
"Raaaaaaaa!!!!!!!"
Buku dongeng yang sedang aku pegang terjatuh di atas kasurnya anak anak. Untung nggak jatuh di lantai, jadi nggak bunyi. Tapi, tetap aja kan, itu suara bikin si adek yang udah mau tidur jadi keganggu.
"Papa berisik bangeeeet!" teriak Aksara kesal. Sedangkan Silvia yang ikut menemani menutup mulutnya erat erat. Kami bertiga memang terkaget dengan suara teriakan Syailendra yang nyaring. Ruang tamu tempat Syailendra istirahat tadi tuh nggak terlalu jauh dari kamarnya anak anak.
"Raaaaaa!!"
Aku menoleh ke arah pintu, kesal sekaligus pengen ngejambak rambutnya itu orang. Udah paham jam segini tuh jadwal anaknya tidur. Kok ya masih teriak teriak gitu. Katanya tadi nggak mabok?
Sumpah!
Bad boy nggak ada akhlak!!
"Papaaaaaaa!!!!! Berisiiiiiik!!" teriak balasan dari Aksara.
Tepuk jidat dah pokoknya.
"Huahahahahhaha."
Yang satu lagi cuma bisa ketawa dari tadi. Haduuh.
"Ini gini, Mbak? Rumah mbak seramai ini?"
"Belum terlalu ramai, coba kalau Narendra di sini, terus adu mulut tuh sama yang barusan teriak. Weeeehhhh, penuh banget ini telinga."
"Terus?"
"Ini bocil, giliran nurut gitu sama Kakaknya. Eeh, tau kan Almeera kalemnya gimana? Beeeeh, jadi cerewet banget kalau udah sama adeknya."
"Hahahahaha."
Tok.. Tok...
Suara pintu kamar diketok, aku yakin itu Syailendra.
"Raaaaa." bisik Pria itu sedikit pelan.
"Ganggu terus papa deeeh!" gerutu putraku sambil menarik selimutnya dan memeluk tubuhku. Kembali berusaha memejamkan mata.
"Raaaa." sahut Syailendra sambil nongol di pintu. Cuma kepalanya.
Aku tidak menoleh, tanganku yang tadi mengusap rambut Aksara, mengepal dan nunjukin ke arah Pria yang kepalanya nongol di pintu. Mataku melotot ke arah Silvia yang mulai ke tertawa lagi.
"Kamu keluar deh!" bisik ku cemberut.
Enak emak mana sih yang nggak senewen kalau anaknya mau tidur keganggu mulu.
"Iya iyaaa."
"Pelan pelan, jangan ada bunyi."
Silvia tertawa kecil, sedangkan aku kembali memeluk Aksara dan menepuk nepuk punggungnya pelan. Sangat pelan. Jika sudah gini, berasa nggak terlalu menggubris perasaan galau karena mikirin Narendra dan segala tentang pria itu.
Aku sendiri mulai ragu, sangat ragu. Sejak bertemu Shofia, Narendra jadi terasa begitu jauh meskipun kini realita nya sudah lebih dekat dari pada saat sebelum Narendra menawarkan payung kepadaku di parkiran kampus. Narendra mungkin sesekali terlihat cemburu dengan adanya Syailendra, tapi matanya. Mata pria itu selalu masih terlihat cinta yang besar saat mengungkit tentang Shofia. Harusnya aku tidak bodoh, tidak semudah itu membiarkan perasaanku goyah.
Ah, mas Dodi?
Aku harus gimana?
Setelah beberapa saat, putraku yang ganteng itu akhirnya tertidur nyenyak tanpa gangguan dari papanya. Aku turun perlahan-lahan dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu kamar. Sebelum itu aku sudah mencium lembut kening bahkan ubun ubun bocah menggemaskan ini.
"Kamu nggak cerita aneh aneh kan sama Mamanya anak anak? Nggak ngebocorin soal mamanya Aksara yang suka sama Narendra? Terus Shofia suka sama aku?"
