LUDIRA

LUDIRA
Tiga Puluh Satu


__ADS_3

Aku menepi dan menghentikan mobil, cerita tentang Narendra membuatku hatiku jadi semakin gelisah.


"Ada apa, Ma? ada yang ketinggalan?" tanya putriku penasaran. "Kita hubungi Eyang dulu ya sebentar, eem.. kalau habis ini kita ke rumah eyang gimana? Jenguk om Narendra?" tanyaku pelan. Namun reaksi Almeera bikin aku gigit bibir.


Wajah putriku tidak lagi penasaran, tapi sudah cemas sekali. "Om Narendra Sakit Ma?" tanya putriku gelisah. Aku mengangguk pelan sambil mengeluarkan Hp aku dari dalam tas. Mencari nama Basuki di dalam kontak dan dalam beberapa saat langsung di angkat oleh sosok perempuan yang sangat penuh kasih sayang itu.


"Assalamu'alaikum, Sayang."


"Waalaikumsalam, Bu. Ini Ludira sama Almeera baru dari rumah Aksara, kami mau mampir ke Rumah ibu rencananya." ucapku pelan sambil menoleh ke arah putriku yang kini menyimak percakapan kami.


"Bagus doong, langsung saja kesini, sayang. Kenapa. kesannya harus izin dulu ini heheehehe."


"Ah, ibu. Ya sudah, Bu. Kami berangkat sekarang. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, hati hati ya sayang."


"iya, Bu."


Aku menutup panggilan itu dan mengembalikan HP ku kembali kedalam tas.


"Enggak sekalian tanya soal om Narendra, Ma?" tanya putriku pelan. Tanganku yang memegang kemudian, menegang. Hingga tanpa sadar aku mencengkeram kemudi mobil dengan keras. Aku dilema, harus berbicara apa adanya kepada putriku atau menyembunyikan fakta ini.


"Sayang, kalau om Narendra tidak sesempurna yang kamu pikirkan, gimana? kecewa?" tanyaku pelan, hati hati. Putriku tersenyum, "Tidak dong mama." jawab putriku tegas sekaligus tanpa ragu.


Aku menggenggam tangan Almeera, kami saling melempar senyum dan pandangan mata putriku seakan menyakinkan ku bahwa semua baik baik saja. Semua akan baik baik saja.


Semoga seperti itu, jika semua yang di bicarakan oleh Syailendra adalah kebenaran, maka separah apa sesungguhnya luka yang di derita pria kekanak-kanakan itu. Pria yang tidak jaim untuk berbicara dengan nada manja, bahkan merajuk.


Separah apa luka yang di derita Pria itu, hingga selama ini senyumannya tidak pernah menyentuh bola matanya. Menggabungkan cerita Syailendra dan juga cerita Silvia serta sikap kedua orangtua Narendra saat Narendra tertawa lepas dengan ku atau dengan Almeera, semua begitu masuk akal.


Meskipun hatiku juga remuk karena menyadari semua keruwetan hidup Narendra, tetap saja rasa heran memenuhi pikiranku. Bagaimana bisa pria cerdas seperti Narendra bisa memberikan izin kepada dirinya sendiri untuk merasa tertekan oleh perempuan yang kesehatan jiwanya di ragukan.


Yaa! Cinta!


Melemahkan apa yang kuat, menguatkan apa yang lemah, menyempurnakan apa yang kurang sempurna, menyembuhkan serta menimbulkan luka. Tinggal seberapa beruntungnya kita saat kita mendapatkan rasa tersebut.


****


Sebelum masuk ke rumah, pak satpam yang jaga di depan tersenyum dan menyapa. kami. lebih ramah dari pada pertama kali kami berkunjung ke kediaman Basuki Bagaskara ini. Dan seperti dugaan ku, di depan pintu rumah sudah berdiri pasangan luar biasa.


Almeera bergegas keluar dari dalam mobil begitu mobil berhenti, syukurlah putriku masih meminta izin untuk keluar dan menemui Eyangnya terlebih dahulu tanpa menunggu Diriku.


"Assalamu'alaikum, Ibu.. Bapak."


"Waalaikumsalam, sayang. Terima kasih ya sudah mau kesini."


"Terlalu basa basi deh bapak, anak perempuan pulang kok gitu, kesannya ini tamu aja."


Beruntung aku bukan tipe perempuan yang mudah kebawa perasaan, kebayang gimana jadinya hati aku jika mudah terbawa perasaan saat menghadapi pasangan Sepuh ini.


