
“Apa ini, Mas?” tanya Anisa menatap dua paper bag ditangannya yang baru saja diberikan oleh suaminya yang baru pulang dari dinas luar kotanya.
“Gamis,” jawab Alwi. “Aku melihatnya di perjalanan pulang dan membelinya untuk kalian,” lanjutnya sembari mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian santai.
“Aku dan Lathifa?” tanya Anisa memastikan.
“Hmm, tolong kamu berikan kepadanya ya,” pinta Alwi karena ia sendiri merasa bingung dan canggung untuk memberikan gamis itu secara langsung kepada istri mudanya.
Anisa menatap menelisik ke arah suaminya. “Kenapa tidak kamu berikan sendiri kepada Lathifa, Mas?”
“Kamu saja yang memberikannya, Sayang.” Alwi menolaknya dengan halus.
“Bukankah minggu ini seharusnya kamu tidur dikamar Lathifa? Kenapa kamu justru ke kamar kita, Mas?” tanya Anisa memperingatkan suaminya.
“Hmm, aku lupa.” Alwi berpura-pura melakukannya tanpa sengaja, padahal ia memang belum siap untuk bertemu dengan istri mudanya.
Kemarin malam Alwi dibuat tak bisa tidur nyenyak semalaman penuh karena bayangan tentang Lathifa terus menghantuinya, bahkan sepanjang perjalanan pulang pun ia terus terbayang tentang istri mudanya itu.
Setelah kemarin malam ia meminta petunjuk kepada Sang Penguasa Langit dan Bumi. Alwi membulatkan tekadnya untuk memulai semuanya dari awal dengan istri mudanya.
Namun ternyata semua tak semudah yang terucap olehnya, kenyataannya mempraktikkannya jauh lebih sulit dari perkiraannya.
Alwi keluar dari kamarnya dan Anisa dengan menenteng paper bag yang disodorkan oleh Anisa yang menolak dan memaksa Alwi untuk memberikan gamis itu sendiri kepada Lathifa.
Dengan langkah lesu Alwi menuruni anak tangga menuju kamar Lathifa.
Ceklek!
Alwi membuka pintu yang tidak terkunci itu, namun ia merasa sedikit ragu untuk masuk ke dalamnya.
‘Bismillah!’ ucap Alwi dalam hati dan membulatkan niatnya.
“Assalamualaikum,” ucap Alwi lirih.
Meskipun ia tidak tahu Lathifa ada di dalam kamarnya atau tidak, namun setidaknya Alwi mengucapkan salam kepada makhluk yang berada di dalam ruangan tersebut meskipun ia tidak melihat keberadaan mereka.
Alwi melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Lathifa yang gelap, ia menyalakan lampu dan memindahkan paper bag ditangannya dan diletakkan di atas meja belajar istri mudanya itu.
“Belum pulang ternyata,” ucap Alwi kepada dirinya sendiri.
Karena merasa lelah, ia membaringkan tubuhnya di singgle bed miliknya. Tanpa menunggu lama Alwi pun tertidur dengan lelapnya.
Sedangkan Anisa bersiap untuk pergi ke pesantren karena disuruh membantu persiapan pernikahan salah satu ustazah dengan pamannya.
Setelah selesai berkemas, Anisa keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. Ia mencari keberadaan suaminya namun tak mendapatkannya.
Anisa berpikir bahwa suaminya berada di dalam kamar madunya dan ia tidak ingin mengganggu suaminya yang mungkin saja sedang beristirahat.
“Mbok, nanti tolong sampaikan kepada mas Al, saya berangkat ke pesantren ya,” ucap Anisa kepada mbok Ijah yang ia temui di dapur.
“Iya mbak,” jawab mbok Ijah.
“Terima kasih, Mbok.”
__ADS_1
“Mbak Anisa sendirian? Tidak bareng Den Alwi?” tanya mbok Ijah sebelum Anisa pergi dari dapur.
“Tidak, Mbok. Mas Alwi kelelahan baru pulang dari luar kota dan mungkin sedang istirahat,” jawab Anisa sopan.
