LUDIRA

LUDIRA
Empat Belas


__ADS_3

"Dosa, Ren. Bukannya kamu lebih paham soal ini di bandingkan saya?" ucapku setengah berbisik, mencoba mengendalikan gejolak amarah yang mendesak ingin di lampiaskan kepada pria yang sekarang duduk di sebrang.


"Maaf, Mbak." bisik Narendra lirik. Tidak memandang ke arahku ataupun mengangkat kepalanya. Dia justru menggerakkan kedua tangan di wajahnya, menutup mulut hidung kemudian naik ke seluruh wajah, gerakkannya bukan sekedar mengusap wajah, lebih tepatnya menekan telapak tangan di wajahnya.


Dulu, jika mas Dodi seperti ini, aku berkata dengan kesal bahwa hal tersebut tidak baik untuk kondisi kulit wajah, bikin wajah kotor karena tangan kita ini bisa jadi tidak steril. Belum lagi aku juga menceramahi Suamiku itu jika menyentuh bagian mulut terlalu sering tidak bagus untuk kesehatan. Kita enggak tahu ada virus yang menempel di tangan kita atau tidak.


Sekarang? Aku mulai merasa ingin melakukan hal itu. Padahal biasanya aku terlalu cuek bahkan tidak perduli jika orang lain melakukan hal tersebut.


Narendra, membuatku merasakan Marah, kesal, malu, sedih, pilu, menderita, menahan, dalam satu situasi. Pria ini sungguh berbahaya.


"Sulit juga bagiku, Mbak. Untuk tetap menjaga batas kesadaranku. Sulit bagi saya untuk mencegah reflek yang saya lakukan." ujar Narendra pelan.


"Saya sadar, Mbak. Harga diri mbak Dira terluka, Ego mbak Dira juga terluka, selama ini mbak Dira adalah Pahlawan satu satunya bagi Almeera dan saat Almeera lebih terbuka dengan saya, otomatis mbak Dira merasa saya merebut Almeera dari mbak Dira. Makanya tadi saya reflek mencegah mbak Dira pergi, karena sungguh mbak... Bukan maksud saya terlalu lancang merebut atau menggeser posisi, Mbak Dira. Tidak ada sedikitpun niat untuk itu."


Kini giliran aku yang menunduk, mataku memandang ke arah genggaman tanganku sendiri, namun fokus yang aku miliki entah tercecer dimana. Semua yang di katakan dengan nada prihatin sekaligus menyesal itu semua benar.


"Tidak perlu sampai memeluk seperti tadi, Ren. Saya bukan perempuan lemah yang mudah termehek-mehek. Kesannya saya justru memanfaatkan kondisi ini untuk menarik simpatimu."


"Ya Alloh, Mbak..."


Narendra kini berada di lantai, berlutut di sampingku.


" Jangan pernah berpikir seperti itu, Mbak. Jangan merendahkan diri mbak seperti itu. Ini mutlak kesalahan saya, Sungguh mbak. Maafkan kelancangan saya."


Lebay. Bagiku yang normal mungkin ini menjijikan. Namun, saat ini air mata sudah menguasai mataku dan pipiku. Mengalir begitu saja, Otakku mulai teracuni berbagai kalimat jelek. Hatiku seperti kehilangan arah sekaligus pijakan.


"Saya jadi merasa menjadi perempuan yang gampangan, Ren. Perempuan yang mudah begitu saja berlari ke pelukan pria lain hanya karena situasi yang memang sedikit berat ini. Kehadiranmu saja sudah mulai membuatku merasa sangat bersalah dengan Mas Dodi. Penerimaan Almeera terhadap kehadiranmu saja membuatku takut.. takut jika putriku lebih membutuhkanmu di bandingkan aku, Ibunya. Narendra!!! Kalau kamu sadar terlalu banyak kesalahan, kenapa? kenapa Ren? kenapa memaksa begitu keras untuk masuk dalam. kehidupan kami."


Aku menangis, menutup wajahku dengan kedua tangan. Berupaya meredam suara yang keluar karena akal sehatku ternyata masih mengingat bahwa di sini, di ruang ini putriku sedang tertidur nyenyak karena kelelahan setelah mengeluarkan semua emosi di dalam dirinya. Menangis terus menerus dengan suara yang teramat pilu.

