
Pagi harinya Lathifa terbangun seperti biasa, namun ia tidak berani keluar rumah setelah sholat subuh seperti dua hari terakhir karena suaminya kini sudah kembali dari dinas luar kotanya.
Lathifa memutuskan segera ke dapur membantu Anisa dan mbok Ijah. Namun sesampainya di dapur, Lathifa tidak menemukan keberadaan Anisa, ia hanya melihat mbok Ijah seorang diri tengah bersiap dengan alat tempurnya.
“Selamat pagi, Mbok,” sapa Lathifa ketika sudah berada di samping mbok Ijah.
“Selamat pagi, Mbak Lathif.” Mbok Ijah membalas sapaan Lathifa komplit dengan senyuman di wajah tuanya.
“Mbak Anisa kemana, Mbok? Tumben belum turun?” tanya Lathifa sembari tangannya meraih sayur yang telah disiapkan oleh mbok Ijah.
“Memangnya Mbak Lathif tidak tahu?” tanya balik mbok Ijah.
“Tahu apa, Mbok?” tanya Lathifa bingung.
“Mbak Anisa semalam kan menginap di pesantren, Mbak.”
Lathifa terdiam sejenak, pantas saja semalam ketika ia pulang, rumah terlihat sangat sepi.
“Ada acara apa di pesantren, Mbok?” tanya Lathifa ingin tahu, beberapa hari ini ia memang jarang mengobrol bersama Anisa maupun penghuni rumah lainnya.
“Mbak Anisa bilangnya akan ada acara syukuran pernikahan suami mendiang tantenya dengan salah satu ustazah di sana, Mbak,” jelas mbok Ijah.
__ADS_1
“Oh....” Lathifa mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan dari mbok Ijah, ia memang belum terlalu mengenal keluarga besar dari pihak madunya maupun dari pihak suaminya.
Lathifa melanjutkan memotong-motong sayuran di depannya, entah mengapa di dalam hati kecilnya Lathifa merasakan rasa bersalah kepada madunya.
Lathifa mencoba beristigfar, membaca zikir dan berdoa di dalam hatinya berharap dapat menghalau gundah yang semakin menyelimutinya.
Semakin lama Lathifa semakin terbayang akan ketakutan menyakiti perasaan Anisa yang selama ini begitu baik kepadanya.
“Fa, kamu sedang ap-”
“Akh!” Lathifa terpekik dengan mata melebar merasakan kulit tangannya tersayat benda tajam yang sedari tadi digenggamnya.
“Hati-hati, Fa ... maaf aku tidak bermaksud mengagetkan kamu.” Anisa menarik tangan Lathifa dan membersihkan darah yang keluar dari luka sayatan itu.
Anisa terlihat bingung melihat gelagat Lathifa, hanya karena luka kecil saja Lathifa menangis? Ini sama sekali bukan sifat Lathifa yang ia kenal sebagai sosok wanita tangguh.
Setelah mencuci luka Lathifa dan memastikan darahnya tidak terlalu banyak keluar lagi, Anisa menarik Lathifa untuk duduk di sofa ruang keluarga.
Anisa mengambil kotak obat dan dengan telaten ia mulai merawat tangan Lathifa yang terluka. Sedangkan Lathifa hanya duduk diam menurut saja dengan pandangan fokus ke depan namun terlihat kosong.
Lagi-lagi Lathifa melamun, ia teringat ketika pertama kali datang ke rumah ini dan tanpa sengaja membuat Anisa terkejut dan melukai tangannya hingga berdarah.
__ADS_1
Lathifa masih ingat ketika Alwi memarahinya karena hal tersebut, dan betapa lembut serta romantisnya sikap Alwi memperlakukan Anisa yang terluka.
Lathifa membayangkan jika suaminya melakukan hal yang sama kepadanya, mungkin ia akan merasa sangat bahagia.
“Fa,” Anisa menggenggam tangan Lathifa membuat Lathifa tersadar dari lamunannya. “Kamu kenapa?”
“A-aku tidak apa-apa, Mbak.” Latifa dengan terbata menjawab pertanyaan madunya.
Anisa menatap lekat wajah mungil madunya, ia tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Lathifa.
“Kalau ada yang mengganggu pikiran kamu, jangan dipendam sendirian, Fa.”
Suara lembut yang keluar dari mulut Anisa membuat Lathifa semakin merasakan sesak di dadanya seakan ada sesuatu yang menekan tulang rusuknya dan siap untuk menghancurkannya.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, Fa?” tanya Anisa pelan, ia begitu hati-hati bicara agar Lathifa mau membuka suaranya.
“Kenapa kamu melamun? Bahkan tadi kamu tidak mendengar salam dariku?”
Melihat ketulusan yang diberikan oleh Anisa menghancurkan pertahanan yang sedari tadi dibangun oleh Lathifa, perlahan isakan kecil muncul dari bibir Lathifa. “Maafkan aku, Mbak Anisa.”
Melihat Lathifa menangis di depannya, mata Anisa ikut berkaca-kaca. Ia bingung kenapa Lathifa tiba-tiba menangis dan meminta maaf kepadanya.
__ADS_1
“Kamu tidak salah apa-apa, Fa. Tidak perlu meminta maaf.” Anisa mengambil tisu dan memberikannya kepada Lathifa.
‘Maaf, Mbak Anisa. Seharusnya aku tidak hadir di antara kalian berdua,’ batin Lathifa di tengah isakannya, ingin sekali Lathifa mengeluarkan semua beban di hati dan mengakui semuanya. Namun ia tahan takut jika Lathifa salah langkah dan merusak banyak hal.