Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
L.A.S.S


__ADS_3

Lathifa mendapat kabar gembira ketika Dokter mengunjunginya pagi ini, ia diperbolehkan untuk pulang setelah menghabiskan infus yang masih menempel ditangannya.


Begitu mendengar hal tersebut, Ayu segera mengabari suaminya untuk menjemput mereka. Tanpa menunggu lama, Bram segera meluncur dan tibalah ia di rumah sakit dalam hitungan kurang dari satu jam.


“Alhamdulillah kamu sudah diizinkan pulang, Fa. Setidaknya kamu bisa lebih tenang untuk beristirahat di rumah,” ucap Ayu sembari membantu mengemasi pakaian Lathifa, brankar di samping Lathifa sudah diisi oleh pasien lain tengah malam kemarin.


“Alhamdulillah, Mbak. Tapi aku pulang seorang diri meninggalkan baby twin.” Suara Lathifa terdengar lirih menahan kesedihan.


Kabar kepulangannya bukan membuatnya merasa senang, tapi Lathifa semakin gelisah harus meninggalkan baby twin yang masih berjuang tanpa kehadirannya di rumah sakit. Apalagi ia belum sempat melihat mereka dari dekat, sama seperti Ayu dan Bram, perawat hanya mengizinkan Lathifa melihat bayinya dari jendela kaca luar saja.


“Kamu bisa mengunjungi mereka setiap hari, Fa. Ini juga demi kebaikan baby twin,” ucap Ayu menenangkan.


“Iya, Mbak.”


“Oh, ya ... kamu sudah memutuskan nama untuk baby twin?”


“Sudah, Mbak,” jawab Lathifa cepat. “Azka dan Azkiya.”


Lathifa tersenyum usai mengucapkan nama kedua anaknya, matanya terpejam mengingat sosok mungil yang terkurung dalam inkubator demi menopang kehidupan mereka.


“Aku ingin mereka menjadi cahaya suci dalam hidupku ke depannya, Mbak. Merekalah yang akan selalu menjadi penerang dalam hidupku,” ucap Lathifa tulus.


Sedangkan ibu Hana menatap lekat wajah putrinya yang berseri dari kejauhan, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


“Siapa nama panjang mereka, Fa?” tanya Ayu kembali dijawab dengan gelengan kecil dari Lathifa, artinya ia belum memikirkan nama panjang kedua anaknya.


“Apa Mbak Ayu mau mengusulkan nama untuk mereka?” tanya Lathifa membuat Ayu melirik ke arah suaminya yang sedari tadi duduk di sofa sibuk dengan koran di tangannya.


Lathifa yang menangkap keraguan di wajah Ayu, ia pun kembali bersuara. “Aku senang jika Mbak Ayu mau memberikan nama untuk mereka.”

__ADS_1


Dengan ragu Ayu mengusulkan pendapatnya setelah mendapat anggukan kecil dari ibu Hana dan Bram. “Eehm... bagaimana jika Zhafran dan Zhafira?”


“Apa arti nama tersebut, Mbak?” tanya Lathifa memastikan, ia ingin nama tersebut membawa hal baik untuk anak-anaknya kelak.


“Beruntung, semoga baby twin akan mendapatkan keberuntungan dalam hidupnya.”


“Bagus juga,” ucap Lathifa. “Azka Zhafran dan Azkiya Zhafira.”


Lathifa tersenyum begitupun dengan Ayu. Ibu Hana mendekat ke arah putrinya dan duduk di samping Lathifa.


“Apa kamu tidak ingin menyematkan nama ayah mereka, Thif?” tanya Ibu Hana pelan, tidak ingin menyakiti hati putrinya. Namun biar bagaimanapun, ayah mereka berhak atas anak-anaknya.


Lathifa terdiam, teringat kembali dengan mantan suaminya. Ia belum berhasil mengalahkan hatinya untuk melupakan Alwi.


“Maaf, Bu. Lathif tidak ingin ada namanya pada nama anak-anak Lathif.” Lathifa menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah ibunya. ‘Lathif takut semakin tidak bisa melupakan bayang-bayangnya dari hidup Lathif, Bu,’ lanjutnya dalam hati.


“Tidak apa-apa, Thif. Ibu selalu berada di belakang kamu,” ucap Ibu Hana sembari mengusap pelan punggung Lathifa.


Ibu Hana hanya bisa menganggukkan kepalanya, menyetujui keputusan yang Lathifa ambil.