Suara khas milik Syailendra, berat dan besar itu terdengar jelas saat aku hampir masuk ke ruangan tempat mereka berdua ngobrol, tentu saja Silvia dan Syailendra. Langkah kakiku terhenti begitu saja. Fakta baru macam apa ini?
Sebodoh itukah aku?
Sakit juga ini hati.
Di sini yang nggak tahu menahu, hanya aku?
Ternyata, aku tetaplah orang asing di antara mereka.
Sakit,
Nyeri.
Kecewa.
Lagi-lagi aku harus menarik nafas perlahan lahan, menahannya sebentar dan menghembuskan nya perlahan juga. Hingga beberapa kali.
"Nggaklah, Bang. Ngapain juga." sahut Silvia.
"Ribet nanti jelasinnya ke Mamanya anak anak."
"Ceilee, mamanya anak anak."
"Lu tahu kan gue paling eneg paling jijik sama yang namanya darah. Nyebut namanya dia secara lengkap tuh sesuatu banget dah pokoknya. Benci banget dah!" sahut Syailendra.
Elu?
Gue?
Yaelah, Syailendra!!!
Sedekat itu?
Terus?
Jadi beneran kalau dia itu nggak suka sama darah. Terus nggak suka juga sama namaku. Hahahaha.
"Ngapain sih, Bang. Tumben banget nggak pernah ke luar kota. Udah bosen main sugar daddy? Atau jangan jangan bangkrut? Daebaaak!"
__ADS_1
"Jangan keras keras, ****!"
"Kasar banget! Sama mbak Dira aja sok sopan, sok baik."
"Kata siapa sih, nggak deh! Aku mah gini gini aja."
"Cieee, langsung aku. Dari tadi gue elu. Beneran udah pensiun melihara anak gadis orang?"
"Itu mulut rabies banget! Gue kan good father. Nggak ada tuh sugar daddy! Sugar daddy apaan, ****!"
"Terus dah teruuuussss. Eh, ngomong ngomong, kenapa sih sekarang mas Narendra jarang sama mbak Dira, nggak se lengket dulu gitu. Dulu tuh bawaannya bikin baper."
"Aku tahu, aku sempat kena pukulannya sampai babak belur hanya karena merangkul bahu Mamanya Anak anak. Saat itu, aku harap. Narendra sungguh-sungguh mencintai perempuan ini. Aku rela wajahku hancur, asal kan aku tahu bahwa Narendra sungguh-sungguh cemburu. Cemburu tandanya cinta kan?"
"Hahahaha, saat itu ya? Duuh, Mas Narendra sampai bangga banget di kantor, Bang. Cerita kesemua orang."
"Tapi sekarang dia agak berubah, dia nggak dewasa lagi. Dia kembali galau dengan perasaan nya sendiri. Entah kenapa, sepertinya dia tidak begitu takut kehilangan mamanya anak anak."
"Kita cuma bisa berharap dan berdoa, bang. Semua kembali ke campur tangan Tuhan. Mungkin kesalahan nenek moyang kita terlalu jauh hingga balasannya sampai ke kita."
"Kutukan maksud kamu? Ah! Jaman kaya gini kok percaya kutukan. ****!"
"Bukan bang, aku cuma percaya kalau kita tuh bertanggungjawab pada apa yang kita perbuat. Semacam hukum timbal balik."
"Sudah, gue nggak mau bahas beginian. **** kok di pelihara. Nggak ada yang namanya kutukan. Nggak perlu percaya yang begituan."
Setelah aku rasa percakapan mereka bukan lagi tentang persoalan yang ingin aku ketahui, aku pura-pura memanggil Silvia. Meskipun rasa penasaran ku semakin menjadi. Serumit apa sih kehidupan keluarga mereka.
"Siiiil!"
"Iya, mbak. Disiniii."
Aku berjalan maju ke depan, pelan. Kemudian memasang senyum terbaikku. Berusaha menutupi kesedihan dan luka hatiku. Aku kecewa atas kebodohan ku sendiri.
