LUDIRA

LUDIRA
Sepuluh


__ADS_3

"Jadi Narendra izin sama bapak ibu kalau tadi malam mau ke rumah saya, tapi kalau di izinin saya masuk. Kalau tidak ya nunggu di depan. Gitu?" tanyaku gugup, tapi berhasil mengeluarkan semua kalimat yang bertumpuk di kepalaku.


"Iya, Mbak. Jadi, saya mohon sekali. Tolong kasih izin Narendra buat jenguk dek Almeera."


Ah, Dasar Narendra gila.


"Kenapa si tadi mukanya tegang gitu, Mbak?" Tanya pak Basuki kepadaku.


Gimana enggak tegang coba, janda ini lo. Apalagi kalian berdua sikapnya begitu. Takut deh jadinya saya, takut di labrak karena anak kesayangan kalian yang terlalu terlihat sempurna itu akhir akhir ini bikin ribet hidup saya.


"Nggak papa si, Pak." jawabku sambil tersenyum.


"Mbak Dira, tadi menjelang subuh Narendra baru saja pulang. Penampilannya kacau sekali. Saat ibunya tanya ada apa dan bagaimana kelanjutan dari hasil nguntitnya itu, eh.. Dianya nangis tanpa suara gitu. Kan kami jadi nya panik. Itu anak kok enggak malu sama umur. Dan ternyata setelah di bujuk sama ibu, Narendra cerita semua."


Aku masih duduk termangu mendengar semua cerita yang silih bergantian di ucapkan oleh kedua orang tua Narendra.


"Soal masa lalu Narendra, maaf ya Mbak Dira. Sepertinya ini bapak belum siap cerita sekarang."


Aku mengangguk. Iyalah, Pak. Lagi pula sekarang otak saya kok agak blenk ya. Berasa lebih ringan presentasi di hadapan seribu audiens di bandingkan menghadapi kondisi seperti ini.


"Dari awal Narendra sudah cerita sama kita, Mbak. Awalnya masih enggan nyebut nama. Mungkin takut kalau bapaknya gimana gimana, cerita kalau ketemu sama anak perempuan yang bikin dia merasa bahwa putrinya yang sudah meninggal jadi hidup kembali. Narendra juga cerita kalau dia sekarang jadi suka stalking tentang anak tersebut. Lama kelamaan dia cerita tentang kamu, Mbak Dira. Saya kan jadi keypoh. Pengen tahu betul dan ternyata anak perempuan itu Almeera."


Ibu Narendra memandang wajahku dengan sorot mantan yang sulit sekali aku artikan. Sedangkan diriku sendiri, sedang memantapkan hati untuk tetap kuat jika perempuan berusia senja ini mengungkit tentang statusku.


"Kami tentu saja setuju dengan semua apa yang di lakukan Narendra, asalkan tetap menghormati mbak Dira sebagi perempuan dan maaf, mbak Dira. Status mbak Dira ini bukan suatu hal yang mudah."


Kaaaaan, benar. Pak Basuki membahas tentang ini.


"Maksudnya bapak itu, tidak mudah untuk mbak Ludira. Jangan kaget gitu, Cah Ayu. Aduhh... Bapak itu diam ah, biar ibu aja yang ngomong."


Aku bengong.

__ADS_1


"Gemes bu, masak ini profesor yang terkenal genius sekali eeeh sekarang kok kaya orang linglung. Mudah ketakutan gitu. Kan bapak jadi geregetan, Bu."


Tolong, ini pasangan lanjut usia meskipun saling berbeda sedari tadi kenapa tetap terlihat romantis. Aduuh, Narendra aja bikin aku senewen, sekarang sisi lain orang tuanya yang menurut aku berbeda dari biasanya.


Ini yang satu Rektor universitas swasta yang kredibilitas nya top markotop. Pemimpin yayasan yang menaungi banyak sekali bidang. Yang satunya tokoh perempuan yang kiprahnya juga tidak bisa di pandang sepele.


"Semua juga punya sisi buruk, Pak. Bapak lama lama bikin ibu kesal. Bapak kalau ngomong sama perempuan itu di pelembut sedikit. Emang siapa sih yang mau jadi janda. Emang siapa yang mau di tinggalnya lagi sayang sayangnya? Ngomong sama orang patah hati kok gitu."


Baiklah,


Baiklah, Bu. Sudah kembali mengingatkan saya tentang kondisi saya yang sepertinya emang hancur banget.


"Maaf ya Mbak Dira. Ini jadi bertele-tele seperti ini." Sahut Pak Basuki pelan,


Aku tersenyum ramah, aku mengakui bahwa hatiku membaik karena kunjungan mereka berdua. Aku merasa tidak lagi kesepian meraba sekaligus gelisah.


"Narendra tadi memaksakan diri untuk beraktivitas, Mbak. Tapi ibu yakin sekali, kalau Narendra tidak akan pernah bisa fokus. Bentar bentar lihat HP nya, bentar bentar jalan mondar mandir tidak jelas. Bentar bentar ngusap muka kaya kita ini bikin adonan donat."


"Dan berhubung mbak Dira di sini sebatang kara, tidak ada kerabat dekat. Mohon maaf sekali mbak, bukan maksud bapak dan ibu meragukan kehebatan mbak Dira dalam mengasuh Almeera. Hanya saja, kami menawarkan diri untuk membantu mbak Dira. Tolong masukkan kami dalam lingkaran keluarga mbak Dira, jangan anggap kami sebagai orang asing."


