LUDIRA

LUDIRA
Tiga Puluh Empat


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Mamah. Maah, Mamaaah. " teriak putriku dari depan rumah. Sekarang Almeera, putriku itu memang lebih lepas dalam mengekspresikan dirinya sendiri. "Waalaikumsalam, jangan teriak teriak dong, Kak. Itu adeknya lagi tidur." jawabku pelan.


Almeera yang baru saja mencium punggung tanganku jadi tersenyum malu, aku mengalihkan pandangan dari putriku ke sosok yang berada di belakangnya. Pria itu sudah tersenyum lebar sambil menunjukkan plastik yang di tangan saat melihat aku memandang ke arahnya.


"Bakso ekstra pedas." sahut Narendra pelan, aku tersenyum hangat. "Terima kasih. Beli berapa porsi?" tanyaku pelan. Kami berjalan ke arah meja makan sedangkan putriku pamit ke kamarnya untuk ganti baju dan bergegas ke tempat temannya untuk belajar. Kali ini dia pamit berangkat sendiri menggunakan sepedanya.


"Beli tiga, satu buat kamu terus satu lagi buat aku dan yang terakhir buat Aksara." ujar pria itu menjelaskan dengan lembut. "Kakak?" tanyaku pelan. "Katanya nggak mau, sudah makan bakso di kantin sekolah." jawab Narendra sambil menarik kursi untuk duduk.


Aku mengangguk pelan dan berjalan ke arah dapur untuk mengambil mangkok dan juga sendok, sekaligus mengambil air mineral untuk Narendra.


"Mbok Minardi di mana, Mbak?" tanya Narendra begitu tidak melihat sosok yang dia cari. "Di belakang. Belakang rumah kan ada tamang kosong lumayan luas, beliau di kampung katanya terbiasa menanam ini itu. Jadi ya sudah aku kasih izin aja buat nanam nanam di sana. Lebih enak kalau beliau bisa melakukan sesuatu yang beliau suka, katanya capek badan beliau kalau nggak ngapa ngapain gitu." ucapku menjelaskan sambil memanaskan kembali bakso yang di beli Narendra. Pria itu lebih suka kuah bakso yang masih sangat panas.


"Lagian mbak juga ada asisten rumah tangga kok masih ngerjain pekerjaan rumah ini itu."


"Kan sudah terbiasa, Ren. Enggak semua kok, ini kan kalau pagi sudah ketambahan harus ngurusin kebutuhannya Adek."


"Iya, mbak itu masih suka buatin bekal buat Aksara sendiri kan? Sarapan juga masih mbak yang buat kan?"


"Namanya juga ibu rumah tangga, Ren. Punya anak perempuan yang sudah sebesar Almeera terus punya anak lagi seusia Aksara itu bukan berarti jadi alasan nggak bisa ngerjain ini itu. Lagi pula ini bekalnya sama sarapannya anak sendiri kok."


"Tapi mbak kan punya pekerjaan."


"Selama ini aku baik baik saja kan, tiga bulan ini aku tetap bisa profesional walaupun nambah satu anak."


Narendra diam, aku juga diam. Membawa bali berisi dua mangkok bakso ke meja makan. Di sana Narendra sudah menuangkan dua gelas air mineral.


"Nggak perlu manyun gitu, aku bangun pagi, Almeera juga bangun pagi. Kita punya banyak waktu buat menyelesaikan pekerjaan rumah."


Narendra memilih diam dan menikmati bakso di depannya.


"Buat sarapannya juga sudah di bantu sama mbok Minardi kok. Yang jemur baju juga beliau, terus ngepel juga beliau, nyapu halaman rumah juga Pak Minardi. Benerin genteng juga Pak Minardi, Nyuci mobil juga beliau." Ucapku lagi. Entah kenapa, melihat Narendra yang manyun seperti ini meskipun bikin kesal tapi mulutku tidak bisa berhenti menjelaskan sesuatu yang sebenarnya aku rasa itu nggak penting sama sekali. Bukan urusan Narendra juga.


"Makan dulu aja." sahut Narendra sambil menatap ke arahku.


Aku mengangguk. Mungkin memang lebih enak merilekskan diriku dengan satu porsi bakso penuh tetelan serta ekstra sambal seperti ini. Bahkan aku tidak perlu lagi merasa harus jaim dengan Narendra, kepedasan.. Wajah penuh keringat. Aku sadar, aku mulai nyaman dengan kehadiran pria di depanku ini.


"Syailendra pulang kapan?" tanya Narendra pelan. "Kok sinis gitu suaranya?" tanyaku balik.


