
Aku sempat mengira, Narendra akan menghindar setelah mengucapkan kata ambigu itu. Ternyata tidak. Dia baik baik saja, hanya senyuman di bibirnya tidak sampai ke bola matanya, tidak ada sinar kebahagiaan di mata indah pria itu. Dia juga sangat profesional saat bertemu di tempat kerja, lebih profesional di bandingkan yang aku harapkan.
Harusnya aku bahagia kan?
Selama ini aku berharap dia tidak mendekatiku, kenyataannya justru aku merasa asing dengan situasi ini. Aku merasa sedikit ada rasa kehilangan. Mungkin karena aku sudah terbiasa dengan senyum hangat Narendra jadi saat Narendra tersenyum profesional seperti ke pada yang lainnya, aku merasa di hati ini ada yang kosong.
"Nggak jemput Aksara?" tanya temanku, Dewi. Aku menoleh ke belakang, ke arah tempat temanku itu duduk. "Enggak. Papanya yang jemput." jawabku pelan.
"Jadi soal bullying itu gimana, Mbak?" tanya Silvia begitu gabung duduk di samping ku.
"Cuma satu anak itu saja kok, Alhamdulillah."
"Syukurlah. Aksara baik baik aja? nggak ada drama mogok sekolah?"
"Sempat sih, kebetulan pas lagi sama papanya. Nah itu juga yang bikin saya sempat adu mulut sama papanya Aksara." jawabku sambil terkekeh, tertawa kecil saat teringat pertengkaran aku dan papanya Aksara. Reaksi Dewi dan Silvia saat melihatku tertawa justru heran.
"Apaan sih mbak?"
"Iya deh, aku tuh berasa dengar ceritanya pasangan baru tahu mbak. Hahahaha. Kalau aku nggak kenal kalian berdua, jelas banget dah bakalan ngira kalau ini obrolan istri yang bahas semuanya."
Sekarang gantian aku yang tercengang. "Masa sih? Masa segitunya." tanyaku heran. Perasaan biasa biasa saja.
"Coba deh lanjut cerita dulu, Mbak. Kita kita mau dengar."
Meskipun keningku berkerut, aku tetap melanjutkan cerita.
"Kan Aksara ngambek tuh nggak mau berangkat sekolah, mungkin masih kesel marah gitu kan. Di suruh mandi nggak mau, di suruh ini nggak mau, Papanya sampai gemes banget terus iiiih gitu sambil nyubit pipinya Aksara. Habis itu jadi nangis kan, nah... kebetulan lagi itu saya juga kesana, kebayang bayang ini anak bakalan rewel gitu sama papanya, eh beneran. Pas sampai sana, Aksaranya lagi di hukum di kolam renang. Yaa kan saya jadi marah marah nggak terima deh, keras banget gitu Papanya."
"Terus gimana? Mbak bilang apa?"
"Nggak bilang apa apa sih, cuma langsung ambil adek dari kolam. Terus aku gendong gitu, nah papanya justru nyalahin katanya aku tuh manjain Aksara. Dia bilang gini... Terus manjain teruss, biar jadi laki lembek. Belaa teruss. Dengar itu tuh aku masih diem aja kan. Yang penting anak aku tuh sudah hangat pakai handuk. Eh, ngomel lagi gini. Anak laki tuh di ajarin biar strong, kuat, nggak cengeng. Kalau kamunya gitu, nanti adek jadi cengeng. Malu maluin." ucapku sambil menirukan ucapan Syailendra.
"Hahahahaha."
"Terus terus."
Mengingat kejadian itu aku tertawa seperti mereka berdua. Masih terasa jelas di ingatanku.
"Diraa!!!! Kamu tuh manjain Adek gini. Jadi cengeng tahu nggak. Anaknya Syailendra kok cengeng."
"Nggak perlu pakai tangan juga kaaaan."
"Sekali sekali perlu lah, orang cuma nyubit pipinya."
"Sampai merah gini. Lagi pula ini udaranya dingin kaya gini kamunya justru nyuruh berendam di kolam renang. Otak tuh suka macet kalau udah marah marah nggak jelas."
"Bela teruuus."
"Kalian berdua salah, udah gitu."
"Kamu jangan ngrecokin pola asuh aku dong, aku udah nggak ngrecokin pola asuh kamu."
"Sekarang kamu copot semua baju kamu, terus masuk ke kolam."
"Apaaaaan."
"Kenapa? nggak mau? emang cuma kamu aja yang nggak suka dingin? putra kamu juga nggak kuat dingin, ini kalau bentar lagi dia kena flu, awas kamu ya. Tunggu saja!!!"
