Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Kenapa Harus Hamil?


__ADS_3

“Bagus ya, jam segini baru pulang!” tegur Alwi yang berhasil membuat Lathifa terlonjak kaget ketika kakinya baru saja memasuki pintu utama. “Kamu masih ingat sama rumah? Dari mana saja kamu?”


“Eh, Anda sudah pulang?” tanya balik Lathifa sembari menguasai detak jantungnya agar normal kembali.


“Apa kamu tidak melihat jam? Sudah jam 9 baru ingat pulang? Main ke mana kamu hingga malam begini?” tanya Alwi dingin dengan nada mengintimidasi, ia sengaja duduk di ruang tamu dan tadarus Al Quran sembari menunggu kepulangan Lathifa.


“Dari restoran ibu.” Lathifa berusaha menjawabnya setenang mungkin, ia tidak mau suaminya mencurigainya dan pastinya akan menceramahinya lebih lanjut dan akan memakan waktu lebih lama lagi.


Lathifa ingin segera pergi dari hadapan suaminya dan ingin mengistirahatkan tubuhnya sesegera mungkin.


Namun Alwi tidak membiarkannya lolos begitu saja, ia menatap Lathifa dari ujung kepala hingga ujung kaki seakan tengah mencari kebohongan dari ucapan istrinya itu.


“Kenapa menatapku seperti itu? Aku tidak berbohong!” jawab Lathifa kesal. “Kalau tidak percaya silakan Anda telefon ibu.”


“Ya sudah, cepat sana masuk! Ini terakhir kalinya aku memaafkanmu dan membiarkanmu pulang malam!” peringat Alwi dan membiarkan istrinya menjauh darinya.


Sepeninggal Lathifa, Alwi memutuskan untuk ke mushalla rumah dan melanjutkan tadarusnya. Namun ia memastikan terlebih dahulu bahwa pintu rumahnya sudah terkunci dengan sempurna dan aman dan tidak lupa mematikan lampu di ruang tamu.


Waktu menunjukkan pukul 22.30, usai membersihkan tubuhnya, Lathifa pergi ke dapur untuk mencari makanan ringan yang bisa ia makan untuk membungkam cacing-cacing di perutnya yang sedari tadi terus bernyanyi dengan berisiknya.


“Kamu belum makan malam, Fa?” tanya Anisa yang tiba-tiba masuk ke dapur.


“Eh, sudah Mbak,” jawab Lathifa cepat, ia merasa tidak enak karena ketahuan keluyuran malam-malam di dapur tengah mencari sesuatu di kulkas.


Anisa menghampiri Lathifa. “Lalu, apa yang tengah kamu cari?”


“Emh, aku lapar lagi, Mbak,” jawab Lathifa nyengir memperlihatkan deretan giginya.


“Oh ya, tadi aku beli cake kamu ambil saja.”


“Boleh Mbak?” tanya Lathifa memastikan.


“Makan saja, Fa. Lagian cake itu dibeli untuk dimakan bukan hanya untuk hiasan saja.”


Anisa mengambil cake yang tadi dibelinya dan menaruhnya di atas meja, lalu ia mengambil piring dan sendok lalu diletakan di samping cake tersebut.


“Makanlah,” ucap Anisa dan menuntun Lathifa agar duduk di kursi.

__ADS_1


“Terima kasih ya, Mbak,” ucap Lathifa dengan mata berbinar. “Cake-nya terlihat sangat menggoda.”


Tanpa babibu lagi, Lathifa langsung memindahkan potongan cake itu ke dalam piringnya dan mulai memakannya.


“Mbak Anisa tidak makan?” tanya Lathifa dengan mulut penuh cake di dalamnya.


“Tidak, kamu saja yang makan, Fa.” Anisa menjawabnya dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya meskipun tanpa polesan make up.


“Enak sekali cake-nya, Mbak.”


“Pelan-pelan saja makannya, Fa. Jangan lupa susunya diminum ya!” Anisa menyodorkan segelas susu yang ia buat tanpa disadari oleh Lathifa karena wanita itu terlalu fokus dengan cake di depannya.


“Susu apa?”


“Ih, kamu tuh ya ... sama saja dengan mas Alwi! kebiasaan sering lupa minum susu ini kalau tidak diingatkan,” omel Anisa, ia merasa gemas menghadapi kedua orang yang harus selalu diingatkan untuk meminum susu promil mereka.


