LUDIRA

LUDIRA
Dua Puluh Satu


__ADS_3

Sebenarnya kita semua mau bercocok tanam, menanam berbagai jenis bibit sayuran sekaligus buah buahan. Namun karena putriku tidak membawa baju ganti karena memang kita berdua tidak ada niat untuk bermalam di sini, jadinya kita justru memanen hasil kebun keluarga Bagaskara.


"Ibu sudah telepon mbak Asih, suruh ke sini sama Dek Aksara." ucap Bu Basuki sambil berjalan ke arah gazebo tempat kami duduk bersama. Lucu, gazebonya itu bukan gazebo ukuran biasa. Ini Gazebo luas yang di bawahnya ada kolam ikan. Jadi ada dua, yang satu gazebo kecil terus nyambung ke gazobo besar yang bawahnya ada kolam. Unik sekaligus Lucu.


"Nanti Adek ketemu sama Dek Aksara, cucunya Eyang juga. Masih kecil, baru lima tahun bulan besok." Lanjut Bu Basuki. Almeera mengangguk sekaligus tersenyum.


"Almeera mau ikut Eyang Kakung mancing di kolam sana ?" tanya Pak Basuki lembut, "Ikut dong. Tadi udah bilang sama Narendra, Yah." jawab Narendra antusias. "Tapi Almeera belum bilang sama Mama." sambung putri ku sambil tertawa kecil, malu malu. "Boleh kok, Boleh ya Ma?" tanya Narendra kepadaku. Kesannya itu kalimat kok enggak enak sekali ya. Risih gini dengarnya. Atau aku yang terlalu berburuk sangka ?


"Gimana mah ? Boleh ?" ulang putriku, mengulangi kalimat Narendra. "Boleh, hati hati ya." jawabku pelan, mencoba mengabaikan perasaanku saat ku lihat kilat harapan di manik gadis kecilku itu.


Aku tidak bisa berkata tidak untuk hal yang memang sangat di harapkan oleh putriku. Aku selama ini tidak pernah mengajak putriku memancing ikan secara langsung, soal bakar bakar ikan itu sudah biasa kami lakukan, jadi ini kali pertama Almeera memancing ikan setelah usianya cukup besar. Dulu, kita pernah memancing bersama mas Dodi dulu sekali. Mungkin karena kenangan ini, aku tidak pernah mengajak Almeera memancing ikan.


Jadi, saat menjawab pertanyaan dan mengiyakan permintaan Almeera, hatiku mendesah pelan. Otakku berfikir tentang kenyataan sebagai usaha mengusir khayalan yang mulai liar. Salahkah diriku ?Berlebihan kah diriku ? Mengkhayal bahkan berharap dan juga berteriak di dalam hatiku ini, bahwa seharusnya... Seharusnya yang mengajak putriku memancing untuk pertama kalinya di usia yang bisa merekam kenangan untuk sepanjang hidupnya adalah Mas Dodi, Ayah putriku. Bukan Narendra atau keluarga nya.


"Rileks sayang." Bisik ibu Basuki sambil menggenggam tangan ku yang tanpa aku sadari mengepal. Aku menoleh ke arah perempuan hebat ini, kali ini aku memutuskan untuk tidak menutupi apa yang ku rasakan. "Ikhlas itu memang tidak semudah ibu jari menulis caption di sosial media. Jadi tenanglah, setidaknya kita sudah berusaha dan terus berusaha tanpa putus asa." lanjut perempuan sepuh ini sambil tersenyum meneduhkan hati. Saat air mataku menetes, mengalir di pipi. Perempuan hebat ini juga bergegas memeluk tubuhku penuh kasih sayang ibu. Ada perlindungan di pelukannya. "Menangis lah, sayang. Jika memang itu bisa sedikit melonggarkan rasa sedih di dalam jiwa."


*****


"Assalamualaikuuuum, Selamaaat siaaaang Eyaaang." suara anak balita membuatku menghentikan aktivitas ku yang sedang melepas tangkai cabai. "Wa'alaikumsalam, Cah Baguuus. Uuuuhh, tambah gembul saja inii yaaa." jawab Narendra sambil memeluk balita itu. Mencium pipinya kemudian mengangkat tubuh menggemaskan itu ke gendongannya. "Bapakable banget kan itu,hahaha." bisik pak Basuki sambil tertawa pelan.


