LUDIRA

LUDIRA
Lima Puluh Tiga


__ADS_3

"Adek mau tidur lagi?" sahutku pelan. "Mau ikut sholaaaat." ujar Aksara sambil mengeratkan tangannya di leherku. Aku menoleh ke arah jam, ternyata sudah jam setengah tiga pagi.


"Dia udah terbiasa bangun jam segini, aku sempat kerepotan pas dia lagi tidur di rumah sana." celetuk Syailendra begitu saja, padahal aku sudah tidak lagi menghiraukan keberadaan pria itu setelah dia bersikukuh tetap di tempat.


Aku menoleh ke arah Syailendra yang kini duduk sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Sedangkan tubuhnya di tutupi bedcover. Untuk saat ini, aku mengesampingkan perasaan marah atas tindakannya ini, berada di kamarku, tidur bersamaku, memeluk tubuhku dari belakang sangat erat. Pantas saja aku mimpinya aneh aneh.


Syok dan keterkejutan Aksara bagiku yang utama saat ini, anak ini sudah terkejut dengan teriakan aku saat menendang Papanya hingga jatuh ke lantai, eeeh... Papanya ngomong sembarangan.


"Deeek, semua orang itu pasti akan meninggalkan adek sendirian. Papa nggak akan selamanya bisa berada di samping adek. Makanya adek sebagai laki-laki harus kuat. Harus mandiri." ceramah Syailendra lembut tapi tegas.


Kalau nggak ingat ini anak yang lagi di pangkuan ku ini masih berusia lima tahun, aku tentu setuju dan nggak masalah dengan apa yang di katakan Syailendra itu. Cuman, ini tuh nggak sesuai porsi aja. Masih kecil gini kok udah di gituin. Apa nggak ada kalimat yang lebih mudah di cerna. Aksara menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku, sedangkan aku menatap Papanya dengan kesal.


"Mataku nggak bengkak, biasanya bengkak loh kalau habis nangis." ujar ku sambil bergerak ke belakang, supaya bisa bersender.


"Aku kompres kemarin. Kamu tidur, aku kompres."


"Pindah kamar, Mas!" titah ku.Sayangnya Syailendra tak menggubris lagi.


"Nggak ngapa ngapain juga. Udah nyaman gini."


Kalau sama Syailendra tuh suka begini, kalah. Nggak bisa menang. Selalu saja aku yang ngalah.


"Yang namanya bukan muhrim tuh nggak boleh berduaan di kamar, Bos!"


"La terus? Aksara ini setannya gitu?"


Hahahaha, aku tertawa. Syailendra memang terlalu pinter sekali. Pantas jika dia memiliki karir yang menakjubkan. Sejenak, setelah tawa berhenti keluar dari mulutku, hatiku terasa nyeri. Dadaku terasa sesak.


"Tolong ambilin hpnya aku, Mas!" Pintaku yang langsung di turuti oleh Syailendra. Tidak lama kemudian hp yang aku maksud sudah di tanganku.


"Kenapa? Kenapa kecewa begitu?" tanya Syailendra pelan. Seperti tidak ingin menganggu Aksara yang sudah kembali tidur dengan lelapnya di pangkuanku. "Narendra nggak kasih kabar?" Syailendra memajukan badannya ke arahku. Aku menoleh dan menjawab pertanyaan itu dengan celengan kepala. Manyun, bibirku tentu saja manyun. Rasa nyeri yang begitu kuat memaksaku menggigit bibir bawah. "Jangan nangis, kalau itu nggak jamin mood kamu jadi bagus!" saran Syailendra sambil menyandarkan punggungnya lagi.


Aku mengangguk. Berat, berat sekali. "Dulu dia nggak pernah lupa kasih kabar." Bibirku pelan. Serak. Serak karena menahan perih yang memaksa masuk kedalam dadaku. Narendra selalu ada. Dia dengan kedewasaan dan keahliannya yang tidak pernah lelah berusaha membuat ku tertawa. "Dulu, kamu sok nggak butuh." cibir Syailendra dengan wajah tenangnya. Aku menoleh, ingin marah. Tapi yang di katakan Syailendra barusan terasa benar. "Kadang, kita menginginkan apa yang tidak kita miliki." ujar Syailendra sambil menoleh ke arahku. Pandangan manik matanya begitu teduh. Senyumnya menenangkan. "Aku sudah berkali-kali kasih peringatan kalau Narendra akan selalu menjadi milik Shofia. Terlebih, ketidak dewasaan Narendra saat ini, bikin rasa tertarik yang kamu miliki itu mulai pudar." Syailendra tersenyum, tidak lagi menoleh ke arahku.


"Sok tahu. Nggak gitu!"

__ADS_1


"Terus gimana kalau nggak gitu?"


"Kayanya nggak memudar, Mas. Tapi lebih dalam aja deh."


"Mau nangis? Suaranya udah getar gitu. Adek di rebahin aja. Sana kalau mau sholat malem. Biar tenang."