Usai membereskan barang-barang Lathifa dan Ibu Hana, mereka berempat segera meninggalkan kamar rawat yang beberapa hari ini menjadi tempat tinggal untuk Lathifa.


Sebelum pulang, mereka menyempatkan waktu untuk menjenguk baby twin di ruang NICU untuk sekedar berpamitan, meskipun kedua bayi tersebut tidak paham akan hal itu.


Lama Lathifa mematung di depan jendela kaca ruang NICU, tak ada kata bosan untuknya memandangi buah hatinya, terasa berat ia harus meninggalkan anak-anaknya.


‘Sayang, nama kalian Azka Zhafran Ibrahim dan Azkiya Zhafira Ibrahim, Bunda ingin kalian menjadi penerang dalam hidup Bunda selamanya. Kalian adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepada bunda, bertahanlah kalian di sana, seperti selama ini kalian berjuang bersama Bunda. Kalian harus kuat, bunda selalu ada untuk kalian, maaf ... Bunda belum bisa menjenguk kalian ke sana, maaf bunda meninggalkan kalian di sini, bunda janji akan menjenguk kalian setiap hari.’


Lathifa membiarkan dirinya terlarut dalam kebahagiaan semu meskipun terasa pedih. Ia pandangi buah hatinya sepuas hati, ia tak rela harus berpisah dengan anak-anaknya.

__ADS_1


“Fa!”


Sebuah tepukan ringan membuat Lathifa tersadar.


“Ayo, Mas Bram dan ibu sudah menunggu di depan,” ajak Ayu.


Lathifa tidak sadar bahwa dirinya sudah berdiri di tempat lebih dari setengah jam, dengan berat hati ia pun menyeret kakinya melangkah menjauhi NICU.


Sepanjang perjalanan pulang, Lathifa hanya terdiam duduk di kursi belakang sembari menatap ke arah luar, mengabaikan perbincangan antara Ayu, Bram dan ibunya.


“Saya sudah mendapatkan rumah kontrakan untuk kalian, Bu,” ucap Bram sambil fokus dengan kemudinya. “Tapi rumahnya tidak begitu besar,” lanjutnya.


“Alhamdulillah ... Ibu sangat berterima kasih kepada kalian berdua, tidak masalah seberapa besar rumah tersebut yang terpenting layak untuk ditinggali,” jawab ibu Hana senang.


“Rumahnya dekat dengan rumah kami, Bu. Ada di gang sebelah, bahkan Ayu bisa melihat rumah ibu dari pintu belakang. Mas Bram sengaja mencarikan rumah yang tidak jauh dari rumah kami, agar kita masih tetap bisa berkomunikasi dengan mudah, Bu,” jelas Ayu dengan senyum yang merekah di wajahnya.


“Terima kasih, Nak. Kalian berdua sudah terlalu banyak membantu kami.”


“Oh ya Bu, uang sewanya sudah kami lunasi untuk satu tahun ke depan. Semoga ibu dan Lathifa nyaman tinggal di rumah baru kalian, ada dua kamar tidur, ada ruang tamu, ruang keluarga, dapur serta kamar mandi.” Ayu menjelaskan dan membuat ibu Hana terharu dan bersyukur dipertemukan dengan orang sebaik mereka berdua.


“Nanti ibu ganti uangnya jika sudah ada rezeki ya, Nak.”


“Tidak perlu, Bu,” jawab Bram cepat. “Kami ikhlas melakukan semuanya, ibu dan Lathifa sudah kami anggap sebagai keluarga kami. Jadi, ibu jangan merasa sungkan untuk meminta bantuan kepada kami ke depannya.”


“Tapi, Nak-”


“Ibu simpan saja sisa uang kemarin untuk keperluan baby twin nanti, uang tabungan yang kalian kumpulkan sebaiknya ibu gunakan untuk membuka usaha di rumah nantinya.”


Mendengar penuturan keduanya, tanpa terasa air mata sudah membasahi pipi ibu Hana. Sungguh ibu Hana merasa bersyukur atas segala nikmat dan rezeki yang Allah berikan kepada keluarganya.

__ADS_1


Meskipun seluruh harta keluarganya habis ditangan keponakannya, kini Allah hadirkan hamba-Nya yang bahkan baru beberapa hari berjumpa, namun tanpa pikir panjang mereka rela menyisihkan harta mereka untuk menolongnya.


Sungguh Allah Maha Adil lagi Maha Penyayang, Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.


__ADS_2