Dewi dan Silvia saling tertawa pelan, bahkan sampai menipuk punggungku dengan tempat pencil.
"Terus Mas Syailendra gimana?" tanya Silvia heran sekaligus masih tertawa kecil.
"Diem dianya." jawabku pelan.
__ADS_1
"Sudah cocok jadi suami istri ya mereka." sahut suara pria yang aku kenal tiba-tiba. Membuat kami semua diam seketika. Bahkan Silvia seperti salah tingkah. Sedangkan Dewi masih tersenyum namun juga memandang heran ke arah ku. Seakan mempertanyakan tanggapan Narendra yang tiba-tiba. Entah sejak kapan pria itu mendengarkan.
"Cieeee, cemburu bilang, Bang." celetuk Dewi sambil menatap jahil ke arah Narendra yang bahkan terlalu datar ekspresi wajahnya.
"Wiiii." tegurku pelan, nggak enak kan sama Silvia yang membalas pandanganku dengan senyuman.
"Cemburu? Hahahaha." sahut Narendra sambil tertawa, tapi tawa sumbang yang jelas bikin suasana nggak enak banget. "Cemburu itu harus ada rasa cinta dulu kan? Tertarik aja nggak, apalagi cinta." ucap Narendra dengan Nada judes.
Nafasku memburu, berat. Bahkan tanpa sadar memegang pencil dengan sangat keras. Sedangkan Silvia lebih parah lagi, tangannya yang semula berada di dagu, kini terjun bebas ke atas meja, suaranya membuat kami menoleh ke arah dia.
"Eh.. Eh, nggak nyangka aja mas Narendra punya ekspresi wajah sama intonasi suara kaya gitu." ucap Silvia sambil nyengir kuda.
"Daebaaak!!!" teriak Dewi sambil bertepuk tangan.
Apa apaan mereka berdua?
******
"Saya yang jemput Almeera hari ini!" ucap Narendra begitu berdiri di sampin ku.
"Kamu kenapa sih, Ren? akhir akhir ini beda banget?" tanyaku terus terang, setelah rasa terkejut karena kehadiran Narendra yang tiba-tiba ini mereda. Lebih baik bertanya kan, dari pada di pendam terus bikin beban pikiran.
"Beda apanya? Nggak ada yang berubah. Justru kamu yang berubah, Ludira. Kamu tuh bukan Ludira yang aku kenal. Mudah banget deket sama cowok asing. Perhatian kamu tuh cuma Aksara sama Syailendra."
"Nggak ada yang begituan. Kamu PMS ya? Baperan!!!"
"Kamu aneh, Dir. Katanya nggak suka aku yang childish, aku berusaha bersikap dewasa berharap kamu juga bisa natap aku penuh kekaguman kaya kamu natap Syailendra, eeh yang aku dapat cuma curhatan ala emak emak yang baper sama tingkah suaminya. Konyol tau nggak kalian. Kamu! Kamu mudah banget geser posisi aku di hidup kamu dengan Syailendra yang hanya baru saja kamu kenal dalam hitungan detik."
"Sudah, nggak perlu ngomel di parkiran kaya gini. Nggak enak kalau ada yang lihat."
"Aku yang jemput, Almeera. Habis itu langsung ke rumah. Eyangnya udah kangen."
"Eh, Apaan. Nggak ada ya, Ren. Habis kemarin ini kok. Kita udah janji mau main sama Aksara."
"Kaaaaaan!!!!"
"Sama aja kan, Syailendra pasti ikut."
"Makanya kamu juga ikut, tapi jangan sambil marah marah biar bisa lihat kenyataan dengan jelas. Heraan, sadar nggak sih wajah kamu itu udah tegang semua ototnya."
"Ya udah. Aku jemput Almeera."
Aku mengangguk, kemudian membuka pintu mobil. Sedangkan Narendra berjalan menuju sepeda motornya.
****
Sesampainya di rumah, Aksara sama papanya ternyata sudah berada di kebun belakang rumah. Mereka sedang memanen sayur caisim. Segera setelah meletakkan tas di kamar dan mengganti pakaianku, aku memilih bergabung dengan mereka.
"Assalamu'alaikum, Sayaaaaang." Sapaku seperti biasa saat bertemu dengan balita menggemaskan ini.
"Waalaikumsalam."
"Waalaikumsalam, Tanteeee."
Wajahku yang semula berseri-seri, kini pasti sudah cemberut. Syailendra menangkap. tubuh kecil Aksara dari belakang begitu Aksara berlari ke arahku.
"Aaaaa, Papaaa lempaasiiiiin." teriak Aksara keras, tangan dan kakinya bergerak ke sana kemari. Sedangkan Syailendra, papanya tertawa lepas.