"Enggak juga si, cuma tanya biasa. Akhir akhir ini kan emang kalian dekat banget." sindir Narendra dengan wajah kalemnya. Mulai deh, mulai. Kalau sudah kaya gini itu bikin senewen, nggak ada selesainya. Bawaannya ngambek mulu kalau sudah ngomongin Syailendra.


"Reen."


"Heeem."


"Menurut kamu, Aksara lebih bagus pindah sekolah atau tetap di situ?"


"Pindah juga ada bagusnya, lagian lingkungannya gimana sih, pergaulan anak anaknya gitu."


"Selama ini sih baik baik saja, baru ini Aksara gini."


"Ada baiknya tanya sama Aksara tentang teman temannya, bisa jadikan dia di bully secara verbal tapi nggak bilang sama kita."


"Tapi Syailendra nggak bakalan setuju kalau Aksara pindah, Ren."


Pria di depanku itu memejamkan mata dan mengatur nafasnya perlahan. Ritual yang selalu Narendra lakukan akhir akhir ini jika aku sudah mulai membahas tentang Aksara dan juga Papanya.


"Ribet deh, drama juga nanti pastinya kalau saya pingin Aksara pindah tapi papanya nggak setuju." ucapku lagi. Sambil berdiri dan membereskan mangkok bekas kami berdua.


"Nanti kalau ternyata teman temannya pergaulannya gitu, bantu saya buat bujuk papanya Aksara ya, Ren." pintaku pelan dan melangkah menuju dapur dengan nampan di tanganku. Sesekali aku menoleh ke arah Narendra yang masih diam, wajahnya mulai terlihat sedih. Kenapa?


"Narendraa!" ujar ku dengan nada sedikit keras.


Narendra menoleh ke arah aku berdiri, tersenyum tapi wajahnya sedih banget.


"Ternyata dengar mbak sama Syailendra sedekat ini, dada aku nyeri mbak."


Mendengar apa yang di katakan Narendra kali ini, tubuhku menegang. Dia tidak pernah terus terang dengan apa yang dia rasakan, biasanya hanya kesal atau marah marah tidak jelas. Aku menatap pria yang kini juga menatapku dengan senyuman sedihnya.

__ADS_1


"Mbak? Kenapa selama ini aku tidak pernah ingin jatuh cinta dengan perempuan manapun? Karena aku selalu merasa akan menjadi pria kejam yang tidak bisa lepas dari Sofia meskipun aku bersama dengan perempuan lain. Dan aku yakin, tidak ada perempuan yang mau di duakan dalam bentuk apapun."


Mendengar suara tawa pedih di akhir kalimat panjang Narendra, membuat mataku buram oleh air mata. Ya, di luar kuasaku. Hati ini, ulu hati ini, jantung ini, terasa sangat pedih saat mendengar semua kata yang di ucapkan pria yang kini sudah berdiri dan memilih beranjak menuju ke arah pintu depan. Meninggalkan ku sendiri dengan nafas yang begitu sesak.


Perasaan apa ini?


Kenapa aku jadi merasa di tolak sebelum jatuh cinta?


****


"Kamu nangis lagi?" tanya suara berat di ujung sana. "Masih baper sama kejadian di sekolahnya Adek?" lanjut Syailendra pelan.


Kepalaku menggeleng pelan, bahkan aku sudah berusaha menatap ke arah atap supaya mengurangi air mata yang ingin keluar dari mataku ini. Tetap saja mengalir deras, sangat deras hingga aku sesenggukan. Dan lucunya bukannya nangis sendiri di pojok ruangan seperti yang dulu aku sering lakukan saat tidak tahan menanggung rindu dengan masa Dodi eh justru memilih mengambil HP ku dan menelpon pria ini.


"Dira? Hey? Ada apa? Jangan bikin khawatir kaya gini, sebentar lagi aku naik pesawat kok."


Mendengar suara Syailendra yang khawatir, justru membuat tangis ku semakin menjadi jadi.


"Hey? Aksara baik baik saja kan? Atau Kakak? Ayolah Dira!! Kenapa?"


"Sa--Sakit, Ndra. Dada aku sakit banget. Sesak." jawabku dengan suara terbata bata dan juga tersengal sengal. Ini memalukan. Sangat memalukan.


"Kenapa? Ya Tuhan. Ludira. Dua jam masih tahan? Dua jam lagi aku sampai situ." ucap pria itu di sebrang sana sebelum memutus sambungan telepon.


Aku kembali sendiri, menangisi kerumitan di otak dan perasaanku. Dadaku semakin sakit. Sedih, menyesal, bingung dan juga merasa bersalah. Aku sedang dalam kondisi menangisi kecerobohan ku, kebodohan ku karena membiarkan hatiku nyaman dengan kehadiran Narendra. Dan juga menangisi rasa bersalah ku yang menerjang tanpa ampun karena merasa sudah mengkhianati Almarhum suamiku.


