Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Wanita Kuat


__ADS_3

Lathifa terbangun kala merasakan tenggorokannya sangat kering. Ia meraih gelas di atas meja samping ranjangnya namun ternyata gelas itu kosong, ia lupa tidak mengisinya tadi. Dengan sangat pelan ia turun dari tempat tidurnya, hati-hati tak ingin mengganggu tidur ibunya. Ia lirik jam di atas nakas menunjukkan pukul 00.30 dini hari.


Dengan langkah perlahan, Lathifa mengendap-endap keluar kamar berniat untuk mengambil air minum di dapur, Latifah masih setia dengan kerudung yang menempel di kepalanya. Ia sadar ada pria lain di rumah itu karena saat ini mereka menumpang di rumah orang lain.


Dua hari sudah ia tinggal di rumah Bram dan Ayu, meski hatinya menolak untuk menerima bantuan dari sepasang suami istri muda itu, namun Lathifa dan ibunya terpaksa harus menerimanya. Tidak ada jalan lain baginya, ia ingin mencari rumah kontrakan sendiri namun tabungan yang ia miliki hanya cukup untuk proses persalinannya kelak.


Lathifa menghentikan langkahnya sebentar di depan kamar pemilik rumah ketika samar-samar ia mendengar percakapan sepasang suami istri di dalam kamar tersebut.


‘Semoga Lathifa mau menerima pakaianku ini ya, Mas. Pakaian ini bisa dia pakai setelah melahirkan nanti, meskipun hanya sedikit.’


‘Kenapa tidak kamu belikan pakaian baru saja?’


‘Dia menolak, Mas. Kemarin sepulang dari bidan sempat aku mengajaknya ke toko pakaian, tapi dia selalu menolaknya.’


‘Dia pasti akan menerimanya, Sayang. Dia pasti mengerti akan niat baik kamu.’


‘Aku tidak tega melihatnya, Mas. Usianya masih sangat muda, tidak seharusnya dia menanggung beban seberat itu.’


Lathifa melanjutkan langkahnya, tak berniat mendengarkan pembicaraan sepasang suami istri itu. Ia merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan Ayu dan Bram. Lathifa tidak ingin menjadi beban untuk keduanya.


Sesampainya di dapur, Lathifa mengambil gelas dan menuangkan air putih ke dalamnya, namun pikirannya melayang hingga tatapan matanya pun kosong. Ia teringat ucapan Bidan siang itu.


‘Kamu tahukan, pentingnya melakukan USG pada ibu hamil? Usia kandungan kamu sudah memasuki 7 bulan, kenapa belum sekalipun kamu melakukan USG?’


Rentetan pertanyaan yang tak mampu Lathifa jawab, meskipun Bidan tersebut mengucapkannya dengan nada lembut, namun hal tersebut cukup untuk membuat hati Lathifa teriris. Apalagi Bidan menyarankan agar Lathifa segera memeriksakan keadaan bayinya lebih lanjut di rumah sakit di pusat kota.


Betapa jahatnya dia sebagai seorang ibu, bukannya ingin mengabaikan janin dalam perutnya, tapi keadaanlah yang memaksanya. Selain masalah biaya, jarak untuk pergi ke rumah sakit besar untuk melakukan USG pun cukup jauh dari desa.


“Astaghfirullah!” pekik Lathifa ketika merasakan dingin air dalam gelas ditangannya meluber kemana-mana.


Lathifa mengerjapkan matanya dan menggeleng cepat. Semua pikiran itu harus segera ditepisnya. “Ya Allah, tunjukkan kuasa-Mu untuk hamba.”


Usai membasahi tenggorokannya, Lathifa kembali ke kamarnya tak lupa ia membawa gelas yang sudah terisi air bersamanya.


Namun lagi-lagi ia harus mendengar perbincangan pemilik rumah yang sedikit mengusiknya.