__ADS_1


Aku... Aku ibunya, sosok yang selama ini selalu berada di sisinya. Namun ternyata begitu bodoh hingga menutup mata dengan sebagian kenyataan yang ada. Putriku menangis, bukan hanya air matanya yang membuatku merasa hancur. Bukan hanya suara memilukan yang membuatku seperti terhempas tanpa bisa bernafas, kenyataan bahwa putriku memendam semua kesedihannya, memendam semua tangisannya dan kini memilih membebaskan semua itu di pelukan orang lain membuatku seperti tidak lagi bernyawa.


"Kamu bukan hanya membuatku merasa tidak becus jadi seorang ibu, tapi juga membuatku merasa tidak layak untuk menjadi ibu. Aku merasa gagal. Bodoh sekali aku ini." suaraku tersendat-sendat.


Sedangkan Narendra masih berlutut sambil menundukkan kepala nya. Kedua tangannya mengepal erat. Aku tidak perduli.


"Kamu juga membuatku merasa berdosa, merasa bersalah. Merasa kehilangan akal sehatku. Aku menjadi tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan."


***


"Jadi hari ini Almeera sudah boleh pulang, Ma?" tanya putriku antusias.


"Iya dong, tadi dokter sudah bilang begitu kan." jawabku berseri seri.


"Om Narendra di mana ya, Ma?"


Ah iya, ini kemana dia? Aku terlalu antusias mengepak semua barang barang yang akan di bawa pulang sampai tidak menyadari bahwa pria itu tidak di ruangan.


Almeera mengangguk pelan, tersenyum ceria.


Kamu adalah nafas mama yang tersisa, Nak.


Ah, ini hati bawaannya mellow mulu.


"Assalamu'alaikum"


Suara yang tidak lagi asing itu terdengar begitu pintu kamar terbuka. Dan aku juga sudah tidak heran atau kaget saat putriku menjawab salam itu dengan kegembiraan yang luar biasa. Aku mulai terbiasa, ini yang justru membuatku semakin takut.


"Susah siap pulang, Sayang?" tanya Narendra kepada putriku.

__ADS_1


"Sudah dong, Ooom."


Aku menoleh ke arah Narendra, "Ren.. titip bentar ya, saya mau ke administrasi."


"Sudah kok, Mbak. Ini udah beres semua... Tinggal pulang saja."


Padahal tadi sudah mohon mohon supaya aku memaafkan, eh ini? Lancang banget!!


Tenang, Ludiraa. Tenang... ingat ada putrimu.


"Semua sudah kan, Mbak? Ayo kita pulang."


Seandainya aku tidak melihat dan tidak memperdulikan wajah putriku yang juga berseri-seri seperti pria tua kekanak-kanakan itu, ingin rasanya aku membentak pria itu supaya tidak perlu mengantar kami pulang ke rumah.


Astaghfirullah, Jaga hatiku dari gelapnya Amarah, Ya Alloh.


****


Aku belum bisa berdamai dengan keadaan. Aku yang terbiasa tenang, perhitungan di setiap langkah, lurus menghindari gejolak apapun. Kini menjadi sedikit lebih grusa grusu jika menyangkut Narendra.


"Sayang... maaf ya, om Narendra langsung pulang begitu mengantar kita sampai rumah." sahutku sedikit keras, supaya Narendra yang sedang di depan kami mendengar.


"Eh-- Eh iya, Dek. InsyaAllah besok om ke rumah Almeera." sambung Narendra sambil menatap kami dari kaca. Jawaban Narendra membuatku sedikit kesal.


Aku memilih duduk di belakang, seperti sopir dan penumpang. Why Not? kenapa tidak. ini lebih baik untuk kami. Toh, memang tidak mungkin Almeera duduk di belakang sendiri atau di depan sendiri.


"Om lupa ya? besok juga seperti nya nggak bisa. Kan om kemarin cuti mengajar. Banyak banget mahasiswa yang ada kepentingan sama om besok kaan?" Balasku gemas.


"Enggak apa apa kok, Om. Nanti kan kalau libur bisa jalan jalan. Hehe. Almeera pengen jalan jalan, Ma."

__ADS_1


Oke, sekarang aku sudah nggak bisa melawan jika putriku sendiri yang mengucapkan kalimat ini. Sekilas terlihat senyum kemenangan di wajah Narendra.


Sejak kapan, pria lurus.. Anteng.. Kalem itu jadi punya wajah Jahil menyebalkan.


__ADS_2