"Tanteeeee!!"


Aku kaget,


Suara teriakan Aksara membuatku berdiri seketika, padahal tadi tubuhku sangat lemas tidak berdaya. Energi yang aku miliki seperti kembali penuh saat mendengar suara serak Aksara. Aku mengusap wajahku kasar, mencoba mengusir genangan dan juga bekas air mata yang sudah tumpah. Aku menahan nafas sekian detik demi menghilangkan sesenggukan. Ini bukan lagi sekedar menyakitkan.


"Tanteeeeee!!!!"


Teriakan Aksara semakin keras. Membuat aku berlari ke arah pintu yang langsung terhubung dengan kamarku, membukanya secepat yang aku bisa dan menuju ke tempat di mana balita menggemaskan itu masih terbaring dengan tangan mencengkeram selimut.


"Pengen di peluk sama tante, tante habis ngapain sih?"


"Habis baca buku, sinii.. tante peluk yaa."


Aku memeluk tubuh mungil itu, menepuk nepuk halus bagian punggungnya. Cukup lama sampai anak ini kembali terlelap. Aku mencoba memejamkan mata, berharap bisa membuat kenyataan ini menjadi hanya sebatas bunga tidur.


***


"Hey ... Diraa."


Ada suara berat penuh wibawa dalam, memanggil namaku dengan nada khawatir yang justru melemahkan diriku. Bibirku mulai bergetar, tenggorokanku mulai sesak kembali. Air mataku sepertinya sudah menetes.


"Hey .... Semua akan baik baik saja. Percayalah, semua akan baik baik saja."


Bisikan suara Syailendra semakin terasa nyata dengan jari jarinya yang mengusap halus wajahku. Bahkan ibu jari pria itu terasa begitu sejuk di atas wajahku yang panas.


"Diraa, are you oke? bisa buka mata kamu pelan pelan?"


Ah, aku tidak lagi berada di mimpi. Saat aku membuka perlahan kelopak mataku yang begitu berat, cahaya temaram membuatku silau namun hanya sebentar karena tangan besar Syailendra menghalangi cahaya itu masuk ke mataku.


Perlahan kesadaranku mulai terkumpul kembali, tadi aku tidur dengan Aksara kan. Dan Syailendra masih di tempat kerjanya.


Jadi?


"Pintunya aku buka kok. Aksara sama Almeera di bawah. Sorry, aku terlalu khawatir makanya masuk kesini." Sahut Syailendra begitu tanganya aku singkirkan dari pandangan mataku. "Masih lemas? Butuh sesuatu?" tanya pria itu pelan. Mengabaikan tatapan bingung milik mataku. "Jangan suka mengerutkan kening begini. Bikin cepat keriput." Sahut pria itu sambil menyentuh keningku yang berkerut sangat dalam menggunakan ibu jari dan telunjuknya.


Aku memejamkan mata, menarik kembali selimut hingga menutupi sebagian wajahku. Pusing di kepalaku sedikit reda dengan pijatan Syailendra ini.


"Minum obat ya?"


Aku masih diam. Sebentar, aku butuh waktu untuk kembali mengembalikan akal sehatku.

__ADS_1


"Syailendra .... " panggilku lemah, masih tetap memejamkan mata. Aku sepertinya tidak memiliki kekuatan untuk menatap wajah pria yang jelas aku biarkan berbuat tidak sopan ini. Masuk ke kamar pribadiku dan juga menyentuh wajahku. Baru kali ini, wajahku di sentuh oleh pria yang bukan suamiku.


"Bisa tolong keluar saja? Terima kasih buat semuanya. Maaf, titip anak anak bentar."


"Oke. Butuh sesuatu?"


"Teh hitam tawar, panas."


"Siap. Kalau ada apa apa, panggil lewat telepon saja. Kamu pasti nggak mau bikin anak anak khawatir kan?"


Iya... Anak-anak akan khawatir jika aku tidak cepat cepat bangun. Terutama Almeera, dia akan curiga jika terjadi sesuatu karena aku sendiri memang jarang sekali tidur siang selama ini.


"Aku sudah tidur berapa jam?"


"Jika di hitung dari terkahir kita berbicara di HP, kurang lebih tiga jam."


Hah? Selama itu. Pantas saja kepalaku terasa sangat berat.


"Biasanya kamu apakan itu mata bengkaknya?"


"Nanti aku kompres."


"Ya sudah, aku keluar dulu."


