LUDIRA

LUDIRA
Tiga Belas


__ADS_3

Usiaku saat Mas Dodi, suamiku meninggal dunia adalah dua puluh sembilan tahun, saat itu putriku berusia enam tahun. Aku memang dulu memutuskan untuk menikah di usia sangat muda, bagiku saat itu... Kenapa tidak? toh keluarga semua setuju dan sekaligus mendukung. Calon suami juga tipe yang tahu betul bagaimana memuliakan sekaligus menghormati perempuan. Buktinya setelah menikah, semua impianku terealisasikan semua, Alhamdulillah.


Mas Dodi bukan tipe pria yang apa apa harus di layani perempuan atau semacam tipe pria yang enggan menyentuh pekerjaan rumahan. Bukan juga tipe pria yang mengharuskan seorang istri berkarir di dalam rumah sebagai ibu rumah tangga dan nyonya rumah yang baik. Tidak, beliau tidak seperti itu. Beliau justru terus mendukung diriku untuk melakukan, mencoba hal hal baru.


Sebagai perempuan yang di perlakukan begitu sempurna, meskipun tidak pernah di tuntut ini itu, rasa ingin memuaskan pasangan... Rasa ingin menjadi yang terbaik dari yang terbaik di mata pasangan, membuatku berusaha mahir melakukan apapun. Entah sebagai seorang istri, sebagai seorang ibu atau sebagai perempuan.


Bagiku, kebahagiaan mas Dodi, kebanggaan mas Dodi dan Kerelaan mas Dodi atas diriku adalah hal mutlak yang tidak bisa di ganggu gugat. Hal utama yang menjadi prioritas teratas dalam hidupku. Cukup katakan tidak atau jangan, maka aku rela melepaskan semua. Ah, beliau memang sosok pasangan paling sempurna bagiku.


Jadi selama enam tahun ini, aku adalah pusat semesta Almeera. Hanya kami berdua. Mungkin ini yang membuatku kesulitan berkata-kata saat Almeera justru terbangun kebetulan setelah bertemu dengan Narendra, pria asing yang baru beberapa saat ini mulai akrab dengan kami berdua, lebih tepatnya adalah kami izinkan masuk kedalam hidup kami.


"Cepat sembuh ya sayang, Eyang kakung sama Eyang uti pamit pulang dulu." sahut Pak Basuki pelan.


"Iya, Eyang. Terimakasih." jawab putriku sopan.


Bapak dan Ibunya Narendra saling bergantian memeluk dan mencium Almeera penuh sayang. Sedangkan putriku tersenyum penuh kegembiraan. Dan ternyata, bukan hanya aku yang menggenggam erat hatiku yang terasa nyeri, Narendra... pria ini justru terlihat lebih buruk dari pada diriku. Terluka sekaligus hancur, namun senyum khas milik Narendra menutup perasaan itu dengan sangat rapi.


Aneh sekali, bukannya seharusnya dia bahagia dengan semua ini. Harusnya mata tajam itu berbinar penuh kebahagiaan saat melihat interaksi kedua orangtuanya dan Almeera, mengapa justru seperti orang yang merasa... Entahlah. Mungkin aku terlalu sibuk dengan perasaanku yang kacau balau sampai kurang paham mengartikan perasaan orang lain.


"Kalau ada apa apa, jangan sungkan hubungi kami, Dira." ucap Bu Basuki sambil. memeluk tubuhku erat. Aku sendiri yang meminta Beliau berdua untuk memanggilku dengan nama saja. Lebih nyaman.


"Terima kasih, Bapak.. Ibu. Maaf, sudah merepotkan."

__ADS_1


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam."


Kami bertiga kompak menjawab salam kedua orang Sepuh itu.


"Sayang mau minum atau butuh sesuatu?" tanyaku pelan.


"Enggak, Ma. Terima kasih." jawab Almeera pelan.


Genggaman di tanganku semakin erat. Tatapan Almeera yang begitu merasa bersalah justru semakin membuat hatiku merasa tertusuk.


"Mama baik baik saja, Sungguh. Maafkan mama ya." Bisikku pelan.