"Hai!"
"Tanteeee tolongin."
Aku memandang Ayah dan Anak yang sekarang berada tidak jauh dari tempatku berdiri.
__ADS_1
"Kalau Papa turunin sekarang, janji jangan langsung meluk Tante? Baju kamu penuh tanah, Son!"
Mataku menoleh ke arah Aksara begitu mendengar penjelasan Syailendra, memang benar.
"Nggak papa, Turunin aja." ucapku pelan.
Aku melangkah mendekat ke Aksara begitu Syailendra menurunkannya, lalu menepuk nepuk lembut tanah di baju Aksara.
"Benar kata Papa, Nte. Aksara bersih bersih dulu ya." ucap Aksara pelan. "Aksara bersih bersih du di dalam, Nte. Aksara sudah bisa pakai baju sendiri kok. Sama cuci tangan sendiri." lanjut anak kecil itu bangga.
"Hebat dong."
"Kata Papa, kita nggak boleh ketergantungan dengan siapapun, harus bisa ngerjain semua sendiri." ucap Aksara dengan nada bangga. Sedangkan Papanya berdehem keras begitu aku mengalihkan pandangan ke arah pria itu setelah mendengar penjelasan Aksara.
"Dek, hebat itu bukan berarti tidak membutuhkan bantuan orang lain. Bagus kok, hebat kalau Aksara bisa mandiri. Tapi adakalanya Aksara juga bisa minta tolong ke orang lain saat Aksara tidak bisa melakukan sesuatu. Tentunya dengan sopan ya sayang." jelasku pelan.
"Iya, Tante."
"Ayo, tante bantu bersih bersih." Ajak ku sambil mengulurkan tangan ke arah Aksara.
"Eeem.. Tante?"
"Ya?"
"Aksara nyoba sendiri dulu aja deh, nanti kalau Aksara kesulitan, Aksara panggil tante." ucap Balita itu hati hati.
Aku menarik tanganku yang tadi sudah terulur.
"Baiklah, hati hati ya." ucapku yang di balas anggukan kepala Aksara sebelum anak itu berlari ke dalam rumah.
"Jadi begini yaaa." sahutku ketus.
"Begini gimana? Emang bener kan? Aksara harus tetap bisa mengandalkan dirinya sendiri meskipun ada kamu yang memanjakan. Aku nggak mau ya, Aksara jadi seperti kamu yang nangis termehek-mehek begitu sikap Narendra beda."
"Eeeeh, muluuuuut. Itu pisau atau mulut sih!"
Kan mulai lagi, sejak aku menangis di depan pria itu, kini selalu jadi alasan untuk membuatku kesal. Di ungkit ungkit terus.
"Emang bener kan? Makanya jadi cewek kalau belum ada kepastian jangan mau di kasih kenyamanan meskipun itu terus terus di sodorin." sahut Syailendra sambil berjalan.
"Kasar banget ngomongnya, aku nggak gitu gitu banget deh! berlebihan." sahutku sambil mengikuti langkah kaki Syailendra. Berjalan di samping pria ini.
"Dih, nggak mau ngakuin. Hahahaha."
Aku yang kesal memilih berhenti. Suara tawa Syailendra itu bikin kesel banget. Seolah olah aku bahan olok olokan yang emang pantas di tertawakan.
"Ngambeeek?" tanya Syailendra lembut sambil menoleh ke arahku.
Aku memilih diam. Hingga tiba tiba pria itu melangkah ke belakang dan memposisikan dirinya di samping aku, memeluk bahuku.
Aku terkejut cukup lama, bahkan sebelum suaraku yang ingin memperingatkan Syailendra untuk melepas tangannya dari bahuku, tiba-tiba entah dari mana datangnya Narendra sudah mendorong tubuh Syailendra ke belakang. Syailendra yang sedang menatap ke arah ku tidak menyadari kedatangan Narendra akhirnya hilang keseimbangan. Pasrah saat wajahnya di pukul Narendra.
Buugh! Buugh!
"Ya salam, Narendraaa. Sudaaah!!!" Teriakku bingung.
"Reeeen, istighfar."
Kini Syailendra yang sejak tadi terperangah kaget, membalas memukul Narendra kencang.
Burgh!
Ya Tuhaan,
__ADS_1
Aku memandang ke sekeliling, untung anak anak di dalam rumah. Semoga mereka tidak melihat kelakuan dua orang dewasa ini. Saat melihat ada alat yang untuk menyemprot tanaman, aku langsung bergegas mengambilnya dan menyiramkan ke arah mereka berdua.
Ada apa sebenarnya?