Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
L.A.S.S


__ADS_3

Abi Husein menutup mushaf kecil di tangannya ketika mendengar suara pintu terbuka dari luar, dilihatnya sang istri masuk ke dalam ruangan.


“Umi habis ngapain? Hampir satu jam Abi menunggu sendirian,” ucap Abi Husein pura-pura merajuk.


“Lalu Abi anggap apa putra Abi di sana?” tanya Umi Hanifa dan menunjuk sosok yang masih setia terbaring di atas brankar tanpa bergerak sedikit pun.


“Dia mah kerjaannya tidur melulu, masa Abi berbincang dengan orang tidur,” balas Abi Husein lalu meletakkan mushaf di atas meja dekat tempatnya duduk.


“Abi suruh saja dia bangun, jadi lelaki pemalas kerjaannya tidur melulu!” Umi Hanifa menatap nanar putranya yang belum juga terbangun dari tidur panjangnya.


Lama umi Hanifa berdiri mematung di samping brankar Alwi, kering sudah air matanya untuk menangisi kondisi putra kesayangannya. Masih ada penyesalan dan rasa bersalah dalam hatinya karena membuat putranya mengalami musibah ini.


“Jangan berlarut-larut dalam kesedihan, Mi. Allah tidak menyukai itu, dan berhenti menyalahkan diri sendiri.” Abi Husein merangkul tubuh istrinya dan menariknya ke dalam pelukannya.


“Kapan Alwi bangun, Bi?” tanya Umi Hanifa lirih, pertanyaan yang sama dan entah ke berapa kalinya terlontar dari mulutnya.


“Berdoa saja yang terbaik untuk Alwi, Mi. Bermunajatlah dan rayulah Sang Maha Pemberi Segala.”


“Iya, Bi.”


Abi Husein menuntun umi Hanifa untuk duduk di sofa. “Dari mana saja istri Abi yang paling cantik ini, hmm?” tanya Abi Husein mencairkan suasana.


“Umi tadi pergi ke bank dekat rumah sakit, Bi,” jawab Umi Hanifa setelah duduk di sofa.


“Bank?” tanya Abi Husein dengan menaikkan sebelah alisnya lalu beliau pun ikut duduk di samping istrinya.


“Ibu-ibu yang tadi, Bi. Beliau membutuhkan uang untuk operasi putrinya.”


“Umi kenal dengan ibu tadi?” tanya Abi Husein, meskipun beliau sudah mengetahui jawabannya.


“Tidak, Bi. Tapi .... sepertinya Umi pernah melihat ibu itu, tapi lupa, Bi,” jawab umi Hanifa lirih.


“Sudahlah, Mi. Mungkin Umi pernah berpapasan dengan ibu tadi di suatu tempat.”


Umi Hanifa menundukkan kepalanya. “Maaf ya, Bi.”


“Maaf kenapa?” tanya Abi Husein bingung.


“Umi tadi ambil uang tanpa izin dulu sama Abi.”


“Kenapa harus minta maaf? Semua uang yang sudah Abi berikan untuk Umi, semuanya sudah menjadi hak dan milik umi sepenuhnya. Abi meridhoi niat baik umi, Abi tidak akan bertanya untuk apa uang itu umi gunakan, Abi mengizinkannya selama Umi melakukannya demi kebaikan.”


“Makasih ya, Bi.” Umi Hanifa memeluk suaminya dibalas dengan kecupan lembut di kepalanya oleh Abi Husein.


“Siapa nama ibu tadi, Mi?” tanya Abi Husein membuat Umi Hanifa seketika terkejut.

__ADS_1


“Astaghfirullah, Bi ... umi lupa tidak menanyakan nama ibu tadi.”


Abi Husein tersenyum melihat wajah istrinya yang terlihat menggemaskan di matanya. “Padahal umi meninggalkan Abi hampir satu jam loh...”


“Umi keasyikan bercerita jadi lupa menanyakan namanya, Bi.” Umi Hanifa tersenyum malu.


“Tapi beliau memberikan ini sama umi.” Umi Hanifa mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya, lalu menyodorkannya kepada sang suami.


“Apa ini, Mi?”


“Beliau tidak mau menerima uang secara Cuma-cuma, Bi. Jadi ibu itu menitipkan liontin ini kepada umi, padahal beliau bercerita kalau benda ini satu-satunya barang berharga yang dimilikinya dan mas kawin dari mendiang suaminya dulu.”


“Sebaiknya umi simpan saja liontin ini, siapa tahu suatu saat jika berjodoh beliau pasti akan mencari liontin ini, Mi.”


...****************...


“Assalamualaikum,” ucap Bram ketika membuka pintu kamar rawat Lathifa. Terlihat ibu Hana yang duduk di kursi samping brankar tempat Lathifa berbaring.


“Wa’alaikummussalam,” jawab ibu Hana dan Lathifa bersamaan lalu mempersilahkan Bram untuk masuk.


Bram masuk ke dalam kamar rawat yang kebetulan hanya berisi Lathifa seorang, satu brankar di ruangan tersebut kebetulan kosong tidak berpenghuni.


“Bagaimana keadaan kamu, Fa?”


“Alhamdulillah sudah mendingan, Mas,” jawab Lathifa.


“Tidak apa-apa, Mas. Terima kasih sudah mau datang kesini, Mas Bram pasti sibuk dengan pekerjaan Mas,” ucap Lathifa tulus, ia merasa senang karena mengenal Ayu dan Bram yang sangat baik kepadanya dan ibunya.