"Eyang... Om Narendra di mana yaaa?" tanya putriku begitu kami masuk ke dalam rumah, "kata mama Om Narendra sakit ya Eyang."


Orang tua Narendra menatapku bergantian, ada kesedihan di mata Sepuh itu. Namun ibu Basuki begitu lihai menutupi semua itu dengan wajah ceria dan senyum bahagia.


"Kecapekan aja kok sayang, itu masih tidur di dalam kamar. Adek main sama Eyang kakung dulu ya, nggak papa?" tanya Ibu Basuki pelan. Putriku mengangguk. "Kita main ular tangga dulu aja yuk, mau?" tanya pak Basuki penuh kasih sayang.


Setelah Almeera, putriku bersedia main ulaular tangga dengan Eyang Kakungnya, ternyata bukan saja aku yang memandang ke arah Almeera dan Pak Basuki yang berdiskusi sambil berjalan meninggalkan ruang depan, ada sepasang mata yang basah di sampingku. Ibu Basuki menangis, wajah yang semula bahagia, kini tampak begitu lelah.


"Ludiraa." bisik ibu Basuki sambil menggenggam tanganku dan meletakkan di pangkuannya. "Bisa tolong sedikit keluar dari zona sopan santun yang selama ini kamu jaga sangat ketat itu?" pinta Ibu Basuki sambil menatapku sendu.


"Maksudnya ibu?"

__ADS_1


"Mungkin ini berlebihan, tapi bisa tolong masuk ke kamar Narendra jika kamu mengetuk pintu kamar Narendra tidak. di bukakan olehnya?"


Aku menggerakkan kelopak mataku berkali-kali, bahkan menarik urat di leherku karena terlalu tegang dengan suasana seperti ini. Kalau bisa memilih, aku lebih memilih di salahkan karena telah mengucapkan nama Sofia di depan Narendra di bandingkan langsung di mintai pertanggung jawaban seperti ini.


"Ibu terlalu berlebihan ya, tentu saja ini berlebihan. Tapi ibu bisa apa, Dira. Ibu tidak bisa seperti bapak yang santai dan juga tenang dalam menyikapi sakitnya Narendra ini. Ingin sekali setelah sakitnya Narendra pulih, ingin sekali ibu memindahkan kamar Narendra ke kamar yang tidak ada kamar mandinya. Setidaknya dia bisa keluar kan jika terpaksa, hehehehe."


Ibu Basuki mencoba untuk tertawa dengan ucapannya itu meskipun sambil mengusap air mata yang keluar dari mata indahnya. Aku tersenyum kaku, jadi pria itu tidak keluar dari kamar sama sekali. Sebagai seorang ibu, aku tahu betul bagaimana perasaan ibu Basuki.


"Ternyata Almeera benar-benar mirip dengan Narendra kan, Ludira? bedanya tubuh Almeera yang memilih untuk tumbang, sedangkan Narendra memilih untuk tidak menemui siapapun." sahut ibu Basuki sambil tersenyum miris. Aku tersentak hebat, terbayang tubuh Almeera yang koma beberapa saat yang lalu, aah... Kenapa hampir sama? Dan ternyata perempuan sepuh ini pandai betul memainkan perasaanku.


"Baiklah, Bu. Lagi pula saya harus mengecek keadaan Narendra sebelum membiarkan putri saya menemui Narendra." jawabku sambil tersenyum, kini tanganku yang satunya menggenggam tangan ibu Basuki yang sedang berada di atas tanganku. Mencoba menguatkan perempuan ini.


"Oh, Sayang."


Tanpa ragu aku membalas pelukan ibu Basuki, mengusap punggung milik beliau.


"Ibu sebaiknya membersihkan wajah ibu, habis itu bergabung dengan cucu ibu."


"Baiklah, nanti biar ibu kasih kuncinya."


Ibu Basuki tersenyum lega sedangkan aku berusaha untuk menguatkan diriku sendiri. Narendra, pria itu sepertinya gemar sekali memaksaku untuk keluar batas kemampuanku dengan cara sengaja ataupun tidak sengaja. Dan bodohnya aku, mau saja mengikuti semua ini. Harusnya aku kabur saja, pergi tanpa perduli dengan apa ya g terjadi. Harusnya!


Ibu Basuki memberikan kunci serep kamar Narendra sebelum beliau pergi dari sampingku.