Aku mengangguk, mengikuti saran dari Syailendra. Nyaman, rasa nyaman dengan kehadiran Syailendra memang sudah menyebar sejak lama. Bersama dia, aku jadi merasa bisa bersandar. Bisa merengek manja layaknya adik perempuan kepada kakaknya, walaupun tentu saja tidak akan aku lakukan. Dia lebih matang dari pada usianya. Jiwa kepemimpinan Syailendra dan Narendra itu berbeda, jika Narendra auranya berwibawa tapi dingin. Maka Syailendra supel, hangat dan seenaknya sendiri.


"Nggak perlu memaksa Tuhan dengan terus nyebut Nama Narendra di sepertiga malam ini. Nggak perlu nyalip jodoh orang. Udah, minta yang terbaik dari yang terbaik aja. Minta hati kamu buat di lindungi sama Tuhan, biar nggak terlalu hancur kalau nggak sesuai harapan." sahut Syailendra dengan suara beratnya. Aku yang sedang menggenggam daun pintu kamar mandi jadi menoleh. "Paham kan?" lanjut pria itu tanpa pandangan mencela. Suaranya memang terdengar bengis, namun saat ku cermati wajahnya, ada kasih sayang di sana.


"Pindah kamar tamu deh, Bang."


"Ngapain? Udah, nggak usah ribut. Lagian kita nggak kenapa kenapa!"


"Ya udah kalau nggak mau pindah!"


Aku melepaskan tanganku dari daun pintu, bergegas meninggalkan Syailendra. Aku pindah ke kamar Almeera.


****


"Nangis lagi?" Ujar Syailendra yang entah sejak kapan berdiri di pintu. Bersandar sambil bersedekap. Aku mengabaikan suara Syailendra, perasaan sedih ini membuatku sedikit malu. "Nggak usah menangisi kepergian papanya Almeera, aku udah bilang berkali-kali kalau itu hanya akan membebani almarhum." Syailendra berjalan pelan ke arahku, duduk di sampingku. Aku masih diam, sesekali menunduk dan mengusap air mataku.


"Aku merasa bersalah. Tidak seharusnya aku mencintai pria lain semudah itu."


"Kata siapa? Kata siapa kamu mencintai Narendra begitu mudah? Kamu udah sangat bermartabat kok selama ini."


Aku tertawa kecil, menoleh ke arah Syailendra yang menatapku lembut. "Bermartabat?kalau aku perempuan yang bermartabat, harusnya nggak ngizinin kamu di sini bang. Harusnya aku bisa tegas sama kamu." Aku memalingkan muka. Malu pada diriku sendiri. Galau di usia kepala tiga itu kok sepertinya lucu sekali. Patah hati juga.


"Dira,"


Aku menoleh kembali setelah melepaskan telapak tangan dari wajahku. "Dengar baik baik, kamu ini janda yang paling terhormat di seantero negeri." bisik Syailendra dengan wajah jenaka. Membuatku tertawa malu. Pemilihan katanya juga terlalu berbau humor.


"Nah, lebih bagus ketawa gitu dari pada nangis. Nggak capek apa dari kemarin nangis mulu."


"Dih, kamu."

__ADS_1


"Ra ... Aku tahu betul latar belakang hidup kamu. Kamu sebatang kara, nggak punya keluarga, kamu haus kasih sayang yang tulus. Papanya Almeera berhasil memberikan segalanya untukmu, bukan hanya sekedar apa yang kamu butuhkan tapi juga apa yang kamu inginkan."


"Aku kenal kamu, bawaannya pengen mengumpat terus. Bahagia bangeet ya, bisa bikin aku ketawa terus detik berikutnya nangis lagi. Sial banget dih kenal sama kamu, Mas!"


Aku kembali menangis, sedih banget rasanya. "Eeeh, aku kan bicara apa adanya. Kamu kok ternyata cengeng banget. Padahal dulu kayanya sok cool, sok kuat." cibir Syailendra sambil mendekat ke arahku, mengusap wajahku yang kembali basah oleh air mata. "Kamu kalau lagi sesenggukan kaya gini jadi hilang wibawanya." ucap Syailendra sambil tersenyum. Membuatku memukul pipinya. Pelan.


"Almarhum memanjakan sekaligus membuatmu begitu kuat. Kamu bukan perempuan serakah yang tidak mampu merasa cukup dengan apa yang ia miliki. Kamu tahu caranya meraih kebahagiaan itu bagaimana. Hidupmu luar biasa. Jika di dunia ini ada yang bertanya contoh rumah tangga yang tidak pernah ada riak gelombang, maka aku akan jawab dengan tegas bahwa rumah tangga kamu dan Almarhum adalah rumah tangga yang sempurna." Syailendra terus memegang wajahku. Matanya terus meyakinkan aku. Suaranya berusaha menenangkan diriku. Air mataku semakin deras membasahi mukena yang aku pakai karena aku menundukkan kepala. Terisak menyedihkan.


