
Di lobi hotel terlihat seorang pria dengan gaya pakaian trendinya tengah duduk sambil fokus memainkan ponselnya.
Tak lama kemudian satu pria lain yang keluar dari dalam lift berjalan menghampiri pria yang sedang duduk tersebut.
“Hai, sudah lama lo?” tanya Andre yang sudah berdiri di depan Zidan.
“Woi lama banget lo! Gue nunggu sejak tadi juga!” kesal Zidan.
“Sorry, Bro. Tadi gue balik lagi karena ada barang yang ketinggalan di kamar.”
“Ya sudah, ayo kita cabut! Sudah hampir telat ini gara-gara lo kelamaan.”
Zidan berdiri dan hendak melangkah pergi namun terhenti ketika mendengar perkataan Andre yang mengusiknya.
“Sepertinya tadi gue melihat bocil lo di koridor hotel bersama seorang pria.”
Deg!
Zidan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat ketika mendengar tentang Lathifa. Meskipun sudah merelakan Lathifa menikah dengan pria lain, namun ia masih belum bisa sepenuhnya melupakan perasaannya kepada gadis kecilnya itu.
“Biarkan saja, mungkin dia pergi bersama suaminya.”
“Tapi-”
“Sudahlah! Ayo cepat kita pergi, acaranya sudah hampir di mulai!” Zidan memotong perkataan Andre dan berlalu meninggalkan Andre yang merasa kesal oleh sikap Zidan.
“Bodoh! Dengarkan dulu apa yang ingin aku katakan, jangan menyelanya!” bentak Andre setelah berhasil mengejar langkah Zidan.
“Lathifa sepertinya mabuk, jalannya saja tidak bisa tegak dan cowok itu membantunya berjalan dengan memapahnya.”
“Apa lo bilang? Kenapa tidak bilang sejak tadi!”
“Gue udah mau bilang, lo aja yang main potong-potong bebek angsa!” sungut Andre tak terima.
__ADS_1
“Siapa cowok itu? Tidak mungkin Lathif mabuk, gue tahu betul sifat bocah itu,” ucap Zidan.
“Sepertinya dia bukan suaminya deh, gue pernah melihat suami Lathif sekali sewaktu menghadiri seminar kampus beberapa bulan lalu,” jelas Andre.
“Bodoh! Ngapain masih berdiri di sini? Bocah itu dalam bahaya!” teriak Zidan dan berlari masuk kembali ke dalam hotel diikuti Andre di belakangnya.
Zidan dan Andre berdebat dengan petugas resepsionis yang tidak mau memberikan informasi tamu mereka membuat Zidan semakin kalang kabut dibuatnya.
“Mbak, tolong. Ini menyangkut nyawa orang, mbak! Apa mbak mau jika terjadi sesuatu kepada teman kami lalu hotel ini dituntut dan mbaknya juga harus terseret ke dalamnya?”
Dengan banyak alasan dan perdebatan, akhirnya Andre dan Zidan berhasil meyakinkan petugas resepsionis itu dan diantar menuju kamar yang telah dipesan oleh Bryan.
Di dalam lift, Zidan bergerak gelisah memikirkan keadaan Lathifa, sedangkan Andre terlihat lebih tenang.
“Kalian harus ingat ya, jangan membuat keributan dan biarkan saya terlebih dahulu mengecek apakah pemilik kamar ini benar-benar orang yang kalian maksud atau bukan!” peringat petugas tersebut untuk kedua kalinya.
“Baik, Mbak! Kami mengingatnya,” jawab Andre cepat.
Pintu lift terbuka tepat di lantai 7, tempat di mana Andre tanpa sengaja bertabrakan dengan pria yang membawa Lathifa.
Zidan tidak sabar untuk segera tiba di kamar 730, ia berjalan dengan langkah lebar dan cepat diikuti oleh Andre yang menarik tangan petugas resepsionis itu.
“Ingat, kalian jangan membuat keributan!” peringat petugas itu sebelum membuka kunci pintu di depannya yang terdapat papan dengan bertuliskan nomor 730, kamar yang mereka maksud.
Ceklek!
Brak!
Setelah berhasil membuka kunci pintu itu, tanpa aba-aba Zidan membuka pintu tersebut dengan menendangnya cukup keras dan mengabaikan peringatan dari resepsionis yang terlihat terkejut.
“Hai! Bukannya kalian tidak akan membuat keributan?” kesal petugas itu namun percuma karena Zidan dan Andre sudah masuk ke dalam kamar itu, ia pun ikut menyusul mereka berdua masuk ke dalam.
“Brengsek! Dasar bajing*n!” Zidan tersulut emosi melihat pemandangan di depannya dan memukul Bryan tepat mengenai wajahnya.
__ADS_1
Bryan yang mendapat serangan tiba-tiba tentu saja tidak bisa menghindar dan terjatuh ke lantai dengan sudut bibir yang berdarah.
“Brengsek! Sialan! Siapa lo?” tanya Bryan terbakar emosi, ia berdiri dan mengangkat tangannya hendak membalas memukul Zidan namun tangannya di tahan oleh Andre yang sudah berdiri di sampingnya.
“Sialan! Lepaskan gue! Siapa kalian berani-beraninya masuk ke kamarku tanpa izin!” Bryan memberontak mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Andre, namun tangan Andre terlalu kuat untuk ia lawan.
“Berani-beraninya lo menculik istri orang! Dasar bajing*n!” maki Zidan dan hendak kembali memukul Bryan namun dengan cepat Andre menahannya.
“Tahan emosi, lo! Urus dulu Lathifa!” perintah Andre yang masih menahan kedua tangan Bryan yang sudah ia kunci ke belakang tubuhnya.
Zidan berbalik dan meraih kerudung Lathifa yang berceceran di lantai. Pakaian Lathifa masih lengkap hanya saja kerudungnya sudah terlepas dari kepalanya.
Setelah memakaikan kerudungnya meskipun tidak rapi, Zidan mengangkat tubuh Lathifa ke dalam gendongannya dan membawa Lathifa pergi dari kamar laknat itu.
Dengan mengendarai mobil milik Andre, mereka membawa Bryan ke kantor polisi terdekat sebelum mengantar Lathifa pulang ke rumahnya.
Di dalam perjalanan Andre dan Zidan merasa bingung harus mengantar Lathifa kemana, tidak mungkin mereka mengantar Lathifa pulang ke rumah suaminya dengan kondisi yang seperti ini.
Namun mereka juga tidak mungkin mengantar Lathifa pulang ke resto sekaligus rumah orang tua Lathifa.
“Lo mau antar dia pulang kemana?” tanya Andre yang fokus dengan kemudinya.
“Entahlah, gue tidak mungkin mengantarnya ke rumah suaminya. Kalau ke resto lebih tidak memungkinkan, gue takut tante Hana akan sedih melihat kondisi putrinya,” jawab Zidan, ia menyenderkan punggungnya di jok kursi depan. Matanya sekilas menatap Lathifa yang tertidur di kursi belakang lewat pantulan spion di depannya.
“Lo bawa aja ke apartemen lo,” usul Andre asal.
“Gila! Dia istri orang, Bro! Bisa-bisa gue dicincang sama lakinya!”
“Hehe, gue bercanda kali.” Andre menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ya sudah, kita ke markas aja. Sudah jam 9 kalaupun kita pergi ke pertandingan juga sudah telat,” usul Andre.
“Oke. Nanti kalau bocah ini sudah sadar kita antar pulang ke resto saja,” balas Zidan.
__ADS_1