
[Assalamualaikum, Ludira. Hari ini aku mau makan siang bareng Shofia, gimana? Boleh?]
Pensil yang sedari di tanganku, kini sudah di atas lembar jawaban murid murid ku. Kebetulan memang hari ini Narendra tidak ada jadwal di sini. Tanganku membuka pesan singkat, ternyata dari Narendra.
[Waalaikumsalam, Ren. Iya. Hati hati ya. Jangan lupa jalan pulang ya]
Ibu jariku bergerak dengan cepat. Semenjak aku mengadu soal perasaanku kepada Syailendra, semua terasa lebih mudah dan bisa di kendalikan. Tidak lagi ada perasaan gelisah yang tanpa arah tujuan saat bersama Narendra. Semua kembali baik baik saja.
Bahkan kemarin, saat pria itu mengantar Almeera pulang dan kami bercerita tentang Shofia, aku baik baik saja. Menerima dengan kondisi yang tenang.
"π±πππππππ ππππ πππ, πππ πππππππππ ππππππ ππππ ππππ, ππ. π°ππππππππππππ, πππππ πππ ππππ ππππππ ππ πππππ πππ. π°ππ ππππ πππππππ πππππππ ππ ππππ. πππππ, πππ πππππ ππππππππ. πΌπππ’πππ πππ π’πππ ππππππ πππ’ππ πππππππ ππππππ ππππ ππππ πππππ"
ππππ πππ πππ ππππ’π ππππππππππ, ππππ’ππππ ππππππ ππππ. πΌπππππππππ π½πππππππ πππππππππ πππππ ππππ’πππ ππππ πππ.
"π³ππ πππππ ππππ ππππππππ ππππππ ππππππππππ ππ. ππππππππ ππππππ, πππ πππππππ ππ’π πππππππ. π³ππ πππππππππ πππππ, ππππππ πππ πππππ πππ πππππππ πππ" πππππ π½πππππππ πππππ.
π°ππ πππππππ’ππ ππππ ππππ πππ πππππππ ππ ππππππ. "ππππππ πππππ ππππππ πππππππ ππππππ ππππ. πΏπππππππ ππππ ππππππ, πππ? " ππππ’πππ ππππ πππ.
"π»πππ. π±ππππ π’πππ πππ πππππ, ππππππ πππππππππ. "
π°ππ ππππππππππ. "π±πππππππππππ, πππ ππππππ πππππππ πππππππππ π’πππ ππππππ πππππππ. πΈππππ. "
"ππππππ πππππ, ππ. πΌπππ’πππππ ππππππ, πππππππππ πππ ππππππ ππππ’ππππ, ππππ’πππππππ" πππππ ππππ πππ πππππ. "π°ππ πππππ ππππ πππππ ππππππππ ππππππ πππ πππππ ππππ" ππππππ ππππ πππ.
π°ππ ππππ πππππ ππππππππππ πππ π’πππ ππππ πππ πππ πππππ πππππππ. ππππππ’π πππππ ππππππ ππππππππππ πππππ πππ πππ ππππ ππππππππ πππ ππππππ ππππππππ ππππ ππ’ππππππππ.
"π°ππ πππππ ππππ π»πππππ ππππ" πππππ π½πππππππ πππππ, πππππππ ππππππππ. πΏπππ πππ ππππ ππππππππ ππππ. "πππππππ πππππππ’π ππππ ππππ, πππππ πππππππππ’π π±πππ π»πππππ ππππππ ππ πππππ. π³ππ ππππππ πππππ πππππππ πππππππ ππ πΉπππππ ππππππ ππππππ ππππππππππ ππππ, πππ πππππ ππππ πππππππππ ππππ." ππππππ π½πππππππ πππππ ππππππππ πππ π ππππππ’π ππππππ.
π½ππππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππππ ππππππππ. "πππππ? " ππππ’πππ πππππππππ.
"πΆππππππ,"
"πΆππππππ πππππ’π? "
"πΊπππ ππππππ πππππ. πΆπππ πππ."