"Udah tidur, Adek?" tanya Syailendra pelan. Mencoba kontak mata denganku, tapi aku hindari. "Udah. Kalian mau makan apa? Mas udah nggak pusing?" tanyaku pelan.
"Nggak, tadi udah minum air perasan lemon yang di kulkas. Makasih."
"Makasih buat apa?"
"Mbaaak, buatin nasi goreng dong." Akhirnya Silvia yang sedari tadi menyimak percakapan aku dan Syailendra, menyela. Rupanya dia sudah benar-benar lapar.
"Oke oke. Bantuin ya."
Silvia mengangguk dan berdiri, berjalan menghampiri ku yang belum sempat duduk. "Aku siapin bahannya ya mbak? Atau mbak mau ngobrol sama mas Syailendra? Biar aku aja deh yang masakin." Celoteh Silvia.
Aku memikirkan sejenak.
"Oke, biar aku nyicip masakan kamu. Kamu kan udah sering makan masakan aku."
"Iya iyaaa. Nasi goreng sepesial malam minggu."
Aku tersenyum dan melangkah ke tempat duduk. Sedangkan Silvia menuju ke dapur.
Senyumku hilang begitu saja.
"Sedekat apapun aku dengan kalian, tetap saja aku ini orang luar ya?" tanyaku tanpa menoleh kearah Syailendra.
"Ngomong apa si?"
Aku menoleh, mungkin bukan waktu yang tepat membicarakan hal ini.
"Besok besok, kalau lagi mabuk jangan ke sini! Terusss, kalau tahu anaknya lagi mau tidur tuh jangan teriak teriak."
"Hehehehe, sorry bos!"
Aku menentramkan hatiku sendiri, perasaan ini mulai kembali terasa sesak. Sedih. Menyedihkan.
"Ada apa? Jangan bilang kalau kamu tadi dengar percakapan aku sama Silvia?" tanya Syailendra dengan nada menuntut, bahkan pria itu dengan bebasnya memutar tubuhku untuk menghadap ke arahnya.
Sial,
Sial banget sih. Kenapa aku jadi rapuh kaya gini, nggak tahan dengan tatapan mata Syailendra. Manik mata itu, terlalu teduh. Terlalu mengayomi.
Ya Tuhan,
Andaikan dia benar-benar abang ku, saudara laki-laki yang aku miliki, mungkin pelukannya sekarang adalah hal terkuat yang bisa aku jadikan sandaran. Aku tahu, sujud kepada-Mu lebih menyejukkan, lebih menguatkan. Hanya saja, aku yang terus-menerus berdiri di atas kapal layar sendiri, menghadapi ribuan ombak yang menghantam, aku mulai lelah. Aku lelah, aku kecewa.
Aku berada di fase di mana membutuhkan seseorang yang mampu membuatku nyaman untuk menumpahkan segala kesesakan, kesedihan, penderitaan, luka di dalam jiwa ini. Aku rindu, aku rindu pada Narendra yang terus mengikuti ku dengan gaya jenakanya. Dengan kedewasaannya. Aku... Aku ingin bersandar pada pria itu.
"Kenyataan memang terkadang menyakitkan. Ada manusia yang memang hadir untuk melemahkan kita, ada pula manusia yang kehadirannya membuat kita menjadi kuat. Percayalah, nanti... Entah kapan, kita akan berterima kasih kepada mereka semua."
Entah sejak kapan aku mulai terisak, menangis dalam pelukan pria itu. Syailendra. Dosa dan rasa bersalah menghantui benakku. Bukan saja karena aku membiarkan tubuhku di peluk dan di tenangkan oleh Syailendra, tapi juga rasa bersalah serta rasa jijik pada diriku sendiri.
Karena aku, aku membayangkan pria yang sedang memeluk diriku dengan penuh perlindungan ini, pria yang mengarahkan kepalaku kedalam dadanya, pria yang terus berbisik kalimat menenangkan. Pria yang kini mencium ujung kepalaku. Aku membayangkan bahwa ini Narendra ku, Narendra yang selama ini aku kenal.