“Saya bawakan makanan untuk ibu, pasti ibu belum makan malam kan?” tanya Bram lalu menyerahkan paper bag berisi makanan kepada ibu Hana.


“Terima kasih, Nak. Kamu datang sendirian?” tanya Bu Hana.


“Tidak, Bu. Saya bersama Ayu,” jawab Bram.


Lathifa dan Bu Hana terlihat bingung mendengar jawaban Bram sedangkan mereka tak melihat kehadiran Ayu bersama Bram.


Bram yang menangkap kebingungan keduanya pun menjelaskan. “Maaf kami tadi mampir ke ruang NICU dulu, dan Ayu masih di ruang NICU melihat baby twin,” jelas Bram merasa tidak enak hati.


“Memangnya boleh menjenguk baby twin ya, Mas?” tanya Lathifa murung.


“Hanya bisa melihat mereka dari jendela kaca luar saja, Fa,” jawab Bram membuat Lathifa bertambah sedih.


“Kalau kamu ingin melihat mereka besok saja, biar Ayu yang mengantarkan kamu. Besok dia libur dan malam ini mau menginap di sini,” ucap Bram mencoba menghibur Lathifa.


“Oh ya Bu, apa ibu sudah melunasi biaya administrasi operasi Lathifa? Saya tadi ingin mengurusnya tapi petugas bilang kalu semuanya sudah lunas,” ucap Bram membuat Latifa terkejut.

__ADS_1


“Ibu sudah melunasinya? Uang dari mana, Bu?” tanya Lathifa terheran.


“Ehm, i-tu ... sebenarnya ibu bertemu dengan seorang wanita baik, beliau menawarkan bantuan untuk kita dan memberikan uang secara cuma-cuma. Tapi ibu gak mau menerimanya begitu saja, jadi ibu memberikan liontin milik ibu sebagai jaminannya.” Ibu Hana menjelaskan kronologi pertemuannya dengan sosok penolongnya.


“Siapa orang itu, Bu? Lathifa ingin berterima kasih kepada beliau,” ucap Lathifa terharu.


“Kalau tidak salah ingat, nama beliau ibu Hani, cuma ibu lupa tidak menanyakan alamat beliau. Hanya saja beliau bercerita jika putranya sedang terkena musibah dan koma di rawat di rumah sakit ini, sedangkan menantunya meninggal dunia tapi putranya belum mengetahui kebenaran jika istrinya telah meninggal.”


“Innanilah..,” ucap Bram dan Lathifa berbelasungkawa.


“Kita doakan semoga putra beliau segera diberikan kesehatan dan segera sadar dari komanya, dan semoga istrinya diterima disisi Allah SWT, serta keluarganya diberikan kesabaran dan keikhlasan, aamiiin.” Lathifa mendoakan untuk keluarga penolongnya dan diaminkan oleh ibu Hana dan Bram.


“Maaf kalau saya lancang, Bu,” ucap Bram menjeda sejenak kalimatnya. “Memangnya beliau memberikan uang berapa ke Ibu?”


“Dua puluh lima juta, Nak.” Jawab ibu Hana mampu membuat Bram dan Lathifa melebarkan mata mereka karena tak menyangka ada orang sebaik itu yang memberikan uang dengan nominal cukup banyak kepada ibunya, bahkan mereka tidak saling mengenal.


“Maka dari itu, ibu merasa tidak enak hati. Jadi ibu berikan saja liontin satu-satunya peninggalan bapak kamu, Fa. Meskipun harga liontin itu tak seberapa jika dijual.”


“Maaf ya, Bu ... karena Lathifa, ibu harus kehilangan liontin itu, padahal liontin tersebut mas kawin dari bapak dulu,” ucap Lathifa dengan suara lirih, ia merasa bersalah telah merepotkan ibunya.


Melihat putrinya bersedih, ibu Hana meraih tangan Lathifa dan menggenggamnya. “Kenapa minta maaf, Fa. Ibu ikhlas, apa pun akan ibu berikan untuk putri ibu dan juga cucu-cucu ibu.”


“Sisa uangnya bisa untuk melunasi perawatan anak-anak kamu selama dirawat di NICU nantinya.”


Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


Terlihat Ayu membuka pintu lalu mengucapkan salam. “Assalamualaikum.”


“Wa’alaikummussalam,” jawab semua orang di dalam ruangan.


Ayu pun masuk dan mencium tangan ibu Hana, tak lupa ia memeluk pelan tubuh Lathifa. “Bagaimana kabar kamu, Fa?”


“Alhamdulillah sudah mendingan, Mbak.”


“Oh ya, Fa. Tadi aku meminta tolong sama perawat untuk memfoto baby twin, lihat deh!”


Ayu mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan beberapa potret bayi mungil di dalam inkubator, Ayu terlihat antusias dan berbinar ketika menceritakan tentang baby twin kepada Lathifa.


Sedangkan Lathifa memandangi foto bayinya dengan mata berkaca-kaca, ada rasa senang, sedih, bercampur dihatinya. Ia merasa bahagia karena anak-anaknya bisa terselamatkan, namun Lathifa merasa sedih melihat banyak selang dan alat medis yang menempel di tubuh mungil putra putrinya.


“Yang ini cowok, Fa,” jelas Ayu sembari menunjukkan foto bayi dengan tubuh lebih besar dari bayi satunya.


“Yang ini cewek, lucu kan mereka.”

__ADS_1


Lathifa terus mengamati foto anak-anaknya, sembari mendengarkan cerita Ayu. Sedangkan ibu Hana memilih untuk menghabiskan makanan yang dibawa oleh Bram untuknya.


__ADS_2