"πΌπππ ππππ πππ ππππππ πππππ? " ππππ’πππ ππ’ππππ.
π½πππππππ ππππ’π ππππ ππππππ π ππππ π’πππ πππππ. πΊππππ πππππππ πππ, ππππππππ πππππ ππππππ ππππ ππππ ππππππ πππππππ. ππππ πππππ, π½πππππππ ππππ πππππ ππ πππ ππππ.
Nada dering ponselku membuat lamunanku buyar. Aku menoleh ke arah ponsel, ternyata dari Syailendra.
"Assalamu'alaikum, Bang? Ada apa?" sapa ku begitu aku mengangkat panggilan tersebut.
"Waalaikumsalam. Yang jemput Adek siapa?" tanya pria itu pelan. Tenang, suara besarnya begitu tenang.
"Abang kan? Repot nggak?" tanyaku pelan. Hari ini giliran dia yang jemput putranya itu.
"Oke, cuma mastiin aja sih. Barangkali kamu pengen jemput Adek." suara tawa kecil Syailendra terdengar pelan, membuat mulutku tersenyum lebar.
"Cieeeeee yang senyumnya selebar daun kelooor, iih bahagianyaaa. Siapa sih? Narendra ya!" sahut Dewi dari belakang ku, membuat aku terkejut dan segera menutup ponselku dengan tangan.
Tapi sepertinya Syailendra sudah mendengar teriakan itu. Makanya terdengar suara tawa di ujung sana. "Lucu teman kamu. Di dosen juga?" tanya Syailendra.
"Iya, masih single sih. Kalau kamu mau bisa kok aku kenalin." sahutku santai, masih sambil menoleh ke belakang. Ke arah Dewi yang duduk di kursinya sambil bertumpang dagu dan tersenyum. "Tapi ati ati, punya rabies dia mah! Hahahaha" Lanjut ku sambil tertawa.
"Mbak Ludiraaaa! Huuuh!" teriak Dewi.
Aku segera membalikkan badan kembali membelakangi Dewi begitu dia melempar penghapus ke arahku.
"Aku suka dengar kamu semangat lagi kaya gini." bisik Syailendra di ujung sana. "Nanti adek langsung aku bawa ke kantor ya. Kamu bisa langsung pulang aja."
"Makan malam di mana?" tanyaku pelan.
"Makan di luar, lama banget nggak makan di luar." sahut Syailendra sambil terkekeh. "Udah ya? Aku tutup ini."
"Salam dulu, kebiasaan!"
"Iya iyaaa. Assalamu'alaikum!"
"Waalaikumsalam."
Aku meletakkan kembali ponsel di atas meja. Tanpa menyadari kalau Silvia ternyata sudah duduk di kursinya yang berada di sampingku.
"Yang senyum senyum bahagiaaa." sahut perempuan cantik itu.
"Sudah selesai kelasnya?" tanyaku dengan senyum yang memang masih menetap di bibirku. Nggak tahu kenapa, ini senyum nempel terus.
__ADS_1
"Bang Lendra atau Mas Rendra?" tanya Silvia dengan mengedipkan bulu matanya berkali kali. Membuatku tertawa pelan. Aku memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Silvia.
"Beberapa hari yang lalu, Bang Lendra ke panti asuhannya Kak Fia." bisik Silvia sambil menunduk. Wajahnya yang tadi cerah bahagia kini murung.
"Syailendra atau Narendra? Kalau Narendra sih iya."
"Syailendra. Bang Syailendra ke tempat mbak Shofia. Marah marah tanpa bisa di kendalikan. Bahkan mengecam kalau sampai terjadi sesuatu dengan mbak Dira, Bang Lendra nggak bakalan diam aja." ucap Silvia sambil memandang khawatir ke arah aku yang tentu saja bingung, tidak paham dengan apa yang di maksudnya.
"Makanya kemarin aku terus terusan menghubungi mbak Dira, khawatir takutnya kenapa kenapa. kebetulan saat itu aku lagi di sana. Jadi tahu betul apa yang di katakan bang Lendra."
