
Bandara,
Terlihat sepasang suami istri baru saja keluar dari pintu terminal kedatangan. Mereka berdua terlihat bingung karena tidak mendapati seseorang yang seharusnya sudah berada di sana untuk menyambut kedatangan mereka.
Berselang beberapa menit kemudian terlihat seorang pemuda tampan berlari ke arah sepasang suami istri itu, dengan nafas tak beraturan pemuda tersebut berjalan menghampiri keduanya lalu tersenyum memperlihatkan deretan giginya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
“Kamu tuh ya, kebiasaan!” tegur wanita paruh baya itu namun masih dengan suara lembutnya.
“Hehe maaf, aku bangun kesiangan,” jawab pemuda itu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ya sudah, ayo cepat berangkat. Kita mampir ke warung lesehan dulu untuk sarapan sebelum pulang,” ucap wanita itu.
Mereka pun berjalan menuju tempat parkir dan pemuda itu membantu membawakan barang bawaan mereka.
Di tempat lain, Alwi dan Anisa sudah bersama kedua orang tuanya menuju perjalanan pulang.
“Kita langsung ke rumah kalian saja ya, Sayang,” ucap wanita paruh baya yang sejak kedatangannya ke tanah air tak pernah sedetik pun melepaskan genggamannya dari tangan sang putri.
“Iya, Ma. Kita mampir beli sarapan dulu ya,” jawab Anisa dengan senyum merekah di wajahnya.
Anisa merasa sangat bahagia bisa berjumpa kembali dengan kedua orang tuanya setelah sekian lama berpisah. sepanjang perjalanan pulang, wajahnya terlihat berseri sambil membalas genggaman tangan wanita yang telah melahirkannya itu.
“Mama ingin segera bertemu Lathifa yang sering kamu ceritakan itu, Sayang.”
“Iya, Ma. Nanti Anisa kenalkan secara langsung dengan Lathifa,” balas Anisa senang, ia memang sudah meminta izin kedua orang tuanya atas pernikahan poligami suaminya itu.
Meskipun awalnya keputusan Anisa ditentang keras oleh orang tuanya, namun dengan tekad bulat yang dimiliki Anisa serta alasan yang mendukung karena keluarga Alwi pasti membutuhkan keturunan. Akhirnya tuan Akbar dan ibu Humaira dengan berat hati harus menuruti keinginan putri semata wayangnya tersebut.
Sedangkan Alwi duduk di belakang kemudi bersama ayah mertuanya yang duduk di sampingnya, mereka berdua terlihat asyik berbincang tentang pekerjaan. Membiarkan kedua wanita berbeda generasi di kursi belakang untuk saling melepaskan rindu mereka.
Tak membutuhkan waktu lama, Alwi sudah sampai di depan rumahnya. Ia turun untuk membuka pintu gerbang rumahnya lalu kembali mengemudikan mobilnya dan memarkirkannya tepat di depan pintu rumahnya.
Alwi menahan Anisa ketika ingin membantu menurunkan barang bawaan kedua orang tuanya, Alwi menyuruh Anisa untuk segera mengajak kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum,” ucap Anisa ketika sudah membuka pintu rumahnya yang masih terkunci.
“Assalamualaikum, Fa!” Anisa kembali mengucapkan salam karena tidak mendengar jawaban dari Lathifa.
__ADS_1
Anisa mengernyitkan alisnya ketika melihat rumahnya sangat sepi, bahkan masih gelap tidak ada satu pun lampu yang menyala. Bahkan semua gorden pintu dan jendela masih tertutup rapat sehingga tidak ada sedikit pun cahaya yang masuk ke dalam rumahnya.
Anisa masuk ke dalam rumah diikuti kedua orang tuanya di belakangnya.
“Assalamualaikum,” ucap kedua orang tua Anisa bersamaan ketika melangkahkan kaki mereka ke dalam rumah.
“Wa’alaikummussalam,” jawab Anisa.
“Fa!” panggil Anisa ketika sudah berada di ruang keluarga, namun ia belum juga menemukan sosok yang dicarinya.
“Ma, Pa, duduk dulu di sini. Anisa mau ke dapur dulu menyiapkan sarapan,” ucap Anisa mempersilahkan kedua orang tuanya untuk beristirahat di ruang keluarga.
“Mama bantu ya, Sayang.”
“Tidak perlu, Ma. Mama istirahat saja di sini, pasti lelah semalaman naik pesawat,” tolak Anisa halus.
Setelah menyalakan lampu serta membuka gorden dan jendela, Anisa berjalan ke arah dapur sambil membawa kantong keresek yang berisi beberapa menu makanan yang sempat mereka beli di perjalanan pulang.
