
Lathifa membereskan buku-bukunya dan memasukkan ke dalam tasnya. Ia meninggalkan ruang kelas dan bergegas menuju tempat parkir. Lathifa sudah berjanji kepada Anisa untuk menemaninya membeli sesuatu.
Dengan langkah lebar, Lathifa melewati koridor yang ramai oleh mahasiswa yang tampak sibuk dengan urusan masing-masing.
Bruk.
“Maaf, Mbak. Aku tidak sengaja.” Lathifa berjongkok membereskan buku yang berserakan di lantai, milik orang yang baru saja tak sengaja ia tabrak.
“Jalan tuh pakai mata jangan pakai dengkul!” hardik gadis yang berdiri di depan Lathifa.
“Iya sorry, aku buru-buru tidak sengaja tadi.” Lathifa berdiri dan memberikan tumpukan buku yang sudah ia rapikan.
“Sorry? Hallo ... cewek kaya Lo nggak pantas untuk dimaafkan. Buku-buku gue mahal tahu! Gara-gara Lo buku gue jadi kotorkan!” teriak gadis itu membuat semua mata yang berada di koridor menatap ke arah mereka.
“Cha, aku kan sudah minta maaf, jangan marah dong. Kita kan sahabat Cha,” ucap Lathifa.
“Siapa juga yang mau jadi sahabat lo. Ihh, najis tau. Udah miskin, jelek, oh ya, lo masih bisa kuliah di kampus ini dapat uang dari mana? Apa jangan-jangan lo jual tubuh lo ya!”
“Cha!” Lathifa meninggikan suaranya karena dihina di depan umum.
“Oh! Jangan-jangan lo simpanan om-om ya! Atau mungkin simpanan pejabat ... ups! Duh, maaf gue keceplosan!” Chaca pura-pura menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan sengaja mengeraskan suaranya agar di dengar oleh orang-orang di sekitar mereka.
“Sorry, gue harus pergi! Malas lama-lama dekat sama lo, ayo guys kita pergi. Jijik gue!” Chaca berlalu melewati Lathifa dan menyenggol bahu Lathifa dengan keras membuatnya terhuyung ke belakang beberapa langkah.
Lathifa menatap kepergian Chaca dan dua orang temannya, dulu Lathifa dan Chaca bersahabat. Namun, setelah keluarga Lathifa jatuh miskin, Chaca menjauhinya dan menghasut teman-teman lainnya untuk menjauhinya. Bahkan, Chaca terlihat sangat membenci Lathifa dan selalu membuat masalah kepada Lathifa.
Lathifa berlalu pergi dari lorong tersebut, mengabaikan pandangan orang-orang yang menatapnya seakan merendahkannya. Dengan sekuat tenaga ia menahan agar air matanya tidak keluar.
Sesampainya di tempat parkir, Anisa sudah menunggunya. Lathifa bergegas masuk ke dalam mobil Anisa sebelum ada orang yang melihatnya.
“Mau pergi ke mana kita, Mbak?” tanya Lathifa karena sebelumnya Anisa tidak mengatakan tempat tujuan mereka.
“Kita ke butik dulu, ya. Ada sesuatu yang harus kita beli.”
Lathifa menurut saja, toh ia juga tidak bisa menolak keinginan madunya tersebut.
Anisa melajukan mobilnya dengan pelan membelah keramaian lalu lintas jalanan kota.
Selama perjalanan banyak pembahasan yang mereka bicarakan, mulai dari aktivitas di kampus, apa yang disukai dan tidak disukai suami mereka, bahkan Anisa menceritakan dengan detail hal-hal kecil kebiasaan yang Alwi lakukan. Membuat Lathifa merasa sedikit tidak nyaman.
Setelah dari butik, Anisa mengajak Lathifa untuk pergi ke salon untuk perawatan. Padahal, sebelumnya Anisa tidak pernah menginjakkan kaki untuk perawatan ke salon.
“Mbak, kenapa kita ke sini? Siapa yang mau perawatan?” tanya Lathifa mengekor jalan Anisa yang memasuki tempat Spa.
__ADS_1
“Kamu, Fa!”
“Hah! Enggak mau, Mbak. Saya tidak biasa perawatan tubuh,” tolak Lathifa.
“Sama, saya juga baru pertama kali datang ke sini. Kita coba bersama ya!” Anisa terkekeh merasa geli dengan kelakuan mereka berdua.
Lathifa menahan lengan Anisa yang sedang melakukan pemesanan kamar. “Mbak, saya enggak usah ikut ya.” Lathifa bergidik ngeri melihat sekelilingnya.
“Kita coba berdua, Fa. Biar kamu juga bisa merasakannya, nanti setelah dari sini kita beli alat make up untuk kamu! Sekali-kali cobalah kamu pakai bedak atau lipstik, Fa! Biar mas Al lebih klepek-klepek sama kamu.”
“Iih ogah!” spontan Lathifa.
“Hust kamu itu, tidak baik seperti itu, Fa. Berhias atau berdandan untuk suami itu ibadah. Dan akan berdosa jika seorang istri tidak ingin berdandan untuk suaminya.”
Lathifa diam, ia bingung untuk menanggapi ucapan Anisa. Dan memutuskan untuk mengikuti keinginan Anisa untuk perawatan tubuh mereka.
Mereka berdua menghabiskan waktu bersama hingga malam hari, makan malam di restoran terdekat. Saat akan memasukkan makanan ke dalam mulutnya, Lathifa mendapat panggilan dari Maya, karyawannya.
“Halo, Assalamu’alaikum ....”
‘Mbak! Bu Hana, Mbak!’
“Ibuk kenapa Mbak Maya?”
Tut. Tut. Tut.