"Narendra... Assalamu'alaikum! Reeen!" ucapku sedikit menaikan volume suaraku. Aku mengetuk kembali, "Rendraaa!!! Ini saya Ludiraa!!" bukan lagi menaikkan volume, tapi sudah menjadi sentakkan.


Aku terus mengetuk, dan memang tidak ada jawaban sama sekali. Mataku memandang kunci yang di telapak tanganku, menimbang apa yang harus aku lakukan.


Dan akhirnya...


Aku membuka pintu kamar Narendra dengan tangan bergetar, Ya Alloh, maafkan hambaaa.


"Reeen, Assalamu'alaikum." ujar ku dengan suara bergetar,


Tubuh Narendra terbaring di lantai kamar dengan posisi menekuk, aku yang baru tersadar dari keterkejutan ku, berusaha menghampiri pria malang ini. Berlutut di samping tubuh yang semakin membuatku gundah gulana, haruskah aku menyentuh???


Aku mengamati dadanya tapi tidak terlalu jelas, ujungnya aku mendekatkan jari telunjuk ku ke bawah hidung mancung milik Narendra, Alhamdulillah masih bernafas. Lega rasanya, karena wajah Narendra sudah sangat pucat sekali.


"Nareeeen"


"Nareeendraaa."


Aku menghembuskan nafas kasar, usahaku belum ada hasilnya. Ini orang masih tetap terpejam seperti orang tidur saja.


"Omnya Almeeraaaaaaaaa. Bangun dong!!" sentak ku kasar. Lama lama bikin emosi juga ini orang. "Papaaanyaaa Almeera, banguuuuun." ucapku begitu saja tanpa aku pikirkan. Haduuuhhh, ini mulut kenapa tidak singkron dengan kepala. Padahal aku cuma mau bilang omnya Almeera.


"hmmmm."


Aku melepaskan tanganku dari wajah. Sakit rasanya dada ini, sebal marah kesal. saat aku menyadari suara Narendra.


Pria ini menatap lemah ke arahku tanpa kedip, aku yang masih kesal karena mulutku yang tidak bisa aku kuasai lagi, melampiaskan dengan memukul lengan Narendra, perduli amat dengan kondisi pria ini. Menyebalkan!!!


"Sakiit, Mbaaaaak."


"Udaaah mbaaak, Badan aku lemas gini."


Aku tidak perduli dengan rengekan Narendra, aku tetap memukul tubuh pria itu dengan pukulan yang sangat.


"Aku benci drama konyol, Narendraaa!!!!" teriakku kencang. "Banguuuuun."


Narendra perlahan bangun dan duduk menghadap ke arahku. "Almeera di sini?" tanya Narendra pelan. Sepertinya pukulan yang aku berikan tadi ini tidak terasa sakit di tubuh Narendra.

__ADS_1


"Iya. Jadi kamu jangan konyol kaya gini. Mandi sana, awas kalau ketemu anak aku masih lusuh lemes galau kaya gini." ancam ku serius. Enak aja, putri aku itu pekanya luar biasa. Aku saja sebagai Emaknya selalu berusaha terlihat baik baik saja, ini orang mau terlihat mengenaskan di depan putriku yang jelas jelas sangat perduli dengannya.


"Iya iya, Saya mandi dulu, mbak. Tapi buatin bubur ayam dong mbak. Pinjam dapurnya ibu."


Aku menjitak kepala Narendra keras hingga pria itu mengaduh kesakitan sambil memegangi kepalanya. "KDRT ih." ucap Narendra sambil meringis.


"Makanya itu mulut di kondisikan, Narendraaa. Minta kok muluk muluk. Mandi cepat."


"Aku laper, mbak. Buatin ya."


"Salah sendiri, sudah tua masih konyol." ucapku sambil berdiri. Dan berjalan ke arah pintu kamar Narendra.


"Ludira."


Tanganku yang sudah memegang daun pintu berhenti, aku berhenti tanpa menoleh ke belakang. Suara sedih Narendra seperti pisau yang menyayat ulu hatiku.


"Terima kasih."


***


"Ibu Ludira sedang mencari ndoro Putri?" tanya perempuan yang tidak ku tahu namanya itu. "Iya." jawabku singkat namun tetap berusaha tersenyum.


