
Raiyan masuk ke dalam ruangan Alwi tanpa mengetuk pintunya terlebih dulu, alhasil dia terkejut ketika melihat keberadaan atasannya yang sudah duduk manis di kursi kebesarannya.
“Eh, Bapak sudah datang?” tanya Raiyan dengan wajah tak bersalahnya.
“Memangnya siapa yang kamu lihat di depanmu?” tanya balik Alwi tanpa mengalihkan matanya dari layar laptop di atas meja kerjanya.
“Maaf, Pak. Saya pikir Anda tidak akan datang ke kantor hari ini.”
Tanpa menunggu perintah dari bosnya Raiyan duduk di kursi depan meja Alwi begitu saja.
“Bagaimana luka kamu semalam?” tanya Raiyan kembali menghilangkan mode formalnya.
“Sudah lebih baik, semalam Anisa membantu mengobatinya,” jelas Alwi membuat Raiyan menautkan kedua alisnya bingung.
“Terima kasih, Rai. Kalau kamu tidak menolongku entah bapa yang akan terjadi padaku,” ucap Alwi tulus.
“Sebentar, Al. Apa aku tidak salah dengar? Bukankah Lathifa yang membantu mengobati lukamu bukan Anisa?” tanya Raiyan penasaran.
“Telingamu masih sehat, Rai. Memang Anisa yang mengobatiku.” Alwi menatap ke arah Raiyan yang masih terlihat bingung.
“Tadi malam Anisa pulang dan tidak jadi menginap di luar kota,” jelas Alwi yang melihat wajah bingung Raiyan.
“Oh, aku kira kamu salah mengenali orang.” Raiyan tertawa membayangkan jika sahabatnya benar-benar salah mengenali kedua istrinya.
“Oh ya, ini berkas kerja sama kita dengan perusahaan XX. Kamu periksa lagi, jika ada yang kurang biar nanti diperbaiki lagi.!” Raiyan menyerahkan berkas-berkas yang ia bawa kepada Alwi.
Alwi mengambil berkas tersebut dan mulai memeriksanya kembali, membuka lembar demi lembar tumpukan kertas tersebut dan memberikan beberapa koreksi yang harus diperbaiki ulang.
“Sudah, kamu suruh mereka untuk memperbaikinya dan harus sudah selesai sebelum jam pulang kerja. Aku tunggu di mejaku!”
“Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Raiyan lalu beranjak berdiri dari duduknya.
“Tunggu Rai!” panggil Alwi membuat Raiyan mengurungkan niatnya untuk membuka pintu padahal tangannya sudah memegang kenop pintu tersebut.
Raiyan kembali membalikkan tubuhnya menghadap bosnya itu. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
“Batalkan semua kerja sama kita dengan Sanjaya Group!” ucap Alwi tegas membuat sang asisten melebarkan bola matanya.
“Apa? Kamu yakin, Al?” tanya Raiyan memastikan, baru kali ini ia melihat bosnya itu mengaitkan masalah pribadinya dengan pekerjaannya.
__ADS_1
“Lakukan saja, aku tidak akan memikirkannya ulang!” tegas Alwi.
Raiyan kembali berjalan ke arah kursi yang baru saja ia tinggalkan itu dan kembali duduk di atasnya. “Al, kamu tahu kan apa resikonya jika proyek ini tidak dilanjutkan?”
“Hmm, aku sudah memikirkannya dengan baik, Rai. Maaf jika keputusanku akan merugikan banyak pihak.” Alwi menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
“Tapi, aku tidak bisa bekerja sama lagi dengan tuan Sanjaya,” tutur Alwi yang dapat dipahami oleh Raiyan.
“Aku akan mendukung keputusan kamu, Al. Biarkan aku yang akan menyelesaikan semuanya, akan aku jelaskan kepada tuan Sanjaya,” ucap Raiyan lalu ia menepuk pelan punggung tangan Alwi yang berada di atas meja sebagai bentuk kepeduliannya.
“Terima kasih, Rai.”
Di tempat lain, Lathifa duduk termenung di atas batu karang besar yang teronggok di tepi pantai.
Sebenarnya Lathifa tidak pergi ke restoran orang tuanya, ia berbohong dan asal menjawab ketika mbok Ijah bertanya kepadanya karena memang pagi tadi ia tidak memiliki tujuan akan membawa tubuhnya pergi kemana.
Lathifa masih dengan posisi yang sama, duduk melamun dengan pandangan kosong menatap hamparan laut biru di depannya.
