
“Mbak Anisa tidak pulang ya, Mbok?” tanya Lathifa ketika tengah menyiapkan makan malam bersama mbok Ijah di dapur.
“Tidak tahu, Mbak,” jawab mbok Ijah. “Mungkin saja mbak Anisa menginap lagi di pesantren,” imbuh mbok Ijah.
“Ehm, apa mas Alwi juga?” tanya Lathifa pelan.
“Tidak, Mbak,” jawab mbok Ijah cepat. “Den Alwi sudah pulang sejak sore tadi.”
“Oh....” Lathifa terlihat sedikit kecewa, ia berharap suaminya itu juga menginap di pesantren.
“Kenapa, Mbak?” tanya mbok Ijah yang melihat Lathifa terdiam.
“Eh, tidak apa-apa, Mbok.” Lathifa mengangkat piring berisi lauk pauk dan membawanya ke meja makan.
Sedangkan mbok Ijah menatap Lathifa dengan saksama dan merasa ada yang berbeda dengan majikannya itu. ‘Ada yang aneh dengan mbak Lathifa, tapi apa ya?’
Mbok Ijah segera membuang pikiran anehnya itu, beliau kembali melanjutkan aktivitasnya.
Setelah selesai menyiapkan menu makanan di meja makan, Lathifa berniat untuk mencari keberadaan suaminya yang sejak tadi belum ia jumpai. Namun ia harus mengurungkan niatnya ketika melihat suaminya yang sudah terlihat dari ujung tangga hendak turun ke bawah.
Alwi berjalan begitu saja melewati Lathifa tanpa menegur istrinya sedikitpun, ia berlalu menuju ruang makan diikuti Lathifa yang mengekor di belakangnya.
“Pulang jam berapa kamu?” tanya Alwi dingin setelah mendaratkan tubuhnya di kursi miliknya.
__ADS_1
“Jam 5,” jawab Lathifa sembari mengambil nasi beserta lauknya ke piring suaminya.
“Lancar tugasnya?”
“Ya,” jawab Lathifa singkat, perbincangan mereka terdengar kaku dan canggung, Lathifa pun tidak berani bicara lebih panjang.
Alwi menatap tajam ke arah Lathifa membuat wanita itu merasa gelisah. “Apa?” tanya Lathifa dengan suara sedikit bergetar.
“Tidak. Cepat makan!” perintah Alwi, ia ingin menanyakan pria yang tadi bersama istri mudanya di restoran namun ia urungkan kembali.
Keduanya pun menikmati makan malam dalam kebisuan.
“Aku akan tidur di kamar atas,” ucap Alwi setelah selesai dengan makanannya.
“Telan dulu makanannya baru bicara!” tegur Alwi.
“Anda duluan yang mengajak aku bicara!” sanggah Lathifa tak mau disalahkan.
“Makan yang banyak!” perintah Alwi sebelum ia meninggalkan meja makan dan membiarkan Lathifa menyelesaikan makanannya seorang diri, ia tidak mau terbawa emosi menghadapi istri mudanya yang ia anggap masih kekanak-kanakan.
...****************...
Meskipun langit sudah berubah menjadi gelap, namun Anisa masih terlihat sibuk membantu berbagai persiapan acara di pesantren.
__ADS_1
Zahran yang sedari tadi memperhatikan jika kakak sepupunya belum juga beristirahat, ia menghampiri Anisa dan berniat menyuruhnya untuk menyudahi pekerjaannya.
“Istirahat dulu, Mbak. Mbak Anisa kan sudah sejak tadi sore sibuk membantu,” ucap Zahran yang merasa kasihan melihat Anisa terlalu menyibukkan diri.
“Tidak apa-apa, Dek. Lagian juga mbak belum capek, kok,” jawab Anisa sembari tersenyum ke arah Zahran.
“Mbak Anisa malam ini mau menginap lagi di pesantren?” tanya Zahran.
“Ya, kenapa? Tidak boleh?” tanya Anisa dengan intonasi sedikit marah, namun Zahran tahu jika kakaknya itu hanya pura-pura marah saja.
“Boleh-boleh saja, Mbak. Memangnya siapa yang berani melarang Mbak Anisa, yang penting Mas Alwi sudah mengizinkannya.”
“Pastinya sudah dong, tidak mungkin mbak tidak meminta izin dulu sama mas Alwi.” Anisa menjawab dengan mantap.
“Oh ya, Mbak. Mbak Anisa kan belum pernah bertemu Zahra, lusa dia akan datang bersama keluarga suaminya. Mbak Anisa pasti akan terkejut melihatnya, wajahnya sangat mirip dengan Mbak Anisa,” ucap Zahran menggebu menceritakan tentang adik yang baru beberapa waktu lalu baru ia ketahui keberadaannya.
“Oh ya? Seberapa mirip dia dengan mbak?” tanya Anisa penasaran.
“Yah ... sangat miriplah, lusa mbak lihat saja sendiri.”
Anisa meminta Zahran untuk menceritakan adiknya itu, dengan senang hati Zahran pun menuruti keinginan kakak sepupunya itu hingga ia melupakan tujuan awalnya untuk menyuruh Anisa beristirahat.
Mereka berdua terlarut dalam pembicaraan yang cukup menyenangkan tersebut dan bahkan melupakan jika waktu terus berjalan hingga malam kian semakin gelap.
__ADS_1
Sedangkan jauh di sana, di sebuah rumah mewah di tengah kota. Sama seperti Anisa, Lathifa dan Alwi pun tidak bisa terlelap. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing dan tentunya di tempat yang berbeda karena Alwi memilih untuk tidak tidur satu kamar dengan Lathifa malam itu.