"Iya. Jelas mama khawatir, mama juga takut. Tapi, kita semua bahagia sekarang Almeera baik baik saja." Jawab Narendra sambil memandang ke arahku. Seakan meminta aku maklum atas tindakannya itu.


"Om juga jadi repot. Karena om nggak bisa tenang kalau Almeera kenapa kenapa. Om nggak bisa berangkat kerja, Om sama Mama juga nggak bisa makan atau minum dengan enak, kami tidak bisa istirahat dengan tenang. Ini bukti sayang sangaaaat berarti untuk kami berdua. Dan semua yang terjadi dalam hidup Almeera, entah baik atau buruk, kami siap menerima. Almeera juga harus tahu, kami.. Mama, Om, Eyang. Menerima Almeera apa adanya, baik buruk nya." Lanjut Narendra penuh kasih sayang.


"Dan dalam keluarga, tidak ada yang namanya merasa kerepotan. Kita harus saling menguatkan satu sama lain. Jadi Almeera... Jangan pernah memendam segala sesuatu sendiri hanya karena biar terlihat baik baik saja. Ada kami, Mama.. Om.. ada Eyang juga. Almeera hebat kok selama ini, lebih hebat lagi kalau Almeera bisa jadi diri sendiri. Kami semua akan sedih saat Almeera justru tidak bisa bebas menjadi diri sendiri. Paham ya Sayang ya." ucap Narendra lembut, menenangkan, sekaligus mengharukan.


Tenggorokanku tercekat bahkan mataku pun mulai pedih. Semua yang di katakan Narendra di luar dugaanku. Tampak terlalu nyata dan terlalu dalam jika itu semua hanya kalimat indah yang keluar dari bibir Narendra.

__ADS_1


"Om Nareeeen. huhuhuhu."


Putriku kini memeluk Narendra sambil menangis di pelukan pria ini padahal aku? Mamanya.. orang yang selama ini selalu berada di sampingnya persis berada di sebelah Narendra. Bahkan, lepas genggamannya di tangan.


Aduh, kenapa rasanya tercabik-cabik seperti ini.


Dan saat aku berbalik, ingin mengambil jarak dari mereka berdua, berusaha menenangkan jiwaku yang merana, merasa tidak begitu penting lagi bagi putriku sendiri. Seakan dengan jahatnya Narendra menggeser posisiku di hidup Almeera.


Namun tanganku justru di pegang oleh Narendra. Gerakannya terlalu sigap, cepat dan juga tepat. Sedangkan tangan yang satunya memeluk erat putriku yang kini begitu nyaman melepaskan segala gundahmu kesedihan dan air mata di pelukan penuh perlindungan Narendra.


Saat aku berusaha menarik tanganku dari cengkeraman jari jari Narendra, pria itu menoleh ke arahku, menatap dengan pandangan yang sangat sulit aku pahami.


Aduh, Narendraaaa!!! Kamu kira ini lagi acara drama India atau semacam drama Korea. Kenapa konyol sekali sih ini anak, bikin emak emak kaya aku semakin enggak karu karuan rasanya.


Pengen mengumpat rasanya, ini air mata kenapa mengepul di kelopak mata. Cukup hatiku yang hancur karena sekilas terbayang dan berkhayal sekaligus berandai-andai jika ini adalah Mas Dodi, suamiku. Tentu saja aku akan bersandar di sampingnya sambil turut memeluk putri kesayangan kami.


Sesak, Hayatiii. Ini menyakitkan. Kondisi ini bukan hanya berbahaya untuk kesehatan perasaanku yang memang sudah hancur lebur, tapi juga ada harga diri yang menurutku berbunyi karena retak. Belum lagi, Entah berapa dosaku karena bersentuhan seperti ini dengan pria yang bukan halal bagiku. Munafik jika aku menyangkal semua ini tidak melibatkan banyak sekali perasaan.


Narendra, Kenapa kamu begitu tega kepadaku? Sebuta itukah kamu? Hingga tidak melihat betapa kacau galaunya perasaanku.


Mengertilah, aku sungguh ingin terus menjaga martabat dan harga diriku sebagai istri dari pria yang begitu luar biasa. Pria yang bahkan setiap detiknya selalu aku rindukan. Pria yang selalu menjadi tempat ku pulang.

__ADS_1


***


__ADS_2