“Oh,” balas mbok Ijah sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Saya pergi dulu ya, Mbok. Assalamu’alaikum,” pamit Anisa.
“Wa’alaikummussalam,” jawab mbok Ijah membalas salam dari Anisa.
“Oh ya Mbok, nanti kalau Lathifa pulang jangan lupa ingatkan untuk meminum susunya!”
“Baik, Mbak.”
Anisa selalu mengingatkan Lathifa untuk selalu meminum susu bahkan mbok Ijah pun diperintahkan untuk ikut memantau madunya itu.
Anisa ingin agar madunya itu segera hamil dan memiliki bayi mungil yang akan meramaikan rumah ini. Membayangkannya saja sudah membuat hati Anisa berbunga-bunga.
Meskipun bukan dari rahimnya, Anisa akan selalu menyayangi bayi tersebut dan tidak sabar untuk menjemput kedatangan bayi itu.
...****************...
Malam harinya, Lathifa pulang dengan mengendarai motor kesayangannya. Ia memarkirkan motornya di garasi rumah dan segera masuk ke dalamnya.
Lathifa masuk ke dalam rumah yang sudah terkunci itu, perlahan ia membuka pintu dan menutupnya kembali tanpa menimbulkan suara.
Keadaan rumah sudah sangat sepi padahal baru saja terdengar suara azan isya di masjid sana, Lathifa berpikir jika semua orang tengah menjalankan kewajiban mereka kepada Sang Pencipta.
Lathifa berjalan menuju kamarnya dan mengarahkan tangannya untuk membuka pintunya.
Namun Lathifa menahan niatnya itu karena merasakan pening di kepalanya, pandangannya sedikit mengabur. Ia hanya menempelkan salah satu tangannya didinding serta mencoba menahan beban tubuhnya agar tidak terjatuh.
‘Apa aku terlalu berlebihan ya?’ batin Lathifa bertanya kepada dirinya sendiri.
Beberapa hari terakhir Lathifa memang sengaja menyibukkan dirinya guna menghalau kegundahan yang ia rasakan sejak malam itu. Ia sengaja pergi sebelum matahari terbit dan pulang ke rumah setelah langit berubah gelap.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Alwi yang sudah berdiri di belakang Lathifa membuat wanita itu terlonjak kaget.
“Astaghfirullah!” ucap Lathifa sembari menempelkan kedua tangannya di depan dadanya.
“Kenapa hanya diam saja?” tanya Alwi, ia menekan sakelar lampu yang tidak jadi dilakukan oleh Lathifa.
“Kenapa Anda ada di sini?” tanya balik Lathifa masih dalam keterkejutannya, ia tidak menyangka jika suaminya sudah pulang bahkan kini berdiri di hadapannya.
“Tidak boleh?” tanya Alwi dingin. “Ini rumahku!” lanjutnya, ia lalu pergi meninggalkan Lathifa yang masih terpaku di tempatnya.
“Eh, bukannya begitu-”
“Kenapa pulang larut malam?” tanya Alwi menyelidik memotong kalimat Lathifa.
“Eh, Emh-” Lathifa terlihat salah tingkah dan bingung untuk memberikan alasan, tidak mungkin ia jujur mengatakan jika dirinya sedang mencoba untuk menghilangkan bayangan pria itu dalam pikirannya.
“Sudahlah, lain kali jangan diulangi!” perintah Alwi, ia memilih untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut. Bukankah ia ingin memperbaiki hubungan antara dirinya dan istri mudanya itu? Tidak mungkin ia akan mencari masalah di hari pertama ia bertemu kembali dengan Lathifa.
__ADS_1
“Ya, maaf,” jawab Lathifa lirih bahkan terdengar seperti bisikan.
“Ambil wudu, aku tunggu!” titah Alwi berhasil membuat Lathifa kembali terkejut.
Alwi menatap istrinya yang tidak sedikit pun bergeming dari tempatnya, ia menaikkan sebelah alisnya. “Tunggu apa lagi?”