‘Bagaimana kalau kita angkat saja anak Lathifa sebagai anak kita, Mas.’

__ADS_1


‘Jangan terlalu berharap, Sayang. Kita tidak tahu apakah mereka akan rela memberikan anak itu begitu saja kepada kita.’


‘Tapi aku juga ingin seperti wanita-wanita lainnya, Mas.’ Suara Ayu terdengar menyiratkan banyak kesedihan.


‘Dimataku kamu selalu sempurna sebagai seorang wanita, Sayang. Aku tidak mempermasalahkan kekurangan kamu.’


‘Tapi kita sudah menikah hampir 10 tahun, Mas.’


‘Jangankan 10 tahun, seumur hidup pun aku akan menerimanya dengan senang hati.’


Deg.


Tubuh Lathifa terpaku, seluruh tubuhnya kaku, terutama otot-otot kakinya yang kebas sulit untuk digerakkan. Ia kembali terbayang kisah masa lalunya, kesalahan yang membawanya ke dalam luka yang begitu mendalam.


Ada ketakutan yang menghantuinya, ketakutan akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. ‘Lupain, Fa! Kamu tidak akan menjadi perusak rumah tangga orang lain lagi!’


Lathifa memaksa kakinya dan menyeretnya untuk segera kembali ke dalam kamarnya, ia berusaha menenangkan hati dan pikirannya.


Hingga subuh menjelang Lathifa tak bisa memejamkan matanya. Ia terus bergerak gelisah tanpa menyadari bahwa sang ibu telah terjaga dan terus mengawasinya sedari tadi.


“Apa yang sedang mengganggu kamu, Thif?” tanah ibu Hana berhasil membuat Lathifa terkejut.


“Bagaimana ibu bisa tidur jika kamu terus bergerak gelisah seperti itu.”


“Maaf, Bu. Lathifa membangunkan Ibu ya?” Lathifa memiringkan tubuhnya menghadap ibunya dengan wajah bersalah.


“Ibu tidak marah, Thif. Jangan memasang wajah seperti itu,” ucap ibu Hana lembut kalau mengusap rambut putrinya penuh kasih sayang.


“Ceritalah sama ibu, Thif ... tidak apa-apa, jangan memendamnya sendiri.”


Lathifa terdiam mendengarkan ucapan ibunya, ia ingin mencurahkan semuanya kepada ibunya namun disisi lain Lathifa tidak ingin menambah beban ibunya yang sudah berumur itu.


“Kenapa diam saja?” tanya ibu Hana menatap lekat wajah putrinya.


“Kok malah nangis? Ayo cepat cerita sama ibu, ibu malah merasa sedih kalau kamu hanya diam seperti ini, memendam semuanya seorang diri.”


Lathifa semakin membisu dengan air mata yang semakin tak bisa ditahannya. Ibu Hana yang melihat putrinya seperti itu semakin merasa sedih, beliau menarik Lathifa ke dalam pelukannya.

__ADS_1


“Ceritalah! Ibu gakpapa, Sayang. Ibu tidak mau kehilangan orang yang ibu sayangi untuk kesekian kali, kamu sudah berjanji sama ibu untuk selalu kuat dan hidup bersama ibu apa pun yang terjadi, Thif.”


Ucapan ibu Hana membuat Lathifa semakin terisak dalam pelukan ibunya, ia merasa semakin bersalah kepada sosok yang telah melahirkan dan membesarkannya selama ini, sosok yang selalu ada untuknya. Sekilas ingatan beberapa bulan lalu terbayang di kepalanya.


Di bawah hujan lebat disertai petir yang saling menyambar, seorang wanita muda berjalan terhuyung tanpa arah menyusuri jalanan desa dengan pencahayaan Sambaran kilat yang saling bersahutan.


Kencangnya angin yang menerpa tubuhnya tak menghentikan langkahnya. Malam terlalu larut untuk manusia berlalu, pintu-pintu rumah warga telah tertutup rapat, semua penghuninya memilih untuk menghangatkan tubuh mereka di dalam rumah.


