
Terlihat kerumunan orang berpakaian serba hitam memenuhi masjid pesantren Athaillah, semua orang tengah berduka atas kepulangan salah satu keluarga pesantren.
Di halaman pesantren juga sudah berdiri beberapa tenda tertata rapi guna melindungi para pelayat dari teriknya sinar matahari siang itu. Pemakaman istimewa yang dihadiri berbondong muslim muslimah dari berbagai kota dan organisasi untuk mengantar kepulangan salah satu hamba Allah kepada-Nya.
Malam sebelumnya,
Suasana ruangan serba putih itu sangat mencekam, suara-suara lantunan ayat suci Al-Qur’an memenuhi keheningan malam itu.
Sore tadi keadaan Anisa masih stabil, namun usai menjalankan sholat magrib berjamaah di ruangan itu, tiba-tiba kondisi Anisa menurun drastis. Berulang kali umi Hanifa mencoba menghubungi ponsel Alwi namun belum juga ada balasan dari putranya.
Tuan Akbar duduk di sofa dengan mushaf kecil ditangannya, sedangkan umi Hanifa dan mama Humaira duduk saling berhadapan masing-masing di sisi kiri dan kanan ranjang Anisa.
Umi Hanifa juga mengaji dengan tangan kanan yang terus menggenggam tangan menantunya, beliau melantunkan ayat-ayat suci dengan sepenuh hati. Suaranya terdengar lirih dan lembut namun juga terdengar sangat menyayat hati bagi siapapun yang mendengarkannya. Sedetik pun Umi Hanifa tak pernah menghentikan bacaannya.
Begitu pula dengan mama Humaira yang sedari tadi tak bisa menahan tangisannya, beliau tak mau ketinggalan membacakan ayat-ayat Alquran untuk putrinya sambil terus menatap wajah Anisa, meskipun suaranya serak bahkan hampir tak terdengar lagi.
Sedangkan di luar ruangan, banyak orang yang ikut mengaji untuk Anisa. Ada Abi Husein, ustadz Hamdan, umi Maryam, Zahran serta beberapa ustadz dan ustadzah pondok yang datang bersama Zahran untuk menjenguk Anisa. Mereka duduk di kursi tunggu di lorong tepat di depan kamar Anisa.
“Ma ...” panggil Anisa lirih.
Mama Humaira yang menyadari pergerakan kecil dari bibir Anisa menghentikan bacaannya dan bergegas mendekatkan wajahnya ke arah putrinya.
“Ya, Sayang, mama ada disini,” ucap mama Humaira, tangannya setia menggenggam erat jemari putrinya yang semakin kurus.
“Ma,” panggil Anisa kembali, perlahan ia membuka matanya pelan, sangat pelan dan berat namun Anisa terus memaksanya agar mata indahnya itu bisa terbuka untuk melihat keberadaan orang-orang yang sedari tadi membacakan doa untuknya.
Meskipun tidak sadarkan diri, namun Anisa samar-samar mendengar orang-orang tanpa henti berdoa untuknya dengan bacaan ayat-ayat Alquran yang mendamaikan hatinya.
“Kamu menginginkan apa, Sayang ... katakan saja.”
“Ja-jangan membenci mas Alwi,” lirih Anisa terputus-putus. “Dia tidak bersalah.”
“Aku yang memaksanya untuk menikahi Lathifa ... jangan juga membenci Lathifa, dia anak yang baik.”
“Sayang, jangan memikirkan hal itu, kami tidak mempermasalahkan hal itu lagi,” jawab mama Humaira menenangkan putrinya.
Anisa kembali memejamkan matanya membuat mama Humaira semakin merasa harap-harap cemas dengan kondisi putrinya.
“Anisa ingin pulang, Ma ... Anisa capek,” racau Anisa dengan mata terpejam.
“Ya, nanti kita pulang ya, Sayang. Kamu sembuh dulu, ya ...”
Tuan Akbar mendekat ke arah ranjang putrinya dan berdiri di samping istrinya, dengan mata berkaca-kaca beliau menepuk pelan bahu sang istri menyalurkan kekuatan untuk ibu yang tengah bersedih akan kondisi putrinya.
Anisa kembali membuka matanya perlahan saat merasakan kehadiran cinta pertamanya. “Pa ...”
