperti yang gue bilang. Lo bayar kekurangan harga tanah itu!"


"Tapi Ren-"


"Gue gak suka penolakan! Kalau enggak ... jangan harap keluarga lo akan hidup tenang!" ancam Rendi.


Setelah berdiskusi dan menentukan tanggal untuk sidang di Balai Desa, akhirnya Rendi sepakat untuk memberikan waktu selama dua minggu untuk Hadi membayar sisa uang tanah tersebut. Dengan syarat, Rendi tidak boleh mengganggu keluarga Hadi lagi.


"Urusan gue selesai di sini. Gue tunggu dua minggu lagi, awas kalau lo bohong!" Rendi menunjuk Hadi dengan jarinya lalu ia menyelonong pergi begitu saja membuat semua orang menggelengkan kepala heran melihat sikap Rendi.


"Pak, biar bagaimanapun kedudukan Pak Hadi di sini lebih unggul dari pada Rendi. Bapak memiliki sertifikat atas tanah ini. Jika pun masalah ini harus dibawa ke jalur hukum, seratus persen saya yakin Bapak akan memenangkan kasus ini," jelas Kepala Desa.


"Biarkan saja, Pak Lurah, mengalah bukan berarti kalah. Saya hanya tidak ingin terjadi sesuatu ke depannya. Harta bukanlah segalanya, harta masih bisa dicari. Tetapi keselamatan keluarga saya adalah yang paling utama."


"Pak Hadi jangan khawatir, kami akan mendukung Bapak jika masalah ini sampai ke meja hukum. Kami akan membantu mencarikan pengacara terbaik untuk membantu Bapak," ucap Sekretaris Desa.


"Terima kasih semuanya atas bantuannya, tapi saya sudah yakin dengan keputusan saya. Tanah ini adalah pemberian dari kakek saya untuk ibu dan bibi saya. Tidak baik memperebutkan harta warisan orang tua."


...*****...


Brak!


Prang!


Pyar!


Baru saja imam Masjid mengucap salam usai menjalankan sholat Magrib, mereka dikejutkan dengan suara berisik dari arah luar, tepatnya dari halaman rumah Hadi.


Semua orang bergegas melihat ke luar takut ada hal buruk terjadi kepada keluarga Hadi. Namun, sesampainya di serambi Masjid, semua orang terpaku dan tidak ada yang berani mendekat dan menghentikan seseorang yang sedang mengamuk membabi-buta di sana.


Baru tadi siang dia menyanggupi untuk tidak mengganggu keluarga Hadi, malamnya dia berulah dengan membuat keributan dan kekacauan dalam keadaan mabuk.


Hadi sekeluarga yang biasanya sholat berjamaah memilih untuk sholat di rumah. Sejak kejadian tadi siang yang membuat mereka sedikit trauma, Hana menyuruh Lathifa untuk menutup semua pintu dan jendela rumahnya dan menguncinya.


"Lathif, ibu akan menemani bapak di kamar, kasihan bapak masih terlihat sangat ketakutan. Kamu ke rumah mas Akbar, bilang kalau om kamu mengamuk di luar!" ucap Hana dengan suara bergetar namun ia paksa untuk terlihat tegar dihadapan putrinya.


"Baik, Buk."


Lathifa ke luar melalui pintu belakang, ia mengamati sekitar. Ia menyusuri jalanan kecil yang minim pencahayaan ditepi sungai belakang rumahnya. Jantungnya berdetak sangat cepat seolah ingin keluar dari persembunyiannya.


Dengan berlari kecil, akhirnya Lathifa sampai di depan rumah Akbar dengan napas yang tersengal-sengal.


"Assalamu'alaikum ...." Lathifa langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggu pemilik rumah mempersilahkannya masuk.


"Wa'alaikummussalam," ucap seorang wanita yang keluar dari salah satu ruangan.


"Mbak, mas Akbar di mana?" tanya Lathifa dengan wajah panik.


"Ada di kamar Tif, ada apa? Kenapa napasmu kamu tersengal-sengal begitu?" tanya istri Akbar tanpa dihiraukan oleh Lathifa yang sibuk mondar-mandir berjalan di ruang tamu.


"Ada apa kamu mencariku, Dek?" tanya Akbar yang ke luar dari kamarnya.


"Mas. I-itu, orang itu, Mas. Ada di rumah mengamuk." Lathifa berbicara dengan belepotan, wajahnya pucat, jantungnya semakin berdebar di saat menjelaskan keberadaan omnya.


"Nanti aku akan ke rumahmu, kamu mau pulang sekarang atau bareng sama aku nanti? Kamu tenang saja, Dek," ucap Akbar berusaha menenangkan adik sepupu jauhnya itu.

__ADS_1


"A-aku tunggu Mas saja."


"Tunggu sebentar! Duduk dulu, aku mau ganti baju.


