LUDIRA

LUDIRA
Dua Puluh Enam


__ADS_3

"Tante, Aksara itu pengen punya mama seperti teman teman Aksara yang lainnya." ucap Aksara pelan, aku dan Almeera saling berpandangan. "Aksara juga pengen di buatkan bekal makanan seperti teman teman Aksara. Terus kalau malam, mau bobok juga di bacain cerita sama mama. Di suapin mama, pokonya Aksara pengen banget ketemu mama." lanjut Aksara pelan.


"Papanya Kak Almeera juga sudah di surga, Dek." sahut putriku pelan. Rasa sakit ku mungkin sangat menyiksa, tapi melihat anak anak ini. Aku sadar bahwa yang menderita di sini bukan hanya aku saja. Harusnya aku sebagai yang orang tua harus lebih bisa menerima keadaan yang ada. "Oh iya, Kak? Kakak pernah ketemu sama papanya kaka?" tanya Aksara, Polos.


"Pernah, dulu saat kaka umurnya se adek ini. Kakak masih bertemu sama papanya Kakak."


"Kalau Aksara nggak pernah ketemu sama Mama, Aksara cuma bisa lihat mama di video sama foto aja. Papanya Aksara suka nangis gitu kalau menemani Aksara lihat mama di Video, jadinya Aksara kalau rindu sama mama suka takut kasih tahu Papa. Aksara nggak mau lihat papa nangis."


Aku menelan liur berkali-kali, terasa berat sekali di tenggorokan ini. Mungkinkah ini juga yang di rasakan oleh putriku?


"Sekarang sudah ada tante, ada kakak. Jadi kalau Aksara kesepian di rumah, boleh kok main sama Kakak." Ucapku pelan. "Iya, Dek." sahut Almeera menimpali.


"Oma sama Opa suka bilang sama Aksara buat minta mama baru sama papa, Aksara suka nggak tahu kalau mama baru itu gimana, Tante. Emangnya mama itu bisa beli di toko ya?"


Aku tertawa, Almeera juga tertawa.


"Nggak gitu dong, Sayang."


"Adek masih kecil jadi belum paham, nanti kalau sudah lumayan besar. Sebesar kakak, pasti Adek paham ya."


Itu percakapan terakhir di antara kami, Aku membacakan dongeng sebelum tidur dan perlahan Aksara mulai terlelap sambil memeluk diriku.


"Mama?" panggil Almeera pelan,


"Iya sayang."


"Om Narendra kenapa si tadi?"


Ah, ini anak. Kenapa harus begitu perhatian dengan Narendra.


"Nggak papa kok sayang."


"Almeera cemas aja lihatnya."


Aku tersenyum menenangkan, "Istirahat dulu aja ya, mama mau ke ruang kerja mama dulu."


Putriku mengangguk pelan, kembali meletakkan kepalanya di atas bantal. Memeluk tubuh mungil Aksara yang sudah tertidur.

__ADS_1


Sedangkan aku bergerak perlahan turun dari tempat tidur, menuju ruang kerja sekaligus perpustakaan melalui pintu yang ada di kamarku.


"Assalamu'alaikum, Bu." sapa ku kepada seseorang di sebrang sana. Aku memutuskan untuk menghubungi seseorang setelah sampai di ruang ini. Seseorang yang aku harap bisa memberikan informasi yang aku butuhkan.


"Waalaikumsalam, Sayang."


"Maaf, Bu. Tadi habis menidurkan Aksara dulu, jadi nggak tahu kalau ada pesan masuk dari ibu."


"Iya, nggak papa kok. Aksara gimana? rewel?"


"Enggak kok, Bu. Alhamdulillah."


"Besok sepertinya yang jemput Aksara, langsung papanya deh, Sayang. emm, boleh ibu tanya sesuatu?"


"Boleh, Bu."


"Tadi kenapa ya? kok Narendra pulang pulang jadi gitu lagi?"


ah, akhirnya topik ini di ungkit.


"Tadi saya bicara soal Sofia, Bu. Saya juga heran, Kenapa nama itu begitu berpengaruh dengan moodnya Narendra. Tolong dong, Bu. Cerita sama Saya."


Aku hanya tertawa kecil. Mungkin bisa jadi aku khawatir atau juga penasaran.


"Dulu, sehari harinya Narendra seperti itu. Cuek tidak bersemangat tidak memiliki gairah untuk hidup. Lama kelamaan, dia kembali ceria tapi bohong gitu. Karena ibu tahu dia masih kosong. Jadi, Sofia memang mantan istrinya Narendra. Walaupun mereka berpisah secara baik baik, tetap saja bukan sesuatu yang baik. Narendra menyalahkan dirinya sendiri atas kematian putrinya. Narendra, kacau. Ibu mau cerita, Dira. Hanya saja, kurang pas gitu. Mungkin sebaiknya kamu sabar menunggu Narendra sendiri yang bercerita."


ah, ujung ujungnya buntu seperti ini.


"Baiklah, Bu. Soal kematian anaknya Narendra itu gimana, Bu?"


"Jatuh, jatuh dari balkon rumah Narendra yang dulu ia tempati dengan mantan istrinya. Dan semua itu di depan Narendra."


Suara ibu Basuki terdengar sangat jauh, duka begitu terasa di nada beliau.


"Maaf, Bu."