Bahkan ia mengabaikan pemandangan indah yang tersaji tepat di depan matanya, momen dimana sang surya keluar dari persembunyiannya untuk membagikan cahayanya kepada seluruh makhluk di bumi ini
“Hah!” Lathifa tersadar ketika deburan ombak berhasil membasahi tubuhnya.
Lathifa melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 pantas saja ia merasa seperti terbakar duduk di sana.
“Baiklah, mulai sekarang aku akan mencari uang sendiri dan tidak akan menggunakan uang pemberiannya!” ucap Lathifa penuh semangat, ia berdiri dan melangkah pergi meninggalkan batu karang yang menemaninya sejak pagi tadi.
Lathifa menghampiri sepeda motornya yang ia parkir sembarang di bawah pohon cemara.
Sepeda motor yang pernah dibuang oleh suaminya itu akhirnya kembali lagi kepadanya setelah ia merengek kepada Anisa untuk membujuk Alwi agar mengembalikan sepeda motor itu kepadanya.
Lathifa mengendarai motornya dengan kecepatan sedang menuju Cafe tak jauh dari gedung SMA-nya dulu, Cafe yang dulu sering ia datangi sewaktu almarhum kakaknya masih bersamanya.
“Assalamualaikum, Kak Ana.” Lathifa menyapa seorang wanita yang tengah sibuk dibalik meja kasir.
Seorang wanita cantik yang merasa namanya dipanggil itu menoleh ke arah sumber suara, ia terlihat terkejut dan juga bahagia melihat Lathifa mengunjungi Cafe miliknya.
“Wa’alaikummussalam, Thif. Lama tidak jumpa, bagaimana kabar kamu?” tanya Ana dengan senyum lebar di wajahnya.
“Alhamdulillah sehat, Kak. Bagaimana kabar Kakak?”
__ADS_1
“Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat.”
Ana memanggil salah satu karyawannya untuk menggantikan pekerjaannya lalu ia mengajak Lathifa untuk duduk di kursi kosong yang ada di sudut ruangan.
Setelah berbasa-basi bertukar kabar dan cerita, Lathifa mengutarakan niatnya untuk bisa bekerja di Cafe milik Ana, sahabat mendiang kakaknya.
“Kak, aku ingin mengatakan sesuatu,” ucap Lathifa pelan.
“Hmm, katakan saja.”
“Apa Cafe Kakak masih ada penampilan band-”
“Ada, apa kamu mau bergabung?” tanya Ana cepat memotong kalimat Lathifa karena ia tahu apa yang akan ditanyakan oleh Lathifa.
“Eh, apa boleh?”
“Tentu saja, tapi hanya akhir pekan saja. Hari-hari biasa sudah ada yang mengisinya,” jelas Ana.
“Tidak apa-apa Kak, aku mau.”
Setelah membahas mengenai jadwal manggung dan rincian gaji yang akan diberikan Ana untuk Lathifa, Lathifa pamit kepada Ana meskipun sempat ditahan oleh Ana agar ikut makan siang bersamanya.
Lathifa tersenyum bahagia, meskipun uang yang akan ia dapat tidak seberapa tapi baginya itu akan sangat membantu kehidupannya kelak.
Meskipun ibunya memiliki restoran peninggalan ayahnya, Lathifa tidak mungkin bekerja di sana dan meminta gaji kepada ibunya. Bahkan ibunya melarang Lathifa hanya untuk sekedar bantu-bantu di restoran, ibunya menyuruh Lathifa untuk fokus dengan kuliahnya saja.
Di dalam gedung Sanjaya Group terjadi kegaduhan tepatnya di ruangan pemimpin perusahaan tersebut, tuan Sanjaya.
Brak!
Tuan Sanjaya membanting berkas yang baru saja diterimanya, wajahnya terlihat merah padam dipenuhi amarah dengan rahang yang mengeras.
“Brengs*k! Beraninya mereka memutuskan proyek ini tanpa persetujuan dariku!”
Tuan Sanjaya begitu marah, bagaimana tidak? Proyek yang mereka kerjakan sudah berada dipuncak dan tinggal menunggu hasilnya saja. Namun tiba-tiba perusahaan Alwi memutuskan sepihak kerja sama tersebut.
Dan jika proyek itu gagal, maka kedua belah pihak akan sama-sama menanggung kerugian yang cukup besar.
“Awas saja kamu, Alwi! Akan aku buat perhitungan karena sudah berani bermain-main denganku!” teriak marah tuan Sanjaya dengan tangan yang mengepal erat hingga memperlihatkan otot-otot tangannya.
__ADS_1