
Ceklek.
Anisa terkejut ketika membuka pintu kamarnya, ia mendapati suaminya tengah tertidur di dalam kamarnya.
Anisa berjalan mendekat ke arah kasur, "Mas, kamu kenapa ada di sini?"
Alwi tidak merespon, ia masih memejamkan matanya.
"Mas!" seru Anisa dan menggoyangkan kaki suaminya.
Alwi membuka matanya dan mengerjapkannya beberapa kali memastikan sosok yang berdiri di sampingnya.
"Mas, ih ... ditanya malah diam."
Alwi segera duduk mencoba mengumpulkan kesadarannya.
"Mas kenapa tidur di kamar kita?" tanya Anisa.
"Kamu sudah pulang?" tanya Alwi mengabaikan pertanyaan istrinya.
"Iya, baru saja, Mas. Kami tidak jadi menginap dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang," jelas Anisa.
"Jam berapa sekarang?" Alwi menguap, Anisa refleks menutup mulut suaminya dengan tangan kanannya.
"Pukul 23.00 Mas. Mas belum jawab ih, kenapa malah tidur di sini? Malam ini seharusnya, kan Mas tidur di kamar Lathifa?" tanya Anisa sembari menarik tangannya kembali.
"Ehm, aku kangen kamu, Sayang." Alwi menarik pinggang Anisa membuatnya terjatuh ke dalam pelukannya. "Tadi aku ketiduran, Sayang."
"Ya sudah cepat bangun, pindah ke kamar Lathifa sana! Kasihan dia, Mas. Pasti dia belum tidur karena menunggumu," bujuk Anisa.
"Sudah malam, Sayang. Pasti dia sudah tidur. Aku tidur di sini saja," ucap Alwi memasukkan kepalanya ke dalam hijab syar'i istrinya dan membenamkan wajahnya ke dalam ceruk leher istrinya.
"Hmm, kamu harum sekali, Sayang." Alwi menghirup aroma tubuh istrinya.
"Mas! Jangan begini! Kasihan Lathifa menunggumu, Mas." Anisa menolak dengan halus.
"Biarkan sebentar saja seperti ini!" tegas Alwi tidak ingin dibantah.
"Tapi Mas-"
"Kamu tahu, kan. Apa hukumnya seorang istri menolak keinginan suaminya?".
Dengan terpaksa Anisa membiarkan suaminya melepaskan rindu kepadanya.
Anisa tidak mau menjadi istri durhaka, namun disisi lain ia juga tidak mau menyakiti hati madunya.
"Sudah cukup, Mas. buruan kamu segera ke kamar Lathifa!." perintah Anisa.
"Sebentar lagi ya," tolak Alwi.
"Mas, bangun!" seru Anisa.
Dengan terpaksa Alwi bangun dari tidurnya lalu mencium kedua pipi istrinya dan berakhir dengan sebuah kecupan di atas kening istrinya.
"Maaf, malam ini aku tidak bisa menemani tidurmu. Tunggu dua hari lagi, ya!"
"Tidak apa-apa, Mas. Sudah menjadi tanggung jawab kamu sebagai seorang suami. Mas harus berlaku adil kepada kami." Anisa memberikan senyum manisnya kepada suaminya.
Cup.
Alwi kembali memberikan sebuah kecupan di kening Anisa, lalu ia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Alwi keluar dari kamar mandi, dan melihat pakaian gantinya di atas kasur yang telah disiapkan oleh Anisa. Namun ia tidak menemukan keberadaan istrinya itu di dalam kamar.
__ADS_1
'Mungkin dia sedang mandi di kamar lain,' pikir Alwi.
Alwi berjalan menuruni satu persatu anak tangga menuju kamar Lathifa. Meskipun ia tidak ingin meninggalkan Anisa, tetapi ada kewajiban lain yang harus dijalankannya.
Alwi berdiri di depan pintu kamar Lathifa dan mengetuk pintu tersebut.
