
"Janji? Jangan pernah memberi izin siapapun, laki-laki manapun untuk mendekat ke arahmu, selain aku!" pinta Narendra dengan suara gemetar. Sedih sih, tapi suara pria ini bikin aku pingin ketawa. Narendra yang lembut seperti ini memang berbeda dengan Syailendra, Papanya Aksara itu tidak akan seperti ini.
"Lepaskan, Ren. Jangan peluk aku seperti ini." ujar ku pelan. Berusaha melepaskan tangannya dari tubuhku. Sekali lagi, dia berbeda dengan Syailendra. Narendra menurut, begitu aku memintanya untuk melepaskan pelukan. Jika Syailendra, tentu saja dia akan melawan dengan banyak sekali alasan yang bikin aku susah untuk melawan nya. "Jangan kekanak-kanakan seperti ini." Aku melangkah meninggalkan Narendra.
"Kekanak-kanakan bagaimana? Siapa yang nggak akan terbakar amarah kalau lihat pasangannya justru tidur bersama dengan pria lain?" sahut Narendra sambil mengejar ku.
"Tidur bersama? Ah, gimana yaaa. Mau bilang bukan tidur bersama tapi kenyataannya memang kami tidur satu ranjang. Tidak ada apa apa selain sekedar tidur. Bukan hal negatif atau berbau hubungan intim. Aku juga tahu batas dong, lagi pula di situ kan ada Aksara."
"Tapi, Ra. Sama saja. Aku aja nggak pernah meluk kamu. Aku se menghormati itu sama kamu."
Langkahku berhenti. "Terima kasih, Ren. Tapi bukan karena apa yang terjadi tadi malam kan? Yang bikin kamu barusan meluk aku?" tanyaku tanpa menoleh sedikitpun, kemudian kembali melangkahkan kaki mencari kotak obat.
"Eh, jangan negatif ya mikirnya, enak aja!"
"Terus kenapa coba?"
Gerakan tanganku yang mencari kotak obat terhenti saat suara Simbok menjelaskan kalau kotak obatnya sudah di ambil sama Syailendra. "Cari kotak P3K, Bu? Sudah di ambil sama tuan Syailendra." sahut perempuan yang sepuh tapi tidak terlihat ringkih sedikit pun.
"Oh iya, Mbok. Tolong ambilkan es batu buat ngompres luka ya, makasih."
"Iya, Bu."
"Nanti bawa ruang situ saja."
Aku meninggalkan simbok dan berjalan ke arah kamar tamu yang di gunakan Syailendra. Mengabaikan Narendra yang terus Membuntuti di belakang. "Ra, dengerin." Narendra masih terus mencoba membuatku memperhatikan dirinya. "Lihat aku!" titah pria itu sambil menarik lenganku.
"Aku janji, kamu satu satu nya. Aku janji, aku memilih masa depan. Lagi pula kamu janji akan selalu menggenggam tanganku, Ra."
"Iya! Iyaaa. Tapi aku nggak mau jadi perempuan bodoooh, kamu tahu betapa susahnya aku melepas kepergian papanya Almeera. Aku nggak mau, Ren. Aku nggak mau harus menderita seperti itu lagi."
__ADS_1
"Maafkan ketidak tegasan sikapku, Ra. Aku siap, aku siap memintamu untuk menemani masa depanku."
Aku melihat ke arah mata Narendra, sorot matanya begitu meyakinkan. Tapi, apakah iya? Apakah dia akan tetap seperti ini begitu tentang Shofia datang ke kehidupannya lagi. Apakah dia akan tetap menggenggam tanganku meski tentang Shofia menarik tubuhnya menjauh dari hidupku? Dan apakah aku yakin dengan semua ini? Apakah ini benar benar yang aku inginkan?
"Kita berawal dari hal yang tidak benar, Ren. Kamu melihat sosok putrimu pada diri Almeera. Aku janji, aku janji sepenuh nya, meskipun kita tidak jodoh menjadi pasangan suami istri, aku janji padamu, Narendra. Bahwa kamu masih bisa menjadi papanya Almeera. Kamu masih boleh menganggap. Almeera sebagai putrimu." sahutku sambil menyakinkan Narendra.
Aku sadar, semenjak tadi aku terus membandingkan Narendra dan Syailendra, membuatku teringat nasehat Syailendra bahwa aku harus sudah selesai dengan masa laluku, sebelum aku benar-benar menerima Narendra sebagai pasangan hidupku selanjutnya. Menerima Narendra artinya aku harus mampu menerima segala tentangnya. Sakitnya, sedihnya, suramnya. Jika aku belum selesai dengan masa lalu ku sendiri, bagaimana bisa aku akan bertahan berdiri gagah berani tanpa merasa tersakiti.