Lathifa tersadar dan bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu, ia menyimpan semua pertanyaan yang berkecamuk di dalam hatinya. Lathifa tidak mau membuat suaminya itu semakin marah kepadanya.
“Assalamu’alaikum warahmatullaah ...,”
“Assalamu’alaikum warahmatullaah,” ucap Lathifa lirih mengikuti suaminya.
Jantung Lathifa berdetak semakin tak karuan karena ini kali pertama ia sholat berjamaah berdua dengan suaminya.
Pernikahannya memang hampir berjalan selama satu tahun, namun di antara keduanya belum juga saling terbuka. Terutama Alwi yang masih dengan egonya yang tinggi terlanjur membangun tembok tinggi yang sulit untuk Lathifa meruntuhkannya.
Alwi memutar tubuhnya menghadap Lathifa, ia memberikan tangan kanannya agar istrinya dapat menciumnya.
Dengan sedikit keraguan, Lathifa menyambut tangan suaminya dan menciumnya dengan takzim. Meskipun ia bukan wanita salehah seperti Anisa, setidaknya ia tahu adab dan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik.
“Ada gamis untuk kamu,” ucap Alwi setelah selesai berdoa dan membereskan sajadahnya.
“Gamis?” tanya Lathifa memastikan.
“Tadi pagi aku membelinya saat perjalanan pulang, lihatlah! Aku letakkan di atas meja belajarmu.”
“Terima kasih,” ucap Lathifa, ia membereskan mukenanya dan berjalan menghampiri meja belajarnya.
Lathifa melihat paper bag yang di maksud suaminya lalu meraihnya dan perlahan mengeluarkan isinya.
Lathifa terpesona melihat gamis ditangannya, cantik dan indah. Ia tidak tahu jika suaminya bisa memilih pakaian yang sangat indah itu.
“Kamu menyukainya?” tanya Alwi yang sudah duduk di atas singgle bad milinya, bersiap untuk beristirahat karena tubuhnya masih terasa lelah.
“Iya, terima kasih,” jawab Lathifa singkat, ia masih saja merasa takut dan canggung berhadapan dengan suaminya.
“Syukurlah kalau kamu menyukainya. Lekaslah tidur jangan begadang!” peringat Alwi sebelum ia berbaring di atas kasur dan menutup tubuhnya dengan selimut.
“Hmm.”
Lathifa meletakkan kembali gamis tersebut ke dalam paper bag dan menyimpannya. Ia berjalan menuju kamar mandi setelah mengambil baju santainya di dalam lemari.
“Bukankah kamu sudah melupakan kejadian itu? Kenapa malam ini kamu ingat lagi? Itu sudah terjadi beberapa hari lalu bahkan hampir satu minggu yang lalu. Lupakan, Fa!” perintahnya kepada dirinya sendiri.
Lathifa menatap pantulan wajahnya di depan cermin, kejadian yang sekuat tenaga ingin ia lupakan justru kembali berputar-putar di depan matanya.
“Lupakan, Fa! Mungkin Mas Alwi sudah sedikit melihat keberadaan kamu, buktinya dia teringat untuk membelikan gamis untukmu!”
Lathifa keluar dari kamar mandi dan mendapati suaminya sudah terlelap di atas ranjangnya. Ia memutuskan untuk segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang miliknya, Lathifa merasa akhir-akhir ini tubuhnya terasa sedikit kurang sehat.
Lathifa menatap punggung suaminya yang tertutup selimut, matanya terkunci memandang punggung itu.
‘Aku tidak membencimu karena kamu telah mengambil kesucianku, Mas. Aku tahu itu memang kewajibanku sebagai seorang istri, tapi aku terluka ketika kamu melihatku sebagai orang lain, bukan diriku sendiri.’
__ADS_1
Usai puas memandangi punggung suaminya, Lathifa menarik selimut dan merebahkan tubuhnya. ‘Semoga ini menjadi awal yang baik untuk pernikahanku dengannya.’