Lathifa mencoba menghubungi Maya kembali. Namun, tak ada jawaban membuat Lathifa merasa khawatir.
“Ada apa, Fa?” tanya Anisa melihat Lathifa yang panik.
“Tidak tahu, Mbak. Panggilannya terputus, dan enggak bisa dihubungi kembali.” Lathifa menggigit bibir bawahnya, matanya sudah berkaca-kaca hanya menunggu waktu untuk menumpahkan air matanya.
“Tenang, Fa. Semoga semuanya baik-baik saja. Coba kamu hubungi telepon restoran.” Anisa menenangkan Lathifa agar tidak terlalu cemas.
Lathifa mencoba menghubungi nomor restoran, namun nihil. Ia mencoba menghubungi nomor Maya, tetap tidak tersambung. Tidak menyerah, Lathifa mencoba menghubungi beberapa nomor karyawan resto, namun semua tidak ada yang menjawab panggilannya.
Lathifa semakin merasa cemas, ia takut terjadi sesuatu kepada ibunya, hanya ibunya satu-satunya yang masih ia miliki di dunia ini.
“Duh! Kenapa tidak ada yang bisa dihubungi? Ibuuuk!” Lathifa menangis, makanan di depanya tak lagi ia hiraukan.
“Tenang, Fa! Berdoalah semoga semuanya baik-baik saja. Ayo kita pulang.”
Anisa mengeluarkan beberapa lembar uang dan menaruhnya di atas meja. Anisa menuntun Lathifa dan berjalan menuju pintu keluar.
__ADS_1
Mobil Anisa melaju dengan kecepatan sedang menuju ke Hafa Resto. Selama perjalanan hanya terdengar suara isakan tangis dari mulut Lathifa yang belum juga berhenti sambil sesekali mencoba menghubungi nomor karyawannya.
Sesampainya di depan Hafa Resto, Lathifa bergegas turun tanpa menunggu Anisa memarkirkan mobilnya dengan benar.
Lathifa memasuki restoran diikuti Anisa yang mengejarnya dengan sedikit berlari. Namun, ruangan itu sangat sepi. Bahkan tidak ada lampu yang menyala membuat seluruh ruangan gelap gulita.
Lathifa semakin merasa takut, berbagai pikiran buruk menghantuinya. Ia takut terjadi sesuatu kepada ibunya.
“Buk! Mbak Maya! Ibuk di mana?” Lathifa sedikit meninggikan suaranya.
“Fa, kenapa gelap seperti ini? Ke mana orang-orang?” tanya Anisa yang berdiri di belakang Lathifa.
“Enggak tahu, Mbak. Ibuk di mana ya?” Lathifa semakin terisak, kakinya gemetar.
Mabruuk alfa mabruuk ‘alaika mabruuk
Mabruuk alfa mabruuk ‘alaika mabruuk
Mabruuk alfa mabruuk yawm miiladik mabruuk
“Barakallah fii umrik!!! Happy milad Lathifa!!”
Lampu menyala bersamaan dengan ucapan doa dari orang-orang di dalam ruangan itu, seketika tubuh Lathifa membeku. Ia menyapukan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, ruangan yang sudah di dekorasi sedemikian rupa untuk merayakan hari lahirnya. Tampak semua orang yang ia sayangi berada di dalamnya. Ibunya, Maya, Zidan, Andre, karyawannya, dan juga suami serta asistennya.
Lathifa semakin mengencangkan tangisnya, ia merasa kesal karena telah berhasil mereka kerjain. Lathifa melirik ke arah Anisa dan mendapati Anisa menyengir memamerkan gigi putihnya sambil mengangkat tangannya menunjukkan dua jari yang membentuk huruf v.
Hana mendekat ke arah Lathifa dengan sebuah kue ditangannya, lilin dengan angka 20 berdiri tegak di atasnya. “Barakallah fii umrik, Lathifa. Sudah semakin dewasa kamu, Thif. Semoga menjadi istri yang Saleha, ya. Selalu hormati dan turuti perkataan suami kamu.”
“Iya, Buk. Terima kasih Ibuk sudah melahirkan dan membesarkan Lathif dengan penuh kasih sayang.” Lathifa memeluk ibunya, dan Anisa mengambil alih kue di tangan Hana dan meletakkannya di atas meja.
“Kamu tidak perlu berterima kasih, karena Itu sudah menjadi kewajiban ibu.” Hana membalas pelukan Lathifa.
Acara selanjutnya adalah pemotongan kue, mereka semua berdiri mengelilingi meja bundar yang berada di tengah ruangan. Juga tersedia beberapa makanan dan jajanan yang sudah tertata rapi di atas meja.
Lathifa memotong kue, dan meletakkan potongan tersebut di atas piring, saat mengangkat wajahnya, Lathifa melihat bapak dan kakaknya berdiri bersebelahan di belakang orang-orang, dengan pakaian mereka yang serba putih. Mereka tersenyum ke arah Lathifa, kemudian mereka berdua perlahan mundur menjauh dan menghilang di balik pintu.
“Potongan pertama untuk orang spesial di hidup kamu,” ucap Hana di samping Lathifa.
Lathifa menatap ibunya, meminta izin untuk memberikan potongan pertama kue itu kepada suaminya. Hana pun mengangguk.
“Potongan pertama kue ini untuk kamu, Mas.” Lathifa memasukkan sesendok kue ke dalam mulut suaminya. “Terima kasih sudah menjadi suami untukku, Mas.”
Alwi tersenyum dan memegang kedua bahu Lathifa. “Terima kasih, kamu telah bersedia menjadi istriku. Ana uhibbuka fillah, Lathifatunnisa.” Alwi mengecup kening Lathifa.
__ADS_1
Semua orang bertepuk tangan dan merasa terharu dengan pemandangan di depan mereka.