Tok! Tok! Tok!
Tak ada jawaban, Alwi mencobanya sekali lagi.
Tok! Tok! Tok!
Tetap tak ada jawaban, Alwi mencoba memutar kenop pintu dan 'ceklek', ternyata pintunya tidak dikunci.
Alwi membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam kamar, ia melihat gadis penghuni kamar tersebut tengah duduk di meja belajarnya, tatapannya fokus ke arah laptop di depannya.
"Ck, punya telinga tidak sih, dia?" gerutu Alwi.
Alwi melirik jam yang tergantung di dinding kamar menunjukkan pukul 01.00 Alwi berjalan pelan mendekati Lathifa ingin melihat apa yang sedang dikerjakan gadis itu sehingga tidak mendengar suara ketukan pintu darinya.
Sepuluh menit Alwi berdiri di belakang Lathifa, mengamati kegiatan gadis itu. Sesekali terlihat gadis itu menguap dan menutup mulutnya dengan salah satu tangannya.
Lathifa berdiri dadi duduknya. "Huft, capeknya! Akhirnya bebas setelah hampir seminggu ada si pengganggu. Dasar suami kulkas!" ucap Lathifa lalu membalikkan tubuhnya.
Deg.
"Siapa yang kamu sebut kulkas?" tanya Alwi dengan suara tegasnya.
Seketika tubuh Lathifa menegang, ia terkejut tidak sadar akan kehadiran suaminya itu. Lathifa merutuki kebodohannya itu.
'Sejak kapan si kulkas ada di sini? Apa dia mendengar ucapanku? Duh, mampus aku,'
"Eh, i-tu saya mau ke dapur mengambil minuman di kulkas," bohong Lathifa.
"Apa?" Lathifa menautkan alisnya bingung.
"Sudah pagi, cepat tidur!" ucap Alwi, tanpa permisi ia menutup laptop Lathifa.
Lathifa ingin sekali memaki laki-laki di depannya itu, sembarangan aja main menutup laptopnya. Untung ia sudah menyimpan semua file yang ia kerjakan tadi.
"Apa-"
"Jangan membantah! Cepat ambil wudu dan segera tidur!" tegas Alwi tanpa memberi kesempatan istri mudanya itu untuk mengeluarkan argumennya.
Lathifa berjalan mengentak-entakkan kakinya menuju kamar mandi. Sungguh ia sangat mengantuk dan memilih untuk menuruti perintah suaminya dari pada harus berdebat dengannya.
Ketika keluar dari kamar mandi Lathifa melihat suaminya berbaring di atas kasurnya. "Ck, ngapain dia tidur di tempatku?" ucap Lathifa lirih.
"Kenapa Anda tidur di sini?" tanya Lathifa penasaran, kenapa pria kulkas alias suaminya itu tiba-tiba berubah pikiran dan mau berbaring di atas kasurnya.
"Anisa sudah pulang," jawab Alwi datar.
Lathifa berjalan ke arah singgle bed yang biasa di tempati suaminya ketika ia tidur di kamar ini.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Alwi tanpa membuka matanya.
"Tidur!" jawab Lathifa singkat lalu membaringkan tubuhnya.
"Siapa yang mengizinkanmu tidur di tempatku?" tanya Alwi.
"Anda sendiri tidur di kasurku tanpa meminta izin kepadaku terlebih dahulu," sergah Lathifa.
"Siapa bilang ini kasurmu? Apa kamu merasa telah membeli kasur ini?" ucap Alwi dengan nada mengejek.
__ADS_1
Lathifa membuka matanya, ia menatap lekat suaminya di seberang sana.
"Apa mau Anda?" tanya Lathifa.
"Mauku? Emh, apa ya?" jawab Alwi pura-pura berpikir.
Lathifa merasa geram kepada suaminya itu. Ia bangun dan berjalan ke arah sofa dengan menenteng sebuah bantal dan selimut di tangannya.