"Bahkan saat semua panik karena kehilangan pemimpin, kamu melangkah dengan gagah berani, mengatur segala sesuatu supaya tetap berjalan dengan semestinya. Penilaian kamu atas orang orang yang kini mengurus semua hasil jerih payah Almarhum memang luar biasa. Dengan kondisi hati remuk hancur kehilangan, kesedihan yang seperti tiada akhir, aku tetap mampu membuat keputusan yang luar biasa. Nggak semua perempuan memiliki keahlian seperti ini."


Aku memejamkan mata, teringat saat itu perusahaan yang di rintis oleh mas Dodi dengan jerih payah, terombang-ambing karena kehilangan pemimpinnya secara mendadak. Tanpa peringatan. Memang seperti itu kan karakter maut? Ia datang tanpa permisi. Begitu juga cinta. Datang tanpa perduli yang di datangi itu dalam kondisi siap atau tidak. Aku bersyukur, suamiku benar-benar dalam kondisi siap saat mau datang. Aku memilih orang-orang yang menurut insting ku memiliki pengabdian tanpa cacat. Layak untuk di berikan kepercayaan penuh tanpa aku merasa khawatir di kemudian hari akan mengkhianati ku. Karakter orang-orang yang tidak silau dengan gemerlapnya harta benda. Karakter orang-orang yang menjunjung tinggi integritas. Berlatar belakang baik, kelakukan baik.


"Mana ada perempuan yang gerak cepat begitu tahu perusahaan mulai berbisik bisik. Tiga hari, baru tiga hari suami meninggal dan sudah mengumpulkan seluruh orang orang penting untuk rapat di rumah. Karena mendapat kabar ada beberapa orang yang mulai meributkan jabatan Komisaris. Dan parahnya lagi, kamu bukan perempuan yang berkarir di perusahaan itu. Hanya bermodal keahlian membaca karakter seseorang." Ujar Syailendra sambil memeluk diriku, suara yang kembali mencibir itu membuatku memukul dada Syailendra. Aku saat itu hanya berharap bisa tetap memberikan pengabdian ku sebagai seorang istri. Melindungi semua milik suamiku.


"Kamu doyan uang juga ya? Makanya langsung gerak cepat nyelamatin perusahaan dari orang-orang yang punya niat kotor." Sahut Syailendra sambil tertawa. Aku langsung melepaskan diri dari Syailendra. "Eeeh, bercanda. Aku tahu, kamu hanya perduli dengan status mu sebagai permaisuri Dodi. Tugas permaisuri, menjadi wakil suami dalam Keluarga, Istri harus mengelola, menjaga dan bertanggung jawab terhadap kehormatan, harta dan segala urusan rumah tangga, ketika suami tidak sedang di rumah. Istri harus menempatkan diri sebagai wakil suami selaku pemimpin rumah tangga. Isi otak kepala kamu saat itu mungkin seperti kalimat itu." Aku tetap menundukkan kepala. Iya, semua yang dikatakan Syailendra memang benar.


"Kamu baik, makanya banyak malaikat berwujud manusia mau membantu kamu. Sampai detik ini semua berjalan dengan semestinya. Kamu hanya berada di belakang layar. Semua tunduk dalam pengabdian kepadamu. Hingga detik ini, tidak ada sedikit pun yang mengkhianati kamu."


"Tapi aku kehilangan sosok Almeera, aku rasa semua baik baik saja. Berjalan dengan sempurna, penuh ketenangan. Nyatanya, putriku tidak bisa menikmati kehidupan secara pada umumnya anak anak. Kita berada dalam gelembung yang aku kasih label hidup bahagia." sahutku dengan nada lemah. Aku tidak sehebat yang diucapkan Syailendra.


"Kehidupan itu seperti dua sisi koin. Kamu beruntung dengan adanya orang yang setianya totalitas, harta benda buat modal hidup di dunia nggak pernah masuk kedalam daftar yang membuatmu pusing. Tapi? Kamu lupa jalan pulang ke arah kebahagiaan. Kamu hilang arah." Timpal Syailendra dengan tatapan yang membuatku kembali menangis. Iya! Aku lupa caranya bahagia hingga Narendra mendobrak paksa kehidupanku, menyelamatkan Almeera dari kehidupan baik baik saja yang penuh kepalsuan.


"Kamu kenapa sih? Bawaannya mau nangis mulu? Insecure gitu."


"Nggak tahu, bawaannya sedih bangeet."


"Lagian belum tentu kan Narendra sama Shofia lagi?"


"Kamu gitu, Mas. Tadi bilang apa sekarang bilang apa!"


"Kenyataannya begitu, tidak bersama belum tentu tidak saling memiliki. Bersama belum tentu saling memiliki."


"Maksudnya?"


Syailendra hanya menoleh ke arahku sambil tersenyum hambar.

__ADS_1


__ADS_2