Aku mengangguk, menatap punggung pria itu yang berlalu. Bahkan membalas senyum Syailendra begitu dia berbalik untuk menutup pintu kamar. Duniaku terasa begitu kacau. Mungkinkah aku sedang mengalami puber ke dua? Entahlah. Yang jelas aku harus segera bergegas secepat mungkin untuk membersihkan diri dan juga mengembalikan stamina tubuhku.


***


"Udah baikkan?" tanya seseorang di belakang tubuhku. "Sudah mendingan." ucapku pelan sambil berbalik ke arah sumber suara.


"Anak anak di mana?" tanyaku pelan, sejak aku turun ke lantai ini, tidak terdengar suara Aksara maupun Almeera.


"Lagi main sepeda di area komplek."


"Eh, Aksara yang gimana?"


Kan sepedanya memang hanya ada satu, milik Almeera. Dan jelas sekali bukan jenis sepeda yang bisa di pakai berdua dengan anak seusia Aksara.


"Aku beli sepeda kecil buat Aksara, makanya ini Kakak lagi ngajarin Aksara."


Aku mengangguk pelan. Masuk akal juga alasan pria ini.


"Jadi? Bisa cerita sekarang apa yang terjadi?" tanya Syailendra pelan namun jelas sekali ada ketegasan di suaranya.


"Pulang jam berapa tadi? Udah istirahat?" tanyaku pelan, mencoba mengalihkan pembicaraan. Mencoba berjalan menjauhi pria ini. Dan memilih duduk di teras belakang, sambil menggenggam cangkir berisi teh pahit untuk meredakan pusing di kepalaku.


"Dira, nggak mungkin tanpa alasan kamu nangis nangis gitu. Bukan cuma soal Aksara kan?"


Ternyata Syailendra terus mengikutiku hingga teras belakang, aku mengakui jika pria ini begitu lembut meskipun dia sedang kesal. Bahkan tidak pernah menyebut Aksara dengan sebutan putraku, yang mungkin aku duga karena menghargai perasaanku.


"Narendra kan? Pasti anak itu. Kenapa?"


Aku menoleh ke arah Syailendra buang semakin cemas begitu menyebut nama Narendra, pria yang... entahlah. Duniaku kacau balau sekarang ini.


"Kenapa Dira? Kenapa kamu selemah ini? harusnya kamu sudah bisa menduga dan juga menjaga hatimu untuk tidak merasa nyaman dengan Narendra meskipun pria itu terus memaksamu secara tidak sengaja masuk kedalam rasa nyaman yang dia berikan terus menerus. Karena harusnya kamu dengar penjelasanku saat itu, Narendra tidak akan pernah mampu lepas dari mantan istrinya yang gila itu."


Aku menatap ke langit yang tinggi, mencoba menjaga supaya air mataku tidak lagi tumpah di depan Syailendra.


"Dan kamu pasti merasa sudah mengkhianati cinta kamu ke papanya Almeera. Iyakan? itu yang bikin kamu sehancur ini."


Aku kaget dengan apa yang di ucapkan Syailendra, saat aku menoleh ke arah pria itu, air mata yang aku usahakan untuk tetap di tempatnya kini jatuh membasahi pipiku. Aku menggigit bibirku keras, supaya tidak mengeluarkan suara isakan yang memalukan.


"Aku tidak akan pernah menyalahkan kamu jika kamu memang mengakui kamu menyayangi Narendra, perempuan memang lemah dengan rasa nyaman yang di berikan secara terus menerus terlebih dengan cara yang begitu intim. Aku menyayangkan sikap Narendra, jika dia memang hanya ingin Almeera sebagai putrinya, tentu saja dia harus menjaga sikapnya supaya tidak membuatmu merasa terbiasa. Tapi, cinta itu memang rumit kan? Narendra mencintaimu, aku yakin itu. Jika tidak ada rasa cinta untukmu, dia tidak akan menerima kembali bayangan Sofia, dia tidak akan baik baik saja saat mengutarakan isi pikirannya tentang Sofia. Perasaan cinta nya ke kamu, bikin Narendra kuat menghadapi kenyataan tentang Sofia, hanya saja... Aku ragu, ragu Narendra tidak bertindak ceroboh dengan membiarkan Sofia kembali dalam hidupnya."


"Narendra... menolak perasaanku bahkan sebelum perasaan cinta itu tumbuh subur."


Syailendra menatap tajam ke arahku yang kini menangis. Aku memilih menutup wajahku, aku tidak bisa lagi pura pura tidak perduli dengan sedikit perasaan yang mulai bersemi di dalam hatiku. Aku tidak bisa lagi menghindar dari gejolak perasaan ini. Dan nyatanya, aku hanya wanita bodoh yang bukan hanya membiarkan pria itu masuk kedalam hidupku tapi juga masuk kedalam. hatiku secara perlahan.

__ADS_1


__ADS_2