Tangis ku semakin menjadi, meskipun tanpa suara, tetap saja tersendat-sendat. Ini menyakitkan, harapan yang palsu sekali. Narendra, aku mulai memahami bahwa pria itu masih sangat mencintai Shofia, aku... Aku terlanjur membuka hatiku, padahal kami sepakat hanya untuk saling menguatkan. Bodoh! Perempuan bodoh!
"Bertahanlah jika memang kamu masih mau mempertahankan perasaan yang baru saja bersemi di hatimu itu, Narendra hanya sedang merasa takut menghadapi realita yang ada. Mungkin perlu beri dia beberapa waktu supaya kembali ke kenyataan. Bukan lagi sibuk dengan pelarian."
"Aku... Aku yang hanya pelarian dan bodohnya, aku juga menjadikan dia pelarian. Kita sama sama jahat, Mas. Aku.. Aku selalu memikirkan dan juga menganggap pria itu adalah Bang Dodi, wajah mereka yang begitu mirip membuatku begitu mudah membuka hati ini, aku salah, bang. Salah. Aku mencintai bayangan, bukan dirinya."
Sialnya aku baru sadar. Ketika semua sudah terlanjur terjadi. Aku melarikan diri dari kehidupan, dari rasa sedih dan angan angan yang tidak bisa ku capai.
"Fantasi bukanlah pelarian dari dunia kita, tetapi sebagai ajakan agar kita masuk semakin ke dalam dunia kita. Mungkin kamu berfantasi bahwa dia adalah papanya Almeera. Dan Narendra berfantasi jika Al Meera adalah putri nya. Sudahlah, tidak perlu menyalahkan diri sendiri dan juga hatimu."
Pelukan Syailendra semakin kuat, kepalanya kini berada di atas kepala ku. Aku ingin menghentikan air mata yang mengalir bagaikan bah, kenapa sulit sekali. Hatiku sakit, aku juga begitu malu. Sangat malu. Ternyata pria ini tahu semuanya.
Pelukan milik Syailendra begitu kokoh, hangat dan juga penuh ketulusan. Menenangkan meskipun membuat aku tidak bisa mengendalikan perasaan sedihku yang memaksa untuk tumpas dalam bentuk air mata.
"Nikmatilah rasa sakit ini. Coba terimalah." bisik Syailendra seperti mata yang menghipnotis ku, membuatku menutup mataku perlahan. Menikmati semua yang terjadi, kehidupanku yang jungkir balik tidak karuan. Rasa kecewa yang menggebu, membuktikan aku tidaklah tulus dalam menggenggam tanganmu Narendra. Rasa kehilangan yang menyakitkan ini membuatku mengerti bahwa kita tidak bisa memprediksi apa yang terjadi.
Yaa,
__ADS_1
Aku teringat, teringat apa yang sudah aku katakan dan juga yakinkan kepada pria bernama Narendra Bagaskara itu. Aku akan melepas genggaman ini saat pria itu melepas tangannya. Aku harus mampu, mampu menjadi lebih kuat lagi. Setidaknya, meskipun kini dia membuatku menderita, pria itu juga pernah membuatku tertawa bahagia. Banyak, banyak sekali kebahagiaan nyang dia berikan kepadaku.
Ah, inikah? Inikah yang di takutkan putriku?
Bahwa aku akan se hancur dan se terluka ini, makanya dia tidak mengizinkan aku dan Narendra memiliki hubungan serius, meskipun aku tahu, itu yang di inginkan Almeera juga.
****
Bukankah aku sedang berada di pelukan Syailendra?
Mengapa kini aku berada di padang bunga Lavender?
Harumnya begitu menenangkan. Hamparan berwarna ungu yang menggoda mata. Terlalu sepi, ah.. Pagi hari kah ini?
Kenapa aku melihat Narendra di ujung sana? Dengan siapa?
Mas Dodi?
Narendra?
Mereka berdua sedang berdiri sambil menatap senja? Membelakangi ku. Kenapa aku tidak bisa memanggilnya?