"Ndoro putri di belakang sama Non Almeera dan juga Ndoro kakung." sahut perempuan itu mencoba menjawab pertanyaan di kepalaku. Aku memang sedang mencari putriku dan juga Eyangnya. "Mau saya antar, Bu?" tanya perempuan itu lagi, tetap ramah walaupun aku yakin wajahku tidak bisa seramah perempuan ini.


Aku mengangguk, mengikuti perempuan itu menuju tempat di mana orang-orang yang aku cari berada. Ternyata mereka sedang saling bercerita dengan posisi Almeera duduk di tengah tengah. Pemandangan yang indah dan bahagia.


"Mamaaaa." panggil putriku keras. "Perempuan itu suaranya yang sedikit pelan tapi juga lembut, Dek. Bukannya keras kaya gitu." tegur ku pelan sambil memposisikan duduk di depan mereka bertiga. "Hahahaha, Mama kamu kolot sekali ya Dek." sahut ibu Basuki sambil tertawa namun juga memandang penuh kasih sayang kepadaku. "Iya deh, Mama. Maaf... Maaaf." ucap putriku pelan.


Pak Basuki tertawa bahagia sambil mengusap kepala Almeera. Sedangkan Ibu Basuki memeluk putriku dari samping. Terlihat begitu bangga.


"Ngomong aja, Ludira. Jangan sungkan." Ucap Pak Basuki membuatku malu. Ragu dan juga bingung mau ngomongnya gimana. Sudah menyedihkan milik Narendra menganggu kenyamanan hati aku, seperti salah jika aku mengabaikan permintaan dari pria yang sedang berjuang tetap waras itu. "Narendra minta di buatkan Bubur Ayam, Bu.. Bapak." ucapku lirih, jari jari tanganku saling meremas antara yang bagian kanan dan juga bagian kiri. Mencoba meredakan gemetar yang muncul saat aku merasa tidak yakin seperti ini.


Pak Basuki mendengar ucapan ku hanya menarik Alisnya. Sedangkan Ibu Basuki terkejut hingga menutup mulutnya namun segera menenangkan diri saat mendengar putriku bertanya padaku.


"Jadi om Narendra sudah bangun, Ma?"


Aku mengangguk. "Tapi belum bisa ketemu sekarang lo ya, jangan asal panggil panggil om Narendra!!" suaraku sedikit keras saat teringat dengan kejadian terakhir kalinya. Almeera memanggil pria itu keras keras terus drama saling pelukan seperti bapak dan anak yang lama sekali tidak jumpa.


"Aye aye captain. Nunggu om Narendra yang kesini gitu, Ma?"


"Iya, Om juga masih lemas."


"Ya sudah, Dira. Buatkan buburnya sekarang saja, bahan bahan dan lainnya bisa tanya sama mbak Bintang atau budhe Zubaidah. Narendra minta kamu yang buat kan sayang? bukan ibu?" titah sekaligus pertanyaan.


Aku tersenyum canggung. Kemudian berdiri dan undur diri ke dapur. Perempuan tadi ternyata berada di sana, di dapur.


"Mbak, saya mau masak bubur ayam buat Mas Narendra di mana ya bahan bahannya?" tanyaku pelan.


"Biar saya siapkan bahan bahannya, Bu. sama peralatannya."


"Iya, Terima kasih. Masaknya biar saya saja."


Perempuan itu mengangguk dan menyiapkan segala sesuatunya dengan begitu cekatan. Bahkan saat membantuku memasak juga tidak terlalu banyak ini itu, profesional sekali.


"Maaf, mbak. Saya kalau sama orang asing memang jutek sama masam." ucapku pelan, Aku menyadari kelemahan ku ini. Wajahku masam judes jutek sombong lagi, itu kesan pertama yang di katakan orang setelah bertemu denganku.


"Tidak perlu minta maaf, Bu. Pak Narendra sudah memberitahu saya saat Bu Ludira ke sini minggu lalu."


"Oh Ya?" ucapku tanpa sadar. Terkejut dengan informasi sederhana yang baru saja aku dengar. Hal sekecil itu kenapa begitu di perhatikan sama Narendra?


"Iya, Bu. Pak Narendra bilang ke kami semua kalau tidak boleh tersinggung atau menganggap jelek ibu Ludira dan juga Non Almeera jika ibu dan Non tidak seramah keluarga Bagaskara yang lainnya."

__ADS_1


Aku mengangguk kecil meskipun menurutku itu bukan hal yang penting untuk di ucapkan oleh Narendra, kenapa dia harus se perduli itu? iya kan?


__ADS_2