“Aku ti-”


Kalimat Lathifa terpotong ketika terdengar suara suami mereka yang berteriak dari lantai atas memanggil Anisa.


“Maaf ya Fa, aku tidak bisa menemani kamu lebih lama. Tadi Mas Alwi memintaku untuk membuatkan kopi untuknya,” ucap Anisa lalu ia pamit untuk kembali ke kamarnya.


Sepeninggal Anisa, Lathifa langsung merasakan perubahan mood yang begitu cepat. Ia sendiri tidak tahu dengan suasana hatinya sendiri, tiba-tiba saja ia merasa sedih dan hatinya terasa tercubit membayangkan suaminya dan madunya akan bermalam bersama di kamar yang sama.


‘Kamu kenapa sih, Thif! Biarkan saja toh mereka suami istri! Kenapa kamu yang merasa kesal?’


Lathifa menyudahi acara makannya dan mengembalikan kotak cake yang masih tersisa beberapa potong ke dalam kulkas, selera makannya tiba-tiba menghilang begitu saja.


Lathifa membereskan piring kotor dan mencucinya, ia juga membawa gelas susu yang diberikan Anisa dan menuangkan isinya yang sama sekali tak disentuhnya itu ke dalam bak cuci.


“Aku tak butuh meminum ini, Mbak.”


Usai membereskan semuanya, Lathifa berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah gontai, ia teringat kejadian sore tadi ketika dirinya baru saja menyelesaikan pekerjaannya di cafe milik Ana.


“Kerja bagus, Thif. Ternyata kamu masih jago bernyanyi seperti dulu ya,” puji Ana setelah melihat kembali penampilan Lathifa di panggung.


“Ah, Mbak bisa saja, aku masih harus banyak belajar, Mbak.”

__ADS_1


“Jangan merendah begitu, dulu kamu dan Hafiz memang menjadi idolanya kota ini, loh.”


“Itu kan dulu Mbak, sekarang mah ... hanya sekedar bisa saja, dikit.” Lathifa tersenyum menanggapinya.


“Kamu mau langsung pulang? Hampir magrib loh, nanti saja sekalian tunggu magrib di sini,” ucap Ana memberi usul.


“Aku mau mampir ke restoran ibu, Mbak.” Lathifa menolak ajakan Ana.


“Ya sudah kalau kamu inginnya begitu, hati-hati di jalan ya.”


“Iya Mbak, terima kasih ya.”


Setelah berpamitan, Lathifa melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Namun belum genap ia berjalan lima langkah, Lathifa menghentikan langkahnya karena merasakan kepalanya pusing seakan berputar dan pandangannya mulai mengabur.


Tak lama kemudian ia pun terjatuh tak sadarkan diri dan ketika terbangun Lathifa sudah berbaring di sebuah ruangan dengan nuansa serba putih ciri khas sebuah ruangan pengobatan.


“Kamu sudah bangun?” tanya seseorang wanita paruh baya yang duduk di sudut ruangan.


“Maaf, kalau boleh tahu saya ada dimana ya?” tanya Lathifa sembari mengamati keadaan sekitarnya.


“Kamu ada di klinik saya, Mbak. Tadi kamu pingsan dan Ana membawa kamu ke sini,” jelas wanita itu, yang Lathifa tebak bahwa beliau adalah seorang dokter terlihat dari pakain yang menempel ditubuhnya.


“Ping-san?” Lathifa terlihat bingung dan mengingat kejadian tadi di Cafe, ia teringat kalau dirinya merasa pusing dan setelah itu ia tidak mengingat apa pun.


“Jangan khawatir, kamu baik-baik saja,” jelas dokter itu. “Kapan terakhir kali kamu datang bulan, Mbak?”


“Eh, kenapa dokter menanyakan hal itu?” tanya Lathifa bingung.


“Sepertinya kamu sedang hamil, Mbak. Namun ini baru tebakan saya saja, untuk memastikannya sebaiknya kamu periksakan ke rumah sakit,” saran dokter itu.


“Ha-hamil?” Lathifa terlihat kaget dan tidak percaya dengan yang diucapkan dokter tersebut. “A-aku hamil?”


“Hah! Hamil? Bagaimana bisa aku hamil?” tanya Lathifa setelah tersadar dari lamunannya.


‘Kenapa di saat seperti ini aku harus hamil? Kenapa disaat aku ingin menjauh darinya Ya Allah? Kenapa?’ jerit hati Lathifa merasa frustasi.


 

__ADS_1


__ADS_2