Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Selalu Terbayang Wajahmu


__ADS_3

Malam harinya Lathifa tidak terlihat ikut makan bersama Alwi dan Anisa di meja makan, hal tersebut membuat Alwi bertanya-tanya akan keberadaan istri keduanya itu.


Namun Alwi hanya memendam pertanyaan itu dalam hatinya saja, ia tidak berniat menanyakannya kepada Anisa.


Sepasang suami istri itu saling diam sepanjang menyantap hidangan makan malam mereka, baik Alwi maupun Anisa terlihat sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing.


“Mas,” panggil Anisa setelah mereka menyelesaikan makan malamnya.


“Hmm,” jawab Alwi masih sibuk mengelap mulutnya dengan tisu.


“Apa kalian baik-baik saja?” tanya Anisa pelan, takut menyinggung perasaan suaminya.


“Siapa yang kamu maksud?” Alwi merasa bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan istrinya itu.


“Kamu dan Lathifa,” jawab Anisa cepat dan juga diselimuti rasa cemas dengan jawaban yang akan suaminya berikan kepadanya.


Anisa berharap jika perasaan yang beberapa hari ini selalu mengusik pikirannya itu salah. Baru kali ini Anisa menanyakan tentang hubungan mereka, namun ia harus memberanikan diri untuk ikut terlibat di dalamnya.


Jika memang tebakannya benar, Anisa tidak bisa membiarkan keduanya terus bertengkar. Jangan sampai jika hubungan keduanya merenggang dan Lathifa menyerah untuk berjuang mendapatkan cinta suaminya.


Anisa tahu tidak mudah untuk bisa memenangkan hati suaminya karena ia sendiri sudah pernah mengalaminya. Namun, ia tidak mau kehilangan Lathifa.


“Kami baik-baik saja,” jawab Alwi datar semakin membuat Anisa tambah merasa curiga.

__ADS_1


“Oh, aku kira kalian bertengkar lagi.” Anisa melirik ke arah suaminya yang sama sekali tidak terganggu dengan pertanyaannya.


‘Sudahlah, aku tidak berhak untuk ikut campur dalam masalah mereka berdua. Semoga semuanya baik-baik saja.’


...*****...


Dua hari berlalu.


Usai menghadiri jamuan bersama kliennya di salah satu restoran mewah di kota tersebut, Alwi memilih langsung pulang ke hotel tempatnya menginap dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Sebenarnya acara peresmian hotel A sudah selesai sejak kemarin dan itu pun hanya satu hari saja, hari keduanya Alwi bertemu dengan salah satu kliennya yang kebetulan membuat janji temu di kota tersebut.


Alwi mengambil handuk dan perlengkapan mandi lainnya, tak lupa ia mengambil pakaian ganti dari dalam koper yang dibawanya.


...*****...


“Ya Allah, hanya kepadamu hamba memohon petunjuk. Terangilah hati dan pikiran hamba agar tidak tersesat dalam setiap mengambil keputusan. Jika memang kami berjodoh maka satukanlah kami dalam ridho-Mu, Ya Rob.”


Alwi berdoa usai menjalankan kewajibannya kepada Sang Pencipta. Meskipun tubuhnya berada di tempat itu, namun pikirannya selalu berkelana kemana-mana.


Rencana awal ingin menenangkan diri dan menghindar dari istri mudanya itu, namun justru bayangan wajah Lathifa yang selalu terngiang memenuhi kepalanya, menghantuinya siang dan malam tanpa henti.


Usai sholat, Alwi mengemasi barang-barangnya agar besok pagi bisa langsung checkout agar tidak perlu terburu-guru.

__ADS_1


“Tidak bisa terus seperti ini, Al! Kamu bukanlah anak-anak yang terus menghindar dan terus berlari dar masalah!” gerutu Alwi di sela-sela menata kopernya.


“Besok aku akan berbicara kepada Lathifa dan meminta maaf langsung.”


Alwi menyadari sikapnya memang kurang baik terhadap Lathifa, ia sudah beberapa kali menarik paksa tangan Lathifa di depan umum.


Di tempat lain, Lathifa tengah berkutat dengan laptop di depannya entah apa yang tengah dikerjakannya hingga larut malam.


Awalnya jemarinya menari indah di atas keyboard dengan sangat lancar, namun baru beberapa menit ia menghentikan aktivitasnya dan mengacak asal rambutnya merasa frustrasi.


“Akh!” kesalnya, ia sama sekali tidak bisa fokus.


Sama halnya dengan suaminya, Lathifa juga merasakan hal yang sama.


“Enyahlah dari pikiranku!” teriak Lathifa kesal, semakin ia ingin melupakan kejadian malam itu, semakin hal tersebut membuat fokusnya menghilang dari dalam dirinya.


“Akh!!! Aku tidak bisa jika harus terus seperti ini!”


“Aku tidak akan menghindar lagi darinya, kenapa cinta serumit ini?” gerutu Lathifa frustasi.


Lathifa menutup laptopnya, lalu ia berjalan menuju ke tempat tidurnya tanpa membereskan meja belajarnya yang terlihat berantakan.


'Ya Allah, jika ditakdirkan bukan untuk bersama, biarkanlah rasa ini mengalir menemukan pemilik sejatinya. Jangan Engkau biarkan dia menetap dengan harap milik orang lain. Jika kelak Engkau mengizinkan aku untuk jatuh cinta, kumohon jatuhkanlah hatiku kepada seseorang yang juga mencintaiku karena-Mu.'

__ADS_1


__ADS_2