Lathifa menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, belum sempat ia memejamkan matanya, ia dikagetkan dengan suara Alwi.
"Bangun! Apa yang kamu lakukan di sana?" seru Alwi.
Lathifa tetap diam tak mau meladeni suaminya itu.
"Cepat bangun!" tegas Alwi.
"Apa sebenarnya mau Anda?" Lathifa sedikit meninggikan suaranya.
"Cepat bangun dan tidur di sini!" perintah Alwi sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Lathifa membulatkan matanya, ia bergidik ngeri membayangkan di saat bangun pagi hari tubuhnya akan membeku karena tidur satu ranjang bersama pria kulkas itu. Berdekatan saja Lathifa merasa takut.
Lathifa menggelengkan kepalanya, "ti-tidak mau!"
"Kamu tahu, berdosa seorang istri menentang perintah suami dan meninggikan suaranya kepada suaminya," ucap Alwi datar.
Lathifa menelan ludahnya, ia berpikir mencari alasan yang tepat untuk menolak perintah suaminya. Namun Lathifa tidak menemukan alasan yang tepat.
Karena sudah mengantuk, Lathifa berjalan mendekati tempat tidurnya dan membaringkan tubuhnya di samping suaminya.
'Rasakan! Siapa suruh menyamakan aku dengan kulkas.' Alwi tersenyum mengejek lalu memejamkan matanya.
Lathifa berulang kali mengubah posisi tidurnya mencari posisi nyaman untuknya tidur. Namun, tetap saja ia tak menemukan posisi yang pas untuknya.
"Kamu bisa diam tidak? Aku capek mau tidur! Jangan berisik!" tegur Alwi.
Lathifa memiringkan tubuhnya membelakangi suaminya dan memejamkan matanya berharap bisa segera tertidur.
"Berdosa seorang istri tidur dengan membelakangi suaminya!" ucap Alwi.
Lathifa yang baru saja berhasil memejamkan matanya kembali membukanya lebar-lebar. Ia mengepalkan kedua tangannya dibalik selimut.
Tanpa berkata Lathifa membalikkan tubuhnya lalu dengan cepat menutup matanya tanpa mau menatap wajah suaminya.
Alwi terlihat menahan tawa, seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Ia senang karena berhasil membuat istri mudanya itu merasa kesal oleh ulahnya.
Tak lama kemudian, keduanya terlelap dalam mimpi masing-masing. Tanpa sadar, Alwi menarik istri mudanya ke dalam pelukannya.
Di tempat lain, setelah membersihkan tubuhnya di kamar mandi yang berada di kamar tamu, Anisa memakai mukenanya lalu melaksanakan sholat malam.
Kemudian, Anisa melanjutkan dengan membaca mushafnya dengan khusyuk. Tanpa terasa bulir-bulir air mata membasahi pipinya menetes mengenai lembaran mushaf di tangannya.
Dengan suara bergetar menahan tangis, Anisa tetap melanjutkan bacaannya. Begitu terdengar menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarnya.
Tidak akan ada yang mengira, bahwa wanita shalihah penghafal Al-Quran berparas cantik, murah akan senyumnya itu memiliki kisah pilu di dalam rumah tangganya.
'Pernahkah kau tahu apa rasaku? Setiap saat menahan cemburu mencoba melawan dengan senyumku,' Anisa menutup mushafnya dan menaruhnya di atas nakas, ia membaringkan tubuhnya di atas kasur tanpa melepaskan mukenanya.
'Ma Fi Qolbi Ghoirullah. tiada siapapun di hatiku selain Allah,' ucap Anisa dalam hati sebelum terlelap dalam tidurnya.
...Sungguh wanita mampu menyembunyikan cinta selama 40 tahun, namun tak sanggup menyembunyikan cemburu meski sesaat....
...(Ali bin Abi Thalib)...
__ADS_1