"Tidak apa apa, Dira. Mungkin kamu bisa hubungi Narendra, Sayang. Sejak tadi tidak keluar dari kamarnya. Ibu cuma takut saja, soalnya dulu dia bisa bertahan berhari-hari tanpa makan. Kebetulan di kamarnya itu ada persediaan minum."

__ADS_1


Aku mengiyakan dan setelah itu pamit untuk mengakhiri sambungan telepon. Kenapa hidup Narendra lebih rumit dari pada hidupku sendiri? Kenapa penuh teka teki seperti ini? Ada apa sebenarnya?


Sebelum menghubungi Narendra, aku mencoba membuka akun Instagram dan aku baru teringat bahwa aku tidak mengikuti akun milik Narendra.


"Mungkin aku perlu menghubungi, Dewi." batinku sebelum akhirnya aku memilih kontak dewi untuk aku hubungi.


Tidak butuh waktu lama, tersambung dan suara salam di ujung sana di jawab salam juga olehku.


"Dew, bisa tolong bukain Ignya Narendra?"


"Whaaaat??? Ada bumi bergoyangkah inii? mbak Ludira penasaran dengan kehidupan orang lain. Hahahaha."


Aku menutup mataku dan menghembuskan nafas kasar. Reaksi alay bin lebay milik Dewi di luar dugaan sekali.


"Sorry, Mbak. Oke deh. perlu aku screenshot?"


Aku mengiyakan saran dari Dewi dan mengucapkan Terima kasih, setelah itu baru kami menutup panggilan.


"Assalamu'alaikum, Mbak. Ada apa?" Suara Narendra terdengar sangat lemah, tidak seantusias biasanya. Begitulah, setelah menutup panggilan dengan Dewi, aku memutuskan untuk menghubungi Narendra. Setidaknya jika teringat kebaikan kebaikan pria ini, aku memang seharusnya sedikit perduli dengan Narendra.


"Waalaikumsalam, Ren. Bukannya aku yang ada apa, tapi kamu ini yang ada apa. Jangan mengelak, Ren. Jangan mengatakan kalau kamu nggak ada apa apa." ucapku terus terang, langsung ke pokok permasalahan.


"Mbaak. Ini menyakitkan." Narendra bergumam tidak jelas. Aku masih terdiam, menunggu pria itu meneruskan pembicaraan nya.


"Sebelumnya aku harus jujur sama, Mbak. Maaf, Maaf sekali. Maaf karena aku selalu memandang Almeera sebagai putriku, Maaf jika aku selalu memanfaatkan Almeera sebagai salah satu usahaku untuk menutup bayang bayang betapa tidak becusnya aku sebagai orang tua. Aku halu, halu kalau putriku tumbuh besar."


Aku bisa menebak jika pria ini sedang menangis dan kenyataan yang di ucapkan Narendra, membuatku tersenyum sinis. Ternyata kita memang dia orang yang sama Ren. Sama sama saling memanfaatkan bukan hanya sekedar sama sama saling terjebak di masa lalu.


"Putriku namanya Diandra, Diandra tewas mengenaskan di tangan ibunya sendiri. Sofia, istriku itu menjatuhkan Diandra dari balkon kamar kami dan itu semua dia lakukan di depanku, Mbak. Di depan mataku sendiri. Kamu tahu, mbak. Bagaimana rasanya jadi aku saat itu? Hahahahaha."


Aku takut, bukan sekedar takut karena mendengar kenyataan ini, tapi juga takut dengan suara Narendra yang berubah menyeramkan. Tangis pilu, suara tawa menyeramkan. Dan bayangan semua yang di katakan Narendra.


Aku tidak suka Drama, sungguh. Hidup aku terlalu sederhana untuk drama semacam ini. Kenapa? Kenapa ada kenyataan seperti ini? Kenapa ada seorang ibu yang tega membunuh putrinya sendiri di depan suaminya.


"Aku tidak bisa bernafas saat itu, tulangku seperti tidak lagi kuat menumpang tubuhku. Bahkan hingga saat ini, detik ini aku tidak bisa tidur tanpa mimpi buruk ini, Ludira. Semenjak bertemu Almeera, aku bermimpi indah tentang putriku, bukan lagi mimpi buruk tentangnya. Aku egois memang, semua orang berfikir aku mendekati Almeera untuk mendapatkan mu, Ludira. Salaaah, jelas salah besar. Aku mendekati Almeera untuk diriku sendiri, seegois itu memang. Sejahat itu memang. Aku hanya ingin, hatiku merasa tenang dan bahagia, Ludira. Aku hanya ingin putriku kembalii, hidup bersamaku, tertawa bersamaku, berajuk, ngambek. Semuaaa, Aku hanya ingin bersama putriku, Ludira. huhuhuhuhu."


Aku memegang dadaku yang nyeri, sakit sekali rasanya mendengar pria yang selama ini begitu tangguh, begitu hangat dan ceria kini justru menangis penuh kesedihan, jiwa Narendra begitu kelam. Pria ini, rapuh. Lebih rapuh daripada diriku sendiri.

__ADS_1


Inikah alasan Narendra selama ini tidak perduli dengan ketidak setujuanku saat pria ini begitu mendekatkan dirinya dengan putriku? ini kah alasannya?


Aku harus bagaimana?


__ADS_2