"Kamu kok ngomongnya gitu? Nyerah?"
"Narendra, energi yang aku miliki habis untuk berusaha melepas bayangan mas Dodi, untuk terus berbaik sangka bahwa kamu memang bersedia melepas masa lalu kamu juga. Aku mulai lelah, Ren. Kamu memang membenci Shofia, tapi kamu nggak mau melepas semua kenangan tentang dia. Kamu masih menggenggam erat kenangan itu dan juga menikmati sensasinya."
Narendra terdiam, wajahnya sendu dan juga menderita. Aku mengambil nafas dan menghembuskan nya secara teratur, membalikkan badanku dan berjalan kembali. Mungkin aku memang harus berterima kasih dengan tindakan konyol bin bodoh yang Syailendra lakukan. Bersama Syailendra, aku jadi merasa sedang main rollercoaster, Syailendra paham betul bagaimana membuatku tertawa namun detik berikutnya menangis. Dia paham bagaimana membuatku menderita namun juga pandai menghapus derita yang terasa begitu nyata.
Kemarin aku begitu merindu dan juga mulai kesal karena yang aku rindukan ternyata mulai berbeda. Dia yang selalu hadir dengan kekonyolan, dengan perhatian yang membuatku perlahan menoleh ke arahnya, kini justru menghilang begitu saja. Aku bahkan sempat berfikir, bahwa Narendra memang hanya perduli keinginannya sebagai Papanya Almeera. Obsesinya memiliki putri sudah terpenuhi.
"Ludiraa," panggil Narendra dengan suara rendahnya. Membuatku kembali berdiri membeku di depan pintu kamar tamu yang di gunakan Syailendra. "Kamu pernah mengatakan kalau kita sama sama salah kan? Aku yang menjadikan Almeera sebagai pelampiasan atas rasa kehilanganku terhadap putriku dan juga rasa bersalah ku karena tidak mampu menjaganya dengan baik. Kehadiran Almeera seperti kesempatan kedua yang Tuhan berikan kepadaku, aku sudah jatuh cinta begitu melihat wajah muram Almeera saat acara family gathering. Dan kamu juga pernah menjelaskan bahwa Almeera memandang ku sebagai sosok papanya, kebetulan aku dan mas Dodi sangat mirip. Kita sama sama memulai semua ini dengan kesalahan. Aku tahu, Ra. Tidak masalah bukan? Kita memulai semua ini dengan anggapan sebagai pengganti satu sama lain. Kita saling menguntungkan? Dan tolong, aku sungguh tertarik padamu, Ra! Masa bodoh, aku tidak perduli kalaupun kamu menganggap ku sebagai mas Dodi. Asal kita bersama, Ra. Menjadi satu keluarga yang utuh." Narendra mendekat ke arahku. Meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat.
"Aksara boleh kok manggil kamu Mama, saat kita sudah bersama. Aku tidak keberatan sama sekali asalkan kedekatan antara kamu dan papanya Aksara berkurang." Narendra membuatku kembali terkejut. Dan terdiam tanpa mampu menjawab semua yang sudah di katakan Narendra. Bahkan semua tampak membisu, sampai-sampai aku tidak mendengar suara pintu kamar yang di belakang ku terbuka.
"Rumah tangga bukan permainan, Dek! Kamu harus menyelesaikan urusanmu di masa lalu terlebih dahulu. Gila ya kalian. Kalian mau membangun rumah tangga dengan fantasi masing-masing?" sentak Syailendra keras.
"Baaang! Please, jangan ikut campur dulu!" runtuk Narendra kesal sekaligus marah.
"Nggak, Ren. Aku nggak akan izinin kalian mempermainkan rumah tangga! Eh? Hubungan rumah tangga kan yang kamu maksud kan, Narendra?" tanya Syailendra sambil menekan suaranya saat memanggil nama saudaranya itu.
Aku kembali kaget dengan apa yang di ucapkan Syailendra. Sejak tadi Narendra meyakinkan aku tentang hubungan, namun hubungan yang seperti apa? Rumah tangga? Atau hanya seperti kita jalani selama ini. Menjadi seperti sebuah keluarga, iya... Seperti. Hanya sebatas seperti keluarga dan bukan keluarga sesungguhnya.