Istri akbar ke luar dari dapur dengan membawa segelas air dan memberikannya kepada Lathifa. "Ini minum dulu, Tif."


Lathifa pulang ke rumah bersama dengan Akbar. Namun keberadaan Rendi sudah tidak terlihat lagi, hanya ada kekacauan yang ia tinggalkan di halaman rumah.


Pagar di samping rumah yang terbuat dari kayu sudah tercabut dan tergeletak berserakan di tanah. Lampu-lampu pagar depan rumah sudah tak berbentuk meninggalkan pecahan-pecahan kaca yang berserakan di atas paving rumah.


Semalaman Hadi dan keluarganya tidak bisa tidur dengan nyenyak, bahkan beberapa warga terlihat berjaga-jaga di serambi Masjid ataupun di teras rumah Hadi takut Rendi akan nekat berbuat hal buruk lagi.


Siangnya, Rendi datang dan menagih uang tanah kepada Hadi, Hadi hanya mampu memberikan uang sebesar 10 juta, Rendi tak mempermasalahkan itu, ia menerima dengan penuh senyuman dan pergi dari rumah Hadi begitu saja.


"Pak, dari mana kita mendapatkan uang dalam waktu 2 minggu dengan jumlah sebesar itu?" tanya Hana malam itu di dalam kamar mereka.


"Bapak berpikir untuk menjual tanah dan rumah ini, Bu. Nanti kita bisa tinggal di restoran, dan sisa penjualan rumah bisa kita tabung dan sebagian untuk tambahan modal restoran kita," ucap Hadi, ia duduk di atas kasur bersandar pada kepala ranjang.


"Ibu akan mendukung semua keputusan Bapak. Selagi itu masih dalam kebaikan dan untuk kebaikan kita semua."


Hampir setiap hari, Rendi selalu berlalu-lalang mengendarai motornya di depan rumah Hadi, seakan ia sedang mengintai dan mengawasi Hadi. Membuat Hadi dan keluarganya tidak bebas untuk melakukan aktivitas mereka.


Hingga hari yang ditentukan tiba, Hadi beserta keluarga datang ke Balai Desa dengan membawa uang yang telah dijanjikannya.


Rendi ditemani kedua kakak perempuan dan ibunya hadir menjadi saksi berlangsungnya serah terima uang tanah tersebut.


Pihak Kelurahan juga menghadirkan dua orang polisi untuk menjadi saksi dan beberapa perangkat desa juga menjadi saksi.


Setelah menandatangani surat perjanjian bermaterai, dan beberapa sesi foto sebagai dokumen dan bukti. Rendi dan keluarganya meninggalkan Balai Desa dengan senyum penuh kemenangan.


...*****...


Rusdi bersimpuh di depan Hana yang duduk memalingkan wajah ke arah lain enggan menatap orang di depannya.


Suara tangis memenuhi seluruh ruangan tersebut, Lathifa menangis dipelukan Anisa, sedangkan Rusdi menangis di depan budhenya yang juga sedang menangis tanpa suara. Istri Rusdi juga menangis ikut bersimpuh di depan budhe dari suaminya.


"Budhe, maafkan Rusdi. Rusdi tidak tahu akan kejadian yang menimpa keluarga Budhe. Maafkan Rusdi telah gagal mendidik adik-adik Rusdi, Budhe." Rusdi sesenggukan menyesali kesalahan keluarganya.


Rusdi terlalu lama merantau di Dubai selama belasan tahun. Ia pulang setelah mendapat kabar bahwa ibunya sakit keras dan ingin bertemu dengannya selagi masih diberi kesempatan.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan darimu, Nak. Kamu tidak bersalah, kamu tidak harus meminta maaf kepada budhemu ini." Hana menghela napas panjang dan menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya.


"Budhe, sekarang apa yang harus Rusdi lakukan?"


"Bangunlah, Nak! Kamu tidak perlu melakukan apa pun. Tetaplah berbuat baik! Jangan kamu ikut-ikutan terlena akan kenikmatan dunia ini."


"Budhe, Rusdi ingin bertemu pakdhe. Rusdi sungguh ingin meminta maaf kepada pakdhe. Ibu sedang sakit, beliau berharap sebelum Allah memanggilnya, Ibu ingin bertemu dan meminta maaf kepada pakdhe Hadi," ucap Rusdi dan kembali duduk ke tempat semula diikuti istrinya.


"Pakdhemu tidak berada di sini, Nak."


"Lalu di mana pakdhe, Budhe? Rusdi akan datang menemuinya."


"Pakdemu sudah tenang di alam sana, Nak. Doakan saja pakdhemu agar diberi tempat disisi Allah. Budhe yakin, pakdhemu pasti sudah memaafkan semuanya." Hana memejamkan matanya, setetes air mata kembali menetes membasahi pipinya.


"A-apa pakdhe Hadi sudah meninggal?" tanya Rusdi ingin memastikan.

__ADS_1


__ADS_2