Sesampainya di dapur Anisa masih juga belum melihat keberadaan Lathifa, ia merasa khawatir jika terjadi sesuatu kepada Lathifa. Apalagi semalam ia sempat mendengar pertikaian antara suaminya dengan madunya itu.
Dengan perasaan tidak tenang, Anisa menyiapkan sarapan seorang diri. Ia menaruh beberapa menu ke dalam wadah dan menatanya di atas meja makan.
Karena merasa semakin khawatir, Anisa berinisiatif untuk mendatangi kamar Lathifa. Ia beberapa kali mengetuk pintu kamar Lathifa dan memanggil namanya, namun Anisa sama sekali tidak mendapat jawaban dari Lathifa.
Karena takut terjadi sesuatu dengan Lathifa, Anisa mencoba membuka pintu di depannya.
Ceklek!
Pintu tersebut tidak terkunci, tanpa berpikir panjang Anisa langsung masuk ke dalam kamar Lathifa.
Deg!
Tubuh Anisa mematung di tempat, tepat ketika matanya melihat ke dalam kamar madunya tersebut. Betapa terkejutnya Anisa melihat pemandangan di depannya, kamar yang dulu ia susun dan ia tata rapi dengan tangannya sendiri, kamar yang ia siapkan sebaik mungkin untuk madunya itu kini telah bertambah satu ranjang kecil di ujung ruangan.
“Kenapa ada dua ranjang di kamar ini?” tanya Anisa dengan jantung berdebar kencang.
Dengan kaki bergetar, Anisa menyeret kakinya yang terasa berat untuk lebih masuk ke dalam kamar tersebut. Anisa menyapukan pandangannya mengamati seluruh isi kamar itu, namun lagi-lagi ia tidak menemukan sosok yang tengah ia cari keberadaannya.
__ADS_1
“A-apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Anisa dengan mata berkaca-kaca, berbagai pikiran negatif bermunculan di dalam kepalanya, namun sebisa mungkin Anisa mengusir pikiran-pikiran tersebut.
Dalam kekalutannya, Anisa melihat ke arah meja belajar yang terdapat beberapa kartu dan beberapa lembar uang kerta berserakan di atasnya.
Tanpa sadar Anisa melangkah ke arah meja tersebut seakan ada sesuatu yang mendorongnya untuk mendekati meja itu. Tangan Anisa terjulur menyentuh uang dan beberapa kartu itu, matanya terfokus dengan sebuah kertas yang tertuliskan namanya di atasnya.
Anisa meraih kertas itu perlahan ia membukanya dan membacanya.
Deg!
Untuk kesekian kalinya Anisa dibuat syok melihat isi surat tersebut, ia terduduk lemas di atas kursi sambil terus membaca surat tersebut.
Bahkan Anisa tak bisa lagi menahan air matanya agar tidak membasi pipinya, Anisa merasakan sesak didadanya, suaranya pun tertahan tak bisa ia keluarkan seakan ada sesuatu yang mencekik lehernya.
Sedangkan di luar Alwi yang merasa bahwa Anisa terlalu lama menyiapkan sarapan dia pun pamit kepada kedua mertuanya untuk menyusul Anisa ke dapur.
Namun langkah Alwi terhenti ketika melihat pintu kamar Lathifa yang sedikit terbuka, ia memutar langkahnya ingin melihat keadaan Lathifa. Meskipun semalam ia sempat emosi terhadap istri mudanya tersebut Alwi juga merasa khawatir dan masih memiliki tanggung jawab terhadap wanita itu.
“Apa kamu-”
Deg!
Kalimat Alwi terhenti ketika mendapati sosok yang tengah duduk di dalam kamar tersebut, Alwi sangat terkejut dan tidak menyangka jika Anisa berada di kamar itu.
“A-apa yang sedang kamu lakukan disini, Sayang?” tanya Alwi terbata, ia melangkah masuk dengan jantung yang semakin berdetak kencang.
Anisa menoleh ketika mendengar suara suaminya, dengan wajah memerah dan air mata yang berlinang, Anisa menatap nyalang penuh amarah ke arah suaminya. Hal yang belum pernah ia lakukan selama menjadi istri Alwi.
“Apa ini, Mas? Bisa kamu jelaskan?” tanya Anisa dengan suara nyalang, ia berjalan mendekat ke arah suaminya yang masih mematung di depan pintu.
“Sa-yang, kamu kenapa?” Alwi terlihat panik, ia belum pernah melihat kemarahan istrinya yang sebesar itu.
“Apa maksud semua ini, Mas?” Anisa menyodorkan surat itu kepada Alwi, tangisnya semakin pecah tanpa bisa ia tahan lagi.
“Apa ini?” tanya Alwi bingung menerima kertas tersebut, ia pun membuka dan membaca surat tersebut.
Deg!
__ADS_1
“I-ini ....”