
Setelah sholat subuh bersama Silvia, aku kembali masuk kedalam kamar tidurku. Mulutku membentuk senyuman begitu membuka pintu kamar tidur dan kedua mataku melihat di atas tempat tidur, Aksara masih terlelap dengan selimut yang rapi. Aku berjalan ke arah Aksara, mengecup kening Aksara sebelum tanganku meraih HP. Saat aku membuka layar, aku kaget karena ada lima panggilan tidak terjawab dan dua puluh pesan WhatsApp dari Narendra.
Aku terkejut bukan main, sebelum membaca pesan pesan yang di atas, video yang di kirimkan Narendra membuat jantungku berdetak sangat cepat karena terkejut sekaligus amarah yang menggebu. Speechless. Bahkan mataku lumayan tidak berkedip. Setelah memutar video tersebut, baru aku membaca dari atas.
[Assalamualaykum, Ludira? Syailendra beneran nginap di sana?]
[Ludira? Kenapa kasih izin?]
[Kecewa.]
[Yang membuatku jengkel dengan segala situasi ini adalah kenyataan bahwa aku tidak merasa dipermalukan, diganggu, atau dibodohi. Yang aku rasakan adalah dikhianati.]
[Sejak kapan?]
Tanganku mulai bergetar, rasa bersalah mulai menyerang ku tanpa ampun. Syailendra? Kenapa dia buat drama murahan seperti ini?
"Mbak?" panggil seseorang setelah pintu kamarku di ketuk. Silvia, itu Silvia. "Mbaak, buka mbaak!" sahut perempuan itu dengan suara yang mendesak.
Ada apa?
Aku meletakkan hp di atas meja dan berjalan menuju pintu. Begitu pintu terbuka, wajah Silvia yang panik membuatku terkejut sekaligus bingung. "Ada apa?" tanyaku.
Braak!!
Terdengar suara pintu yang di tutup dengan cara di banting kasar. Aku menoleh ke arah Silvia yang menggigit bibirnya sambil menoleh ke belakang.
"Mas Narendra kesini, barusan wajahnya marah banget."
Ah, pasti gara-gara video yang Syailendra kirimkan. Yang juga di kirimkan Narendra kepadaku hingga membuatku terkejut. Benci banget sama drama kaya begini. Orang kok nggak suka hidup tenang, bikin masalah mulu.
"Tolong Aksara di bawa ke hotel terdekat deh, Sil. Atau kemana deh. Yang jelas jangan di sini dulu. Nanti kalau sekiranya sudah aman, baru aku hubungin kamu. Maaf ya merepotkan." sahut ku sambil meringis.
__ADS_1
"Harus gitu ya, Mbak?"
Aku mengangguk, "Buat jaga jaga aja kalau mereka berdua main tinju di sini. Aku nggak mau anak anak lihat secara live atau hanya sekedar mendengar keributan semacam ini." jelas ku pelan.
"Oke, Mbak. Aku panggil bantuan nggak?"
"Nggak usah." Sahut ku sambil menggeleng. Dan melangkah meninggalkan Silvia yang masih berdiri di depan pintu kamarku.
Mereka berdua pasti berkelahi lagi. Sesaat setelah sampai di depan pintu kamar Syailendra, aku menarik nafas panjang dan juga menghembuskan nya secara perlahan. Menyiapkan diri untuk menghadapi keributan di balik pintu ini.
Ternyata benar, adegan Narendra yang sedang menduduki perut Syailendra sambil memukul wajahnya itu langsung terlihat begitu aku membuka pintu kamar. Aku melangkah masuk, menutup pintu kembali dengan pelan. Dan bersender di pintu yang sudah tertutup. Tangan kananku memegang perut dan tangan kiri ku mengusap bagian leherku yang sebetulnya tidak kaku.
Syailendra rupanya menyadari kehadiranku, wajahnya kaget tapi langsung kembali tenang dan menatap jahil ke arahku. Tangannya yang bebas melambai kepadaku. Aku menaikan dagu, memberikan kode untuk membalas pukulan Narendra.
Langsung saja posisi mereka berubah, Narendra yang semula membelakangi ku, kini sudah berada di bawah Syailendra. Bedanya, Syailendra mendorong tubuh Narendra sampai pria itu jatuh ke lantai. Bohong jika aku tidak cemas, tidak khawatir dengan Narendra.
"Stop!" teriakku. Menghentikan kegiatan saling pukul di depanku ini. Syailendra menoleh ke arahku dan duduk di atas kasur, sedangkan Narendra menoleh kaget sekaligus memandang tidak suka ke arahku. Pria itu berdiri perlahan dari lantai. Menatap sengit ke arah Syailendra yang tampaknya masa bodoh.