"Hahahaha," Aku tertawa pelan. Menertawakan semua yang telah terjadi. Lebih tepatnya menertawakan diriku sendiri. Aku memang membangun sebuah fantasi untuk menyembuhkan luka yang tertoreh di jiwa ini. Aku begitu merindukan kehadiran mas Dodi hingga aku lupa bagaimana caranya melangsungkan hidup dengan sungguh baik baik saja. Selama ini aku sudah berlakon baik baik saja, berpura-pura baik baik saja hingga Narendra hadir dan menyeret ku keluar dari zona itu. Sekarang? Apakah aku juga membangun sebuah fantasi lagi? Khayalan yang berlebihan? Kehaluan yang hakiki?
__ADS_1
Aku nyaman dengan kehadiran Narendra, aku terbiasa dengan perlakukan Narendra yang gigih berani. Aku terpesona dengan usaha Narendra menempatkan dirinya sebagai Papanya Almeera. Dan pada akhirnya aku mengizinkan Narendra berlaku sebagaimana seorang ayah kepada anak perempuan nya. Entah murni karena aku perduli dan simpati terhadap Narendra atau justru aku yang memanfaatkan Narendra untuk menunjang kehaluan ku.
"Maaf, Ren. Benar yang di katakan mas Syailendra. Kita hanya membangun khayalan kita sendiri. Kita berkhayal memiliki keluarga yang utuh dan penuh cinta. Kita bersama, saling berusaha mewujudkan khayalan kita itu. Bedanya, sosok yang sebenarnya kamu inginkan untuk di ajak berkeluarga, datang kembali. Merusak khayalan kamu selama ini. Membuatmu kembali galau." sahutku sambil berusaha untuk tersenyum meskipun jiwa raga ku sudah sangat lemas. Kepalaku mulai pusing. Aku dilema atas apa yang aku rasakan ini.
"Kita selama ini baik baik saja, Ra. Kita bahagia bersama Almeera."
"Iya, sampai akhirnya Shofia datang dan kembali membawamu ke kesadaran yang sesungguhnya. Mungkin kita memang harus menyelesaikan urusan kita masing-masing, aku merelakan masa laluku, dan kamu melepas masa lalu mu. Mungkin dengan begini kita bisa memiliki hubungan yang sesungguhnya, bukan sekedar khayalan."
"Tapi aku mencintaimu, Ra. Sangat mencintaimu Ludira."
"Belum ada jaminan kamu bisa mengucapkan hal itu saat sesudah kamu bertemu dengan Shofia. Dan aku juga menyukaimu, Narendra. Tapi sepertinya aku butuh waktu untuk mengenali rasa ini yang sesungguhnya. Sungguh memang untukmu murni sebagai Narendra Bagaskara atau untukmu karena bayangan Mas Dodi yang begitu nyata. Maafkan aku, Ren."
Meskipun semua ini membuat hatiku kembali hancur lebur, aku harus bisa memutuskan semuanya demi kebaikan. Aku tidak mau kami merasa bahagia namun kenyataan nya itu hanya fatamorgana. Itu hanya ilusi yang terus menerus kami ciptakan.
"Soal Almeera--"
"Aku tahu, kamu memang sangat menyayangi Almeera, bukan sebagai pengganti putri mu." ucapku memotong. Aku tersenyum, getir. Begitu juga Narendra. Kami saling tersenyum dan kembali berpelukan. Ada rasa lelah, sedih dan penderitaan yang aku harap ikut terbuang dan terlepas begitu kami saling melepaskan pelukan.
"Eem, sebaiknya aku pamit, Ra." ucap. Narendra dengan suara parau. Aku mengangguk. Tidak berani melihat ke arah wajahnya.
Begitu Narendra berbalik dan berjalan meninggalkan tempat kami berdiri sejak tadi, aku mengangkat kepalaku dan memandang punggung Narendra, bahunya turun. Narendra terlihat seperti orang yang baru saja kalah dalam sebuah permainan. Aku pun begitu.
"Mau nangis? Butuh pelukan?" bisik seseorang di belakangku. Aku berbalik dan menggelengkan kepala.
"Kamu hadap sana, Bang!" pintaku yang seketika di setujui Syailendra. Dia berbalik membelakangi ku.
Semua keteguhan, semua ketegaran luluh begitu saja. Aku menangis keras, berusaha melepas rasa sakit yang menyiksa ulu hatiku. Ada yang hilang di hati ini. Ada yang hancur di jiwa ini. Aku kembali menangis dengan suara kencang dan pada akhirnya aku menangis tanpa suara sambil keningku bersandar di punggung Syailendra.
"Menangis lah seperti tadi, dengan suara yang memilukan, mengenaskan juga menyedihkan. Aku benci kamu yang menangis tanpa suara seperti ini."
__ADS_1