Suara ibunya Narendra bergetar, mataku secara tidak sengaja menangkap pemandangan Pak Basuki yang menggenggam tangan Istrinya erat. Seakan menguatkan, padahal apa yang perlu di kuatkan.


"Jadikan kami prioritas mbak Dira. Jadi kalau ada apa apa, tolong kami orang pertama yang mbak Dira cari. Ini bukan semata mata karena Narendra, ini inisiatif kami sendiri mbak. Bukan maksud kami mencoba melindungi Narendra dari mbak Dira lo ya, jangan salah paham. Jujur kami kenal mbak Dira sudah lama. Kami paham mbak Dira ini karakternya bagaimana. Dan karena itu kami rasa mbak Dira justru terganggu karena sikap Narendra yang bawaannya pengen nempel sama kalian. Bukan soal Narendra nya yang kami khawatirkan, tapi soal mbak Dira ini. Kami takut mbak Dira nanti pindah domisili hanya karena enggak nyaman sama sikap anak kami."


Aku menutup mulut karena tertawa tidak percaya dengan semua kalimat ini. Ya, memang begitu. Aku sempat memikirkan akan pindah tempat tinggal jika terasa begitu rumit. Tapi bagaimana bisa kedua orang tua yang sudah senja ini membaca apa yang aku pikirkan. Entahlah,


"Mbak Ludira menang ahlinya jika di bidang akademik, hanya saja kepolosan mbak Dira ini yang kadang justru mempersulit keadaan. Mbak Dira terlalu menjaga semua agar baik baik saja. Sampai bisa bisa seperti guci yang terlalu di jaga eeh kena senggol sedikit pecah. Kan bahaya. Kami sayang sama mbak Dira."


Penjelasan ibu Basuki semakin membuat aku melongo. Sebaik itu mereka kepadaku? Aku? Hanya Ludira.


"Jadi kami menawarkan kesepakatan--"

__ADS_1


Suara pak Basuki terpotong oleh cubitan istrinya.


"Maaf mbak Dira, maksudnya bapak begini. Bapak punya saran, kalau seandainya mbak Ludira takut banyak fitnah. Bagaikan jika Narendra ingin bertemu dengan kalian, ketemunya di rumah kami saja. Jadi mbak Ludira juga sekalian menginap dan lain lain, anggap saja di rumah orang tua sendiri. Kemudian kalau jaga di rumah sakit begini, bisa bergantian dengan Narendra. Bagaimana mbak?"


"Begini, Bu.. Bapak. Saya sangat berterimakasih dengan semua niat baik yang bapak sama ibu berikan kepada kami. Hanya saja memang banyak hal yang membuat saya berusaha sangat keras untuk jaga jarak dengan putra bungsu Bapak Ibu. Jujur saja, Pak.. Bu. Semenjak kami nyaman dengan kehadiran Narendra, saya jadi suka berkhayal jika Narendra adalah Mas Dodi. Saya merasa bahwa saya secara tidak langsung memanfaatkan Narendra."


Sikap ramah mereka berdua membuatku mencoba untuk mengungkapkan apa yang membuatku merasa takut.


"Pokoknya mbak Dira, apapun yang terjadi kami akan selalu membela mbak Dira."


Ah, Bu Basuki. Kenapa bikin baper orang kesepian macam saya.


"Kami sangat khawatir dengan Almeera, mbak. Terima kasih sudah memberi izin kami berkunjung."


"Maaf, Pak Bu. Saya jadi merepotkan. InsyaAllah akan saya pertimbangkan semua niat baik bapak dan ibu. Lagi pula kenyataannya saya ini memang sebatang kara. Dan mungkin Almeera juga akan senang jika ada figure kakek dan nenek. Terima kasih sekali, Bu.. Bapak."


"Ibu dan bapak yang berterima kasih, Mbak. Banyak hal yang belum bisa ibu dan bapak sampaikan. Yang jelas, kami ingin sekali menjadi keluarga menjadi orang terdekat mbak Ludira."


Aku mengangguk, membalas pelukan hangat Ibu Basuki Bagaskara ini.


"Soal Narendra, mbak jangan bingung atau sungkan. Silahkan mbak tetap mengambil keputusan harus bersikap bagaimana. Jadi kami ya kami, Narendra ya Narendra."


Aku tersenyum malu,


"Jadi kalau Narendra tidak boleh bertemu dengan kami berdua, bapak sama ibu tidak keberatan?" tanyaku penasaran.


Bapaknya Narendra justru tertawa pelan, begitu juga istrinya yang menutup tangannya di mulut untuk menahan tawa.


Ah, kebahagian kecil di antara kesedihan yang menggerogoti jiwa. Terima kasih, Tuhan.


"Kami tidak masalah dong, asal kami masih tetap bisa lebih akrab dengan mbak Dira dan juga Almeera. Syukur syukur kalau nanti saat Almeera siuman, bisa langsung manggil kami berdua kakek nenek atau uti kakung atau opa oma, pokoknya panggilan semacam itu, mbak."

__ADS_1


Aku tertawa malu, "Terima kasih, Pak Bu."


__ADS_2