"Di video itu, Syailendra berbaring di samping Aksara, Narendra! Padahal, kamu tahu? Aku terbangun dengan tangan Syailendra yang berada di perutku. Kami tidur dengan posisi sendok, saling berpelukan. Aku meringkuk seperti janin di pelukannya." sahutku dengan nada tinggi. Video yang ku lihat, Syailendra mengambil video dengan posisi berada di samping Aksara. Kami memang terlihat seperti pasangan yang sempurna.
"Katamu tadi? Aku nggak menyadari ada hati yang harus aku jaga? Hah! Kamu kemana saja, Narendra! Kamu, Kamu! Ren! Yang menghindar secara halus." sentak ku lagi. "Kamu nggak sadar kan? Atau memang sengaja? Kamu berubah, kamu berbeda! Masa bodoh dengan Shofia ataupun kenangan kalian! Aku nggak perduli, Ren! Tapi kamu, ketidak kemauan kamu untuk melepas kenangan masa lalu yang kalian miliki, itu! Itu yang membuatku terluka! Itu yang membuatku merasa bodoh sudah jatuh cinta sendirian!"
Aku menatap tajam ke arah Narendra yang berdiri dengan wajah memar sana sini. "Ngapain Ren? Kamu harus datang kesini dengan amarah yang menggebu-gebu itu? Cemburu? Katakan, Ren! Jangan hanya membuatku terbang terlalu tinggi namun pada akhirnya kamu tarik ke bawah lagi." suaraku tersendat, nyeri di ulu hati kini merambat ke atas, memenuhi ujung tenggorokan ku. Aku benci dengan diamnya itu. Meskipun kini Narendra memandang satu ke arahku.
"Lucu ketika tahu kamu dapat selalu mencintai orang yang telah melukai perasaanmu, sekalipun hati itu sudah hancur berkeping-keping. Iya kan, Ren? Sebenci apapun, semuak apapun kamu sama Shofia, kamu nggak mau melepas perasaan kamu ke dia. Jadi genggaman tangan kita, hanya tangan ku saja yang menggenggam erat. Tidak ada balasan darimu. Aku nggak mau lebih bodoh lagi, Ren!" sahutku, tanganku menahan... Memberi peringatan bahwa pria itu tak boleh mendekat ke arahku.
"Harusnya, Reeen. Jika benar kamu menyayangiku, meskipun kamu tahu betul aku akan bersedia menunggumu, kamu tidak akan pernah membuatku menunggu." bisik ku pelan. Dengan suara rendah. Aku benci kondisi penuh drama seperti ini. Air mataku mulai mengumpul di kelopak mata. Sebelum akhirnya aku menangis di depan mereka, aku memilih untuk keluar dari kamar itu, bahkan melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan selama ini. Membanting pintu dengan kasar. Aku merasa bodoh sekali.
Sakit memang sakit rasanya, kecewa memang kecewa yang kudapatkan, tetapi akulah yang memilih untuk mencintaimu. Aku tahu cintamu, cintamu hanya untuk dirinya, dirinya yang telah membuatmu kecewa, tetapi kau sadar akan keberadaan ku di sini yang selalu mencintaimu, jika benar kamu ingin berjuang bersama untuk keluar dari belenggu masa lalu, harusnya tidak seperti ini, Narendra. Maaf, Ren. Ternyata aku tidak sekuat itu. Terus bertahan dan mengharap.
💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔
__ADS_1
Tok... Tok... Tok.
"Ludiraa."
Aku menangis di kamarku sendiri, menumpahkan semua kegalauan yang memang sudah hadir sebelum Syailendra memprovokasi Narendra, hingga pria itu datang dengan kemarahan yang tumpah ruah.
"Hay, maafkan aku." sahut Narendra di balik pintu. Membuatku menoleh ke arah pintu kamar, entah kenapa hatiku merasa geli. Bahkan aku tertawa kecil di sela sela mengusap air mataku yang jatuh. Ternyata mereka sangat berbeda, jika Syailendra. Mungkin dia akan menerobos masuk ke dalam kamar tidurku tidak memperdulikan aku memperbolehkan ataupun tidak.
"Keluarlah, kita bisa membicarakan ini semua dengan baik baik. Maafkan aku yang menarik ulur perasaan kamu. Maafkan aku yang tidak tegas dalam menghadapi perasaanku sendiri. Ra? tolong beri aku kesempatan lagi. Kita bahas ini baik baik." Sahut Narendra dengan suara yang memilukan. Aku yang memang sudah berdiri dan berjalan ke arah pintu, kini berdiri dan menyandarkan keningku di pintu, lemas. Semua ini penuh drama kekanak-kanakan.
"Dengar, Ra. Aku cemburu. Aku akui, aku cemburu. Aku bodoh, karena hanya mengakui bahwa aku cemburu tapi tidak memberikan kejelasan apapun kepadamu. Aku meminta kamu untuk berdiri di sampingku, tapi aku sendiri tidak bisa tegas dengan kenangan masa lalu yang kembali menghantuiku lebih dalam lagi, sampai-sampai aku tidak lagi fokus dengan perasan ku padamu."