Iya sih, dari kejadian Syailendra membatalkan ke Jepang, ibu Basuki juga jadi lebih sering menghubungi ku. Termasuk Silvia juga.
"Mbak Shofia masih suka main klenik, Mbak. Aku kira dia udah insaf loh. Beneran."
Aku tercengang. Masa iya? Shofia ini dari keluarga yang berpendidikan. Terus itu artinya kalah benar? Bagaimana dengan Narendra?
"Terus gimana dengan Narendra?" tanyaku khawatir.
Silvia menggenggam erat tanganku. "Tenang, mbak. Semua udah di urus sama bang Lendra. Setelah marah marah, Bang Lendra maksa Mbak Shofia buat ikut mbak Lendra ke tempat Ustadz yang kenalannya." sahut Silvia pelan.
Meskipun ada perasaan lega, tetap saja kecewa. Lagi lagi aku nggak tahu apa apa. "Nanti tolong bawa sepeda motor saya, Sil." ucapku pelan. "Kalau ada mahasiswa yang cari saya, tolong bilang buat janji temu dulu ya." lanjut ku pelan. Akhir semester seperti ini, suka banyak yang minta perbaikan absensi supaya bisa ikut ujian semester.
"Eh, mbak mau kemana?" tanya Silvia panik. "Aduh, ada yang salah nih." lanjut Perempuan itu sambil memegang tanganku.
"Nggak salah kok, makasih ya. Udah mau cerita kaya gini. Aku mau minta Syailendra buat jemput aku sekalian." sahutku sanbil tersenyum dan meraih ponsel yang tadi aku letakkan. Mencari nama Syailendra di layar tersebut.
"Sambil nunggu Syailendra. Cerita lebih detail tentang semua itu, Sil. Please." bisik ku sebelum akhirnya panggilan aku di Terima oleh pria yang sedang kami bicarakan.
"Iya, Ra?" sapa Pria itu langsung. Tanpa basa basi ataupun salam.
"Salam duluu ih! Assalamu'alaikum!" Ujar ku kesal.
Aku menoleh ke arah Silvia yang tersenyum. "Kebiasaan banget!" sahutku lagi.
"Sorry! Waalaikumsalam, ada apa Ra?"
"Jemput aku juga ya? Bisa?" tanyaku pelan.
"Bisaa. Terus langsung pulang atau gimana?" tanya pria itu pelan.
"Sebentar" ucap pria itu. "Hey! Habis ini ada janji rapat nggak?" tanya Syailendra di sebrang sana. "Oh ya ya. Oke. Trims ya!"
"Nggak ada, udah bisa di pegang yang lainnya. Gimana?"
"Ada yang mau aku bicarain bentar."
"Aku janji sama Aksara buat main sama nonton. Kamu gimana? Nggak keberatan?"
Aku menggeleng. "Nggak. Jemput ya." suaraku bergetar. Nggak tahu kenapa.
"Iya" jawab Pria lembut. "Jangan bikin khawatir gini, kamu oke?"
"Iyaa. Jemput sekarang ya!"
"Ya udah, aku tutup ya?"
"Assalamu'alaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Aku menutup panggilan itu dan mencoba mengatur nafasku. Semua ini tidak lepas dari pandangan tajam Dewi yang entah sejak kapan sudah menarik kursinya ke depan. Dan juga Silvia yang tampak khawatir.
"Mbak Dira nangis?" tanya Dewi tidak percaya.
"Nggak nangis, cuma mau nangis!" Bisik Silvia sambil menyikut Dewi.
"Aku baik baik aja kok." jawabku sambil tersenyum.
Dewi memandang ke arahku dengan rasa ingin tahunya yang begitu besar. "Mbak lagi bingung milih Papanya Aksara atau Mas Narendra ya?"
Aku tersedak ludahku sendiri. "Kamu! Ih!"
"Aku ngikutin instagram mereka loh. Duh, mbak kelihatan punya suami dua hahahahaha." Sahut Dewi sambil tertawa. "Aduh!" Pekik perempuan itu begitu aku menepuk lengan atasnya.