Hahaha, aku ikut tertawa. Bukan soal Narendra yang memang sudah pantas jadi Ayah, tapi kalimat istilah yang di gunakan oleh Pak Basuki yang membuat aku tertawa. "Saya tidak mengira bapak pakai istilah itu." sahutku sambil melepas plastik tangan. "Hahahaha." beliau menimpali dengan suara tawa.

__ADS_1


"Ayo, Pakdhe kenalkan sama putrinya Pakdhe." Ajak Narendra.


Putrinya ? Aduh, Narendra!! Mau negur tapi jaraknya cukup jauh. Dia dan putriku berdiri di luar Gazebo sedangkan aku berada di Gazebo.


"Hallo, Mbaaak. Saya Aksara. Aksara putranya Bapak Syailendra."


Suara ceria anak balita itu membuatku tersenyum, wajah cerianya membuatku tertarik untuk turut mendekati Aksara.


"Hallo juga, Mbak manggilnya apa ini?" tanya putriku sambil berjongkok. Mensejajarkan pandangan matanya dengan anak Aksara. "Adek aja ya, soalnya Aksara bosen di panggil Mas. Kan Aksara juga pengen punya Kakak." jawab Aksara lincah.


"Baiklah, Adek Aksara yaa."


Aku tersenyum, "Hallo sayang, Cah bagus. Kenalin juga ya, ini mamanya Kak Al. Tente Ludira."


"Hallo tante. Senang bertemu dengan tante." ucapnya sambil mengulurkan tangan padaku, minta salim cium tangan.


Hahaha, aku tertawa kecil. Bikin gemes deh ini anak, imut ganteng juga sopan. "Gemes kan, Mbak. Nggak pingin?" bisik Narendra yang entah sejak kapan berada di dekatku. Senyum ku yang mengembang jadi hilang begitu saja, raib di bawa pergi oleh celoteh Narendra. "Eh--eh.. maaf, Mbak. Aduh salah lagi."


"Lama lama mulut kamu jadi enggak sopan ya, Saya terganggu sekali. Bisa tolong kita bekerja sama untuk tidak saling menganggu, Narendra? Demi kebaikan Almeera. Susah kalau harus mengorbankan kebahagian Almeera hanya demi tidak berdekatan dengan kamu yang semakin kesini semakin tidak sopan."


Narendra memilih menundukkan kepala, sambil memilih mengusap rambutnya.

__ADS_1


"Ooom, ayooo. Katanya mau panen buah stowberry." Ajak Almeera.


"Oke sayang, sebentar ya. Almeera bisa ajak Dek Aksara nyusul Eyang putri dulu."


"Siaap, Byee mama!"


Aku balas dengan lambaian tangan. Tidak lupa senyum saat melihat Almeera Ku menggandeng tangan mungil Aksara, mereka berdua saling melempar senyum bahagia yang polos.


"Maaf, Deh mbak. Entah kenapa saya suka keceplosan gini sama Mbak. Saya juga heran." sahut Narendra pelan, tanpa memandang ke arahku. Matanya masih sama denganku, memandang ke arah Almeera dan Aksara. "Ini di luar keinginanku, Mbak." lanjut Narendra.


Pria ini sekarang berdiri di sampingku, dengan tangan berada di saku celananya. "Soal tadi malam, aku serius, Mbak."


Aku kaget, soal dia rindu?


"Bukan soal rindu, tapi soal saya mau di jodohkan." Lanjut Narendra. "Mbak ih, alergi sama kata kata kaya gitu ya?"


Aku menoleh ke arah Narendra yang masih menatap ke depan, matanya terus mengawasi gerak gerik putriku dan keponakannya. "Kamu aslinya gini ya? Kekanak kanakan! padahal kamu di kampus kesannya serius gitu."


"Hahaha, enggak tau sih. Kalau sama Mbak Ludira aku bisa santai aja. Lepas kaya nggak ada beban yang mengganjal."


Sebenarnya ini pria punya fisik yang emang enggak bisa di bilang standar, pantas banyak sekali mahasiswi yang meleleh hatinya. Sama seperti ku, hatiku meleleh sampai aku harus terus beristighfar setiap memandang wajah Narendra untuk waktu yang lama atau dalam jarak sedekat ini, alasanku bukan tertarik dengan Narendra. Namun karena memang banyak kesamaan dengan Mas Dodi. Begitulah aku, sejahat sekaligus semenyedihkan ini.

__ADS_1


__ADS_2