Wanita muda dengan penampilan yang sangat berantakan, pakaian basah kuyup hanya mengenakan sepatu di salah satu kakinya. Entah kemana perginya pasangan sepatu miliknya yang tinggal sebelah itu.


Dengan pandangan kosong lurus ke depan, wanita itu berjalan tanpa menghentikan racauannya. “Aku capek! Tuhan gak sayang sama aku! Semu orang pergi ninggalin aku!”


Lelehan air mata  di pipinya terhapus menyatu dengan air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya. Ia menghentikan langkahnya, tanpa berpikir panjang wanita itu memanjat tembok di depannya, tepat ditengah-tengah jembatan yang di bawahnya mengalir air sungai dengan arus yang cukup deras apalagi hujan seharian mengguyur bumi.


“Bapak, maaf ... Lathif menyerah, Lathif lelah Pak, Bu ... Lathif ingin ikut bapak dan mas Hafiz di sana.”


Lathifa memajukan kaki kanannya satu langkah ke depan, bisikan dalam hatinya untuk melompat dan mengakhiri hidupnya semakin kuat. Di tengah keputusasaan, seseorang tiba-tiba menarik tangannya kasar membuat tubuh Lathifa terpental ke trotoar jalan bersama seorang lelaki paruh baya.


“Astaghfirullah! Apa yang kamu lakukan?” teriak lelaki tersebut menghalau suara hujan.


Lathifa terdiam melihat lelaki bertubuh besar dengan  kopiah putih di hadapannya, tubuhnya menggigil dan bibirnya tak mampu digerakkan menangis dalam diam tanpa suara.


Lelaki paruh baya tersebut baru pulang dari menghadiri pengajian di salah satu pondok pesantren di kota. Beliau membuka jas miliknya dan menyelimutkan ke tubuh Lathifa. “Tenang, Nak. Jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”


Belum sempat lelaki itu menanyakan nama, tiba-tiba Lathifa kehilangan kesadarannya. Dengan dibantu istrinya yang sedari tadi berada di dalam mobil, Lathifa di bawa ke klinik terdekat dan mendapatkan penanganan dari tim medis.


Keesokan harinya setelah kondisi Lathifa membaik, orang baik yang semalaman menjaga Lathifa yang tak sadarkan diri di klinik mengantarkan Lathifa pulang ke rumah kontrakannya. Beliau adalah seorang tokoh agama di Desa tempat Lathifa tinggal, yang biasa dikenal dengan panggilan Ustadz Imran.


Kejadian tragis lagi pahit itu ternyata tak selalu gelap, berkat takdir yang mempertemukan Lathifa denah ustadz Imran dan ustazah Azizah, perlahan Lathifa mulai menerima keadaannya dan mulai ikut mengaji bersama ustadzah Azizah.


“Jangan dipaksa jika berat, Nak,” ucap ibu Hana sembari melepaskan pelukannya dan mengembalikan kesadaran Lathifa dari kenangan masa lalunya, tindakan bodoh yang kini menjadi satu hal yang paling ia sesali.


“Ibu tahu kamu masih memiliki rasa kepadanya, biar bagaimanapun dia adalah ayah dari anak kamu. Jangan pernah melupakannya jika itu memang sulit untuk kamu, berusaha saja untuk memaafkannya, meskipun memaafkan itu tidak mudah, namun masih bisa kita usahakan.”


“Bu...” Lathifa kembali memeluk ibunya, tangisnya pun kembali pecah.


“Ibu tahu betapa sulitnya melupakan sesuatu yang pernah hadir dalam hidup kita, maka jangan pernah memaksakan hatimu untuk menghapus jejaknya.”

__ADS_1


...****************...


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan, semoga ibadah kita diberi kelancaran aamiin 🤗🤗


__ADS_2