Ah!
"Nteeeeeee."
Suara Aksara, putra gantengku.
Aku menoleh, ke belakang.
Syailendra berdiri dengan satu tangannya menggendong tubuh Aksara dan satunya memeluk Almeera. Mereka tersenyum kepadaku. Bahagia, mereka bahagia.
Menyenangkan. Hatiku terasa begitu bahagia.
"Nteeeeeee."
Eh, perlahan suara Aksara jadi begitu keras dan hamparan lavender menghilang. Aku merasakan mataku bergerak. Tubuhku di gerakkan.
Ah, aku membuka mataku pelan, kesadaran ku mengatakan bahwa tadi adalah mimpi. Aku tertidur di atas kasur kamarku.
Eh?
Tangan?
Tangan Aksara kok seberat ini?
"Tantee banguuun." bisik Aksara pelan, namun berhasil membuatku membuka mata. Dia sudah duduk di depanku sambil manyun.
Eh, ini siapa? Jika Aksara di depanku, artinya yang memelukku dari belakang?
"Syailendraaaaa!!!" Teriakku sambil mengibaskan tangan berat pria itu dari pinggangku. Aku langsung berbalik dan menendang tubuh Syailendra sekuat mungkin hingga pria itu jatuh dari tempat tidur.
Aku duduk dan memeluk Aksara.
"Maaf sayang, kaget ya? Maaf ya tante teriak teriak, bikin sayang kaget. Ini sih, papa kok gitu!" bisik ku dengan penuh penyesalan, masa bodoh dengan Syailendra yang mengaduh kesakitan.
"Papaaaaaaa!!!!" teriak Aksara kesal. "Papa nggak boleh peluk tante tanpa izin dari tanteeeee!" Omel Aksara sambil memelukku.
Melihat reaksi Aksara, aku tertawa.
"Kaliaan ini, pagi pagi bikin kaget orang. Kalau aku jantungan gimana? Kena serangan jantung mendadak terus aku mati" Sentak Syailendra kasar sambil kembali naik ke tempat tidur. Wajahnya marah.
"Mati? Meninggal? Nggak pulang lagi? Ke surga kaya mama?" tanya Aksara dengan suara bergetar.
Mendengar suara bergetar ketakutan milik putranya, Syailendra yang sudah berbaring lagi itu kembali duduk. Maju ke arah kami berdua.
"Bukan.. Bukan gitu, dedek. Jangan nangis! Ingat, cowok jangan cengeng."
Aku memutar bola mataku.
"Hiiiiih, mulut itu di jagaaa. Ngomong di hadapan anak kok nggak di saring." sentakku sambil reflek mencubit lengan pria itu.
"Haduh, pedas gila."
"Papa sakit jantung?"
"Nggak sayang, papa cuma bercanda."
"Aksara nggak mau di tinggal sama Papa." bisik Aksara sambil melepaskan diri dari pelukanku dan menuju pelukan Papanya.
"Cup.. Cup. Papa baik baik saja, Son. Oke!"
Aku yang melihat wajah sedih Aksara jadi ikut terenyuh, sejenak melupakan kejadian tidur bersama ini. Gila nggak sih, aku nangis sampai ketiduran terus bangun-bangun sudah di pelukan pria yang bukan siapa siapa ku ini.
Dan Silvia?
Ya Tuhan,
Jangan sampai dia tahu ini. Bisa bisa salah paham.
Panik aku deh jadinya.
"Nteee?"
"Iya sayang,"
"Maafin Papanya Adek ya, besok besok jangan kagetin Papanya adek lagi ya." pinta Aksara dengan wajah memelas. Aku luluh, panik ku hilang begitu saja. Yang ada aku justru ingin membawa Aksara ke dalam gendongan ku.
"Sini sayang, peluk tante."
Aksara nurut, aku memeluk tubuh mungil ini. Sedangkan mataku memandang tajam ke arah pria yang memakai kaos berwarna putih dan celana boxser di depanku ini.
Awas saja!
__ADS_1