__ADS_1
“Ya, Sayang ... Papa ada disini,” jawab tuan Akbar penuh kasih sayang, tangannya bergerak mengusap pelan kepala putrinya yang masih terbungkus kerudung.
“Pa, berjanjilah ... papa akan menemukan Lathifa untukku, aku ingin dia bersatu kembali bersama mas Alwi. ”
“Sayang ...”
Napas Anisa mendecit, suaranya semakin pudar, samar tidak terdengar jelas jika tidak mendekatkan telinga ke wajah Anisa.
Semua orang di ruangan itu tak dapat lagi melawan ketakutan mereka, bersiap untuk segala hal yang mungkin akan terjadi.
Mama Humaira histeris melihat tubuh Anisa diam tak bergerak, beliau sedikit mengguncang tubuh Anisa untuk mengembalikan kesadaran putrinya. “Sayang, bangun. Tatap mama lagi, sayang ... Mama ada disini.”
“Ikhlaskan a-ni-sa, Ma ... tu-gas Anisa su-dah selesai di du-ni-a ini ...”
“Tidak, Sayang. Kamu tidak boleh meninggalkan mama.”
Mama Humaira hancur, beliau tidak menyangka waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin beliau mengandung dan melahirkan putrinya, baru kemarin beliau merawat dan membesarkan putri kecilnya.
“Ban-tu a-ku un-tuk men-da-pat-kan sur-ga ....”
Tubuh mama Humaira dan umi Hanifa membeku melihat wajah Anisa semakin pucat seperti menahan sakit yang teramat sangat. Meskipun tuan Akbar Merasakan hal yang sama dengan kedua wanita itu, namun beliau berusaha tetap tegar untuk putrinya.
Napas Anisa tersengal-sengal, bibir kecilnya terus bergerak seperti hendak mengucapkan kalimat, tetapi rasa sakit menjadi hambatannya.
Tuan Akbar spontan menangkup wajah putrinya yang perlahan berubah dingin, segera beliau dekatkan bibirnya ke telinga putrinya. Mengucap satu kalimat yang mengantar setiap muslim berpulang ke hadapan-Nya.
“Laa-ilaaha-illallah ...” terdengar lirih suara Anisa mengikuti dan mengucap kalimat yang sama dengan ayahnya.
Seketika tangis pecah dalam ruang tersebut ketika Anisa terkulai lemas dengan mata yang terpejam rapat usai mengucapkan kalimat Allah.
“Sayang bangun, Anisa ... Ya Allah, Anisa putriku, jangan tinggalkan mama,” jerit mama Humaira tak dapat lagi berpikir jernih, tangisnya meledak sontak menyadarkan orang-orang yang menunggu di luar ruangan, apalagi tim medis yang mendadak berlarian berbondong masuk ke kamar Anisa.
Mama Humaira berteriak menangis meraung-raung merasakan sakit yang menghujam batinnya ketika dokter selesai memastikan kondisi Anisa. Tubuh Anisa masih berada di dalam dekapan ibunya, bibir putihnya sudah membiru dengan senyum terukir di wajahnya. Suhu badannya telah dingin dan denyut nadi yang tak lagi teraba.
“Innalilahi wa innailaihi raaji’un ...,” ucap Dokter diikuti semua orang di dalam kamar duka.
Dokter sempat berusaha menggunakan alat pacu jantung, tetapi takdir berkata lain. Allah lebih sayang kepada Anisa, dan Allah telah mengangkat segala rasa sakit yang selama ini Anisa rasakan.
“Anisa Putri Akbar binti Akbar Arrasyid, pada hari Jumat, 10 Maret 2023 tepat pukul 19.45 WIB, telah meninggal dunia.”
Meskipun jenazah Anisa sudah dikebumikan, hingga malam menjelang pun masih banyak tamu berdatangan untuk ikut berdoa untuk Anisa.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di depan ruang ICU. Terlihat sepasang suami istri paruh baya dengan wajah lelah terukir di wajah keduanya tengah menatap seseorang yang terbaring tak berdaya di dalam sana.