"Kalau ngomoooong!" sahut ku gemas.
Aku bersyukur. Ada Silvia yang lemah lembut seperti ini dan juga ada Dewi yang ceplas-ceplos tapi asyik.
__ADS_1
"Aku tahu semua kok mbak, Sikvia udah cerita. Mbak akhir akhir ini suka ngilang nggak ada kabar." sahut Dewi.
Aku memandang mereka secara bergantian. Mereka memang luar biasa sekali. Yang paling sabar menghadapi aku yang dingin dan cuek.
"Thanks ya!" bisik ku pelan. "Pindah yuk, masa mau ngrumpi di meja kerja!" ajakku pelan.
Mereka semua mengangguk. Dan sebelum pindah tempat, aku menulis pesan singkat ke Syailendra.
"Entah dari mana Bang Lendra tahu kalau mbak Shofia masih main guna guna kaya gitu." sahut Silvia setelah kita semua duduk di tempat favorit kita kalau sedang di warung makan ini.
"Gila ih, mbak itu Vi! Zaman begini masih gituan duuh! Nggak nyangka!" timpal Dewi.
"Aku bingung sumpah!" ujarku. "Shofia emang bisa begituan?" tanyaku heran. Aku kira Shofia itu adanya semacam menderita gangguan kejiwaan. "Bukannya dia cuma punya menyakiti mentak aja ya?" tanyaku lagi.
Silvia menarik nafas berat. Saling melempar pandangan ke arah Dewi. "Mbak. Gini ... ternyata Mbak Shofia kasih guna guna ke Mbak Dira supaya ninggalin Mas Narendra. Mbak Shofia mengakui hal itu setelah di tampar oleh Bang Syailendra." sahut Silvia dengan tangan bergetar.
"Kok aku nggak tahu menahu hal ini?"
"Hari itu harusnya Bang Syailendra ke Jepang, aku sempat dengar Bang Lendra bilang gini ke mbak Shofia." Silvia menarik nafas perlahan dan menghembuskan nya. "Kamu harus mengakhiri semua kegilaan ini, Fia. Cukup! Dira sudah terlalu baik sama kamu." Sahut Silvia menirukan Syailendra.
"Udah ah. Kita makan aja. Nanti biar aku tanya sama Bang Syailendra." Ucapku pelan. Aku butuh tenang buat mencerna semua hal ini. Sikvia dan Dewi mengangguk setuju. Aku perlu banyak makan supaya kuat mengahadapi kenyataan ini.
****
Tidak lama kemudian aku pamit undur diri lebih cepat karena memang Syailendra sudah berada di depan buat jemput aku.
"Hay, udah selesai makannya?" tanya Syailendra pelan sambil membukakan pintu mobil untuk ku. Aku tersenyum dan mengangguk. "Makanan ringan. Rujak buah tadi." jawabku.
"Kita langsung ke tempat adek ya?" tanya pria itu lagi. Aku mengangguk setuju.
Dalam perjalanan, aku memilih diam. Sedih dan haru bercampur menjadi satu. Siapa sangka jika pria fuckboy ini begitu Ksatria. Melindungi Ku dalam diamnya. Bergerak sangat cepat untuk kembali memulihkan senyumanku.
Jika memang dia memperlakukan aku sebagai orang asing, tentu saja dia tidak akan bertindak sejauh ini. Tidak akan pernah perduli dengan apa yang terjadi dengan ku. Syailendra. Terlalu banyak rahasia yang dia sembunyikan.
"Ngapain lihat aku sampai segitunya? Tampan? Iya! Aku udah tahu kalau aku ini memang tampan dan penuh pesona. Hahahaha."
Aku ikut tertawa setelah menepuk lengannya. "Kamu iniii. Padahal Aksara nggak gini amat loh. Untung ya narsisnya nggak nular ke Aksara."
Syailendra tersenyum. "Ada apa? Jangan bilang kalau kamu baik baik saja."
"Silvia sudah cerita tentang kamu yang mukul Shofia." ungkap ku apa adanya. Hanya dengan di melihat sorot mata Syailendra yang semakin dalam itu, mulutku langsung bisa berbicara terus terang. Heran.