Air mataku kembali meleleh saat pria itu berbicara. Ingatanku samar samar kembali ke momen dimana dia, Narendra. Mengatakan dengan jelas bahwa dia tidak bisa bersama dengan perempuan mana pun selain Shofia karena dia tidak bisa menghilangkan Shofia dari hatinya. Aku yang bodoh di sini, harusnya saat itu aku bisa menjadikan kalimat yang d ucapkan Narendra sebagai tameng perasaanku.
"Ludira, please ... Tolong, jangan tinggalkan aku." Narendra memohon dengan suara yang begitu memilukan. Sekilas telinga ku mendengar ada isak tangis. Perlahan, tanganku memegang daun pintu. Aku meyakinkan diriku sendiri. Aku harus bersikap dewasa, menyelesaikan kegalauan ini dengan kejelasan.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." bisik Narendra sambil memeluk erat tubuhku. Begitu pintu kamar terbuka, Narendra langsung menubruk tubuhku dengan pelukan erat. "Aku terlalu takut. Aku takut melangkah, aku takut membuat keputusan. Aku terlalu sibuk dengan kebimbangan hatiku sendiri sampai-sampai tidak menyadari kita semakin menjauh." Narendra memegang kepalaku. Terus berbicara dengan nada rendah yang entah kenapa membuat hatiku pedih, nyeri.
Aku menyadari hidup selalu memberikan kita sebuah pilihan. Dan terkadang pilihan itu mengerucut pada dua pilihan yang sulit. Pada dua pilihan yang berlawanan itu, tentu saja masing-masing pilihan memiliki resikonya sendiri-sendiri. Semakin sulit kita memutuskan sesuatu, maka semakin besar pula keraguan yang ada dalam diri kita. Keraguan muncul bukanlah tanpa alasan, mengingat apa yang akan kita pilih nanti, mungkin saja akan menentukan jalan hidup kita kedepannya. Sebuah kalimat bijak mengatakan ‘Ada keyakinan disitu pula ada keraguan.’ Kita memang tak bisa melawan kebimbangan, namun pahamilah bahwa ragu-ragu menandakan kehati-hatian. Kita lebih berhati-hati memutuskan sesuatu agar nanti tak terjebak dalam lembah penyesalan.
"Saat melihat apa yang di kirim oleh Syailendra, Aku merasa, aku kehilanganmu, aku menyadari bahwa hanya denganmu, aku merasa hidup. Maaf atas rasa sakit dan dendam, aku mencintaimu, Ludira." bisik Narendra. Aku menangis dalam diam, tubuhku tidak membalas pelukannya. Tanganku bahkan gamang memeluk tubuh yang kini untuk pertama kali memeluk tubuhku sambil menangis tersedu-sedu.
"Beri aku kesempatan untuk menunjukkan kepadamu bahwa aku bisa menjadi sesuatu yang berharga bagimu, izinkan aku menunjukkan kepadamu, Ra. Tolong." sahut Narendra sambil menatap wajahku, sorot matanya berusaha meyakinkan hatiku.
"Jika aku membuatmu merasa bad mood - Maaf, aku hanya belajar bagaimana menjadi pacar yang baik tetapi aku akan melakukan yang terbaik untuk menjadi layak untukmu, Ra. Tolong, jangan diamkan aku seperti ini."
Aku masih diam, menatap mata pria itu meskipun air mataku menetes tanpa henti. Ren, ternyata yang membuatku merasa begitu hancur bukan karena kamu sibuk dengan masa lalu milikmu, tapi yang paling besar adalah aku baru menyadari bahwa cintaku kepada almarhum suamiku tidak lagi sebesar dulu, dia memang masih selalu di hatiku ini. Tapi, perasaan cinta yang nyata ini, begitu besar untuk mu. Dan mirisnya, kamu mengecilkan perasaanku secara tidak langsung dengan terus menerus mempertahankan perasaan benci yang kamu miliki kepada Shofia. Narendra mungkin terbiasa tanpa kehadiran Shofia, tapi hatinya tidak pernah bisa tanpa memori tentang Shofia.
Ren?
Jika benar kamu mau berdamai dengan kenangan tentang kamu dan Shofia, harusnya kamu berusaha untuk melepas semua dendam dan amarah yang ada di hatimu. Aku takut, Ren. Takut jika semua kebencian di hatimu untuk Shofia, sebenarnya adalah cinta yang begitu besar yang sedang tersakiti. Jika rasa sakit itu sembuh, jika luka itu hilang. Apakah kamu akan tetap mencintaiku, Ren? Apakah cinta itu akan sepenuhnya menjadi milikku?
__ADS_1