Dengan tubuh dipenuhi perban yang membungkus tubuh jenjangnya, serta banyaknya alat medis yang menempel ditubuh itu guna membantu sang pemilik tubuh mempertahankan hidupnya. Seorang pemuda yang baru saja kehilangan kekasihnya, namun takdir tak memberinya kesempatan untuk menemani sang istri di waktu terakhirnya.
__ADS_1
“Andai dulu kita tidak membiarkannya tinggal bersama Aliya, Bi. Mungkin semua ini tidak akan terjadi kepada Alwi,” lirih umi Hanifa menatap pilu putranya yang sedang berjuang melawan mautnya.
Abi Husein memeluk tubuh istrinya yang terlihat rapuh. “Jangan berkata demikian, Mi ... Nabi melarang kita untuk berandai-andai. Kita cukup berdoa saja, ‘qadarullah wa maa saya afa’ala’ untuk semua yang sudah terjadi sudah jadi ketentuan Allah dan Allah sudah mengizinkan skenario itu terjadi kepada putra kita.”
“Alwi tak seharusnya memendam luka yang membekas dalam pikirannya hingga saat ini sendirian, Bi.”
Alwi mengalami kecelakaan ketika ibunya hendak memberikan kabar tentang kepergian Anisa, Alwi pun belum sempat mengetahui tentang kepergian istrinya.
...****************...
Lathifa terdiam menatap rumah yang berdiri kokoh di depannya, ia tidak percaya jika dirinya harus kembali ke kota dalam waktu yang terlalu singkat baginya.
Meskipun saat ini ia berada di pinggiran kota, namun jarak kota tempat tinggalnya dahulu tidaklah jauh, hanya sekitar 35 KM dan membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan menuju kota kelahirannya.
Lathifa merasa berat harus kembali ke kota, ia ingin melupakan masa lalunya. Namun keadaan memaksanya untuk menghadapi masalah ini, kehadirannya sudah tidak di terima oleh warga di desa tempat mereka tinggal hampir setengah tahun ini.
“Ayo masuk, Fa. Apa kamu tidak lelah melakukan pejalan panjang?” tanya seorang wanita yang baru saja keluar dari dalam rumah itu, wanita muda berpenampilan rapi dengan gaya berpakaian elegannya.
“Eh, iya sebentar, Mbak,” jawab Lathifa tergagap, ia masih merasa canggung dengan pemilik rumah.
“Di luar udaranya dingin, Fa. Tidak baik untuk ibu hamil berpapasan langsung dengan udara malam.” Wanita itu berjalan menghampiri Lathifa yang terlihat enggan untuk masuk ke dalam rumah itu.
“Kenapa masih diam saja?” tanya wanita itu meraih pergelangan tangan Lathifa.
“Ehm-”
“Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri,” ucap wanita itu cepat sebelum Lathifa memberikan alasan.
Wanita bernama Ayu itu menuntun Lathifa masuk ke dalam rumahnya, Lathifa pun hanya bisa menurut dan mengikuti langkahnya.
“Apa tidak apa-apa jika kami menumpang di rumah Mbak?” tanya Lathifa pelan, ia belum kenal betul sosok wanita di sebelahnya itu.
“Tidak apa-apa, Fa. Toh aku juga merasa senang, rumah ini tidak akan sepi lagi, ada kamu dan juga ibu Hana yang akan menemaniku,” jawab Ayu dengan ramahnya.
“Terima kasih, Mbak. Aku janji akan secepatnya mencari rumah kontrakan untuk kami tinggali nanti.”
Ayu menghentikan langkahnya, ia berbalik menghadap Lathifa. “Fa, ibu mertuaku menitipkan kalian kepada kami. Aku dan mas Bram juga tidak keberatan dan sudah menyetujui permintaan ibu.”
“Tapi, Mbak-”
“Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan rumah ini, Fa. Kamu fokus saja kepada bayi dalam perut kamu ini.” Ayu mengusap pelan perut besar Lathifa dengan senyum mengembang di wajahnya.
“Ayo, aku tunjukkan kamar kalian. Ibu Hana sudah sedari tadi berada di dalam kamar.”
Kedua wanita muda itu berjalan memasuki rumah yang akan menjadi tempat tinggal Lathifa ke depannya.
__ADS_1
‘Semoga semua akan baik-baik saja.’