"Oh. Kamu mau tahu?" tanya Pria itu tanpa terkejut sedikitpun. Aneh, harusnya jika memang dia merahasiakan ini, atau nggak mau kasih tahu tentang ini kepadaku, harusnya dia terkejut kan. "Aku nggak cerita karena aku nggak suka aja sih terlihat seperti pahlawan." lanjut Pria itu seperti paham betul apa yang ada di kepalaku. Tanpa harus aku utarakan.
"Jangan mikir negatif. Ngrasa kalau aku nggak kasih tahu kamu karena kamu nggak penting buat aku. Justru karena kamu terlalu penting dan banyak mikir yang nggak perlu makanya aku nggak cerita." lanjut Pria itu membuatku tersenyum malu.
"Aku curiga lihat kamu yang aneh gitu. Paginya aku ke tempat Shofia. Ternyata benar. Dia berusaha ngirim ilmu Hitam ke kamu. Pengen nyelakain kamu biar pisah sama Narendra." jelas Syailendra membuatku bergidik ngeri.
"Kamu nampar dia segala?" tanyaku pelan. "Nggak cuma nampar. Aku cekik dia. Enak dia tanya dengan entengnya. Kamu sudah mati atau belum." Suara Syailendra bergetar marah. "Untung kamu cuma kacau. Nggak sakit apa apa."
"Dada aku yang sakit." Jawabku. Syailendra hanya diam. Namun tangannya mencengkeram erat kemudianya.
"Kata Silvia, kamu bawa dia ke ustadz." tanyaku lagi.
"Iya. Itu yang biasa meruqiyah. Makanya tiga atau empat hari itu aku nggak pulang ke rumah, cuma bisa cek kabar kamu lewat ponsel." sahut Syailendra kalem.
Aku kira dia sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan yang berhubungan dengan kepergiannya ke Jepang. Ternyata dia sibuk ngurusin Shofia.
"Aku kira sibuk kerja." sahut ku pelan. "Nggak, kerjaan udah di kelola sama tim yang biasa aku andalkan. Jadi aku nggak mungkin bangkrut, tenang aja." Syailendra kembali santai.
"Terus gimana? Soalnya Narendra mau ketemu sama dia." ujar ku khawatir.
"Tenang. Udah baik baik aja. Meskipun sekarang masih lemas dan sedikit linglung, tapi dia baik baik aja." Sahut Syailendra. "Aku baru mau ikut campur kalau udah menyentuh orang orang yang aku sayangi. Itu kalau kamu pengen tahu kenapa baru kali ini aku nyeret dia buat berobat." sahut Syailendra tanpa menoleh ke arahku.
Begitu juga denganku yang tidak berani melihat ke Syailendra. Wajahku memanas. Desiran aneh juga turut hadir di hatiku. Tidak mungkin kan aku jatuh cinta atau tertarik dengan Syailendra? Secepat ini? Setelah beberapa saat lalu perasaan hangat ini hadir karena Narendra. Apakah aku sudah menjadi seperti orang orang yang pernah tuduhkan kepadaku? Janda murahan?
"Awas! Jangan mikir aneh aneh! Wajah kamu itu seperti buku terbuka. Meskipun kadang sukar di baca tetap aja aku tahu kamu mikir apa. Jangan banyak mikir, udah usia segini, nanti bikin keriput!" sentak Syailendra kasar.
Aku mendengus. Nggak mungkin suka sama orang kasar gini. "Iyaa iyaaaa, yang sukanya jalan sama perempuan muda. Cewek cewek imut yang belum ada keriputnya sama sekaliii." Sindir ku. Syailendra hanya tertawa. Meskipun sempat memandangku gemas.
"Bagus kalau kamu nggak dikit dikit nyentuh, dikit dikit nyentuh. Kebayang kan? Tangan kamu udah bekas siapa aja."
"Nggak usah cemburu gitu! Hahahaha."
"Dih, percaya diri bangeeet!"
"Hahahahaha!"
__ADS_1